
Syifa menghela nafas berat, dirinya sudah bosan bahkan sedikit kesal.
"Kok, Alfa lama ya?"
"Sayang"
Suara itu terdengar dari sisi samping kanannya. Syifa menoleh kearah kanan.
Ia melihat Alfa berdiri disana dengan dua botol air mineral.
Alfa tersenyum pada Syifa, kakinya berjalan mendekati Kekasihnya.
Alfa duduk di samping Syifa. Ia membuka tutup botol minuman itu, lalu memberikannya pada Syifa.
"Diminum yang"
Syifa menerima botolnya, "Makasih"
"Sama-sama" Alfa tersenyum manis.
Mereka berdua sama-sama beristirahat dengan sesekali meneguk air mineral masing-masing.
Suasana di Taman semakin ramai orang, karena hari semakin siang. Pastinya banyak yang berkunjung di taman ini.
Bahkan anak-anak juga banyak yang bermain disana, jangan lupakan puluhan pasangan tentunya turut meramaikan seisi taman.
Syifa tertawa kecil memikirkan banyak anak remaja yang kasmaran. Alfa menoleh pada Syifa yang tertawa itu.
"Kenapa ketawa?"
"Ada yang lucu?" Lanjut Alfa menatap Syifa dengan penuh tanya.
Syifa menggeleng kecil, "Enggak kok"
"Beneran?"
"Iya" Syifa tersenyum manis, berusaha menenangkan Kekasihnya.
"Kamu gak perlu khawatir"
"Gak khawatir gimana? Kamu tiba-tiba ketawa sendiri" Protes Alfa pada Syifa dengan wajah sewot.
"Bikin Aku takut tau" Lanjut Alfa.
"Apa?" Syifa menantang Alfa karena mendengar ucapan terakhir Alfa.
Alfa menaikkan satu alisnya, agar Syifa melanjutkan ucapannya.
"Kamu mau bilang kalau Aku gila gitu?!"
Tangan Syifa bersedekap didada, ia sedikit tersinggung.
"Hah?!" Alfa bengong.
"Iya kan?!"
"Kapan Aku ngomong gitu?" Heran Alfa menatap Syifa.
"Y-ya.."
"Gak pernah dan gak akan pernah Aku bilang Kamu gila yang"
"Jangan ngomong aneh-aneh deh" Alfa mengelus kepala Syifa dengan senyuman dibibirnya.
Alfa melepas tangan Syifa yang bersedekap, ia pun menggenggam tangan Syifa lembut.
Alfa menatap Syifa dengan tatapan sayang dan cinta.
Alfa mengecup pipi bulat Syifa lembut, pipi Syifa memerah malu. Apalagi ini ditempat umum, banyak orang disini.
"Kamu kebiasaan ya, cium-cium sembarangan"
"Ini ditempat umum, Syifa malu" Lanjut Syifa dengan pipi memerah.
Alfa terkekeh, "Ngapain malu"
"Lihat tuh, gak ada seorang pun yang merhatiin kita. Mereka sibuk sama dunia masing-masing" Alfa menunjuk yang lain dengan dagunya.
Syifa menatap sekeliling, mereka memang sibuk sendiri-sendiri.
"Jadi gak papa dong, Aku cium Kamu lagi"
Belum juga Syifa membalas ucapan Alfa, ia sudah mendapatkan kecupan bertubi-tubi di pipinya, dari Alfa.
Syifa tertawa geli, "Udah"
"Udah ih!"
Alfa tertawa gemas dengan wajah cemberut Syifa.
...●●●...
Caesa menghentikan laju Taxi diarea perbelanjaan yang cukup terkenal.
"Berhenti Pak"
"Baik"
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Caesa pun berhenti tepat didepan sebuah Mall.
"Ini uangnya Pak"
Caesa menyodorkan dua lembar uang 50 ribu pada Sopir.
"Terimakasih, Neng"
Sang sopir pun menerima uang tersebut.
"Sama-sama" Balas Caesa seraya tangannya membuka pintu, lalu segera turun dari mobil itu.
Setelah itu, mobil Taxi tersebut segera melaju dengan kecepatan sedang untuk mengantar penumpang selanjutnya.
Caesa menatap pusat perbelanjaan alias Mall, dengan pandangan sumringah.
"Ini saatnya Gue bersenang-senang"
Caesa berjalan memasuki Mall tersebut, ia mengedarkan pandangan untuk mencari tempat yang ingin ia tuju.
Karena ramai pengunjung, membuatnya kesulitan melihat.
"Ketemu!" Seru Caesa girang.
Caesa bergegas menuju tempat itu, sebelum semakin ramai. Takutnya ia gak kebagian tempat duduk.
Foudcourt menjadi incarannya, selain spot nya bagus. Menu disitu juga tak kalah berkelas. Ia jamin rasanya sungguh sesuai selera banyak orang.
Caesa duduk dikursi yang tersedia disana, lalu memesan minuman pada pelayan.
Minuman ini untuk menemaninya bersantai ria.
"Mau pesan sesuatu Kak?" Ucap sang pelayan wanita menghampiri Caesa yang sedang duduk.
"Saya pesan satu Chocolate Milkshake"
Pelayan itu segera mencatat pesanan Caesa.
"Ada lagi?" Tanya pelayan itu pada Caesa.
"Tidak ada"
"Okey, ditunggu ya Kak" Sang pelayan segera pamit undur diri disertai senyuman ramah.
Caesa menganggukkan kepalanya.
Caesa mengambil ponsel di slingbag nya, ia membuka ponsel itu.
Caesa terlihat mengetikkan sesuatu di ponselnya, tak lama ia membacanya dengan serius.
Caesa sedang membuka di laman goggle, ia mencari info, biodata, juga kisah-kisah dari sebuah marga.
Tepat sekali!
Caesa sedang menyelidiki info-info yang berkembang di masyarakat tentang Keluarga Winata.
Banyak artikel yang muncul dari satu kalimat pencarian.
"Menakjubkan!" Seru Caesa dengan wajah senang.
"Sepertinya ini semakin menarik"
"Sesuai yang Gue inginkan"
Caesa sedikit terkejut membaca kisah-kisah dalam Keluarga Winata.
"Udah Gue duga, ternyata Lo memang benar anak kandung Winata"
"Awal kehidupan, Lo sama Gue sama-sama hidup kurang mengenakkan"
"Tapi sekarang apa?"
"Lo hidup enak, sedangkan Gue?"
"Ini gak adil buat Gue"
Caesa menatap foto Syifa yang terpampang di ponselnya dengan sinis.
Caesa terlihat tidak suka dengan semua ini.
"Maka dari itu, Gue pengin buat nasib Lo sama kayak Gue"
Caesa menutup ponselnya dengan kesal.
Ia tertawa sinis, "Permainan dimulai"
"Ini pesanannya Kak"
Tiba-tiba pelayan itu datang dan menaruh cup minuman di meja, sesuai pesanan Caesa.
Caesa terkejut, ia segera menetralkan kembali raut wajahnya.
"Terima Kasih"
"Sama-sama Kak" Sang pelayan tersenyum ramah dan manis.
Tapi semua itu memuakkan bagi Caesa. Ia melengos meghindari kontak mata dengan pelayan wanita itu.
__ADS_1
...●●●...
Sopir keluarga Winata, Pak Joko baru saja mengantarkan Majikannya.
Vina segera turun dari mobil. Ditangan kirinya sedang memegang ponsel, sedangkan tangan kanannya memegang tas tangan yang terlihat elegan.
"Makasih ya, Pak Joko"
"Iya Nya, sama-sama"
"Maaf ngrepotin Pak"
"Enggak kok Nya, udah jadi tugas Saya" Pak Joko tersenyum sopan pada Vina.
Vina ikut tersenyum lembut, "Pak Joko pulang aja. Nanti Saya bisa pulang naik Taxi"
"Jangan Nya, nanti Saya kena marah Tuan"
"Enggak mungkin, udah nanti Saya bisa hubungin suami Saya buat jemput Saya. Pak Joko tenang aja"
"Bener, Nya?" Pak Joko memastikan, karena ia masih terlihat ragu.
Vina tertawa pelan, "Iya, Gak usah khawatir. Pasti Saya hubungin Mas Adit kok"
"Yaudah, Nya Saya pamit pulang dulu"
"Iya, hati-hati dijalan Pak Joko"
"Siap, Nya"
Pak Joko masuk kedalam mobil, di posisi kemudi. Lalu membunyikan tlakson mobil, sebagai tanda pamit.
Vina tersenyum dan mengangguk sebagai balasan.
Vina pun berbalik, ia berjalan memasuki Mall itu.
Saat di tengah jalan dering ponselnya berbunyi. Disana tertera nama My Husband♡.
Vina tersenyum senang, ia segera menggeser tombol hijau untuk mangangkat telpon dari suaminya.
"Halo Sayang"
"Iya, Halo. Kenapa?"
"Kamu dimana?"
"Kamu pasti udah tahu juga" Balas Vina jengah, ia memutarkan bola mata.
"Di Mall?"
"Iya"
"Kok gak izin dulu sama Aku"
Suara Aditya disebrang sana terdengar seperti merajuk.
Vina tertawa setelah tahu kalau suaminya dalam mode ngambek. Tingkahnya sungguh membuatnya gemas.
"Sebentar Mas, Aku cari tempat duduk dulu"
Vina menatap bangku kosong, tak jauh dari tampat ia berdiri.
Ia pun duduk disana, lalu kembali fokus pada telpon suaminya.
"Udah duduk yang?"
"Udah nih"
"Kenapa gak izin dulu?" Aditya menanyakan pertanyaan yang sama, karena Vina belum menjawab pertanyaan itu.
"Bukannya gak mau izin Mas, cuman Aku takut ganggu Kamu"
"Ya enggak ganggu dong Sayang, Kamu kan istri Aku"
"Ya tapi kan Aku gak enak, ganggu Kamu yang lagi kerja"
"Lagian ya Mas, gak Aku kasih tau pun Kamu udah tau dari mata-mata Kamu itu" Suara Vina terdengar sebal.
Aditya memang memerintahkan beberapa mata-mata untuk semua anggota keluarganya.
Aditya ingin yang terbaik buat keluarganya. Ia juga tak ingin hal-hal buruk terjadi.
"Iya juga sih"
"Tuh kan"
"Tapi lain kali harus izin pokoknya, gak mau tau"
"Iya, Iya Mas" Putus Vina mengalah dari pada memperpanjang perdebatan ini. Mode ngambeknya Aditnya pun semakin panjang nanti.
Vina tertawa gemas.
"Kok ketawa?"
"Gak papa, Aku ngerasa gemes sama Kamu kalau lagi ngambek gitu"
"Mana ada aku ngambek begitu" Bantah Aditya, bahkan suaranya terdengar sewot.
__ADS_1
"Iya, enggak kok" Vina lebih memilih mengalah saja lah.