Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 63


__ADS_3

"Enggak ada Nya?" Tanya Bi Sari penasaran.


Jangan lupakan bahwa hujan sudah melanda sejak dua puluh menit yang lalu.


"Enggak, Syifa gak lagi sama Ana. Kira-kira kemana Syifa? Apa Jangan-jangan Syifa belum dapet Taxi?" Gumam Vina, bercampur aduk berbagai spekulasi di dalam pikirannya.


"Hujannya deres banget, Syifa Mom-"


"Aduhh!" Pekik Vina memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing.


"Nyonya!!" Bi Sari dengan sigap membantu Vina untuk duduk di sofa, merilekskan diri.


Maid yang lain yang dari tadi memperhatikan, segera bertindak menuju dapur mengambilkan air putih untuk sang majikan.


Bi Sari menerima gelas berisi air putih, pemberian dari Maid lain.


"Ini Nya, di minum dulu"


"Makasih" Ucap Vina lirih dan segera meminum air putihnya.


Bi Sari mengembalikan gelas kosong itu ke atas meja depan sofa. Ia berjalan ke tempat telfon rumah berada, Bi Sari akan mengabari Tuan mereka tentang Non Syifa.


Vina lebih khawatir tentang keadaan Syifa daripada ketiga anak lelakinya. Ia paham, semua anak lelakinya pasti bisa berjaga diri karena mereka seorang lelaki. Beda lagi kalau Syifa, putrinya itu terlalu lugu. Ia takut putrinya akan mengalami penculikan kembali yang belasan tahun lalu telah terjadi.


"T-tuan" Ucap Bi Sari dengan nafas naik turun dengan cepat.


"Ya, ada apa Bi?" Balas Aditya lugas.


"Non Syifa Tuan"


"Ada apa dengan Syifa, Syifa tidak kenapa-napa kan, jawab Bi!"


"Emm, anu Non Syifa belum pulang Tuan" Jawab Bi Sari dengan gugup.


"Apa?!!" Pekik Aditya kelewat keras, bahkan Bi Sari sampai menjauhkan gagang telfon dari telinganya dan meringis.


"Saya pulang sekarang!!" Ucap Aditya tegas tak terbantahkan.


"Iya Tuan" Bi Sari tak mendapat balasan, ia pun segera mengembalikan gagang telfon pada tempatnya.


Bi Sari berjalan mendekati Vina, tangannya mengelus punggung sang majikan yang sudah menangis.


"Sabar Nya, kita cari Non Syifa sama-sama"


Kepala Vina menunduk, ia menutup wajahnya yang penuh air mata.


Tak lama terdengar suara deru mobil, Aditya muncul di balik pintu. Sepertinya Aditya mengendarai mobilnya dengan mengebut, karena bisa sampai rumah dengan cepat.


"Sayang!"


Vina menghambur ke pelukan suaminya ketika mendengar suara yang memanggil dirinya.


"Mas, Syifa!"


"Tenang Sayang, Mas sudah menyuruh orang-orang suruhan buat nyari keberadaan Syifa. Kamu yang tenang ya"


Tangan Aditya mengelus rambut Vina dengan lembut, menenangkan istrinya yang menangis sesenggukan. Para pelayan menundukan kepala karena merasa tidak sopan memandang kemesraan sang majikan.

__ADS_1


Aditya membawa Istrinya untuk duduk kembali di sofa, ia menyenderkan kepala Vina pada dadanya yang lebar.


"MOMMY DADDY!!" Ucap Revan dan Bara berbarengan memasuki mansion mewah itu.


Mereka berdua duduk di sofa, mereka pulang karena mendapat kabar dari Aditya tentang Syifa yang menghilang.


Baru saja mereka mendudukkan bokongnya, mereka merasa ada aura mencekam dari arah pintu. Adnan memasuki mansion dengan aura dingin. Para pelayan menunduk tak berani menatap mata Adnan yang menyorot mereka semua dengan pandangan menusuk.


"Belum ketemu?" Tanyanya singkat menatap Aditya tajam, sedangkan Aditya tak takut sama sekali dengan pandangan tajam putranya, ia sudah paham watak Adnan.


"Belum, mending kamu duduk dulu jangan berdiri terus" Ucap Aditya datar pada putra sulungnya.


Adnan menurut, ia duduk di sofa single.


Aditya melepas pelukan istrinya sejenak, karena mendapati ponselnya bergetar. Ia membuka ponselnya yang menujukkan alamat rumah kiriman dari salah satu orang suruhannya.


"Perumahan Baru Blok B Nomor 12, ada yang tau?" Tanya Aditya setelah membaca sebaris alamat rumah.


Semua terdiam, lalu suara Bara membuyarkan pemikiran mereka.


"Itu, bukannya alamat rumahnya Abi" Celetuk Bara mengingat alamat Abi yang tinggal di situ.


"Benar, ini alamat Abi?" Tanya Aditya memastikam sekali lagi.


"Iya Dad, bener kok. Bara telfon Abi coba sebentar"


Bara menelfon nomor Abi, tak lama segera tersambung.


"Abi!!"


"Iya, apa?"


"Iya, dia dirumah Gue"


"Kok bisa sih, dirumah Lo. Gimana ceritanya?"


"Gue lihat Syifa kehujanan di pinggir jalan, terus Gue bawa kerumah Gue karena emang yang paling deket dari situ. Tenang aja nanti Gue anterin pulang, biarin dia makan malam dulu disini"


"Tapi-"


"Kasian Bunda Gue udah masak, ya ya ya?" Bujuk Abi pada Bara yang terlihat keberatan.


"Iya udah, di anterin sampe selamat pokoknya!!"


"Iya, tenang aja"


Lalu sambungan terputus sepihak oleh Abi.


"Jadi bener?" Tanya Adnan begitu Bara selesai bertelfonan, Bara menganggukan kepalanya tanda membenarkan.


"Syifa bakal dianterin nanti sama Abi, setelah makan malam" Ucap Bara menjelaskan.


Semuanya bernafas lega, terutama Vina.


"Syukurlah"


Dari sinilah awal mula kepanikan keluarga Winata yang tahu akan Princess mereka tak pulang ke rumah tepat waktu.

__ADS_1


Tetapi mereka juga segera mengintropeksi diri sendiri, apakah mereka telah berusaha melindungi atau tidak.


Berusaha menjaga atau tidak, semuanya mereka renungkan dalam keheningan, sembari menunggu Syifa pulang di antar Abi.


Mereka menunggu kedatangan Syifa tanpa beranjak dari sofa sedikit pun, Bi Sari yang menawari mereka makan malam pun langsung di tolak oleh mereka dengan tegas. Katanya kalau belum melihat Syifa, mereka belum tenang. Bi Sari hanya memakluminya saja melihat kasih sayang mereka untuk Princess Winata ini.


Suara bell dibunyikan, Bi Sari yang akan beranjak, segera di tahan Vina. Vina sendirilah yang ingin membukakan pintu. Karena ia yakin, itu pasti Syifa.


"Jangan Bi, biar Saya aja yang buka"


Dan benar saja, setelah pintu terbuka, ia melihat Syifa yang tertidur di dalam gendongan seorang lelaki, Abi.


"Alhamdulillah akhirnya kamu pulang nak" Ucap Vina terharu karena Syifa baik-baik saja.


Tangan Vina mengelus pipi lembut putrinya, sampai melupakan bahwa mereka masih berdiri di depan pintu.


"Ekhem!" Suara deheman Abi menyadarkan Vina dari kegiatannya yang mengelus pipi putrinya. Vina meringis malu, lalu mempersilakan Abi untuk masuk.


"Ayo masuk Abi"


Abi menganggguk singkat di sertai senyuman. Ia membenarkan tubuh Syifa yang sedikit melorot, lalu kakinya melangkah memasuki rumah besar dan mewah.


Vina memberikan senyuman pada yang lain, menandakan ia lega karena Syifa sudah pulang ka rumah, mereka semua ikut merasa lega.


"Abi, kamar Syifa di lantai atas, masuk aja gak papa" Tutur Vina menunjuk arah tangga berada.


Abi mengangguk tanpa banyak kata, kepalanya menunduk kecil sebagai tanda pamit.


Abi langsung menaikki tangga dengan langkah pelan penuh hati-hati, ia tidak ingin Syifa sampai terluka.


Matanya melirik kanan kiri memastikan kamar Syifa yang mana, "Yang pojok sana juga pojok sini bukan deh"


"Yang itu juga kayaknya bukan"


"Pintu ini kayaknya" Abi berjalan enam langkah, menatap pintu yang bercorak paling menonjol, berbeda dari yang lain.


Keningnya berkerut, lalu memutar bola matanya malas, "Ternyata udah ada namanya, kalau gitu Gue buang-buang waktu berdiri di sana tadi"


"Kasian Syifa, gak nyaman ya"


Knop pintu terbuka lebar, Abi segera membawa Syifa menuju ranjangnya, "Sekarang udah nyaman kan?" Tanya Abi bermonolog, tentunya tak ada balasan.


Selimut berbulu lembut itu sudah rapi melekat di atas tubuh Syifa, oleh Abi.


Abi tak sengaja melihat remot AC, ia dengan cepat mengambilnya dan menekan di sana. Berusaha mengurangi dinginnya ruangan kamar.


"Selamat tidur, good night"


Abi mengelus sekali puncak kepala Syifa sebelum beranjak keluar, lalu menutup pintu dengan pelan.


"Abi!"


"Astaghfirullah!" Abi mengelus dadanya mengurangi deguban jantung yang memompanya begitu cepat.


"Lo ngagetin Gue tau gak!" Pekik Abi sedikit pelan, takut mengganggu tidur Syifa.


Bara meringis, "Ya sorry"

__ADS_1


Iya, Bara yang tadi memanggil namanya tanpa aba-aba, membuatnya sangat terkejut.


__ADS_2