
Suasana sekolah sangat hening, pastinya semua murid sedang fokus memperhatikan guru yang menerangkan materi, di kelas masing-masing.
Tak beda jauh dengan kelas Syifa.
Pandangan Syifa lurus ke depan, matanya memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Pembelajaran kali ini adalah Matematika.
Syifa tidak ingin ketinggalan satu pun hal kecil materi hari ini. Ia tidak ingin kesulitan dalam mengerjakan tugas atau PR.
"Fokus banget sih Fa" Ucap Ana berbisik.
Syifa tak menanggapi ucapan Ana, ia tidak ingin goyah dengan godaan di sampingnya.
"Syifa gak boleh goyah sama satu setan, fokus Syifa, fokus!" Racau Syifa ngelantur.
"Anj-Astaghfirullah" Ana ingin sekali mengumpat, tapi ia segera sadar. Ia tidak ingin di kebiri ketiga Kakak Syifa nantinya.
"Salah apa coba Gue, di anggap setan sama Sahabat sendiri" Gumam Ana prihatin dengan diri sendiri.
Ana melirik arah depan, ia terlihat enggan dengan mata pelajaran ini. Ana tidak suka sama sekali dengan Matematika.
Seberapa besar pun ia berusaha memperhatikan gurunya, materi itu tetap tidak masuk ke otaknya. Yang ada hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, setelah itu hilang semua rumus-rumus tersebut.
Apalagi Nisa, cewek ini malah memejamkan mata, kedua tangannya membuka buku lebar-lebar, dagunya di taruh di atas meja. Ia tertidur di kelas dengan nikmatnya sambil mendengarkan dongeng dari guru yang paling mulia.
Lita melirik Nisa yang duduk sebangku dengannya, ia hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh.
"Gue juga pengin kayak Lo, bisa tidur. Tapi nanti siapa yang jagain kalo tiba-tiba gurunya datang ke sini"
Lita berpikir, jika ia tidur sama seperti Nisa, nanti yang jadi satpam siapa? Ia tidak ingin sampai ketahuan tidur di kelas.
...●●●...
Ana, Syifa, Lita, dan Nisa, mereka berempat dengan kompak tidak pergi ke kantin. Karena mereka sudah janjian untuk membawa bekal hari ini.
Jadi, mereka berpikir akan menyantap bekal masing-masing di dalam kelas saja. Tak lupa mereka juga membawa sebotol air putih dari rumah.
Mereka berempat berkelompok dengan saling berhadap-hadapan. Kursi yang didepan dibalikkan ke belakang, agar saling berhadapan.
"Syifa" Panggil Ana.
"Iya?"
Tangan Syifa sudah meletakkan kotak makan di atas mejanya.
"Kamu udah ngabarin Kakak kamu, kalau hari ini gak ke kantin?"
Tangan Syifa refleks menepuk jidatnya, "Ouh iya lupa"
"Emang Ana udah ngabarin pacar?" Syifa segera membuka ponsel miliknya.
Kepala Ana mengangguk-angguk, "Udah dong"
"Ooo" Syifa hanya membulatkan mulutnya.
Syifa dengan sigap menelfon Revan, butuh beberapa saat untuk Revan mengangkat telfonnya.
"Hallo Princess?"
"Hallo Kak" Sapa balik Syifa dengan ceria.
"Ada apa sayang? Kamu dimana? Kok belum ke kantin sih!" Tanya Revan bertubi-tubi.
Syifa tertawa, "Nanyanya satu-satu dong Kak"
"Ya lagian Kam-"
"Iya-iya, Syifa hari ini gak ke kantin Kak"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena Syifa bawa bekal"
"Kan bisa dibawa ke sini bekalnya" Ucap Revan masih bersikukuh.
"Enggak mau, soalnya mau dimakan di kelas aja sama temen-temen"
Dari telfon terdengar suara hembusan nafas kasar, itu pasti ulah Revan. Revan sepertinya tidak rela jauh-jauh dari Adiknya.
"Ya udah deh, terserah Kamu aja sayang. Tapi kalau butuh apa-apa langsung bilang Kakak, oke?"
"Siap Kak!"
"Kakak tutup telfonnya, bekalnya harus dihabisin lho, biar kenyang" Pesan Revan mengingatkan.
"Iya Kak, siap!"
"Bye sayang"
"Bye Kak Rev"
Telfon pun terputus.
Syifa mengembalikkan ponsel ke saku-nya kembali.
"Udah kan?" Tanya Nisa bosan menunggu Syifa selesai menelpon.
Kepala Syifa mengangguk mengiyakan, "Udah kok"
"Ayok makan!" Seru Lita semangat, perutnya sudah terasa lapar.
"Ayok" Seru ketiganya secara bersamaan.
Mereka pun segera menyantap makanan dari bekal masing-masing. Syifa membawa roti lapis berisi sosis dan bakso, ada juga roti coklat.
Ana membawa kue brownis, bekal Lita berisi nasi dengan chikken, sedangkan Lita, ia membawa nasi goreng sosis.
"Ada yang mau?" Tawar Ana dengan menunjukkan kue brownis miliknya.
Ana melotot terkejut, "Apa-apan sih Nis, kok gitu?! Aku aja belum makan udah minta di sisain!" Sewot Ana tidak terima.
"Ya pokoknya sisain buat Gue!" Nisa tidak mau mengalah.
"Gak jadi deh aku tawarin" Balas Ana kejam.
"Gak bisa gitu dong, Lo kan udah nawarin tadi, gak boleh di batalin gitu aja!"
"Bisa lah" Ana melengos sombong.
"Enggak"
"Bisa!" Suara Ana naik satu oktaf.
"Enggak!" Begitu pun dengan suara Nisa yang sedikit keras.
"Bi-"
"Udah diem-diem! Syifa lagi makan ini, jangan ganggu" Ucap Syifa judes.
Syifa yang merasa Ana maupun Nisa tidak ada tanda-tanda berhenti, sama-sama tidak mengalah. Akhirnya ia terpaksa memotong ucapan Ana.
Perkataan ketus dari Syifa mampu membuat Ana dan Nisa diam tak berkutik. Lita terkikik menahan tawa melihat mereka berdua langsung diam seperti patung.
Mata Nisa melotot sengit menatap Ana, juga dibalas Ana dengan melotot pertanda permusuhan.
Lita menghela nafas dengan tingkah mereka yang masih saja berlanjut bertengkarnya. Tapi ia tahu, dari lubuk hati Nisa dan Ana tak benar-benar bermusuhan. Mereka hanya bertengkar kecil untuk terus mempererat tali pertemanan.
...●●●...
Syifa pulang sekolah di antar sopir, Revan sepertinya mempunyai janji untuk bermain dengan dua sobatnya. Entah pergi kemana, Syifa tidak ingin tahu lebih lanjut.
__ADS_1
Ia paham, Revan mempunyai dunianya sendiri untuk merefreshkan otak, ataupun mengisi kegiatan dari kebosanannya.
Bermain adalah hukumnya wajib, itu kata Revan dulu.
Syifa masuk kamar untuk berganti pakaian. Ia juga rebahan di kasur dengan ponsel di tangannya.
Sekitar satu jam ia bermain ponsel, tak terasa saja waktu cepat berlalu. Syifa memutuskan untuk turun ke lantai bawah.
Pandangannya menoleh kesana-kemari, "Kok sepi ya?"
"Kakak Anan sama Kak Bara belum pulang?"
Syifa menggaruk pipinya, ia bingung akan bertanya kepada siapa.
"Mommy kemana?" Rengek Syifa, bibirnya dimajukan.
"Tanya Bibi aja deh"
"BIBI"
"BI SARI"
"IYA NON" Bi Sari berlari tergopoh-gopoh dari arah belakang, lebih tepatnya taman belakang Mansion.
"Ada apa Non Syifa?"
"Mommy kemana sih Bi? Kok sepi?"
"Nyonya pergi sepuluh menit sebelum Nona Syifa pulang"
"Pergi?"
Bi Sari menganggukan kepala.
"Kemana?"
Syifa ini dalam mode kepo, ia banyak tanya ini-itu. Untung Bi Sari sabar.
"Kata Nyonya, beliau pergi ke rumah Non Ca-, Ca siapa ya" Jelas Bi Sari, tetapi di akhir kalimat ia memelankan suaranya. Ia lupa-lupa ingat.
"Ca?" Tanya Syifa tidak paham.
"Bentar Non, Bibi ingat-ingat dulu"
"Jangan lama-lama Bi" Tuntut Syifa.
"Sabar Non"
Bi Sari memejamkan matanya, berusaha untuk mengingat-ingat.
"Bibi ingat!" Seru Bi Sari heboh.
"Apa Bi?! Apa?!" Tak jauh berbeda dengan Syifa yang antusias.
"Nyonya pergi ke rumah Non Caesa, kata Nyonya Non Caesa lagi sakit. Jadi, Nyonya mau berkunjung menjenguk Non Caesa" Jelas Bi Sari secara rinci.
Mata Syifa membulat.
"Caesa sakit?"
Bi Sari mengangguk membenarkan, "Iya Non"
Syifa menghela nafasnya, "Ihhh! Syifa ditinggal" Rengek Syifa menghentakkan kakinya.
"Mommy tega"
"Syifa gak di ajak!"
Ia pergi ke ruang keluarga masih dengan menghentakkan kaki.
__ADS_1
"Eh, anu Non-" Ucap Bi Sari yang tidak di gubris Syifa sama sekali.
"Aduhh, semoga Non Syifa gak nangis deh" Ucap Bi Sari khawatir.