
"Ini uangnya Pak" Caesa menyerahkan uang ongkos Taxi.
Sang Sopir menerima ongkos itu, ia tersenyum ramah pada penumpangnya.
"Terima kasih, mbak"
"Iya"
Caesa turun dari mobil, seperkian detik kemudian Taxi itu menjauh, melaju pergi.
Caesa celingak-celinguk ditempat ia berdiri.
"Gue yakin, Syifa pasti ada disekitar sini"
Caesa sedikit mengetahui beberapa tentang Syifa. Karena itulah membuatnya yakin bahwa Syifa berada ditempat yang ia perkirakan.
Caesa berjalan pelan dengan mata was-was melihat sekitar.
"Aduh panas banget sih!" Caesa menggerutu dengan mengusap peluh keringat di dahinya.
"Mana haus lagi!"
Caesa menelan saliva, tenggorokannya terasa sangat kering.
"Padahal Gue udah minum tadi di Mall"
"Ah! gila panasnya"
Caesa mengipas-ngipaskan wajahnya menggunakan tangan.
Rambut yang ia urai, beberapa helai menempel dipelipisnya karena lengket oleh keringat.
Caesa menyisir rambut dengan kedua tangannya.
Ia melirik lengan tangannya.
Caesa menatapnya intens, "Kalo Gue jadi item gimana?"
"Gak! Gak!" Caesa bergeleng ribut.
"Gue gak mau sampe item"
"Nanti Gue jelek dong, ihhh" Caesa bergidik membayangkan dirinya berkulit gelap.
Caesa melihat penjual minuman di taman.
Caesa memang sedang berada di taman, lebih tepatnya taman yang sama dengan yang dikunjungi Syifa untuk Jogging.
Caesa mendekat pada penjual itu, "Bu, beli air mineral satu"
Ibu penjual tersenyum ramah, "Ini, mbak"
"Ini uangnya"
"Makasih mba"
Caesa mengangguk singkat dan berlalu, Ibu penjual itu menggelengkan kepala.
Caesa membuka tutup botol minumannya, lalu meneguk airnya hingga tersisa setengah.
"Ah leganya" Caesa mengusap bibirnya dengan punggung tangannya pelan.
Caesa membuka slingbagnya, mengambil kaca kecil untuk melihat penampilannya.
Takut kacau dan berantakan.
"Untungnya Gue masih tetep cantik"
"Caesa gitu"
Caesa menyombongkan diri sendiri, ia kembali menaruh kaca kecil itu kedalam slingbag.
"Kapan juga Gue kagak cantik" Gumam Caesa masih menyombongkan kecantikannya.
Caesa pun berjalan mencari bangku yang kosong, kakinya mulai pegal karena kelamaan berdiri.
Apalagi ia memakai high heels seinggi 5 cm, tumitnya pasti memerah.
Caesa berjalan sesekali berhenti memegang betisnya.
Caesa melihat bangku dipojok ujung masih kosong.
"Gue harus cepet-cepet duduk disana, sebelum ditempati orang lain"
Caesa buru-buru berjalan dan duduk disana. Setelah ia duduk, ia mengurut betis dan tumitnya pelan.
"Kenapa harus pegel sih, menyusahkan!"
Saat asik mengurut kakinya, Caesa mendengar suara cewek yang ia kenal.
"Mau rasa Vanilla"
...●●●...
"Kita pulang dulu yuk" Ajak Alfa pada Syifa.
"Kamu pasti belum mandi"
__ADS_1
Syifa nyengir tidak jelas karena ucapan terakhir Alfa.
"Kok, Kamu tau Aku belum mandi?"
"Cuma nebak sih"
Syifa hanya mengangguk-angguk.
Mereka berdua berjalan bergandengan untuk kembali ke Mansion Syifa.
"Nanti Kamu gantinya pake baju apa?" Tanya Syifa dengan menatap Alfa.
"Kamu tenang aja"
Alfa mengelus pipi Syifa, "Aku ada baju ganti kok, Ada di mobil"
"Ouh gitu" Syifa tersenyum lega, ia kira Alfa tidak memiliki baju ganti.
Kalaupun Alfa tidak membawa baju ganti, ia akan meminjamkan baju milik Adnan, pasti ukurannya sama.
Beberapa menit kemudian Syifa dan Alfa sampai di Mansion.
"Kamu masuk duluan, Aku mau ambil baju di mobil" Perintah Alfa.
"Iya"
Syifa menurut, ia masuk kedalam Mansion. Sedangkan Alfa membuka bagasi mobilnya dan mengambil baju miliknya.
Syifa pun mandi dan bersiap.
Alfa pun juga sama bersiap, ia meminjam kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian.
Alfa selesai duluan dari Syifa. Alfa sudah duduk tenang di sofa ruang tamu menunggu Syifa selesai.
Tak lama Syifa turun dari kamarnya, saat berjalan ditangga suara sepatu milik Syifa berbunyi.
Suara langkah sepatu milik Syifa membuat Alfa menoleh padanya. Alfa terbengong, ia memandang Syifa takjub.
Penampilan Syifa sungguh mempesona, membuat ia terpana dengan wajah cantik alami Syifa tanpa make up.
Syifa hanya menggunakan creem untuk melindungi wajahnya dari paparan sinar matahari, lalu dilapisi bedak bayi.
Sudah, itu saja. Sungguh simple.
Syifa tidak menggunakan liptin atau lipgloss sama sekali. Karena bibir Syifa sudah berwarna merah cerah. Jadi tidak perlu memakai liptin lagi.
"Gimana penampilan Syifa?"
"Cantik" Balas Alfa cepat.
"Sangat cantik" Lanjut Alfa menambahkan.
Ucapan terakhir Alfa membuat pipi Syifa tambah memerah. Ia malu sekaligus senang dipuji cantik.
Seperti ada kupu-kupu berterbangan dari dalam perutnya. Dadanya membuncah bahagia. Jantungnya juga berdetak diatas normal, sangat cepat.
Sama halnya dengan Alfa, ia selalu merasa bahagia saat bersama Syifa. Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat. Sungguh membuatnya merasa sangat bahagia.
Alfa mendekat pada Syifa, ia memeluk Syifa erat. Ia tidak ingin kehilangan Syifa. Jangan sampai itu terjadi.
Ia tidak akan membiarkan Syifa pergi, kalaupun ada yang memisahkan mereka berdua, Alfa akan berusaha mempertahankan Syifa untuk selalu disisinya.
Syifa membalas pelukan Alfa tak kalah erat.
"Jangan pernah tinggalin Aku, yang" Ucap Alfa pelan dan lirih.
"Gak akan"
Syifa melepas pelukan mereka, "Udah ah, katanya mau jalan-jalan"
"Mumpung Kamu libur, besok Kamu udah sibuk lagi" Syifa cemberut, bibirnya dimajukan.
Itu terlihat imut dimata Alfa.
Alfa tersenyum, tanganya menjawil bibir Syifa yang maju.
"Maafin Aku yang selalu sibuk"
"Aku bakal usahain setiap akhir pekan Kita jalan-jalan" Bujuk Alfa pada gadisnya.
Syifa tersenyum tak lama ia mengangguk.
"Ayo"
Syifa menarik tangan Alfa untuk segera berjalan.
Syifa masuk mobil duluan tanpa menunggu Alfa. Alfa terkekeh gemas dengan tingkah lucu Syifa yang sudah tidak sabar.
Alfa melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan Mansion Syifa, setelah memastikan Syifa memakai sabuk pengaman.
"Kamu mau es krim?" Tanya Alfa tiba-tiba.
"Mau!" Jawab Syifa antusias.
Alfa tertawa melihat respon Syifa.
"Boleh, habis itu Kita makan siang"
__ADS_1
"Iya, siap"
Setelah itu keadaan hening.
"Beli es krim di taman komplek sini gak papa?"
"Gak papa kok"
"Oke"
Alfa memarkirkan mobilnya di taman tadi yang mereka kunjungi saat Jogging pagi.
"Yuk turun"
Syifa melepas sabuk pengamannya, ia hendak turun membuka pintu mobil, sebelum tangannya dicekal Alfa.
"Kenapa?"
"Tunggu Aku yang bukain, yang"
Alfa melepas sabuk pengamannya juga, lalu turun dari mobil dan membukakan pintu mobil bagian yang Syifa duduki.
"Silakan turun, Tuan Putri"
"Terima Kasih, Pangeran" Syifa tertawa pelan dengan ucapannya sendiri.
Alfa ikut tertawa akhirnya.
Alfa menuntun Syifa pada tempat penjual es krim berada, tepatnya di ujung taman.
"Mau rasa apa, yang"
"Mau rasa Vanilla"
Saat asik mengurut kakinya, Caesa mendengar suara cewek yang ia kenal.
Saat Caesa mencari suara itu, ia melihat pasangan sedang membeli es krim tak jauh dari duduknya.
Ia perhatikan lebih intens, Caesa tersenyum.
"Ternyata bener kan dugaan Gue" Gumam Caesa.
Alfa pun memesan es krim untuk gadisnya.
"Pak, satu Cup es krim rasa Vanilla"
"Baik Mas, ditunggu"
"Kamu enggak?" Tanya Syifa.
Syifa heran karena Alfa hanya memesan satu es krim.
"Aku enggak sayang, buat Kamu aja"
"Ouh gitu"
"Ini Mas, es krim nya"
Penjual es krim itu menyodorkan satu Cup es krim pada Alfa. Alfa menerimanya, lalu membayar es krimnya.
Alfa menyerahkan es krim itu pada Syifa. Syifa langsung tersenyum senang.
"Ini kembaliannya Mas"
"Kembaliannya buat Bapak aja"
Pak penjual itu terlihat berbinar, "Makasih Mas, semoga rezekinya bertambah"
"Aminn" Balas Alfa dan Syifa bersamaan.
"Kalo gitu, Kita permisi Pak"
"Iya, Mas"
Alfa kembali menggandeng tangan mungil Syifa.
Di dalam mobil, Syifa memakan es krimnya dengan lahap.
Syifa terlihat sungguh menikmati es krimnya.
Alfa tersenyum tipis dan mengelus kepala Syifa pelan, matanya sesekali melirik Syifa yang asik dengan es krim ditangannya.
"Habiskan es krimnya, lalu Kita makan siang"
"Siap!" Syifa menjawab singkat lalu kembali melahap es krim.
Alfa pun membiarkan, ia juga fokus menyetir mobilnya.
Tanpa mereka ketahui, dibelakang mereka ada seseorang yang mengikuti.
Entah apa motif seseorang mengikuti Syifa dan Alfa.
Semoga hal buruk tidak menimpa Syifa dan Alfa.
"Pak, ikuti terus mobil di depan"
"Siap" Balas Pak sopir singkat. Ia hanya menuruti kemauan penumpangnya.
__ADS_1