Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 55


__ADS_3

Caesa mengerutkan alisnya, "Ada apa sebenarnya?"


Caesa turun dari ranjang, ia berjalan keluar mengikuti Vina ke arah ruang keluarga. Ia melangkah dengan ragu, keningnya mengerut tanda bingung.


Beberapa asumsi berputar di kepalanya, "Semoga apa yang Gue pikirin, gak jadi kenyataan" Gumam Caesa dengan lirih.


Ia takut hal-hal yang ia sembunyikan selama ini akan terbongkar sia-sia, tujuan sebenarnya belum terlaksana.


Dapat ia lihat di sana, semua sudah duduk di tempatnya dengan berbagai ekspresi. Wajah tegang, marah, takut, dan mengantuk.


"Caesa, sini duduk" Ucap Vina mengawali, ia menunjuk sofa yang tersisa disampingnya, juga bertepatan di depan Syifa.


Ia menurut, setelah duduk di sofa, ia membuka suaranya.


"Ada apa Mom?"


Bukannya menjawab pertanyaan Caesa, Vina malah memberikan sebuah pertanyaan.


"Kamu, udah sembuh?" Tanya Vina.


Caesa diam sejenak karena bingung maksud dari pertanyaan Vina.


"Sembuh?"


Setelah beberapa detik, baru ia paham arah pembicaraan Vina.


"Oh-belum Mom, Caesa masih sakit-" Ucapannya terpotong oleh Adnan.


"Sakit pura-pura?" Ucap Adnan sarkas dan tho the point.


"Hah? Apa maksudnya" Ucap Caesa takut-takut.


Ia merasakan aura tidak mengenakkan dari Aditya dan Adnan, sungguh mendominasi.


"Caesa emang beneran lagi sakit kok, kemarin-" Lagi-lagi ucapannya terpotong begitu saja.


"Dokter Ferdi" Ucap Adnan dingin.


Ia mengisyaratkan Dokter Ferdi untuk menjelaskan semuanya. Dokter Ferdi menganggukan kepalanya tanda bahwa ia paham dengan isyarat dari Adnan.


"Baik, jadi gini Nona Caesa tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang sakit, semuanya terlihat normal"


"Saya telah memeriksa suhu tubuh Caesa, dan itu terlihat normal. Dengan demikian, sudah membuktikan bahwa Nona Caesa tidak mengalami sakit"


"Jika benar sakit, pastinya mata akan sayu, bibir terlihat pucat, nafas sedikit panas dan berat. Sedangkan kondisinya saat tertidur dan sekarang, ia terlihat baik-baik saja"


Wajah mengantuk Revan dan Bara langsung terlihat segar mendengar penjelasan Dokter Ferdi. Mereka mencerna semua perkataan Dokter Ferdi.


Revan dan Bara mulai mengerti maksud pembahasan ini, tak menyangka persidangan dilakukan saat tengah malam. Biasanya keluarga Winata akan membahas dan menasehati anggota keluarganya jika melakukan kesalahan, saat malam hari setelah makan malam, di jam itu lah yang paling tepat membahas masalah serius.


Karena, tubuh dan pikiran akan lebih rileks setelah melakukan berbagai aktivitas di pagi hari sampai sore hari. Tentunya membahas saat waktu bersantai lebih ekfetif karena pikiran sudah lebih jernih.


"Ini data dan surat pernyataan medis, jika kalian kurang percaya, bisa kalian cek sendiri"


Wajah Caesa berubah pias, ia merutuk diri sendiri kenapa bisa sampai ketahuan. Dan yang muncul di pikirannya sedari tadi adalah, siapa yang menyuruh Dokter untuk memeriksanya, dan kapan?


Dokter Ferdi menyerahkan amplop berisi surat pernyataan medis, amplop itu berada di atas meja. Mata Caesa menatap amplop itu dengan horor, ia ingin sekali membakarnya agar musnah.


Tapi, mana mungkin itu bisa ia lakukan, sedangkan di sini banyak pasang mata yang akan dengan mudah mengetahui kelakukannya.


Aditya bergerak mengambil amplop dan membuka isinya, ia membentangkan kertas yang terlipat, membacanya dengan serius.


Matanya menajam dan memicing, ia mengangguk-angguk. Justru dari sebuah anggukan itu adalah hal yang berbahaya, itu artinya kemarahan Aditya sudah di luar batas.


Jika Aditya marah, ia akan berteriak keras, dan membentak. Beda lagi jika dirinya marah dengan tingkat lebih parah, akan ada suasana mencekam.


Caesa melirik Aditya takut-takut, ia memilin ujung bajunya dengan rasa yang tidak bisa di jelaskan, tetapi rasa takutlah yang mendominasi.


"Bara mau lihat Dad"


Aditya menyerahkan kertas itu kepada Bara dengan enteng, ia menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa.


Revan mengintip isi surat itu karena ia duduk di samping Bara. Mereka berdua membaca surat itu di dalam hati. Wajah Revan dan Bara berubah lebih dingin.


Syifa terkejut, ia baru melihat wajah Revan yang begitu dingin. Selama ini Revan selalu memamerkan wajah ceria di depannya. Tak pernah sekalipun menunjukkan raut wajah dingin, sekarang tatapan matanya begitu memancarkan kemarahan dan kebencian.

__ADS_1


Vina mengulurkan tangannya meminta surat yang di pegang Bara, surat itu sudah berpindah pada tangannya. Ia membacanya dengan serius.


Setelah membaca isi surat itu, ia menatap Caesa dengan lekat, alisnya menukik.


"Caesa, ini maksudnya apa ya?"


Pertanyaan dari Vina, mampu membuat suasana semakin tegang.


"Ca-caesa cuman-"


"Cuman apa?" Potong Aditya dengan suara dingin.


Raut wajah Aditya yang sudah tidak enak dipandang, membuat Caesa kicep seketika.


"Berani-beraninya Lo bohong sama Kita" Ucap Bara dengan keras.


"Bohong sama aja nipu" Tambah Revan sarkastik.


Sedangkan Syifa bersembunyi dalam pelukan Adnan karena takut, suasana tidak mengenakkan ini hampir membuat Syifa menangis.


Untungnya Adnan dengan sigap menenangkan Syifa dengan sebuah pelukan.


Gue gak nyangka akan ada di posisi ini, Gue bakal bener-bener benci sama orang yang udah bikin rencana Gue gagal. Batin Caesa menggeram.


Caesa menundukkan kepalanya, ia terus berpikir kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Jangan sampai ada kesalahan lagi.


"Eum, Caesa lakuin itu karena.."


Semuanya menunggu ucapan Caesa yang di gantung, penasaran maksud dari perilaku Caesa yang dengan berani berbohong.


Terlalu lama menurut Revan, ia sudah tidak sabar, ia pun membuka suara.


"Karena?"


"Karena Caesa kesepian"


Keadaan langsung hening seketika, semua terdiam dengan pikiran yang bersarang di otak masing-masing.


Mata Revan saja sampai melotot, mulutnya terbuka, ia ingin mengucapkan sesuatu tetapi kembali mengatupkan bibirnya. Ia sebenarnya masih shock dan bingung, bisa-bisanya Caesa berbohong hanya karena kesepian. Sudah tidak waras?!


Ia duduk dengan tegak, pandangannya menatap lurus Caesa yanga terus terdiam. Ia dilema, apakah benar ini alasan yang sesungguhnya? Atau ada sesuatu lain yang di sembunyikan oleh Caesa?


Entahlah, ia sulit menebak, takutnya berujung berprasangka buruk.


Dalam sekejab, Vina yang berwajah datar dan terkesan enggan, kini malah memeluk Caesa erat seperti tak ingin berpisah. Syifa melongo menatapnya, ini tidak salah apa yang ia lihat?


Tubuh Caesa menegang mendapat sebuah pelukan tiba-tiba, detik selanjutnya ia tersenyum puas. Ia selamat kali ini.


"Mommy gak nyangka kalau.."


Degh


Hati Caesa berdebar, takut Vina mulai menjauhinya, atau marah dan semacamnya. Vina melepas pelukan antara keduanya.


"Kalau.. Kamu sungguh kesepian, Kamu boleh main ke sini"


Caesa merasa lega dengan penuturan Vina yang kembali lembut dan penuh kasih sayang.


Adnan yang sedari tadi duduk dengan keterdiaman, ia menggelengkan kepala pelan dengan perubahan sikap Vina dalam kurun waktu yang terbilang singkat.


Tak habis pikir dengan jalan pikiran Vina, apakah Mommynya ini tak menangkap sebuah sinyal?


"Caesa boleh main ke sini Mom?"


Vina mengangguk membenarkan, "Boleh sayang, tiap hari juga boleh"


Semuanya terkejut, mata mereka saja sudah melotot, ucapan Vina sungguh seenaknya sendiri. Ya memang sih Vina memiliki hak atas Mansion ini, tapi tidak harus mempersilakan orang asing masuk dan tinggal seenaknya. Apalagi harus setiap hari, memangnya ini penginapan yang bebas terserah tamu yang akan menginap seberapa lamanya. No way!


"Tapi Mom.." Ucapan Syifa langsung di potong Vina.


"Gak papa sayang"


Bahkan protesan putri kandungnya sendiri tak di gubris lebih lanjut.


Sebuah senyuman terbit di kedua ujung bibir Caesa, lebih tepatnya senyuman kemenangan dan rasa puas.

__ADS_1


Bibir Syifa mencebik ke bawah, ia berdiri dari duduknya lalu berlari cepat menuju arah tangga dan masuk ke dalam kamar. Tak lupa mengunci pintu kamar.


Sayup-sayup ia mendengar suara teriakan dari Adnan, yang menyuruhnya jangan berlari saat menaiki tangga juga memanggil-manggil namanya dengan keras.


Syifa membiarkannya saja, ia ingin sendiri.


Tega sekali Mommynya ini. Sudah mengacanginya, ucapannya tak di gubris, perhatian sudah terbagi dengan perempuan lain, pokoknya ia merasa sudah di madu.


Syifa tak mau di duakan, dalam arti ia tak mau Vina memberi kasih sayang pada perempuan lain. Katakanlah jika ia egois.


Ya. Ia memang egois jika menyangkut keluarganya. Memang siapa sih seorang anak yang mau Ibunya memperhatikan dan memberi kasih sayang pada anak orang lain? Tidak ada!


Bisa dikatakan juga jika Syifa cemburu, ia benar-benar kesal.


"Aagggrrhhh" Teriak Syifa frustasi.


Tubuhnya berjalan mendekati ranjang, tangannya menarik selimut dan melemparnya.


Bantal juga guling ia lempar ke sembarang arah.


Brak!


Sebuah kursi kayu terjatuh, menimbulkan suara bising. Kursi itu terjatuh karena lemparan bantal yang cukup kuat.


Walau tubuh Syifa kecil dan mungil, ia mampu merusak barang-barang di sekitarnya jika sedang dalam emosi yang berlebihan.


Apalagi jika sekarang kondisi Syifa tidak baik-baik saja, perasaan kesal, sedih, marah, takut semua tercampur menjadi satu di dalam hati. Membuat dadanya terasa sesak.


"Hiks hiks..."


Tubuh Syifa meluruh ke bawah, ia terduduk dengan air mata bercucuran di kedua pipinya. Air mata itu mengalir dengan deras, suara sesenggukan Syifa memenuhi kamar ini.


"Sakitt.." Tangannya mencengkram dada bagian kiri, ia memukul-mukulnya.


Menangis tersedu-sedu membuat dadanya terasa sesak berkali-kali lipat.


Tok tok tok


"IFA!"


"BUKA PINTUNYA SAYANG!"


Itu adalah suara Adnan yang panik dan khawatir ketika mendengar suara barang jatuh dari kamar yang di tempati Adiknya.


Tak ada balasan dari Syifa, hanya ada suara tangisan memilukan yang ia dengar, semakin membuatnya khawatir dengan keadaan Syifa.


"Hiks hiks.. huhu.. Syifa gak mau hiks.. Mommy cuekin Syifaa.."


"Syifa gak mau hiks.. Mommy cuman punya Syifaa"


Tak ada lagi tanda-tanda Adnan yang berada di depan pintu, sepertinya sudah pergi. Tapi ia terkejut dengan pintu yang terbuka tiba-tiba dengan keras.


Adnan terkejut melihat keadaan Syifa yang menangis sesenggukan terduduk di lantai. Di tambah keadaan kamar yang berantakan, buku-buku sudah berserakan memenuhi lantai kamar.


Boneka kesayangannya saja Syifa lempar ke sembarang arah.


Adnan berlari mendekati tubuh mungil Syifa yang masih dengan posisinya dan menangis tiada henti. Ia memeluk tubuh Adiknya dengan erat, menyalurkan rasa aman dan nyaman.


"Sudah sayang ada Kakak di sini, jangan khawatir"


"Hiks hiks.."


"Syifa gak mau Mommy di bagi-bagi, Syifa mau hanya Syifa anak perempuan satu-satunya hiks hiks.. tapi.."


"Sudah-sudah, Kakak paham apa yang Kamu rasakan Ifa, tapi Kakak mohon jangan kayak gini, nanti Kamu ngedrop. Mau kalau sakit terus harus rawat inap di Rumah Sakit?" Nasihat Adnan di sertai ancaman.


Kepala Syifa bergeleng ribut, "Gak mauu!!"


Tubuh Syifa berontak dari pelukan Adnan, tetapi tidak bisa tenaganya sudah habis terkuras untuk melampiaskan kekesalan tadi. Di tambah pelukan Adnan semakin mengerat ketika terasa Syifa memberontak.


Adnan mengecup pelipis Syifa yang berkeringat, ia menatap Syifa sendu, membiarkan Adiknya menangis untuk melampiaskan, tapi tidak akan ia biarkan Syifa menangis untuk terulang kembali.


"Kakak janji akan selalu menjaga Kamu, dan Kakak gak akan membiarkan Kamu menangis kembali suatu saat nanti"


Itulah sebuah janji dan tekad Adnan untuk terus melindungi Syifa sampai kapan pun. Ia akan memusnahkan orang-orang yang berani mengusik keluarganya.

__ADS_1


*Lo sa*lah orang jika berani bermain-main dengan Winata, tunggu saja tanggal mainnya. Gue akan ikutin alur permainan Lo. Batin Adnan dengan wajah dingin.


__ADS_2