
Caesa menelfon Zela, ia ingin mencurahkan isi dari amplop yang ia terima dari Rumah Sakit.
"Zela lagi ngapain ya?"
Tuut tuut
Telfon masih berdering, "Lama banget ngangkatnya" Keluh Caesa kesal.
"Hallo"
"Lama Lo ngangkat telfon Gue"
"Ya maaf, Gue sibuk"
"Gaya Lo sibuk, sibuk mantengin IG Revan"
Setelah itu terdengar tawa renyah Zela.
"Tuh tau"
"Lo ada apa nelfon Gue?" Lanjut Zela bertanya pada Caesa alasan menelfonnya.
Tiba-tiba raut wajah Caesa terlihat sedih.
"Gue mau curhat" Caesa merubah suaranya yang melirih dan pelan.
"Curhat apaan? Sini-sini bakal Gue dengerin kok"
Menghela nafas sebentar, lalu melanjutkan ucapannya, "Gue di Vonis Batu Ginjal"
Suara Caesa terdengar parau, matanya juga berkaca-kaca.
"HAH?!!"
"Yang bener Lo?!" Tentu, Zela terkejut dan shock.
"Iya, Gue gak bohong"
"Sa"
"Hmm, Gue- hiks hiks.." Tak sanggup melanjutkan, ia akhirnya menumpahkan rasa sedihnya dengan menangis"
"Lo nangis?"
Tak ada balasan, hanya terdengar suara isakan.
"Oke, tunggu Gue mau kesana, sharelock cepet"
Tuut tuut
Telfon dimatikan oleh Zela, Caesa segera mensharelock alamat rumahnya.
Selagi menunggu Zela datang, ia malah mengacak-acak rambutnya, bantal guling ia lempar ke lantai.
Ia duduk bersandar di ranjang, dengan selimut menyelimuti seluruh tubuhnya sebatas bahu.
Didepan rumahnya terdengar suara deru motor, lalu suara langkah kaki yang memasuki rumah dengan tergesa-gesa.
Ia menangis lagi untuk memperkuat suasana.
"CAESA!"
Suara Zela memanggil dengan suara lantang.
"Hah! Hah! Hah!" Nafas Zela terlihat ngos-ngosan.
Zela menatap Caesa yang duduk dengan tangisan, ruangan kamar ini terlihat berantakan, ia menatap amplop yang terjatuh dibawah ranjang.
Caesa melihat Zela duduk disebelahnya, lalu terasa sebuah pelukan erat darinya.
Zela memeluk Caesa dengan erat, mencoba menghibur dan menghilangkan rasa sedih Caesa.
"Jangan nangis, ada Gue disisi Lo"
"Ta-tapi Gue lemah, Gue-"
"Ssttt, jangan diterusin, Lo harus lanjutin hidup, jangan kayak gini"
"Huhu.."
Zela menghapus air mata Caesa dengan pelan, kepalanya menggeleng mengisyaratkan untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Zela menatap mata Caesa dalam, lalu ia merasa terkejut dengan sebuah pelukan tiba-tiba. Caesa menubrukkan badannya pada Zela.
Zela tersenyum, "Jangan sedih, Sa"
Ia menganggukan kepalanya menjawab ucapan Zela.
Beberapa jam kemudian, Caesa sedang rebahan dengan ditemani ponselnya.
__ADS_1
Zela sudah pulang beberapa saat lalu, ia masih terbawa suasana tadi yang mengharukan.
Sekarang ia juga ingin menghubungi Mommy Vina. Semoga saja dia respect.
"Hallo Mom"
"Hallo juga Caesa"
"Bagaimana kabarnya Mom?"
"Alhamdulillah kabar Mom baik, Kamu gimana?"
"Caesa lagi gak baik-baik aja"
"Kok gitu? Kamu kenapa?"
"Caesa sakit"
"Sakit? Sakit apa Caesa, coba cerita sama Mom"
Ia tersenyum mendengar pertanyaan itu, entahlah ia merasa punya Ibu yang sesungguhnya, seorang Ibu yang benar-benar menunjukkan kasih sayang untuk anaknya.
Tak pernah ia dapatkan dari Ibu kandungnya, Sina hanya fokus dengan dirinya sendiri, Shopping, mempercantik diri, dan Ibu-ibu sosialita.
Ia rasa, menikmati kasih sayang dari Vina, tak ada masalah.
"Caesa di Vonis Batu Ginjal" Suaranya dibuat pelan.
Tak ada suara dari lawan, Vina terdiam, pastinya dia terkejut dengan berita ini.
"M-mom gak tahu kalau Kamu-" Suara Vina tercekat, ia membayangkan kalau itu terjadi sama Syifa, putrinya pastinya ia tak sanggup.
"Yang pasti Kamu yang sabar ya, juga harus tetep semangat"
"Mom yakin, Kamu pasti sembuh"
"Mom doakan yang terbaik buat Kamu"
Vina memberi petuah panjang lebar, tapi dalam ucapannya sudah kentara ketulusan, pembawaan lembut yang penuh keibuan.
"Iya Mom, pasti"
"Caesa g-gak nyangka kalo hiks hiks.."
"Jangan nangis sayang, Kamu pasti sembuh"
"Jangan sungkan kalau Kamu butuh sesuatu, Kamu bisa hubungi Mom"
"Makasih Mommy"
"Sama-sama Sayang"
Vina tak tahu, kalau keputusannya itu memang yang terbaik atau malah sebaliknya, tak tahu ke depannya akan seperti apa.
Caesa tersenyum dengan mata menerawang jauh, ia memikirkan selanjutnya akan bagaimana. Semua ide sudah ada diotaknya, hanya tinggal prakteknya saja.
"Tenangkan pikiran Kamu dulu sayang, jangan menyerah"
"Siap Mom" Caesa menyeka buliran air matanya.
"Makan makanan yang sehat dan rutin check up ya"
"Perbanyak istirahat juga"
"Okey, Mom"
"Makasih Mom, udah mau dengerin keluh kesah Caesa"
"Jangan sungkan sayang, gak papa"
"Yaudah Caesa tutup ya Mom, mau istirahat"
"Iya, bye sayang"
"Bye Mom"
Ia teringat kembali saat-saat dimana ia datang ke Rumah Sakit Sakura.
Flashback Mode On
Setelah namanya di panggil oleh seorang perawat, ia segera memasuki ruangan.
"Ada keluhan?"
"Bukan"
Sang Dokter yang ternyata seorang Wanita itu mengerutkan alis, tidak paham akan balasan Caesa.
"Lalu?"
__ADS_1
"Saya kesini dengan maksud tertentu"
"Ada yang bisa Saya bantu?"
"Ada"
Dokter Itu memperhatikan Caesa dengan cermat.
"Bisakah Anda membuatkan Saya surat pernyataan?"
"Surat pernyataan?"
Ia mengangguk, "Iya"
"Tentang?"
"Batu ginjal"
Dokter itu terkejut, raut wajahnya mulai tidak tak enak.
"Maaf, Saya tidak bi-"
"Saya mohon" Caesa mengatupkan kedua telapak tangan didepan dada.
Dengan segera Caesa memberikan amplop yang jelas kentara itu berisi uang tunai.
"Bisa kan?" Tanya Caesa ketika melihat Dokter itu menatap amplopnya tanpa berkedip.
Jelas, amplopnya terlihat tebal dan yang pastinya isinya juga tidak main-main.
Dokter wanita itu berdehem, antara malu dan ragu.
"B-baiklah"
"Keputusan yang tepat"
Dokter wanita itu berdiri, mulai menyiapkan surat pernyataan sesuai permintaan Caesa.
Duduk di kursi lainnya dan mulai mengetikkan kalimat per kalimat, di depan komputernya.
Komputer itu berada disamping meja untuk konsultasi dengan pasien, yaitu meja yang sedang diduduki oleh Caesa.
"Gejala Batu Ginjal apa Dok?"
Selagi mengetik, Dokter itu menjelaskan apa yang ditanyakan Caesa.
"Baik, Saya jelaskan secara singkat, bahwa Batu Ginjal merupakan suatu endapan kecil dan keras yang terbentuk di ginjal dan sering menyakitkan saat buang air kecil."
"Untuk Gejalanya, bisa sakit pada punggung, kencing berdarah, nyeri pada pinggang, mudah lelah dan sulit fokus"
"Gejala yang paling sering dialami apa Dok?" Yanya Caesa lagi.
"Biasanya nyeri pada bagian tubuh samping, yaitu pinggang"
"Sudah paham?"
Caesa segera mengangguk, "Paham"
"Nama Anda siapa?"
"Caesa Ayura"
Dokter itu kembali duduk didepan Caesa, dia menyerahkan amplop yang berlebel Rumah Sakit Sakura.
Caesa tersenyum bahagia, "Makasih Dok"
"Sama-sama"
Caesa berdiri dari duduknya, ia membalikkan badan dan melangkah. Baru langkah kedua, ia menghentikannya.
Lalu berbalik, "Oh iya, jangan sampai ini bocor, hanya Kita berdua yang tahu"
"E-"
"Atau Saya bakal celakain salah satu anggota keluarga Anda" Ancam Caesa dengan tampang serius.
Dokter itu akhirnya mengangguk pasrah.
"Iya, Saya bakal tutup mulut"
"Bagus, Saya permisi"
Dokter wanita itu menghela nafas, ia masih ada rasa takut.
Ketakutan itu masih menyelimuti dirinya, atau mungkin selamanya selagi ini semua belum terungkap.
"Aku yakin, hidupku gak bakal tenang nantinya" Guman Dokter Wanita itu.
Flashback Mode Off
__ADS_1