Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 75


__ADS_3

Episode 75


Sepulang sekolah, Syifa langsung berpamitan pulang karena sudah di tunggu Revan.


"Syifa pulang duluan yah, Ana, Lita, Nisa" Pamit Syifa menatap sahabatnya satu per satu.


Mereka mengangguk secara bersamaan, "Gak papa Fa, hati-hati di jalan"


"Siap!"


"Tenang aja, kan Syifa bareng Kak Revan"


"Ahaha iya, good!" Balas Nisa, sedangkan Ana dan Lita hanya tersenyum saja.


"Kalo gitu, Syifa duluan ba-bye!" Syifa berlalu dengan melambaikan tangannya, tak lupa senyuman manis tersungging di bibirnya.


Ketiganya sama-sama melambaikan tangan membalas lambaian Syifa, "Bye Syifa!"


Setelah Syifa berlalu, kini tersisa tiga orang yang masih berdiri di depan kelas sepuluh.


"Gak nyangka kita udah mau naik kelas aja" Celetuk Nisa membuyarkan suasana hening.


"Bener banget, perasaan baru kemarin kita masuk SMA"


"Waktu berlalu begitu cepat" Gumam Ana pelan, tetapi masih bisa di dengar Nisa maupun Lita.


Nisa dan Lita mengangguk membenarkan ucapan Ana itu, mereka berjalan meninggalkan lorong kelas sepuluh menuju parkiran.


Nisa dan Lita membawa motor matic nya masing-masing, sedangkan Ana tentu saja akan pulang bersama pacar, siapa lagi kalau bukan Sandi.


"Tapi pusing juga mikirin materi yang bejibun buat PAS nanti" Kata Lita mengeluh.


PAS \= Penilaian Akhir Semester


"SKS aja, jangan di bikin ribet!" Jawab Nisa acuh, tak mau ambil pusing. Karena materi sekolah aja udah bikin kepala pusing tujuh keliling.


SKS \= Sistem Kebut Semalam


"Lo pikir gampang belajar cuma semalem dan langsung masuk otak gitu?!" Lita tak menerima usulan Nisa yang kurang efektif.


Memang, dengan sistem kebuat semalam ilmu yang di dapat kurang maksimal, di tambah dengan kita yang mengantuk di pagi harinya karena begadang membaca materi keseluruhan dalam semalam.


Besoknya, bukannya fresh dan semangat di pagi hari, malah lesu dan sering menguap. Pastinya bakal mengganggu selama proses Ulangan berlangsung.


"Ya makanya di cicil belajar mulai dari sekarang"


"Halah Lo sok bijak, sendirinya aja gak belajar tuh" Ejek Lita melirik Nisa sinis, sedangkan yang di lirik melotot kesal. Ana hanya terkikik pelan melihat sahabatnya berdebat.


"Heh Gue belajar kok, membaca nih Gue!" Ujar Nisa bangga, ia bahkan menepuk dadanya bangga.


"Baca apa?" Tanya Ana penasaran.


Pasalnya Nisa selama di sekolah tak terlihat membaca buku atau bahkan pergi ke perpustakaan untuk membaca atau meminjam buku di sana.


"Baca Noveltoon!" Seru Nisa semangat tanpa melihat reaksi kedua temannya yang melongo.


"Yee kalo itu sih Gue juga setiap saat baca Noveltoon" Lita tak mau kalah, ia pun juga membeberkan hobi membacanya, lebih tepatnya membaca novel lewat aplikasi berwarna biru.


"Kalo Mangatoon?" Ana menatap kedua sahabatnya dengan bergantian.


"Itu juga Gue baca kok! Seru ceritanya!" Balas Nisa semangat.


"Gue juga!"


Ana mengangguk mengerti, ternyata ada yang mereka gemari, ia pikir sahabatnya itu hanya suka rebahan saja.


"Nah, berarti kita dah membaca kan, sama aja sama belajar. Belajar kan juga membaca buku sama tulisan" Nisa melanjutkan aksi berdebat, kalo gini kapan selesainya?


"Suka-suka Lo lah, pusing Gue" Lita pasrah tak mau lanjut berdebat. Mengalah? Maybe yes.


"Minum Baygon" Celetuk Ana bercanda.


"Mati dong Gue" Balas Lita mendramatisir, lebih ke lebay karena kedua tangannya memegang leher depan seolah-olah sedang sekarat.


Ana tertawa lepas melihat tingkah Lita, sedangkan Nisa mendengus.


Nisa menonyor belakang kepala Lita, yang akhirnya membuat kepala Lita terantuk ke arah depan.


"Sakit! Lo tega banget sama Gue Nis!"


"Bodo amat!"

__ADS_1


"Ish!!"


"Yuk kita tinggal aja si Lita di sini, biar di culik penunggu sekolah" Ajak Nisa memprovokasi terhadap Ana.


Tanpa persetujuan Ana, Nisa menarik tangan Ana untuk mengikuti langkahnya agar meninggalkan Lita sendirian di belakang.


Lita yang di tinggal, memanyunkan bibirnya sebal.


"Kok beneran di tinggal?! WOYY TUNGGUIN GUE!!"


Lita berlari menyusul Ana dan Nisa yang sudah berlari menjauh, ia tak ingin di lorong sepi ini sendirian, seram oy.


•••°•••


Angin berhembus kencang karena kini Ana sedang duduk di boncengan motor milik Sandi, pacarnya.


"Dingin?"


"Emm sedikit"


"Tangannya mana?"


"Hah? Apa?"


"Tangan kamu sayang"


Blush


Pipi Ana memerah mendengar panggilang sayang keluar dari mulut Sandi. Walau ini bukan yang pertama kalinya, tetapi mampu membuatnya blushing setiap mendengar panggilang kesayangan itu.


Selain blushing karena malu, kini jantungnya pun berdetak abnormal, terlalu cepat sampai membuatnya neringis merasakan debaran yang menggila.


Sandi melirik Aba lewat spion motor ketika pacarnya ini hanya diam tanpa meresponnya, nelihat bahwa Ana berusaha menyembunyikan kedua pipinya yang kini memerah, Sandi pun tak dapat menahan senyumnya lagi.


Akhirnya, sebuah senyuman lebar juga manis tersemat di bibir Sandi.


Pacar Gue lucu banget sumpah, pengin bawa pulang, Batin Sandi tersenyum-senyum.


Segera setelah dirasa sudah membaik dari rasa malu, Ana menyodorkan tangan kirinya pada Sandi yang sedang menyetir.


Sandi memelankan laju motornya lalu meraih tangan kiri Ana untuk ia genggam lalu menariknya, membuat Ana yang tak siap ikut tertarik ke depan.


"Akkh!"


Aish, modusnya lancar yah.


Ana yang terkejut semakin dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Sandi. Sekarang ia memeluk tubuh Sandi dengan kedua lengannya karena refleks saat ia membentur tubuh Sandi.


Ana menahan senyum agar tak merekah, lagi-lagi pipinya memerah tanpa di perintah. Ana yang terlalu malu kini membenamkan wajahnya di punggung lebar Sandi.


Sandi yang merasakan Ana tak protes bahkan sekarang membenamkan wajah pada punggungnya, tersenyum untuk kedua kalinya untuk sore ini.


Ana mendongak memandang Sandi yang tertutup helm fullface nya ketika merasakan sebuah elusan pada lengannya yang melingkar di perut Sandi.


Sandi menyetir dengan satu tangan, karena satu tangannya lagi sedang mengelus lengan Ana posesif.


"Laper gak?"


Untungnya Ana tidak budeg untuk mendengar apa yang di ucapkan Sandi padanya saat berkendara begini.


Ana menganggukan kepalanya pelan, "Iya, aku laper" Ucapnya tanpa malu, jujur lebih baik bukan?


"Kita mampir Cafe dulu yah?"


"Iya"


Tak lama, Sandi membelokkan arah motornya dan berhenti di depan Cafe yang terlihat ramai pengunjung.


Ana yang peka dengan cepat turun dari atas motor, lalu menatap Cafe dengan pandangan berbinar.


Sebab, tampilan Cafe dari depan saja sudah terlihat menarik dan cute, tak sabar ingin segera masuk dan melihat bagian dalamnya.


Sandi meletakkan helmnya di atas motor lalu menyugar rambutnya ke belakang, berniat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Tetapi aksi Sandi yang merapikan rambutnya membuat seluruh atensi orang-orang menatap Sandi dengan kekaguman.


Ana yang mengetahui itu segera bertindak, mendekati Sandi yang masih duduk di atas motor, kedua tangannya terulur ikut merapikan rambut pacarnya itu.


Menunjukkan kepemilikan bahwasanya Sandi telah memiliki pacar, Sandi sudah ada yang punya, tidak boleh ada yang ambil!


Bagitulah Ana merapikan rambut Sandi dengan sedikit dengusan, Sandi mengernyit melihat pacarnya ini.

__ADS_1


Bukan karena Ana merapikan rambutnya, tetapi karena raut wajah Ana yang cemberut, bibir manyun, tak lupa dengusan yang sesekali keluar dari mulutnya.


Ada apa dengan pacarnya ini?


"Kamu kenapa?"


Ana menatap mata Sandi lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Gak papa"


Kamus wanita, kalau wanita berbicara gak papa itu berarti ada apa-apanya.


Sandi tahu itu, "Jangan sembunyiin apapun dari Aku, Ana"


"Enggak kok" Ana masih berusaha mengelak, berharap Sandi percaya padanya dan tak menanyakan itu kembali.


Sandi menatap mata Ana dalam dan lekat, mencoba mencari kebohongan dan keraguan. Gotcha!


Sandi mendapatkannya, Ana terlihat ragu dari pancaran matanya, tangannya meraih kedua tangan Ana dan menggenggamnya erat, tak ingin terlepas.


Ana terkejut dengan Sandi yang mengecup kedua punggung tangannya secara bergantian. Ia melirik pandangan orang-orang yang sudah tidak lagi memandang Sandi, mungkin karena sudah ada dirinya di sini.


"Kenapa? Cerita sama Aku"


"Aku kesel"


Sandi diam, ingin mendengar kelanjutan apa yang akan di sampaikan Ana padanya.


"Aku sebel sama mereka yang natap kamu berlebihan, kan udah jelas kalo kamu dateng bareng Aku, kok masih aja di tatap gitu, Aku gak suka!" Jelas Ana panjang lebar.


Sandi tersenyum mendengar rentetan kekesalan Ana, ia menarik tubuh mungil Ana untuk mendekat pada tubuhnya untuk ia peluk.


Mata Ana membelalak saat Sandi memeluknya di tempat umum begini, "S-sa.. Sandi"


"Hmm"


"Lepas, ini tempat umum"


"Biarin, biar mereka tahu, kalo Kamu cuma milik Aku, dan sebaliknya. Aku milik Kamu"


Ucapan Sandi bagai panah yang tertancap tepat di dadanya, debaran itu datang lagi. Semakin menggila membuatnya berdebar tetapi menyanangkan.


Kalimat yang di ucapkan Sandi mampu melemaskan seluruh otot dan sendi di tubuhnya, sungguh tak baik buat jantung dan tubuh kalo gini terus.


Ana tersenyum di sela ia yang memebeku, ia membalas pelukan Sandi tak kalah eratnya.


Setelah beberapa saat saling berpelukan, Sandi melepas pelukan sedikit tak rela, ia tersenyum lalu mengwlus pipi Ana lembut, "Masuk yuk, tadi katanya laper"


Ana mengangguk, "Ayo"


Sandi turun dari motor lalu menggandeng tangan Ana, berjalan menuju Cafe dengan bergandengan bersama.


Lonceng yang berada di pintu Cafe berbunyi ketika Sandi membukanya, matanya dengan jeli memindai kursi mana yang kosong agar mereka berdua dapat duduk dengan tenang.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Sandi menarik lembut menuju meja dan kursi yang kosong di pojok kanan.


Ana hanya diam menurut mengikuti langkah Sandi yang menariknya menuju meja kosong.


Mereka berdua duduk di sana dengan berhadap-hadapan. Ana mengambil buku menu yang tersaji di meja, lalu membukanya.


Sandi mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Tak berapa lama seorang pelayan perempuan datang membawa buku kecil untuk mencatat pesanan pelanggan.


"Mau pesan sesuatu, Kak?" Tanya sang pelayan Cafe pada Sandi dan Ana.


"Mau pesan apa, Ana?" Sandi bertanya pada Ana untuk memulai pesanan lebih dulu.


"Aku pesan Cake Banana dan Milkshake Chocolate"


"Saya Coffelate panas"


Segera saja sang pelayan mencatat pesanan sang pelanggan, "Masih ada yang lain, Kak?" Tanyanya memastikan.


Sandi menggeleng.


"Baiklah, pesanan akan di antar, tunggu beberapa menit" Lalu pelayan itu pamit undur diri.


Selagi menunggu pesanan datang, Ana merogoh saku untuk mengambil ponsel, ia akan bermain ponsel untuk menghilangkan bosan.


Sandi membiarkan saja, ia juga ikutan mengecek ponsel dan memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku ketika mengetahui tak ada notif yang muncul.


Sebenarnya banyak notif yang ia dapat, tatapi tak ada yang penting. Karena rata-rata chat itu berasal dari gadis-gadis caper, cari perhatian. Ia malas untuk menganggapi.


Kini fokus Sandi hanya menatap Ana dengan intens, tak ingin mengalihkan pandangan sedikit pun. Karena ada yang lebih menarik dari pemandangan di luar.

__ADS_1


Yaitu, Ana, pacarnya yang duduk di depannya lebih cantik dari apapun, bahkan sinar mentari yang menyorot dari luar kaca menambah kadar kecantikan seorang Ana Dwilaya, kekasih dari Sandi Bintara.


__ADS_2