Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 58


__ADS_3

Note :


Ada ralat sedikit tentang Alfarezi yang tinggal di Aussie, lebih tepatnya di Sydney. Aku mau ubah tapi gak tau di episode berapa aja. Kalau kalian ada yang tau dan berkenan bantuin nyari di episode berapa aja, silakan tulis di komentar. Atau boleh juga DM aku, lewat MT/NT/IG.


Ini IG aku @auliaprinch


Follow dong, please..


Satu lagi, Aku mau kasih info tentang penyakit Batu Ginjal. Anggap aja buat menambah wawasan kalian.


Batu Ginjal adalah suatu endapan kecil dan keras yang terbentuk di ginjal dan sering menyakitkan saat buang air kecil.


Gejala yang di alami : nyeri punggung, kencing berdarah, nyeri pada pinggang, mudah lelah, dan sulit fokus.


Makanan yang harus di hindari : Makanan tinggi garam, protein, tinggi gula, tinggi fosfor, merokok, alkohol, kopi, teh, pisang.


Makanan yang dianjurkan : Seledri, buah naga, bayam, ubi, nanas, ikan tinggi asam lemak omega-3, bluberi.


Sekian dan terima kasih.


...°°°...


"Aku tahu Kamu bohong, Aku bakal cari tahu sendiri kalau Kamu gak mau cerita sama Aku"


Tak terdengar suara dari seberang sana, Syifa terdiam cukup lama. Hanya ada suara hembusan nafas.


Dengan keterdiaman Syifa sudah cukup menjelaskan bahwa ada sesuatu yang sudah terjadi. Mungkin ini yang membuat perasaannya gelisah dari kemarin.


Sejak dua hari yang lalu, ia sering gagal fokus saat bekerja karena selalu kepikiran Syifa. Seperti tahu saja kalau Syifa sedang ada masalah, ini seperti ikatan batin.


"Sayang" Ucapnya membuyarkan lamunan Syifa yang sudah ada lima menit terdiam.


"Eh"


"Jangan melamun sayang, gak baik"


"Iya, gak lagi"


"Tugas sekolah Kamu masih banyak?"


"Lumayan"


"Selesain dulu, nanti Aku telfon Kamu lagi"


"Iya, see you"


"See you too honey"


Tuuut


Sambungan telfon terputus, Alfa menghela nafas dengan kasar. Ia khawatir dengan keadaan Syifa sekarang. Ia juga tak menampik rasa penasaran dengan apa yang terjadi pada kekasihnya.


"Apakah masalahnya serius?"


"Gue harus cari tahu ini"


Tangan Alfa bergerak lincah di layar ponselnya, ia menekan tombol call pada layar. Lalu, menempelkan ponsel di telinganya. Menunggu beberapa detik, telfon langsung di angkat dari seberang telfon.


"Hallo Tuan"


"Cari tahu apa yang terjadi pada Tunangan Saya akhir-akhir ini"


"Siap Tuan"


"Tunggu"


"Ya Tuan?"


"Harus detail, mengerti?!!"


"Mengerti Tuan"


Tuuut

__ADS_1


Alfa memutus sambungan telfon tanpa membalas satu kata pun. Ia baru saja menelfon salah satu bawahannya yang ada di Indonesia. Ia menyuruhnya untuk mencari informasi yang terjadi di sekeliling Syifa.


Ia yakin, masalah ini juga pasti tak jauh dari lingkup Winata. Karena Syifa adalah type gadis yang lebih banyak menghabiskan di dalam rumah saja.


Pikirannya berat karena sudah banyak praduga yang bersarang di kepalanya. Alfa menggelengkan kepalanya mengusir pikiran buruk yang kemungkinan menjadi faktor.


"Semoga aja Syifa gak kenapa-napa" Gumam Alfa cemas.


...°°°...


Pagi ini semuanya berkumpul di depan pintu Mansion, lebih tepatnya di teras.


Semuanya sudah berpakaian rapi sesuai tujuan masing-masing, Syifa dan Revan dengan seragam sekolah, Adnan dan Aditya dengan kemeja putih dan Jas hitamnya, Sedangkan Bara dan Vina berpakaian casual.


Bara yang berkuliah, tentu tak harus berpakaian formal. Ia memakai pakaian casual yang terlihat santai tapi tetap rapi dan sopan. Vina pun begitu, ia tak ada kegiatan pergi kemanapun, jadi hanya memakai blouse lengan pendek dan celana kulot yang terlihat pas di kaki jenjangnya.


Tangan Vina dengan terampil merapikan dasi suaminya yang terlihat sedikit miring, tetapi bibirnya tak berhenti mengoceh hal ini dan hal itu.


"Kalian jangan sampai telat makan, jangan sampai kecapaian ya. Mommy gak mau Kalian sampai sakit"


Revan terlihat bosan dengan ceramah dari orang yang melahirkannya, "Mom, udah dong dari tadi ngingetin kita hal yang sama, Revan bosen dengernya" Keluh Revan tanpa peduli pelototan dari Aditya.


"Heh! Kamu jadi anak kurang ajar ya!" Vina mendekat pada Revan dengan tangan yang terangkat ke atas.


"Aww! Aduhh Mom, sakit tangan Revan Mommy cubitin gak kira-kira" Revan menghindar dari cubitan pedas Mommynya pada lengannya.


Syifa tertawa dengan lepas melihat Kakaknya kesakitan.


"Mom, udahlah nanti kalau Bara sampai telat, Mommy yang tanggung jawab ya" Ucap Bara tanpa pikir panjang.


Mata Vina melotot, "Kamu juga! Kenapa sih semua nyalahin Mommy?!" Ucapnya kesal karena terus di salahkan oleh kedua anaknya yang nakal.


Vina bersidekap di dada dan memalingkan wajahnya pura-pura merajuk. Syifa terkikik menahan tawa dengan tingkah Mommynya yang seperti anak kecil.


Adnan menghela nafasnya, ia berjalan mendekati Adiknya yang masih terkikik geli. Tangannya menarik Syifa untuk segera masuk ke mobil.


"K-kak tapi.."


"Ssttt.. diam Ifa, Kita pergi duluan aja. Takut telat nanti"


"Gak usah, kelamaan" Ucap Adnan datar, dan Syifa pun pasrah dengan tingkah Kakaknya yang tak mau di bantah.


Revan yang sadar akan kepergian mobil milik Adnan segera berlari menuju motor miliknya, ia pun tak mau berurusan dengan Mommy yang sedang dalam mode merajuk.


Bara tak mau kalah, ia juga ikut berlari tetapi bukan menuju mobil miliknya, ia malah mendekati Revan dengan maksud tertentu.


Revan yang sedang serius menstater motornya berjengit kaget dengan seseorang yang sudah nangkring di boncengan motornya. Ia menoleh lalu melotot.


"Lo ngapain duduk di situ? Awas!! Gue mau berangkat!"


"Gue nebeng Lo ya, please.." Bara memohon pada Revan dengan wajah memelas juga sedikit panik.


"Mobil Lo kemana? Biasanya juga naik mobil sendiri!!" Gerutu Revan misuh-misuh, motornya pun belum ia jalankan sama sekali.


"Ini darurat!! Lo gak lihat kalau Mom-"


"REVAN!! BARA!! MAU KEMANA KALIAN DASAR ANAK TIDAK SOPAN!! KALIAN GAK PAMIT SAMA MOMMY??!!" Teriak Vina dengan suara yang begitu keras, Aditya yang berdiri di samping istrinya pun segera menutup kedua telinganya. Berusaha melindungi telinganya mencegah ketulian.


Bara menepuk punggung Revan keras karena refleks dengan teriakan Momy tercinta.


"Cepetan di gas motornya Van!!! Buruan!!"


"Iya iya!!"


Brrmm Brmmm


Revan dengan patuh menarik gas motornya dengan kecepatan penuh, membuat Bara dengan refleks memegang pinggang Revan erat.


"REVAN!! BARA!! KEMBALI KALIAN!! HEYY!" Panggilan Vina tak dihiraukan Keduanya yang sudah melaju jauh.


Aditya meringis mendengar teriakan Vina yang ke sekian kalinya untuk pagi ini, ia menghela nafas pasrah akan nasibnya yang menjadi sasaran kemarahan Istrinya.


Vina menghentakkan kakinya kesal melihat kedua putranya yang begitu menjengkelkan. Pagi-pagi sudah dibuat naik darah, bisa cepet tua dia.

__ADS_1


Vina melirik suaminya yang masih berdiri kaku di depannya, "Kamu gak berangkat Mas?!! Mau jadi apa Kamu kalau kerja aja malas!"


"Iya ini-"


"Jangan iya-iya aja dong, cepetan berangkat!!"


"Iya sayang iya Aku berangkat!!"


"Kamu bentak Aku?!!" Ucap Vina tak percaya karena Suaminya telah menaikkan nada bicaranya.


Aditya memejamkam kedua matanya dengan tingkah laku Istrinya, perasaan apa yang ia perbuat selalu salah di mata Istrinya.


Wanita selalu benar, itulah slogan tak tertulis yang begitu selalu di ingat setiap lelaki.


Ia mendekati Istrinya yang masih setia dalam mode merajuk, ia menatap Istrinya lembut lalu mengecup keningnya mesra. Ia bisa rasakan tubuh Istrinya menegang, tetapi seperkian detik kembali rileks.


Vina menatap Suaminya yang mampu membuatnya luluh dalam sekejap ia tersenyum manis lalu mengecup pipi Suaminya ini yang langsung tersenyum cerah bagai matahari pagi ini yang begitu cerah.


"Ini sebagai salah satu stamina buat Aku sayang"


Vina terkekeh pelan, "Kamu yang paling mengerti Aku. Bisa aja bikin Aku luluh secepat ini, dasar!"


Aditya tertawa, "Sama, hanya Kamu yang paling mengerti Aku sayang, I love you forever"


"I love you always"


"Aku pamit ya, bentar lagi masuk" Aditya melirik arloji ditangan kirinya.


"Iya, hati-hati sayang"


"Siap, Kamu jaga diri di rumah ya" Tangannya mengusap kepala Istrinya lembut.


Vina mengangguk lalu menatap mobil Suaminya yang perlahan menjauhi mansion. Setelah mobil Aditya yang sudah tak terlihat, ia berbalik masuk ke dalam rumah lalu menutup pintunya.


...°°°...


Revan yang mengendarai motornya dengan mengebut baru menyadari sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.


Matanya melotot marah, "Bar!!"


"Apa?!!"


"Lepasin tangan Lo dari pinggang Gue!!"


"Hah?!! Lo ngomong apa?!"


"Ck!" Revan berdecak karena Bara mendadak tuli.


Revan menghentikan motornya dipinggir jalan lalu membuka kaca helmnya.


"Lho kok berhenti? Kampus Gue masih jauh bego!" Tanya Bara dengan heran karena Revan memberhentikan motornya secara tiba-tiba.


"Lo yang bego!!"


"Kok Gue?!" Bara memprotes sewot.


Revan melepas lilitan tangan Bara dengan kasar.


"Lo yang bego! Ngapain Lo peluk-peluk Gue segala?!! Kalo ada yang liat gimana?! Malu Gue nanti di kira homo!"


Bara tertawa keras, "Ya maaf, Gue khilaf" lalu ia tertawa kembali akan ucapannya sendiri.


"Khilaf-khilaf, udah gila Lo!"


"Tadi Gue tuh refleks karena Lo ngebut tanpa bilang-bilang dulu, ya karena Gue takut jatuh yaudah Gue langsung pegangan sama Lo"


"Pegangan sih pegangan, tapi gak usah peluk juga, kan bisa pegangan di bahu Gue!"


Bara hanya tertawa menanggapi gerutuan Revan, wajah Revan terlihat sangat kesal.


"Udahlah jalan lagi cepet!!" Perintahnya setelah meredakan suara tawanya.


Revan mendengus kasar karena di perintah ini itu macam babu, dasar Kakak lucknut.

__ADS_1


Revan menstater lagi motornya, "Gue mau ngebut, Cepet pegangan di bahu Gue. Gue gak mau Lo peluk pinggang Gue lagi. Iuuuhh.." Ucap Revan ketus disertai wajah jijik membayangkan orang homo, ia juga kembali menutup kaca helmnya.


Bara memegang bahu Revan patuh disertai tawa kerasnya, ia masih saja tertawa walau Revan sudah melajukan motornya jauh. Revan membiarkan saja Bara tertawa sendiri seperti orang gila. Beruntungnya ia memakai helm fullface untuk menutupi malu akan kelakuan Kakak gilanya ini.


__ADS_2