
Adnan melangkahkan kakinya menghampiri ranjang yang Syifa tempati, ia duduk di pinggir ranjang. Tangannya menarik selimut sebatas perut, tak lupa menyingkirkan guling yang berada di pelukan Syifa.
Ia menggoyangkan lengan Syifa yang tertutupi piyama lengan pendek sebatas siku, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, berharap Syifa segera bangun dari tidurnya.
"Ifa"
Tak ada balasan, ia menggoyangkan lebih keras dari sebelumnya.
"Syifa bangun"
"Bangun sayang, udah siang!"
Adnan mengerutkan keningnya karena Syifa tak kunjung bangun, "Sayang ini sudah siang lho, nanti kamu telat sekolahnya!"
Masih tetap sama, tak ada respon sama sekali, Adnan terkejut ketika telapak tangannya tak sengaja menyentuh lengan Syifa yang tak tertutupi piaya. Terkejut karena lengan Syifa terasa sangat panas, "Astaga, kok panas?!"
Ia segera mengecek kening beserta leher Syifa, dan benar saja terasa sangat panas di tangannya.
"Kamu demam sayang!"
"Panas banget kayak gini" Ucapnya cemas, ia sungguh khawatir.
Adnan beranjak menuju pintu berniat untuk turun tetapi ia urungkan karena Bara dan Revan memasuki kamar Syifa. Mereka berdua berdiri dengan menghalangi jalan Adnan.
"Lo ngapain aja sih, udah selesai belum?! Kita udah nunggu kalian dari tadi, Mommy sampai khawatir sama kalian berdua!" Ucap Bara dengan rentetan pertanyaan.
Adnan mendengus kasar, ia sedang panik dengan keadaan Syifa, tetapi kedua Adiknya ini malah memberinya banyak pertanyaan, sebenarnya hanya Bara sih yang bertanya.
"Gue mau telfon Dokter buat segera periksa Syifa karena Syifa terkena deman, paham!" Ucapan Adnan di sertai dengan penekanan dan tatapan menusuk.
"Hah?! Syifa demam?!" Seru mereka berdua terkejut, Bara segera menghampiri Syifa yang tertidur pulas di atas ranjang.
Revan melihat Adnan meraih ponsel dan terlihat sedang menelfon seseorang, yang ia yakini pasti menelfon Dokter Ferdi, yang sebagai Dokter kepercayaan keluarganya.
"Kok kamu bisa sakit sih, jangan-jangan ini karena kamu kehujanan kemarin ya!" Bara mengomel pada diri sendiri karena Syifa belum merespon, dia masih menutup matanya.
Revan menghampiri Bara dan Syifa, ia duduk di atas ranjang samping Syifa berbaring, mereka berdua sama-sama menggenggam tangan Syifa kanan kiri.
Bisa Revan lihat, wajah Syifa begitu pucat, tubuhnya sangat panas dan bibirnya juga mengering. Tangannya mengelus pucuk kepala Syifa dengan pelan penuh ke hati-hatian, ia meringis merasakan kening Syifa yang lebih panas dari tangan Syifa tadi.
Adnan yang selesai bertelfon ia kembali membuka suaranya, "Gue mau ke bawah dulu buat ngabarin Mom and Dad, Kalian jagain Syifa dulu di sini!" Tutur Adnan setelah itu melenggang pergi tanpa menunggu balasan dari kedua Adiknya.
Revan dan Bara menganggukkan kepala walau tidak di lihat Adnan, mereka khawatir dengan keadaan Syifa, saat Syifa sakit mampu membuat seisi rumah kalang kabut.
Selagi menunggu Adnan balik beserta kedua orang tuanya, Bara mengetik sesuatu kepada seseorang, lalu menghela nafas berharap ini mampu membantu.
...••••...
Abi sedang tertidur pulas, terusik mendengar suara deringan ponsel. Dari nada deringnya ia hafal kalau itu adalah sebuah notifikasi chat dari seseorang.
Ia membiarkan saja pesan itu, tetapi rasa penasarannya lebih mendominasi sekarang, takutnya itu adalah sebuah pemberitahuan dari Dosennya untuk hadir hari ini dengan mendadak.
"Awas aja kalo beneran dari Dosen, hari ini kan Gue libur!" Gerutu Abi dengan mengucek matanya pelan, ia bangkit terduduk di atas ranjang.
Matanya melirik ponsel yang berkedip di atas nakas samping ranjang, meraihnya dan membuka isi dari pesan itu.
"Pesannya harus penting pokoknya!"
Abi membaca pesan dengan seksama, ia melotot setelah mengetahui isi dari pesan itu. Ia bangkit berdiri dan melempar ponsel yang masih menyala di atas kasur.
Abi meraih handuknya dan masuk ke kamar mandi, ia ingin segera bersiap.
Pikirannya berkecamuk dengan isi pesan itu, "Gue khawatir" Katanya lirih membiarkan guyuran air shower membasahi rambut dan tubuhnya.
Bara Adi Winata
Gue cuma mau ngabarin, Syifa demam. Mungkin karena efek kemarin hujan-hujanan.
Lo hari ini libur kuliah kan, bisa ke sini gak?
Read
...••••...
Abi berdiri di depan cermin di kamarnya, ia melihat pantulan dirinya yang mengenakan kaos hitam, tangannya mengambil hry dryer untuk mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
Kemudian, ia menyisir rambutnya yang sudah kering. Matanya menyipit karena tersenyum melihat penampilannya yang sudah rapih.
Tak lama ia melotot setelah mengingat tujuannya berdandan seperti ini, "Gue harus cepet sampai"
Abi mengambil kunci mobil, dompet, dan ponsel miliknya, lalu berjalan menuju garasi mobil.
Di tengah perjalanan, Abi di hadang Bundanya.
"Abi, mau kemana?" Tanya Bunda Desy yang melihat putranya sudah rapi, padahal ia tahu putranya ini tidak memiliki jadwal kuliah untuk hari ini.
Abi menatap Bundanya sebentar, "Ini, Abi mau ke rumah Bara Bun"
"Ngapain?"
"Ada urusan sebentar, Abi pamit ya Bun" Abi mengamit tangan Bunda Desy untuk menyalimi, ia mencium punggung tangan wanita tercintanya yang telah melahirkannya.
Setelah salim, ia segera berlalu karena tidak ingin Bundanya banyak bertanya ini-itu.
"Eh, tapi.." Ucapan Bunda Desy terhenti karena Abi sudah berjalan jauh di depan.
Bunda menghela nafasnya, "Ya sudah lah, dasar anak muda" Ia berbalik badan menuju halaman belakang.
Abi mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, bisa di bilang ia sedang mengebut. Untung saja jalanan sekarang tidak terlalu macet sehingga ia bisa mengebut tanpa hambatan.
Abi melirik rambu-rambu lalu lintas yang sebentar lagi akan berganti warna merah, ia menginjak gas lebih kencang sebelum warna hijau itu berganti warna merah.
Menghela nafas lega karena dapat melewati itu dengan cepat tadi, "Siapa nih?"
Abi meraba saku celananya karena merasakan getaran ponsel, ia mengambil ponsel untuk mengecek siapa yang menelfonnya.
Abi melirik nama yang tertera di ponsel, ia memasang earphone bluetooth di telinganya, lalu menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo" Sapanya ketika menerima telfon dari seseorang itu.
"Halo Bi, Lo di mana? Bisa ke sini gak?" Balasan dari seberang telfon membuat Abi bergerak sedikit, untuk menyamankan duduknya.
"Gue lagi di jalan, Gue bakal ke sana, sebentar lagi sampai"
"Ouh oke, Gue tunggu, soalnya Gue ada janji sama Dosbing"
Abi mengatakan itu karena ingin menenangkan sahabatnya yang terdengar panik dan khawatir, dia pasti bingung memilih berangkat kuliah atau menjaga Adiknya.
Bagaimanapun jika ia yang berada di posisi Bara juga akan sama-sama bingung dan bimbang.
"Ya udah Gue tutup telfonnya" Izin Bara untuk menutup telfon.
"Iya"
Setelah balasan dari Abi, Bara segera menutup sambungan telfon.
Abi melepas earphone bluetooth dan meletakkan kembali di dashboard mobil, ia membelokkan stir mobil untuk mulai memasuki perumahan elit.
Abi menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyapa pada pak satpam di mansion Bara.
Abi keluar dari mobil setelah memarkirkannya dengan rapi, sebelah tangannya menenteng satu kresek sedang. Ia melangkah memasuki mansion yang terlihat sepi di lantai bawah.
"Sepi banget"
Abi terus melangkah di undakan anak tangga, saat berjalan sayup-sayup ia mendengar suara di lantai dua.
"Mereka semua pada di lantai dua ya"
"Gue harus cepet!" Abi melangkah lebih cepat daripada sebelumnya.
Saat sampai di depan kamar Syifa, ia yakin semua orang berkumpul di dalam sana. Ia pun mencoba membuka pintu kamar Syifa dengan perlahan, untungnya pintu kamar Syifa tak terkunci.
Bisa ia lihat, di sana banyak orang yang berdiri mengerumuni ranjang, dan ada satu orang yang berpakaian jas putih.
"Pasti itu Dokternya" Gumamnya pelan.
Ia berjalan memasuki ruangan bernuansa feminin. Hampir semua barang-barang di sini berwarna Pink, ada perpaduan putih di dalamnya.
Cantik, tentunya seperti orang yang punya kamar.
"Hmm" Dehemnya lumayan keras, menyadarkan semua orang yang berada di sana.
__ADS_1
Semuanya menatap Abi yang berdiri di depan pintu, Bara adalah orang pertama yang menyambutnya, Bara berjalan menghampiri Abi lalu mengajaknya mendekat.
"Masuk aja Abi" Ucap Bara membawa Abi untuk mendekati ranjang milik Syifa.
Abi menatap Syifa intens, wajahnya pucat sekali dengan bibir mengering, Syifa masih menutup matanya tertidur pulas.
"Om, Tante" Sapa Abi menyalimi tangan Aditya dan Vina.
Kedua orang yang di salimi oleh Abi hanya tersenyum dan mengangguk singkat, Abi pun paham mereka pasti sangat khawatir dengan keadaan putri mereka yang sedang sakit.
"Kalo Abi boleh tau, Syifa sakit apa?" Abi bertanya karena penasaran, ia ingin lebih jelas Syifa sakit karena apa.
Dokter yang masih ada di sana segera menjawab pertanyaan Abi, "Nona Syifa mengalami demam, gejalanya ringan, seperti demam pada umumnya. Hanya saja suhu Nona Syifa terlalu tinggi, jadi lebih baik jika menjaga suhu ruangan kamar lebih hangat"
Adnan langsung mengambil remot AC dan mematikan AC nya, kamar Syifa hanya mengandalkan udara dari jendela dan balkon. Adnan juga menyelimuti Syifa dengan dua selimut.
"Kalian tenang saja, keadaan Nona Syifa akan baik-baik saja. Ini adalah hal lumrah karena efek kehujanan. Setiap orang punya imun yang berbeda, sedangkan imun Nona Syifa bisa di katakan lebih rentan dan mudah sekali untuk sakit" Lanjut Dokter Ferdi memaparkan untuk menenangkan mereka yang khawatir.
"Setelah Nona Syifa terbangun segeralah untuk makan dan berikan obat ini" Dokter Ferdi menyerahkan berbagai macam obat, sekiranya ada tiga obat yang berbeda.
Revan yang berdiri di dekat Dokter segera menerima obat itu dan meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur.
"Syifa bakal sembuh kan?" Tanya Vina menatap Dokter sekilas lalu beralih menatap Syifa lama.
Dokter Ferdi mengangguk, "Tentu Nyonya, jika dalam satu hari setelah meminum obat tidak ada perubahan, segeralah bawa Nona Syifa ke Rumah Sakit" Jelas Dokter Ferdi, semuanya mengangguk patuh. Abi menyimak dengan baik semua ucapan Dokter Ferdi.
"Kalau begitu, Saya pamit undur diri" Pamit Dokter Ferdi yang ingin segera pulang setelah selesai melaksanakan tugasnya.
"Mari Saya antar Dok" Ucap Aditya mengusulkan diri untuk mengantar Dokter Ferdi sampai teras depan.
Setelah Dokter dan Aditya keluar, semuanya menatap Syifa dan menghampirinya. Vina mengelus kening Syifa yang panas dan mengecupnya lama, meresapi sebagai doa ibu untuk putrinya agar segera pulih kembali.
Vina menatap empat orang lelaki yang berdiri di sana, "Mommy mau turun dulu ngecek Daddy dan suruh Bibi buatkan Syifa bubur"
Semua mengangguk, "Ini Tante, Abi bawa bubur buat Syifa, tinggal taruh di mangkuk, Tan" Ucap Abi sopan menyodorkan satu kantong kresek yang ternyata adalah bubur yan tadi sempat di belinya.
"Ah, terimah kasih Abi, biar Mommy suruh Bibi yang nganter bubur sama air putihnya nanti" Vina menerima sodoran kresek dari Abi, kemudian berlalu pergi.
"Sama-sama Tante" Vina yang belum sepenuhnya keluar kamar tersenyum mendengar balasan Abi.
"Bar, Lo gak kuliah? Lo punya janji kan sama Dosbing?"
"Ah iya, tapi Syifa-"
"Udah biar Gue yang jagain Syifa di sini" Potong Abi menyela ucapan Bara.
Bara mengangguk setuju karena ia sudah lumayan telat untuk berangkat kuliah.
"Gue titip Syifa, jaga baik-baik Bi!" Bara menatap Abi dengan serius.
Abi mengangguk, "Iya bakal Gue jagain, Lo tenang aja, Syifa aman sama Gue"
Setelahnya Bara keluar kamar setelah menepuk bahu Abi sekilas, kini di kamar Syifa tinggal Abi, Adnan, dan Syifa yang setia menutup mata.
Abi melirik Adnan takut-takut, ia tidak berani bersuara untuk bertanya dan membuka obrolan, melihat bagaimana rupa Adnan yang sedikit menyeramkan. Mungkin karena Adnan terlalu khawatir dengan Syifa.
"Gue pergi, jaga Syifa selama Gue ada di kantor. Gue percayain Syifa sama Lo!" Ucap Adnan tiba-tiba, Abi terkejut mendengar suara Adnan yang terdengar tegas tidak main-main.
Abi tersenyum, "Iya, bakal Gue jagain sebaik-baiknya, Lo tenang aja Kak"
Adnan menghela nafasnya merasa lega karena ada seseorang yang akan menjaga Syifa dengan baik. Ia sedikit bimbang tadi karena ia pun tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Tetapi, setelah kedatangan Abi, mampu membuat perasaannya lebih lega.
"Gue pergi dulu, jagain yang bener!" Adnan menatap tajam Abi, sedangkan Abi mengangguk cepat sedikit takut melihat tatapan tajam Adnan.
Setelah Adnan pergi, Abi mendekat pada Syifa, ia menatap Syifa dengan pandangan sendu.
"Udah tau kalo Kamu tuh gampang sakit, masih aja nekat hujan-hujanan!"
"Seneng Kamu buat semua orang khawatir!"
"Kamu seneng kan bikin aku panik!"
Abi terus-terusan mengomel pada Syifa yang tetap terlelap.
__ADS_1