
Flashback Mode On
"Lo kenal Revan?" Tanya Caesa random.
Entahlah apa maksud Caesa menanyai Zela seperti itu.
"Ya kenal lah!" Jawab Zela sewot.
Kenal banget. Batin Zela.
"Siapa sih yang gak kenal sama Revan, satu sekolah ini juga tau siapa Revan" Lanjut Zela menambahkan.
Caesa tersenyum, "Lo suka kan sama Revan?"
"A-apaan sih, enggak yah" gugup zela mendapati pertanyaan itu.
"Gue tau, Lo gak perlu ngelak lagi" Balas Caesa tersenyum menang.
Zela terkejut, "Lo tau?!"
"Hmm" Caesa hanya menganggukkan kepala.
Zela menghela nafas pasrah, akhirnya ia mengangguk pasrah.
"Iya"
Jawaban Zela membuat Caesa tersenyum puas.
"Iya, Gue suka sama Revan" Ulang Zela memperjelas.
"Gue tau, tapi kenapa Lo gak manggil dengan sebutan Kak Revan?"
"Bukannya dia Kakel kan" Tambah Caesa.
Zela menggeleng, "Enggak, Gue gak mau presentase kedekatan kita terbatas"
Dahi Caesa berkerut bingung, "Maksudnya gimana?"
"Dengan Gue manggil dia Kak, seolah-olah kita hanya sebatas adek kelas dan kakak kelas"
"Dan Gue gak mau itu" Zela menggeleng tegas bersamaan ketika mengucapkan kalimat itu.
Caesa hanya membulatkan mulutnya.
"Ayo cepet keluar, kita bolos" Ajak Caesa pada Zela untuk ikut membolos.
Caesa pun izin ke guru, alasan klise yang paling sering digunakan, yaitu toilet. Dan beruntungnya Caesa, ia dengan mudah dipercaya pergi berdua.
Biasanya sih, hanya diperbolehkan satu orang, mungkin gurunya lagi baik.
Dan salah satu kelebihan Caesa adalah berbohong.
Ya, itu udah sering Gue lakuin. Batin Caesa.
"Kita mau kemana?" Zela menanyakan pada Caesa, kepalanya celingak-celinguk.
Caesa ikut juga menolehkan kepala kekanan dan kekiri.
Pandangan Caesa menuju arah Kantin. Dari kejauhan sudah terlihat siluet seseorang.
"Ke kantin aja"
Caesa menarik tangan Zela untuk mengikutinya menuju kantin.
"Ke kantin?"
"Hmm" Balas Caesa menganggukkan kepala, ia masih fokus berjalan dan pandangan ke depan.
"Semoga gak ada guru yang berkeliaran di sekitar sini" Gumam Zela takut, ia melirik sana-sini dengan perasaan was-was
"Gak usah takut" Sahut Caesa.
Ucapan Caesa yang tiba-tiba menyahut, membuat Zela terkejut karena tak menyangka Caesa mendengar apa yang ia ucapkan.
Mereka berdua sudah dekat dengan keberadaan tiga sosok lelaki tampan.
**Flashback Mode Off
...●●●**...
Zela tersenyum mengingat kejadian tadi sebelum ia sampai di kantin.
Zela merasa sungguh beruntung karena ajakan Caesa untuk membolos bisa berujung duduk bersebelahan dengan lelaki yang ia sukai, ralat ia mencintai lelaki itu.
Revan dan Doni selesai dengan makanannya, lalu minum air untuk menutup acara makannya.
Gelas Revan sudah kosong, ia meletakkan gelasnya di atas meja.
Netranya melirik dua gadis yang duduk disebelahnya dengan berbinar.
__ADS_1
Ia memasang wajah coolnya.
Zela terpesona dengan gaya cool yang dipancarkan Revan. Semua yang ada pada diri Revan, Zela mengaguminya.
Sungguh ciptaan yang sempurna.
Tiba-tiba Revan menoleh ke kanan, di mana itu adalah tempat duduk Zela.
"Lo gak mau ngenalin diri?"
"H-hah?"
Zela tergagap, ia merasa nge-blank mendadak.
"Siapa nama Lo?" Revan mengulurkan tangan didepan Zela.
"G-gue, nama Gue Zela"
Zela dengan cepat meraih tangan Revan, selagi ada kesempatan, gak boleh dianggurin gitu aja.
Setelah salaman, Revan segera melepas tangan gadis itu, "Lo pasti udah tau Gue kan?"
Zela mengangguk antusias.
"Ya bagus lah, secara Gue kan tampan"
Iya! Lo tampan, banget malah. Batin Zela yang ingin sekali berucap itu secara langsung didepan orangnya.
Caesa merasa jengah, ia tidak suka di kacangin. Ia benci di abaikan.
"Ck!"
Decakan Caesa yang sedikit keras membuat yang berada dimeja itu menoleh, memusatkan perhatian pada Caesa yang bersidekap.
"Lo kenapa?"
Caesa melirik Doni yang bertanya itu padanya.
"Itu ada Adeknya Revan"
Caesa menunjuk Syifa dengan dagunya, Syifa sedang berjalan menuju arah meja Revan dengan tiga temannya.
Revan tersenyum melihat kedatangan Adiknya. Revan membuka mulutnya sebelum suara lain terdengar lebih dulu.
"Sayang!! Sini!"
Revan mendengus dengan kelakuan Sandi yang mengundang perhatian banyak orang yang sudah mulai memasuki kantin.
Panggilan dari Sandi yang secara terang-terangan menyebutnya dengan panggilan sayang, membuat Ana tersipu.
Ia malu menjadi pusat perhatian seperti sekarang.
Tangan Ana sudah ditarik Sandi agar duduk disampingnya.
Revan tak mau kalah, ia juga menarik Syifa, sedangkan Zela terlihat kesal karena dirinya terpaksa bergeser menyisakan tempat yang sekarang diduduki Syifa.
Zela tak terima Syifa mengambil tempat duduknya. Ia yang awalnya duduk disebelah Revan harus tersingkir karena kedatangan Syifa.
Semakin kesal dengan perhatian Revan yang hanya terfokus pada Syifa.
"Kakak pesenin ya?"
"Gak usah Kak, Syifa pesen sendiri aja"
"Tap-"
"Gak papa" Sela Syifa cepat lalu berdiri berniat memesan makanan.
"Gue ikut"
Nisa ikut berdiri, ia akan menemami Syifa memesan makanan.
"Gue samain" Ucap Lita
"Gue nitip, ya" Ucap Ana ikut menyela.
Lita dan Ana berucap secara bersamaan, Nisa melirik sinis, "Enak banget Lo berdua, nyuruh-nyuruh doang"
Lita menyengir tanpa rasa bersalah. Sedangkan Ana tak peduli, ia kembali menyender di lengan Sandi dengan manja.
Nisa semakin kesal dengan kelakuan Ana yang bermesraan tak kenal tempat.
Syifa yang paham kalau Nisa itu gampang marah, ia segera menarik tangan Nisa untuk memesan makanan.
Nisa akhirnya pasrah ditarik Syifa, padahal ia ingin meluapkan unek-unek untuk berpidato pada dua cewek yang menyebalkan.
Zela menatap kepergian Syifa dengan lamat-lamat.
Caesa yang memperhatikan sejak awal, ia paham dengan Zela.
__ADS_1
Caesa membuka ponselnya, ia mengetikan sesuatu di ponselnya.
Zela
^^^Gue mau Lo bantuin Gue, buat Syifa gak punya celah buat ngobrol sama Revan.^^^
^^^Lo suka kan sama Revan?^^^
^^^Ambil perhatiannya, dengan itu Lo berhasil buat Syifa tersingkirkan.^^^
^^^Gue yakin, Lo pengin PDKT sama Revan.^^^
Suara notif berbunyi, Zela yang merasa ponselnya sedikit bergetar, ia segera mengeceknya.
Tiga pesan dari caesa untuknya.
Zela membacanya dengan cermat, memahami maksud kata-kata itu.
Beberapa detik kemudian, ia tersenyum senang. Akhirnya ada juga yang mendukungnya.
Zela mengembalikan ponselnya kedalam saku roknya.
Zela melirik Caesa yang sedang menatapnya dengan sorot penuh harap. Zela mengangguk, respon Zela membuat Caesa tersenyum.
Berjalan sesuai apa yang Gue mau. Batin Caesa bangga.
Syifa kembali dengan nampan berisi beberapa piring siomay dan gelas jus mangga.
Menu itu, dibuat sama semua untuk mereka berempat.
Syifa menyajikan kepada Lita dan Ana, terakhir ia menyajikan untuk dirinya sendiri.
Saat akan duduk, ia baru menyadari tempat duduk disebelah Revan sudah diduduki oleh Caesa dan Zela.
Syifa mengalah, dirinya duduk disebelah Zela. Walau dalam hatinya ia ingin duduk didekat Revan, Kakaknya.
Syifa makan dengan tenang, lama-kelamaan ia merasa terganggu dengan Zela yang menyenggol lengannya.
Senggolan dari Zela membuat saus kacang siomay itu belepotan di pipinya.
Karena saat ia membuka mulut untuk menyuapkan siomay itu, tapi lengannya tersenggol, sendok itu akhirnya meleset ke pipinya.
Syifa meletakkan sendoknya, ia menatap Zela yang malah asik berbincang dengan Revan.
Revan sepertinya tidak tahu menahu akan hal ini.
"Kak"
Panggilan pertama mungkin belum terdengar.
"Kak Revan"
Panggilan kedua beru kemudian Revan merespon. Revan menatap Syifa yang memanggilnya, dan ia terkejut melihat pipi Syifa yang terkena saus kacang.
"Ya ampun Sayang, Kamu-"
"Kenapa?" Zela menyela ucapan Revan.
Zela ikut memandang Syifa yang pipinya terkena bumbu siomay.
Tangan Revan yang terulur berniat mengambil tisu yang tersedia di meja, tapi sudah didahului tangan lain.
Zela menggeser kotak tisu itu ke hadapan Syifa, "Ini dibersihin pipinya" Ucap Zela tanpa menghiraukan Revan yang terlihat kesal.
"Eum, makasih" Ucap Syifa pelan.
Ia mengambil tisu itu dan membersihkan pipinya yang kotor.
Syifa menatap piring siomaynya. Ia sengaja memanggil Revan karena ingin dimanja. Tapi sekarang ia tidak bisa mewujudkan keinginan itu.
Rasanya sungguh bahagia bila dimanja oleh orang tua dan saudara kandung. Tapi makin kesini makin sibuk dengan banyak urusan dan tanggung jawab.
Syifa paham, Aditya dan Adnan tentunya sibuk dengan pekerjaan. Vina juga terkadang sibuk dengan perkumpulan ibu-ibu sosialita.
Bara sibuk dengan kampusnya, Revan pun punya dunia sendiri.
Syifa menghela nafas, dulu awal-awal ia bertemu keluarga kandungnya, ia begitu diperhatikan, begitu dimanja. Sampai-sampai lupa kalau sebelum itu ia juga pernah mengalami kesulitan, masalah, dan lain sebagainya.
Kasih sayang itu membuat ia melupakan kesedihan saat belum bertemu keluarga kandung.
Dan sekarang hal kecil seperti ini sudah membuatnya begitu sedih.
Syifa sudah sangat bergantung dengan adanya kasih sayang yang berlimpah, dimanjakan, dan menjadi satu-satunya yang begitu di prioritaskan.
Syifa menatap Revan yang sudah kembali sibuk berbincang dengan Zela.
Syifa mencoba menghilangkan kesedihanyya, ia melanjutkan memakan siomaynya hingga habis. Tak lupa meminum jus mangganya.
Caesa yang sedang bermain ponsel sesekali melirik sekilas pada Syifa, wajahnya menggambarkan raut sedih.
__ADS_1
Sedangkan dirinya dengan senang hati menikmati pemandangan itu. Kesedihan Syifa adalah sebuah kebahagiaan untuknya.