
Alfa POV
Gue bangun di pagi buta, buat siap-siap jemput gadis pujaan hati.
Jalan-jalan, ya semacam Quality time gitu. Anggap aja ini sebagai hari terakhir Gue disini.
Eits, bukan karena Gue mau mati ya. Tapi karena besok Gue harus pergi ke Instanbul, Turki.
"Gak rela banget sumpah, Gue gak mau jauh-jauh dari Syifa"
Kaki Gue melangkah memasuki kamar mandi dengan langkah gontai.
Beberapa menit berlalu, Gue sudah rapi dengan baju casual. Kaos putih, jaket biru, celana jeans hitam, dan sepatu putih.
Gue mengambil jam tangan lalu memakainya, tak lupa memasukkan ponsel kedalam saku jaket.
"Kunci mana kunci?"
Gue mencari kunci mobil dengan panik. Takut hilang, karena Gue lupa terakhir naruh kunci mobil dimana.
Menyusuri seluruh kamar ini, dari meja rias, nakas, sofa, lemari, bahkan kamar mandi.
"Jangan sampai hilang pokoknya"
"Ish! Dimana sih itu kunci!"
Tangan Gue mengacak-ngacak rambut yang sudah tertata rapi, kini rambut itu sudah terlihat berantakan karena Gue usap secara kasar.
"Gue coba cari di bawah deh"
Keluar kamar, kaki Gue melangkah menuruni tangga. Kepala Gue celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri.
Keadaan sepi dan hanya ada Maid yang sedang membersihkan rumah. Gue melirik jam dinding di ruang tamu.
Jarum jam menunjukkan angka 6, masih terlalu pagi. Matahari pun masih malu-malu buat muncul sepenuhnya. Hanya beberapa Maid yang sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Saat Gue sibuk mencari kunci mobil, tiba-tiba ada yang menepuk pundak Gue. Otomatis Gue kaget dong.
Kepala Gue menoleh dengan cepat ke belakang. Ternyata seorang wanita paruh baya sedang menatap Gue dengan senyumannya.
"Cari apa Den?"
"Bibi bikin kaget aja"
Bi Tum tertawa pelan.
Tuminah, namanya. Ia adalah salah satu Maid di sini yang paling dekat dengan Gue. Kita sudah tak lagi canggung satu sama lain.
Dia udah Gue anggap Ibu kedua Gue, dan ia biasanya dipanggil Bi Tum.
"Maaf Den, Bibi cuma penasaran apa yang lagi Aden cari. Kayaknya serius banget"
Sekarang giliran Gue yang tertawa.
"Kok malah ketawa sih, Den?" Bi Tum heran sama Gue yang tiba-tiba tertawa.
"Enggak papa Bi"
"Ini lho, Alfa lagi cari kunci mobil. Siapa tahu jatuh di sekitar sini" Ucap Gue menjelaskan pada Bi Tum yang berdiri di depan Gue.
"Lho, emangnya Aden lupa naruh dimana kuncinya?"
Tangan Gue refleks mengusap tengkuk yang sebenarnya tidak gatal sama sekali, Gue meringis malu menatap Bi Tum.
Bi Tum malah terkekeh sama tingkah laku Gue.
"Aduh, kok malah lupa. Bibi bantuin nyari ya Den"
"Iya Bi, Makasih"
"Ketemu juga belum udah bilang makasih"
Lagi-lagi Gue tertawa sama ucapan Bi Tum, entahlah menurut Gue, Bi Tum adalah sosok yang sangat menghibur Gue di situasi apapun.
Kita nyari kunci itu bareng-bareng. Kita berpencar, bahkan Bi Tum nyarinya sampai ke arah dapur.
Gue menghampiri Bi Tum di dapur. "Bi, Alfa nyari ke kamar ya, siapa tahu ada yang kelewatan gak Alfa check"
Bi Tum menatap Gue, "Iya Den, silakan. Semoga cepet ketemu yah"
Kepala Gue mengangguk dengan cepat. Kaki Gue melangkah dengan cepat menuju kamar yang terletak di lantai atas. Bahkan bisa di bilang Gue kayak lagi lari.
Bodo amat, yang penting kunci mobil Gue cepet ketemu.
Sebenarnya Gue punya banyak mobil, gak cuma satu. Tapi Mobil yang ini lebih cocok di pakai buat kencan sama Syifa.
"Shit!"
__ADS_1
Tangan Gue membuka pintu dengan keras, melangkah maju menuju nakas dan laci, yang terletak disamping ranjang.
Gue buka laci satu-satu, tapi tetep gak ada.
Gue buka badcover dengan sekali tarik, gak ada. Gulingnya pun Gue singkirikan, dan tetep gak ada.
Kini giliran Bantal, gotcha!
Ternyata dan ternyata kunci yang dari tadi Gue cari dengan kelimpungan kesana-kemari, malah terselip dibawah bantal.
"Kalau Gue tahu dari awal ini kunci ada dibawah bantal, Gue kagak perlu muter-muter nyarinya!"
"Sialan!"
Menghembuskan nafas kasar, Gue terlalu kesal pagi ini cuma gara-gara kunci.
Mendekat dan berdiri didepan cermin, tangan Gue mengambil sisir dan menyisir rambut yang tadi sedikit berantakan.
Gue tersenyum.
"Gue memang udah ganteng dari lahir"
"Oh iya, Gue lupa hubungin Syifa"
Meraih ponsel yang ada didalam saku jaket, mencari kontak nomor Syifa dengan cepat.
Ponselnya Gue tempelin ditelinga, menunggu beberapa saat untuk Syifa ngangkat telfon dari Gue.
"Halo"
Gue tersenyum cerah mendengar sapaan dari Syifa, suaranya begitu lembut masuk ke telinga Gue.
"Halo Sayang"
"Ada apa nelfon Syifa, jangan bilang kalo Kamu kangen"
Gue tertawa mendengar tebakannya yang tidak sepenuhnya salah.
"Emang bener sih kalau Aku kangen"
"Tuh kan"
"Tapi ini ada yang lebih penting"
"Penting? Apa itu?"
"Ada deh, pokoknya Kamu siap-siap dandan ya, Kita pergi ke suatu tempat" Ucap Gue panjang lebar, tak lupa dengan senyuman yang setia terpatri di wajah Gue.
Gue terkekeh, "Jangan cemberut gitu dong"
Syifa diam tak menanggapi ucapan Gue barusan. Dia pasti kaget kenapa Gue bisa nebak dia lagi cemberut.
"Kok tahu sih, kalau Aku cemberut. Jangan-jangan Kamu Cenayang yah"
Gue tertawa keras sambil melangkah keluar kamar.
"Ya bukan lah sayang. Masa Aku Cenayang sih"
"Siapa tahu kan"
"Kamu aneh-aneh aja deh"
Kaki Gue berhenti melangkah, Gue menghampiri Bi Tum yang lagi beres-beres meja dapur.
"Eh Aden, udah ketemu kuncinya?"
"Udah Bi, nih" Tangan Gue nunjukkin kunci mobil pada Bi Tum.
Bi Tum tersenyum lembut, "Syukur kalau gitu"
"Makasih ya Bi, Alfa pamit pergi dulu ya"
"Mau jemput Non Syifa kan Den?" Tanya Bi Tum jahil.
Bibir Gue tersenyum, "Seratus buat Bibi"
Dan Bi Tum langsung ketawa dengar ucapan Gue.
"Alfa pamit Bi"
"Iya Den, Silakan"
Kaki Gue keluar pintu Mansion, lalu menuju garasi mobil.
"Tadi Kamu ngobrol sama siapa?" Tanya Syifa yang sepertinya penasaran dengan siapa Gue ngobrol tadi.
"Sama Bi Tum, pekerja di Mansion yang udah Aku anggap Ibu kedua Aku"
__ADS_1
"Ouh gitu"
"Cepet Kamu siap-siap sana" Perintah Gue pada Syifa diseberang telfon, sedangkan tangan Gue membuka pintu mobil lalu duduk dibalik kemudi.
"Siapa coba yang ngajak ngobrol terus dari tadi"
Gue terkekeh pelan, "Maaf sayang, udah ya Aku tutup telfonnya"
"Iya"
"Kamu hati-hati ke sininya"
"Pasti" Balas Gue.
"Bye Sayang" Gue pun pamit dengan Syifa.
"Bye"
Alfa POV End
...●●●...
"Kita mau kemana sih?" Tanya Syifa menengok pada Alfa yang sedang menyetir.
"Rahasia" Balas Alfa sok misterius.
"Bikin penasaran deh"
Alfa tersenyum tipis, tangannya terangkat mengelus puncak kepala Syifa dengan sayang.
Walaupun pandangan Alfa tetap ke arah jalanan di depan, tapi tangan satunya tetap mengelus kepala Syifa.
Kepala Syifa menengok ke arah Alfa, memandangnya dengan penuh ceria. Ia senang bisa di ajak jalan begini. Ia paham betul Alfa di Jakarta sangat sibuk dengan pekerjaan yang selalu menunggunya untuk dikerjakan.
"Emang gak ganggu Kamu?"
Alis Alfa terangkat heran, bingung dengan maksud ucapan Syifa.
"Maksudnya?"
"Ini, emang gak ganggu waktu Kamu? Aku tahu Kamu pasti sibuk banyak kerjaan"
Alfa terdiam sebentar mendengar ucapan Syifa. Seolah kata-kata itu menusuknya dengan tepat. Ia sadar, dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaan yang tiada habisnya.
Alfa mencoba tersenyum walau tipis, "Enggak kok, justru ini adalah waktu yang tepat buat Kita"
Kepala Syifa mengangguk pelan.
Selama satu jam perjalanan, akhirnya mobil Alfa berhenti di sebuah tempat yang menurut Syifa asing.
Ia tidak tahu tempat apa ini, "Ini dimana?"
"Nanti juga tahu, yuk keluar"
Mereka berdua keluar dari mobil secara bersamaan, tangan Alfa dengan cepat menggandeng tangan mungil Syifa. Alfa menggenggam tangan Syifa dengan erat. Ia tidak mau Syifa sampai jauh- jauh darinya. Menghindari hal-hal yang buruk, misalnya tersesat.
Kakinya terus melangkah mengikuti langkah kaki Alfa yang berjalan sebagai petunjuk arah, sampai dimana mereka berhenti berjalan.
Mata Syifa membulat sempurna melihat pemandangan didepannya. Suara ombak berdesir dengan bergemuruh. Ia melihat bawah, kakinya berdiri diatas pasir putih yang terlihat bersih dan terawat.
Air didepan sana sungguh jernih dan ombak tak ada hentinya berdesir.
Tangan Alfa merubah posisi Syifa untuk menghadapnya. "Kamu suka?"
Kepala Syifa mengangguk antusias tak lupa dengan bibirnya yang mengumbar senyum menawan.
"Suka, Syifa sangat suka"
"Pantainya sangat indah" Lanjut Syifa dengan ceria.
Alfa tersenyum senang, syukurlah jika Syifa suka dengan tempat yang ia pilih.
"Mau main Air?"
Syifa terkejut dengan pertanyaan Alfa padanya, "Emang boleh?"
"Boleh dong"
"Tapi Syifa gak bawa baju ganti"
Raut wajah Syifa berubah menjadi sendu dengan bibir mengerucut, maju ke depan.
Alfa mengelus pipi Syifa dengan gemas, "Jangan khawatir, Aku udah nyiapin baju Kita di bagasi mobil"
Syifa menatap Alfa dengan mata membulat lucu.
"Beneran?"
__ADS_1
"He'em"
"YESS!" Sorak Syifa heboh, ia terlalu senang makanya refleks berteriak.