
Revan menangkap tubuh mungil Syifa yang pingsan. Ia mengangkat tubuh Syifa dengan bridal style.
Berlari tanpa mempedulikan panggilan dari sahabatnya.
Ia panik.
Ia sangat sangat khawatir.
Sebelumnya ia tak pernah melihat tubuh Princess selemah ini. Bahkan sampai pingsan.
Ia merutuki kebodohannya yang tidak bisa menjaga Syifa dengan baik.
"Princess bertahanlah" ucapnya lirih sembari menjalankan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Tapi ia tetap berusaha mengendarainya dengan aman.
Sesampainya di Rumah Sakit WNH alias Winata Hospital milik keluarganya.
Revan memarkirkan mobil dengan asal. Menggendong Syifa dengan bridal style. Lalu berteriak. "DOKTER!! SUSTER!! CEPAT KEMARI TOLONG ADIK SAYA!!" Teriaknya seperti orang kesetanan.
Dokter dan suster berlarian sambil membawa brankar untuk Syifa.
Segera Revan meletakkan tubuh lunglai Syifa di brankar lalu mendorongnya bersama suster dan memasuki ruangan UGD.
"Anda tidak boleh ikut masuk. Mohon tunggu di luar" ucap suster memberitahu.
Revan ingin menyela tapi sudah dipotong oleh suster.
"Saya mohon tunggu diluar Tuan. Ini demi keselamatan Nona" akhirnya Revan mengangguk pasrah.
Pintu UGD tertutup. Revan meluruh ke lantai. Ia frustasi.
Revan POV
Ini semua karna keteledoran Gue.
Ini salah Gue.
Princess kaya gini karna Gue.
Hiks Hiks
Jatuh sudah air mata yang dari tadi Gue tahan.
Gue sakit lihat Syifa kaya gini.
Gue gak bisa lihat Syifa masuk Rumah Sakit.
Oh iya Gue lupa ngabarin Ortu sama Kakak Gue.
Gue menghapus air mata di pipi lalu, merogoh kantong celana buat ngambil Handphone.
Nah dapat.
"Halo~ kenapa Revan. Tidak biasanya kamu telfon Daddy"
Setelah telfon sudah tersambung. Terdengar suara Dad menyapa.
"Dad... Sy-Syifa masuk rumah sakit"
Gue berbicara dengan bergetar menahan tangis.
"APA?! BAGAIMANA BISA!! Kamu dimana sekarang biar Daddy kesana sama Mommy"
"Aku lagi di Rumah Sakit Keluarga kita"
"Baiklah"
Tut tut tut~~
Gue yakin Daddy pasti udah panik.
Huft
Sekarang giliran telfon ke Kak Adnan.
"H-halo kak"
Gue bener-bener takut sampai ngomong aja terbata.
"Hmm."
"S-Syifa masuk Rumah Sakit"
Tut tut tut~
Panggilan di putus sepihak oleh kak Adnan.
Inilah yang bikin Gue takut.
Justru diamnya kak Adnan yang paling menyeramkan.
Gue tau kak Adnan marah sama Gue karena ga bisa jaga Syifa dengan baik.
Gue gak becus.
Gue ngacak-ngacak rambut frustasi. Jongkok di depan pintu UGD.
Nangis, lagi.
Revan POV End
...●●●...
Adnan POV
Sekarang Gue ada di sebuah Cafe buat ketemuan sama Klien buat Meeting.
Di sana udah ada Klien yang nunggu Gue. Kita salaman dan bertegur sapa.
"Selamat pagi Mr. Winata"
"Pagi Mr. Rolex"
Kita duduk berhadapan dan di sebelah Gue ada sekretaris Gue namanya Roy.
Drt Drt.. Drt Drt..
Gue mendelik ke arah Roy karena suara deringan ponsel.
Gue kira itu ponsel Roy yang berbunyi. Tapi malah itu ponsel punya Gue yang sengaja Gue titipin sama Roy kalau mau Meeting.
"Pak. Maaf tapi ini ponsel Bapak berbunyi"
"Siapa"
"Panggilan dari Tuan Muda Revan"
Gue terkejut.
Ga biasanya Revan telfon pagi-pagi seperti ini. Kalau gak salah ini waktunya istirahat di Sekolah.
"Sorry Mr. Rolex Saya angkat panggilan sebentar"
Gue bangkit setelah mendapati anggukan dari Mr. Rolex.
"No problem" jawab Mr. Rolex yang hanya di jawab anggukan formal oleh Roy juga Gue.
Gue menjauh lalu mengangkat telfon.
__ADS_1
"H-halo kak"
"Hmm."
"S-syifa masuk Rumah Sakit"
Deg.
Sialan.
Hati gue bener-bener sakit pas denger Revan ngomong kalau Ifa ada di Rumah Sakit.
Jantung Gue mempompa terlalu cepat. Membuat nafas Gue memburu.
Gue berjalan tergesa-gesa kembali menuju meja kami tadi.
"Roy tolong gantiin Saya Meeting kali ini dengan Mr. Rolex. Princess masuk Rumah Sakit. Saya harus ke sana sekarang"
"Tap- Baiklah pak"
Roy yang akan menyela langsung Gue beri tatapan tajam menusuk tak terbantahkan. Karena ini menyangkut keselamatan Ifa.
Gue pergi tanpa pamit sama Mr. Rolex. Berjalan sedikit berlari keluar.
Karena saking terburu-burunya Gue malah nabrak orang.
Untung yang gue tabrak seorang pria, bukan wanita yang malah bikin ribet.
"Eh!"
"Loh Kak Adnan ngapain lari-lari di cafe. Jadi nabrak orang kan, untung yang ditabrak Gue, kalo buk-"
Gue memotong ucapan Bara.
Iya, dia Bara. Adik Gue yang udah Gue tabrak.
"Cepet ikut Gue. Ifa ada di Rumah Sakit" ucap gue cepat.
Gue bener-bener khawatir dengan keadaan Ifa.
"Hah?! Baby kenapa?! Kok bis-"
"Cepet masuk mobil!!" Ucap Gue lebih keras karena Bara banyak tanya.
Setelah Bara masuk mobil, Gue segera menjalankan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
Semoga Baby gak kenapa-napa ya Allah. Gue mohon. Batin Bara sambil berdoa.
Sampai di Rumah Sakit WNHS, Gue dan Bara berlari dari halaman Parkir ke ruang UGD, setelah memarkirkan mobil dengan asal.
Bodo amat tentang aturan markir mobil.
Gak peduli.
Sekarang yang paling penting adalah Ifa.
Disana Gue bisa lihat udah ada Mom, Dad, Revan, 2 sahabat Revan, dan 1 cewek yang gak gue kenal. Mungkin teman barunya Ifa.
"Revan."
Desis Gue tajam menatap Revan dengan tatapan membunuh.
Adnan POV End
...●●●...
Author POV
Setelah tadi Revan selesai menelfon Adnan, tak lama datanglah Doni, Sandi, dan Ana.
Hosh Hosh Hosh
Mereka bertiga memang mengikuti Revan dari tadi sampai di Rumah Sakit ini.
"Van, adek lo mana?!"
Sandi berucap terlebih dahulu. Mewakili pertanyaan yang ada dibenak teman temannya.
"Syifa masih ada di dalam" menunjuk pintu UGD yang masih tertutup.
"Semoga Syifa baik baik saja" Ana berujar tiba tiba.
"Lo tenang aja bro! Adek lo pasti baik baik aja" Doni berbicara bijak.
Tak biasanya Doni berbicara dengan bijaksana. Ia biasanya kalau ngomong asal ceplas-ceplos.
"Wihh... Gue ternyata bisa ngomong bijak yah"
Doni di saat-saat seperti ini malah muji diri sendiri.
Doni si haus pujian.
"Ck"
Revan berdecak mendengar pujian Doni buat diri sendiri.
Ana terkekeh mendengar ucapan Doni tadi, dan Sandi memutar bola mata jengah.
Revan melihat kedatangan Aditya dan Vina di ujung koridor. Mendekat menghampiri Revan dan teman temannya.
"Gimana keadaan Princess Mommy Revan?!" Sambar Vina cepat pada putranya, Revan.
"Masih di dalam Mom"
Aditya mengelus punggung Vina lembut. Berusaha menenangkan Istrinya. Walau dirinya sendiri juga tidak bisa tenang.
"Revan."
Terdengar desisan Adnan tajam yang di tujukan pada Revan.
Adnan yang datang tiba-tiba diikuti Bara di belakangnya membuat mereka semua terkejut.
Revan menoleh pada Adnan.
Belum juga berbicara sata kata pun, ia sudah mendapat hadiah dari Adnan.
Bugh
Adnan menonjok rahang tegas Revan keras.
Membuat Revan terhuyung ke belakang bahkan sampai jatuh terduduk di lantai koridor.
Ana dan Vina menutup mulut mereka terkejut dan takut.
Revan mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya.
Ia pasrah.
Ini memang salahnya tidak becus menjaga Princess.
Aditya dan Bara menahan Adnan yang akan menonjok Revan kembali. Sedangkan Vina membantu Revan untuk berdiri.
"Kak! Lo gak boleh bertindak gegabah karena emosi. Lo tega nyakitin Revan dengan tonjokkan Lo! Gimana kalau itu semua malah buat Princess sedih apalagi sampai marah sama Lo!"
Adnan terdiam.
Ia yang tadinya berontak langsung berhenti karena ucapan Bara tadi ada benarnya. Ia takut kalau Ifa sampai marah dengannya.
__ADS_1
"Tenang Son. Semua bisa di bicarain baik-baik"
Huft
Adnan menghembuskan nafas kasar.
Mencoba mengontrol emosi yang ada pada dirinya.
"Kak, Gue minta maaf. Gue ngaku salah karena gak bisa jaga Syifa dengan baik"
"Udah Sayang, jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Mom yakin Princess ga akan kenapa napa"
Vina mengelus rambut Revan yang terlihat berantakan. Berusaha menyemangati Putranya.
Sedangkan Adnan hanya diam mendengar permintaan maaf adiknya.
"Daddy mau penjelasan kejadian sebenarnya"
Aditya memecah keterdiaman.
Ana menyela pembicaraan yang di ketahui bahwa itu Mr. Winata. Pengusaha sukses di berbagai sektor.
"Maaf Om, biar Saya saja yang menjelaskan"
"Baiklah"
Aditya mengangguk menyetujui.
"Jadi gini Om Tante, tadi pagi sebelum bel istirahat berbunyi. Syifa udah keliatan aneh. Maksud Saya aneh gelagatnya yang terlihat seperti gelisah. Dan Saya melihat wajah Syifa udah pucat. Pas Saya tanya 'kenapa?'. Syifa bilang gak papa tapi Saya gak percaya-.
-Setelah istirahat berbunyi Saya tanya lagi karena wajahnya semakin pucat, baru setelah itu ia jawab jujur. Kalau Syifa merasa perutnya sakit. Saya nawarin buat nganter Syifa ke UKS tapi dia gak mau. Jadi Saya tawari buat manggil Kak Revan. Saya langsung berlari keluar ke kelas Kak Revan. Kak Revan langsung lari setelah saya memberitahunya.
-Dan saat kami bertiga menyusul ke kelas Syifa. Kita malah mendapati Kak Revan gendong Syifa yang udah pingsan. Lalu langsung di bawa ke Rumah Sakit ini."
Ana menghela nafas lega setelah menjelaskan sepanjang itu. Ia menjelaskan sedetail-detailnya.
"Baiklah, kita tunggu saja Dok-"
Aditya berucap tegas. Tetapi sudah terpotong oleh sebuah suara.
Ceklek
Bunyi pintu UGD terbuka.
"Permisi, Keluaga Pasien?"
...■■♢■■...
1465 Karakter
Anyeonghaseyo~~✌
Aku Up lagi😆
Gimana?
Suka ga sama ceritanya?
Semoga suka yaa
Kalian suka sama tokoh siapa?
Adnan
Bara
Revan
Syifa
Doni
Sandi
Ana
Vina
Aditya
Atau tokoh yang lain...
Apa alasannya
Komen ok👌
Aku niatnya buat cerita ini ringan konflik yah. Sengaja buat konflik yang ga terlalu berat yang penuh teka teki. Pasti itu bikin pusing. Setuju ga😉
Lusa aku Up lagi
Tunggu ya👌
Vote✔
Comment✔
Ba-Bye👋
__ADS_1
^^^Selasa, 15 September 2020.^^^