Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 48


__ADS_3

Caesa POV


Gue terpaksa membuka mulut, buat masukin daun seledri, mulut Gue mengunyah dengan sangat pelan.


Baunya terasa banget gak enak, apalagi rasanya. Gue jijik mau nelen nih daun ijo.


Huek!


Lidah dan perut Gue aja nolak, bikin enek.


Mommy Vina menatap Gue dengan senyumannya yang ngebuat Gue pasrah. Nasib baik kali ini gak berpihak sama Gue.


"Kunyah yang bener dong sayang" Ucap Mom Vina dengan gemas.


Gue tau, dia greget sama Gue, karena Gue ngunyah daun seledri dengan ogah-ogahan.


Gue yang gak mau lama-lama ngunyah daun menjijikan ini, akhirnya langsung Gue telen dan minum air putih dengan tergesa-gesa.


Setelah selesai minum, Gue letakan gelas kosong itu di meja.


Sialan!


Bau dan rasanya yang khas daun seledri tertinggal di mulut Gue, Gue harus sikat gigi dan kumur-kumur nih.


Bikin Badmood aja!


Caesa POV End


...●●●...


Vina tersenyum senang, Caesa mau menuruti dirinya.


Ia merasa sudah sedikit membantu untuk penyembuhan penyakit Caesa. Sedikit demi sedikit ia yakin pasti akan sembuh.


"Mommy senang Kamu mau nurutin Mommy" Ucap Vina terharu.


Mata Caesa mendelik, sedetik kemudian ia menormalkan ekspresinya kembali.


"Iya Mom, selagi itu baik buat Caesa. Caesa bakal nurutin apa kata Mommy"


Vina tersenyum senang, "Princess di minum ini Jus-nya"


Syifa menganggukan kepalanya lalu meminumnya dengan santai tanpa mempedulikan perubahan raut wajah Caesa.


What the ****! Dia dengan santai minum Jus itu, sedangkan Gue harus nelen daun seledri dan hanya disuguhi air putih. Mereka orang kaya beneran apa boongan sih! Batin Caesa dengan umpatannya.


"Nah, karena Caesa udah makan daun seledri, sekarang Kita sarapan yuk" Ajak Vina dengan semangat.


Kepala Syifa mengangguk antusias, kakinya bahkan berlari dengan cepat. Vina hanya menggelengkan kepala dengan tingkah Syifa yang selalu bisa membuatnya tersenyum.


"Yuk" Ajak Vina, kakinya melangkah mendahului Caesa.


Caesa berjalan dibelakang Vina dengan menggerutu, "Gitu kek, dari tadi. Udah lapar juga"


Mereka bertiga duduk disana dengan Caesa di samping Vina, sedangkan Syifa duduk di depan Vina.


Setelah beberapa menit, datanglah ketiga kakak Syifa sekaligus Daddynya.


Mereka duduk ditempat masing-masing. Syifa diapit oleh Adnan dan Bara, sedangkan Revan duduk disamping Caesa.

__ADS_1


Mata Caesa menatap Adnan tak berkedip. Ia melihat wajah tampan sempurna tanpa cela, tubuh tinggi, kulit putih, sesuai idaman para wanita kebanyakan.


"Gue jadi pengin punya Abang" Gumam Caesa lirih, takut kedengeran orang lain.


"Caesa, biar Mommy ambilin nasinya ya" Ucap Vina, membuat senyuman penuh kemenangan terpasang di kedua sudut bibir Caesa.


Caesa mengira dengah hal ini bisa nembuat Syifa merasa tersingkirkan.


Vina meletakkan piring yang sudah terisi didepan Caesa. Senyuman Caesa memudar, melihat piringnya hanya terisi nasi dengan sayur Bayam, dan ada satu piring kecil di isi dengan Ubi ungu.


Cobaan apa lagi ini! Batin Caesa menjerit.


Ia tidak suka dengan Bayam apalagi Ubi. Itu kan makanan jaman dulu, dan yang tak ia duga, orang se-kaya Winata masih menyajikan Ubi disini.


"Mom, kok ini-" Ucapan Caesa terpotong.


"Gini lho Caesa, penyakit Batu Ginjal kalau ingin segera sembuh, harus memperbanyak makan sayur Bayam dan juga Ubi"


"Batu Ginjal?" Tanya Aditya penasaran.


Kepala Vina mengangguk cepat, "Iya Dad, Caesa di Vonis Batu Ginjal. Makanya Mommy gencar cari-cari informasi, kemarin aja Mom tanya-tanya sama Dokter Ferdi"


"Dad juga tau kan?" Lanjut Vina.


Aditya menganggukan kepala, "Iya, pantes kemarin telfonan sama Ferdi, dikirain ada apa"


"Sejak kapan?" Tanya Adnan.


Kalimat Adnan kurang jelas, terlalu singkat. Mereka bingung pertanyaan itu maksudnya apa dan ditujukan kepada siapa?


"Maksud Kak Anan?" Syifa mewakili semuanya yang sudah kebingungan.


"Sejak kapan Caesa kena Batu Ginjal" Adnan memperjelas maksud ucapannya.


Semuanya mengangguk paham.


"Aku tau baru-baru ini" Jawab Caesa.


Kepala Adnan mengangguk mengerti.


"Semoga cepet sembuh Caesa" Ucap Syifa dengan ceria. Ia memang memiliki pembawaan yang riang.


Caesa menganggukan kepalanya, "Iya, makasih Syifa"


"Sama-sama" Bibir Syifa tersenyum manis. Kepalanya mendapatkan sebuah elusan lembut dari tangan kokoh Kakaknya, Adnan.


Hal itu membuat hati Caesa panas. Seharusnya ia yang diperhatikan karena lagi sakit. Tapi kenapa malah Syifa yang mendapatkan kasih sayang itu.


Vina menatap Caesa lalu mengingatkannya untuk makan, "Di makan yah"


Caesa menatap Vina dengan tatapan protes walau ia berusaha menutupinya dengan bersikap normal. "Tapi-"


Tapi Gue kan cuma sakit boongan. Kok jadi gak boleh makan ini itu sih! Batin Caesa dengan kesal.


Mata Caesa menatap lauk-lauk didepannya yang terlihat menggiurkan. Ada Ayam goreng, Telur dadar, Sate ayam, Telur balado, dan ikan goreng. Sedangkan minumnya ada susu, kopi, teh, dan Jus buah naga.


Air liurnya hampir menetes melihat seluruh menu di meja makan.


"Ini, Mom kasih Ikan yang mengandung tinggi asam lemak omega-3 buat Kamu" Vina menaruh satu ikan di piring Caesa.

__ADS_1


Wajah Caesa pias, ia merasa disiksa secara tidak langsung dengan begini.


"Minumnya juga harus yang bermanfaat seperti Jus buah naga"


Lagi-lagi, Vina meletakkan segelas Jus buah naga di samping piring Caesa. Tangan Caesa mengepal erat di bawah meja makan, ia sungguh kesal.


Padahal ia ingin sekali makan sate, tapi apa boleh buat. Ia harus pura-pura memiliki penyakit sialan yang merugikan dirinya hari ini.


Semua makan dengan tenang juga lahap. Kecuali Caesa yang matanya sering kali melirik arah piring Sate ayam dan Telur balado.


Ia seperti ngidam jika seperti ini.


Syifa makan dengan lahap dan terlihat seperti benar-benar menikmati acara sarapannya. Semua itu tak luput dari penglihatan Caesa yang dari tadi sudah memperhatikan Syifa.


Caesa makan dengan tidak selera, ia yang tadinya berpikir jika perhatian Vina saat mengambilkan nasi untuknya adalah hal baik yang bisa membuat Syifa cemburu dengan perhatian yang ia terima.


Tapi apa? Malahan perhatian itu membunuhnya secara perlahan. Ia menatap piringnya dengan nanar.


Caesa terpaksa memakan sayur Bayam itu, terlihat dari cara mengunyah yang ogah-ogahan.


Setelah semuanya selesai makan, mereka neminum minuman sesuai pesanan mereka. Syifa dengan Susu, keempat cowok minum Kopi, dan Vina dengan Tehnya.


Kali ini Caesa beruntung, ia mendapatnya Jus buah naga yang terlihat segar dan manis. Dari warnanya saja sudah terlihat enak.


Caesa minum Jusnya, baru satu kali teguk, ia memuncratkan Jus didalam mulutnya.


Semuanya terkejut.


Caesa meringis malu dengan hal yang baru saja ia lakukan.


"Kenapa Caesa? Gak enak ya?" Tanya Vina khawatir.


"Ah-Enggak kok Mom, Jusnya enak cuman-" Jawab Caesa ragu-ragu.


Semuanya menunggu Caesa untuk melanjutkan kalimatnya yang tertunda.


Tak lama suara kekehan mengalihkan atensi semuanya, Vina lah yang barusan terkekeh.


Alis Caesa mengernyit tidak paham.


"Mommy tau, pasti Jusnya gak manis kan?"


Kepala Caesa mengangguk menjawab pertanyaan Vina.


"Itu karena Mommy sengaja gak kasih gula. Kan Kamu gak boleh makan yang manis-manis"


Caesa mendesah frustasi.


Revan tertawa dengan nasib Caesa. Ia melihat raut wajah Caesa yang keberatan, pasti tidak terima dengan banyaknya larangan ini itu.


"Udah nikmatin aja, selagi gratis"


Ucapan Revan seperti mengingatkannya, bahwa ia beruntung bisa makan disini dengan gratis.


Sialan!


"Caesa habis ini, Kamu makan Ubi-nya ya. Harus dihabiskan" Ingat Vina.


Ucapan Vina barusan membuat bahu Caesa merosot dengan lemas.

__ADS_1


__ADS_2