
"Caesa, ini maksudnya apa ya?"
Pertanyaan dari Vina, mampu membuat suasana semakin tegang.
"Ca-caesa cuman-"
"Cuman apa?" Potong Aditya dengan suara dingin.
Raut wajah Aditya yang sudah tidak enak dipandang, membuat Caesa kicep seketika.
"Berani-beraninya Lo bohong sama Kita" Ucap Bara dengan keras.
"Bohong sama aja nipu" Tambah Revan sarkastik.
Sedangkan Syifa bersembunyi dalam pelukan Adnan karena takut, suasana tidak mengenakkan ini hampir membuat Syifa menangis.
Untungnya Adnan dengan sigap menenangkan Syifa dengan sebuah pelukan.
Mari kita ber-flashback terlebih dahulu.
Flashback Mode On
Syifa terbangun tengah malam, ia habis bermimpi indah, tapi malah berakhir terbangun tengah malam begini.
Syifa bangun dari berbaringnya, ia duduk diatas ranjang. Ia memeriksa gelas dan diatas nakas, ternyata kosong.
"Yahh.. habis, padahal Syifa haus"
"Yaudah deh, Syifa ambil lagi di dapur"
Kaki Syifa turun dari ranjang, dan tangannya mengambil gelas kosong untuk di isi air kembali.
Saat akan berjalan menuju pintu, matanya tak sengaja melirik arah ranjang. Matanya membulat karena terkejut.
Di atas ranjang miliknya, terdapat Caesa yang sedang tertidur pulas sekali. Mata Syifa memicing, ia mengerutkan alisnya tanda bingung.
"Bukannya Caesa tidur di atas Sofa ya? Kok udah pindah?"
"Kok bisa gak sadar sih, kalo Caesa tidur di sebelah Syifa"
Syifa membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan berjalan ke arah dapur.
"Pasti karena Syifa tidur terlalu pulas nih, jadi gak sadar kan?"
"Tapi mimpi malam ini sangat indah" Ucap Syifa dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Kaki mungilnya berjalan pelan menuruni tangga, setelah sampai area dapur ia segera menuangkan air ke dalam gelas miliknya.
Air itu langsung ia teguk saking hausnya, "Ahh leganya"
Tangannya mengelus leher depan, lalu membersihkan sisa air yang menetes di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan.
Syifa menuangkan air lagi untuk ia bawa ke kamarnya.
Ia meletakkan gelas itu di atas nakas, ia berdiri sejenak sambil berpikir.
"Caesa sakitnya udah sembuh belum ya?"
"Kalau tambah parah gimana?"
Syifa menggigit jarinya cemas.
"Emm, apa Syifa minta bantuan sama Kak Anan aja"
Kepala Syifa mengangguk-angguk menyetujui ide dari dirinya sendiri, "Iya, minta tolong sama Kakak aja"
Syifa kembali keluar kamar, kali ini ia menuju kamar milik Adnan.
Ia sungguh berharap Kakaknya mau membantunya.
Tok tok tok
Syifa mengetuk pintu dengan ritme pelan, karena tidak mau ada keributan kalau ia mengetuk pintu dengan brutal.
"Kakak"
"Kak Anan"
Tangannya mencoba memegang handle pintu, "Ternyata gak di kunci"
Ia menghembuskan nafas lega karena tidak perlu susah payah untuk masuk ke dalam.
Mulai berjalan mengendap-ngendap karena minimnya pencahayaan. Lampu di kamar Adnan telah dimatikan seluruhnya, benar-benar gelap gulita.
Di tambah, lampu ruangan di luar kamar, koridor samping tangga, semua lampu juga sudah di matikan.
"Syifa gak bisa lihat apa-apa"
Tangannya meraba-raba kesana-kemari. Berusaha meraih sesuatu yang mampu membantunya untuk segera menuju dimana Adnan terlelap.
"Ish jauh banget, kok gak sampai-sampai"
Menggerutu sebal karena tidak segera sampai dimana ranjang berada.
Tanpa ia sadari, bahwa ia melangkah dengan sangat pelan, langkahnya bahkan sangat pendek, mungkin itulah faktor kenapa Syifa tidak segera sampai pada ranjang.
Dugh
"Awwh! Shh"
__ADS_1
"Aduh sakit.."
Tangannya dengan refleks mengelus kaki sebelak kanan, ia tersandung sebuah kayu.
"Syifa kesandung apa sih"
Ia meraba benda di depannya, "Lemari bukan ya?"
"Huhu.. Kakak bantuin Syifa dong" Karena menyerah ia mulai merengek.
"Kak Anan!"
Tidak ada sahutan.
"Kurang keras kali ya?" Ia bersiap-siap untuk mulai mengeraskan suaranya.
"KAKAKK!!"
Degh
"Hah?! IFA!!"
Mendengar suara teriakan Syifa di kamarnya, ia dengan refleks langsung bangun dari tidurnya.
Tangannya menekan saklar lampu, setelah pencahayaan mulai terang, ia melihat Syifa yang berjongkok menghadap Lemari pakaiannya.
"Ifa?"
Adnan bangun lalu menghampiri Syifa yang masih setia dengan posisinya tanpa menoleh sedikitpun.
"Princess" Panggil Adnan dengan suara lembut tapi serak, mungkin efek baru bangun tidur.
Kepala Syifa mendongak, ia melihat Kakaknya yang berdiri di belakangnya. Langsung saja ia peluk tubuh Adnan dengan erat.
"Ada apa? Kok kebangun tengah malam gini"
"Ta-tadi"
"Yuk duduk dulu, baru jelasin" Ajak Adnan menggiring Adiknya untuk duduk di sofa yang ada di kamar.
Setelah duduk dengan rileks, Adnan mulai menanyakan kembali ada apa gerangan Syifa ada di kamarnya.
"Kamu butuh sesuatu?"
Syifa menjawab dengan gelengan kepala, lalu menganggukan kepala dengan cepat.
Adnan mengernyit, "Yang bener yang mana?"
Syifa kembali mengangguk.
"Maksudnya, iya? Kamu butuh bantuan?"
"Ngomong aja Sayang, gak papa, jangan takut"
Adnan menenangkan Syifa yang terlihat menggigit bibirnya, gelisah.
"Syifa bukan takut"
"Terus?"
"Tapi kaki Syifa sakit"
"Hah?! Mana yang sakit, kasih tau Kakak?!!!"
Adnan mengikuti arah telunjuk Syifa yang tertuju pada kaki kanannya, terlihat memerah bahkan ada noda darah sedikit.
"Darah" Ucap Adnan dengan dingin, raut wajahnya kentara sekali dengan ketidaksukaan.
"Tetap di sini" Perintah Adnan, dibalas Syifa dengan anggukan, ia hanya menuruti.
Jujur saja, ia sedikit takut melihat raut wajah Kakaknya, bibirnya manyun, "Semoga Syifa gak di marahin deh"
"Muka Kak Anan nyeremin, Syifa jadi takut"
Gumanan Syifa masih terdengar sampai telinga Adnan, ia tersenyum tipis menanggapi racauan demi racauan Syifa yang mulai menduga-duga tidak jelas karena takut.
Emangnya Gue se-nyeremin apa sih? Batin Adnan bertanya-tanya.
Adnan kembali duduk disamping Syifa, ia membawa kotak P3K di tangannya.
Adnan mulai membersihkan luka Syifa di bagian jempol kaki, lalu mengoles salep, sentuhan terakhir ia memberikan handsaplast pada jempol kaki Syifa.
"Sudah" Ia membereskan kembali kotak peralatan P3K.
"Terima kasih kak"
Kepala Adnan mengangguk singkat, "Sekarang jelasin"
"Emm, Syifa kebangun karena haus jadi Syifa ambil minum di dapur, tapi Syifa juga kaget karena Caesa udah ada di ranjang Syifa, padahal tadinya masih tiduran di sofa"
Adnan setia mendengarkan ucapan Syifa.
"Terus setelah minum, Syifa balik ke kamar, tapi Syifa kepikiran Caesa masih sakit apa udah sembuh, takutnya makin parah"
"Lalu" Potong Adnan.
"Syifa mau minta bantuan sama Kak Anan, buat panggil Dokter suruh ke sini, buat meriksa kondisi Caesa" Ucap Syifa lirih.
Adnan mengangkat satu alisnya, "Malam-malam gini, kenapa gak besok pagi aja"
__ADS_1
"Syifa maunya sekarang"
Adnan tak bergeming, Syifa dengan cepat meraih tangan Adnan untuk ia genggam.
"Syifa mohon" Senjata terampuhnya adalah puppy eyes.
Terbukti, Kakaknya ini langsung mengangguk. Ia tersenyum lebar lalu memeluk tubuh Kakaknya erat.
Pelukan di lepas oleh Adnan, ia berdiri mengambil Ponsel untuk menelpon Dokter Keluarganya.
"Ha-"
"Datang ke sini, 10 menit harus sudah sampai"
"Tap-"
"Saya tunggu"
Tuuut Tuuut~~
Panggilan di putus sepihak oleh Adnan, bahkan tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya untuk berucap.
Syifa meringis melihat bagaimana Adnan menelpon seseorang.
"Udah, Kita tinggal tunggu Dokter datang"
Syifa menganggukkan kepala dengan kaku, masih tidak menyangka dengan Kakaknya barusan.
Sepuluh menit berlalu, bell di depan pintu Mansion sudah berbunyi.
"Biar Kakak yang buka, Kamu balik ke kamar, nanti Kakak menyusul"
"Iya kak" Syifa mematuhi perintah Adnan, ia kembali ke kamarnya. Sedangkan Adnan turun untuk membukakan pintu.
Beberapa menit kemudian, muncul lah Adnan dan sosok seorang Dokter yang ia kenal, tak lain dan tak bukan Dokter Ferdi.
"Tolong periksa Caesa, apakah dia masih sakit atau sudah sembuh" Ucap Adnan datar.
"Baik, akan Saya periksa"
Syifa bangun dari duduknya, memberi akses penuh kepada Dokter Ferdi untuk mengecek Caesa.
Dokter Ferdi menghampiri Caesa yang terlelap, ia mulai memeriksa suhu tubuh Caesa.
Lima menit kemudian, Dokter selesai memeriksa, "Bagaimana?" Seloroh Adnan cepat dan to the point.
"Suhu tubuhnya normal, Nona Caesa hanya tertidur, tidak ada yang perlu di khawatirkan"
"Tapi kan, kemarin Caesa sakit" Bantah Syifa dengan pernyataan Dokter.
Adnan menatap tajam Dokter Ferdi, ia tidak mau ada kesalahan sedikitpun.
Dokter Ferdi menatap takut pada Adnan, ia mulai menjelaskan kembali.
"Dari suhu tubuh Nona Caesa yang normal, sudah membuktikan bahwa Nona Caesa tidak mengalami sakit. Jikalau benar sakit, pastinya mata akan sayu, bibir terlihat pucat, nafas sedikit panas dan berat. Sedangakan kondisinya sekarang, terlihat baik-baik saja"
Syifa mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali, masih mencerna ucapan Dokter di depannya.
Wajah Adnan tambah dingin, ia mulai mengerti dengan situasi ini.
"Ifa"
Syifa berjengit kaget, "Iya Kak?"
"Kakak minta, Kamu panggil Mommy sama Daddy"
"Kenapa harus manggil Mo-"
"Panggil aja Sayang" Potong Adnan dengan suara rendah.
"Okey" Syifa berjalan cepat untuk memanggil kedua orang tuanya.
Adnan mengalihkan pandangan, ia menatap Dokter Ferdi intens, "Saya minta buatkan Surat Pernyataan, segera"
Dokter Ferdi yang paham, langsung mengangguk, "Baik"
Adnan pergi untuk membangunkan Bara dan Revan, mungkin pagi ini akan ada sidang.
Syifa kembali bersama dengan Vina, sedangkan Yang cowok sudah ada di bawah, duduk di ruang keluarga.
"Caesa"
"Caesa"
Vina memanggil-manggil nama Caesa sejak beberapa menit yang lalu.
"Caesa bangun dulu"
"Enghh" Matanya mulai terbuka dengan perlahan.
"Mom?"
"Bangun dulu" Ucap Vina dengan tenang.
"Ada apa Mom?"
"Kita turun ke bawah, Kamu akan tahu nanti"
Vina berjalan mendahului, Syifa yang bingung pun berjalan mengikuti Vina dengan diam.
__ADS_1
Caesa mengerutkan alisnya, "Ada apa sebenarnya?"