
"Lo ngagetin Gue tau gak!" Pekik Abi sedikit pelan, takut mengganggu tidur Syifa.
Bara meringis, "Ya sorry"
Iya, Bara yang tadi memanggil namanya tanpa aba-aba, membuatnya sangat terkejut.
"Ada apa? Gue mau pulang" Tanya Abi pada Bara yang berdiri di depannya.
Abi mendorong tubuh Bara yang menghalanginya, ia berjalan menuruni tangga. Ia membiarkan saja Bara yang mengikuti langkahnya dengan buru-buru.
"Apa sih?!" Sewot Bara karena bahunya di tarik ke belakang oleh sosok cowok yang notaben sebagai sahabatnya.
"Slow dong, jangan ngegas" Bara mengangkat kedua tangannya ke atas, ia takut juga dengan raut wajah Abi yang marah, sensitif sekali.
"Sellow-sellow, swallow kali ah" tutur Abi asal.
"Itu sandal swallow" Celetuk Bara enteng, malah tambah membuat Abi geram.
Abi langsung berjalan cepat meninggalkan Bara yang masih berdiri tegak di undakan anak tangga. Abi berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang, ia tak merespon panggilan Bara yang terus memanggil namanya.
"Abi!!"
"Abi tungguin Gue!!"
"Abi woyy!!" Teriakan Bara tetap tak di gubris.
"Ada yang mau Gue omongin!"
Kalimat terakhir dari Bara mampu membuat langkah kaki Abi terhenti. Tubuh tegapnya berbalik, ia mengangkat alisnya sebagai tanda bahwa ia menunggu Bara melanjutkan kata-katanya.
Bara berlari menghampiri Abi yang berdiri di tengah ruangan luas dari ruang keluarga.
"Ikut Gue" Ajak Bara pada Abi, yang di setujui Abi dengan mengikuti langkah Bara yang menuju luar Mansion.
Abi mengikuti dengan diam, tanpa banyak bertanya lagi.
Mereka melewati ruang tamu yang luas dan mewah, tak ada siapa pun, mungkin semua anggota keluarga telah masuk kamar masing-masing untuk beristirahat.
Setelah mereka sampai di teras depan, Bara mengajak Abi untuk duduk di kursi yang tersedia. Di sana terdapat dua kursi dengan meja bundar di antaranya, sebagai pemisah.
"Ceritain semuanya sama Gue!" Perintah Bara dengan tegas.
Abi mengangkat satu alisnya, "Kan pas kita telfonan udah tadi" Bantah Abi karena ia malas untuk menjelaskan.
__ADS_1
"Kurang lengkap" Elak Bara tak mau kalah.
"Hhh, iya Gue ceritain" Jawab Abi akhirnya, Bara pun tersenyum senang mendengarnya.
Bara bergarak lebih mendekat dengan Abi, memasang telinganya agar fokus mendengarkan cerita Abi.
"Gue kan sebenarnya udah pulang, terus balik lagi ke kampus karena buku Gue ada yang ketinggalan, dan buku itu adalah buku yang penting banget. Gue balik tuh ke kampus, pulangnya Gue iseng-iseng lewat jalan sekitar sekolah Syifa sama Revan, di tengah jalan tanpa ada aba-aba, hujan langsung turun deras banget. Gue sih gak masalah karena pake mobil"
Abi melirik sekilas Bara yang masih fokus memperhatikannya, akhirnya ia melanjutkan bercerita.
"Dan beberapa meter Gue ngelewatin sekolah punya keluarga Lo, Gue lihat cewek hujan-hujanan dan dia pake seragam yang sama persis seperti Syifa dan Revan pakai. Gue udah tau pasti ini cewek satu sekolah sama Adek Lo. Karena Gue gak tega, Gue berhentiin mobil terus di samperin tuh. Ternyata dan ternyata cewek itu Syifa, ya kaget dong Gue. Tiba-tiba rasa khawatir Gue muncul, lihat gimana kondisi Syifa saat itu"
"Kenapa-kenapa, Syifa ada yang luka?!" Bara buru-buru menyela, karena panik dan khawatir mendengar cerita Abi.
"Enggak ada luka, tapi Syifa tubuhnya dingin banget, menggigil gitu. Karena kelamaan hujan-hujanan kayaknya deh Bar. Gue gak tau pastinya gimana, tapi di lihat dari bibir Syifa yang membiru, Gue yakin pasti Syifa udah lama hujan-hujanan"
Abi melihat Bara menghela nafas kasar, pasti khawatir banget, "Jagain Syifa baik-baik Bar, dia cewek. Adek cewek satu-satunya buat Lo. Jangan sampai kejadian ini ke ulang lagi. Lo gak bakal tau kan gimana nanti kalo bukan Gue yang nemuin Syifa di pinggir jalan hah?!!"
Abi berteriak di akhir kalimatnya, Bara mengerjapkan matanya berkali-kali, tak menyangka Abi akan semarah ini padanya.
"Iya pasti Gue jagain, Lo kenapa marah banget sama Gue sih? Gue juga gak tau Syifa bakal kehujanan!"
Bara tak mendapat respon apapun, Abi hanya diam menatap kosong ke depan sana.
Abi berdiri dari duduknya, lalu menghampiri mobilnya dan langsung duduk di balik kemudi.
Bara masih menatap Abi dengan pandangan sulit di artikan, "Hati-hati Bi!!" Ucapnya ketika mendengar bunyi tlakson mobil Abi, mobilnya pun hilang di baling pagar rumahnya.
Ia menghembuskan nafas lelah, kakinya melangkah gontai masuk ke dalam rumah.
...•••...
Revan berjalan menghampiri meja makan yang sudah penuh di duduki yang lain, alisnya berkerut setelah mengetahui ada yang kurang di meja makan.
"Lho, Syifa belum turun?" Tanya Revan pada yang lain.
Semuanya menengok pada Revan, yang pertama bereaksi adalah Adnan.
Adnan langsung berdiri tanpa mengatakan apapun pada yang lain, padahal makanan di depannya belum di sentuh sama sekali.
"Adnan!!" Panggil Vina tetapi tak ada balasan, Vina menghela nafas pasrah melihat Adnan menaikki tangga tanpa menoleh.
Yang lain pun membiarkan Adnan membangunkan Syifa.
__ADS_1
Sudah beberapa saat berlalu, tetapi Adnan dan Syifa tidak segera turun, membuat yang lain berfikiran negatif dan cemas.
"Kok lama ya, Mommy khawatir banget Syifa kenapa-napa" Wajah Vina kentara sekali gurat kecemasan.
"Biar Bara sama Revan yang nyusul Mom, Mommy sama Daddy tenang aja" Bara berinisiatif, juga berusaha tetap tenang agar kekhawatiran Mommynya sedikit berkurang.
Revan menganggukan kepala, "Iya Mom, Ayo Kak!" Seru Revan menarik lengan Bara agar segera beranjak.
Vina menatap kepergian Bara dan Revan dengan pandangan cemas.
"Sudah sayang, kamu tenang ya. Dad yakin Princess bakal baik-baik aja" Aditya mengelus pundak Istrinya, Vina menatap Suaminya dengan mata berkaca-kaca, lalu Aditya segera memeluk Vina dengan erat menyalurkan ketenangan. Vina pun membalas pelukan tak kalah eratnya.
...•••...
Adnan membuka pintu kamar Syifa tanpa permisi, lagian ia punya hak untuk ini. Tak perlu ketuk pintu pasti Syifa akan mengijinkannya.
Pintu kamar Syifa tak terkunci, ia berjalan memasuki kamar Syifa yang terlihat remang-remang. Ia pikir Syifa sudah selesai bersiap tetapi lihatlah sekarang gorden saja belum di buka begitu.
Ia melangkah mendekati jendela besar yang langsung menuju balkon kamar, tangannya membuka gorden dengan pelan, membiarkan cahaya matahari memasuki kamar. Ia tersenyum tipis saat ruangan terlihat lebih cerah terkena paparan sinar matahari, ia menghirup udara segar setelah jendela besar yang menghubungkan dengan balkon sudah terbuka.
Matanya melirik tubuh Syifa yang masih bergelung dengan selimut tebal, matanya tertutup rapat masih terlelap begitu pulasnya.
Kakinya menghampiri ranjang yang Syifa tempati, ia duduk di pinggir ranjang. Tangannya menarik selimut sebatas perut, tak lupa menyingkirkan guling yang berada di pelukan Syifa.
...•••...
Note :
Aku sampai nangis karena tulisan yang udah aku ketik dalam part ini hilang gitu aja, aku udah nulis sampai 1300 kata lebih, pas aku check buat benerin kata takut ada banyak typo, aku benerin kata yang salah terus pencet tombol delete tetapi dalam sekali pencet itu bisa bikin tulisanku hilang ratusan kata, karena tulisanku tinggal 900 kata doang.
Aku nangis kejer karena part itu part yang penting dan aku udah ngerangkai kata susah payah.
Aku sepanjang nulis ulang, air mataku netes terus gak beehenti karena saking nyeseknya. Aku sedih karena kalo nulis ulang pasti dah beda gak kayak yang awal.
Aku sampai beepikie gini, "Udahlah aku badmood, gak usah lanjut nulis lah"
Tapi aku sadar kalain dah nunggu OAF Up lama, aku lagi ada tugas terstruktur yang jawabannya harus di kumpulin secara nyata, di tulis di kertas folio lalu di kumpulin hari itu juga ke ketua kelompok, nanti guru yang akan ke tempat itu sebagai pos pengambilan tugas.
Pengumpulan tugas itu harus pada hari itu juga, setiap hari selalu di kasih tugas karena yang kelas 12 lagi Ujian, Aku yang kelas sekarang kelas 11.
Dibatasin sampai jam 1 siang, setelah itu aku istirahat karena capek gak mau mikir melulu, mohon maklumin ya🙇
Aku masih sedih karena ketikanku hilang sia-sia karena sekali kesalahan, lebih sebelnya itu kejadian sampai tiga kali lebih, gimana Aku gak pengin marah coba, gimana dong😭
__ADS_1
Maaf ya readers OAF, aku malah jadi curhat😖