Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 37


__ADS_3

Syifa duduk dimeja makan dengan tersenyum ceria. Hatinya berbunga-bunga senang karena sebentar lagi akan bertemu Alfa.


Ditambah, Bi Sari telah membuatnya tertawa lepas pagi ini. Cuaca hari ini juga sepertinya sangat mendukungnya.


Semoga sampai acara kencannya selesai, tidak ada hujan yang turun.  Aminn.


Karena Kita tidak tau apa yang terjadi kedepannya. Syifa hanya bisa berdoa yang terbaik.


"Bi, tolong buatin Syifa susu coklat ya"


"Baik Non" Bi Sari mengangguk mengiyakan.


"Bibi buatin dulu ya" Pamit Bi Sari pada Nonanya.


"Iya Bi" Syifa mengangguk-angguk.


Bi Sari pun segera undur diri untuk membuatkan Nonanya satu gelas susu coklat, sesuai permintaan Syifa.


Selagi menunggu susu pesanannya, Syifa mengambil Ponsel dan membukanya.


Ia memainkan ponselnya untuk melihat instastory milik orang lain, di aplikasi Whatsaap.


Tak lama, Bi Sari kembali dengan satu gelas berisi susu coklat.


"Ini Non, susu coklatnya"


Bi Sari meletakkan gelas susu itu di meja, tak lupa dengan senyuman lembutnya.


Syifa melirik gelas itu, lalu mendongak menatap Bi Sari yang berdiri disampingnya.


"Makasih Bi, maaf Syifa ngrepotin"


"Enggak dong Non, enggak ngrepotin sama sekali"


"Yaudah Bibi mau lanjut beres-beres dulu ya, Non" Lanjut Bi Sari menunjuk arah dapur, bermaksud ia akan membereskan dapur.


"Iya Bi, sekali lagi makasih"


"Sama-sama Non Syifa"


Bi Sari pun segera undur diri, ia kembali membereskan dapur yang sedikit kotor.


Syifa tersenyum senang, ia segera meraih gelas dimeja. Meminum susunya sampai habis.


Setelah habis, Syifa kembali menaruh gelas kosong dimeja makan.


Tepat saat Syifa selesai meminum susunya, bel Mansion berbunyi menandakan ada tamu yang datang.


Ding dong~


Syifa bergegas berjalan menuju pintu dengan langkah lebar. Tak lupa ponsel digenggamannya.


Ding dong~


Bel terus berbunyi, "Iya sebentar!"


Syifa sedikit menaikkan nada suaranya agar terdengar. Tangannya membuka knop pintu.


"Hai Sayang"


Disana berdirilah sosok lelaki tampan, sangat tampan.


Menggunakan Hoodie hitam, celana training hitam, dan sepatu covers abu-abu. Rambut tersisir rapi, sungguh mempesona.


"Hai juga"


Syifa tersenyum sumringah menatap sosok didepannya, siapa lagi jika bukan Alfarezi.


"Nunggu lama ya?"


"Enggak kok, tadi Syifa minum susu dulu minta dibikinin sama Bibi"


"Ouh iya? Udah habis susunya?" Alfa mengelus kepala Syifa lembut.


Syifa mengangguk cepat, "Udah"


Alfa pun tersenyum, "Pinter"


"Udah siap kan? Sekarang yuk joggingnya" Ajak Alfa pada Syifa.


"Udah, Syifa udah siap"


"Lihat kan? Syifa udah rapi gini" Lanjut Syifa dengan melirik dirinya sendiri.


Alfa menatap tubuh Syifa dari atas kepala sampai ujung kaki. Tak lama senyuman pun terbit dibibirnya.


Alfa senang sekaligus lega ketika Syifa tidak memakai pakaian ketat. Tubuh indah Syifa tidak boleh diperlihatkan kepada siapa pun, Syifa hanya miliknya. She is mine.


"Untung gak pake pakaian ketat" Gumam Alfa lirih, bahkan seperti berbisik.

__ADS_1


Lagian Alfa juga sudah tahu bagaimana karakter Syifa, pakaian Syifa juga ia yakin tidak ada yang ketat dan mini. Semua pakaiannya pasti bertema cute.


Alfa bersyukur akan hal itu.


Syifa menatap Alfa dengan penuh tanya, "Kamu ngomong sesuatu?"


"Hah? O-oh enggak, Aku gak ngomong apa-apa"


"Ayo Kita mulai joggingnya" Ajak Alfa seraya tangannya merangkul pundak mungil Syifa untuk mulai berlari kecil.


Mereka berdua berlari pelan beriringan dari halaman Mansion, mereka berdua sudah berlari sampai jalanan komplek Mansion Syifa.


"Rute nya kemana aja?" Syifa menatap Alfa yang berlari kecil disampingnya.


"Masih dikomplek sini aja kok, nanti Kamu nge-drop kalau olahraga berat"


Syifa mengangguk dengan tertawa kecil, membenarkan ucapan Alfa bahwa dirinya memang tidak sekuat itu. Alias mudah lelah.


...●●●...


Pagi-pagi buta Caesa rela bangun, walau sebenarnya ingin bermalas-malasan karena hari libur. Tapi ia tidak bisa melakukan itu, karena ada yang lebih penting dari pada rebahan.


Dirinya segera bersiap-siap untuk menjalankan misinya.


Caesa bercermin untuk mengecek penampilannya.


"Nah, sudah siap"


"Cantik banget sih Gue"


Caesa berpenampilan dengan dress pendek diatas lutut, lengan pendek, dan juga high heels warna peach.


"Gue yakin gak bakal ada yang bisa nolak pesona Gue"


Dia meraih sling bag miliknya, memasukkan ponsel dan dompet, lalu berjalan menuju pintu kamarnya.


Saat melewati dapur, ia mendengar suara gaduh dan ribut-ribut.


"Kamu jam segini baru pulang, Mas?!" Ucap Sina pada suaminya.


Ternyata Mama Dan Papa Caesa sedang terlibat perdebatan yang sengit.


Raka dan Sina adalah nama kedua orang tua Caesa.


"Iya! Kenapa?!" Raka pun tersulut emosi karena baru pulang, langsung ditodong banyak pertanyaan dari istrinya.


Bau Alkohol pun sudah tercium, sangat menyengat. Padahal Caesa berdiri lumayan jauh


Hal itu bukan hal baru bagi Caesa, mereka berdua sama saja menurutnya.


Sama-sama tidak pernah mengurus dan merawat dirinya dengan baik.


Bahkan peduli pun tidak.


"Kamu pasti bermain-main kan sama cewek diluaran sana?!" Sina berteriak didepan wajah suaminya.


"Bukan urusan Kamu! Gak usah ikut campur!!" Raka yang tidak terima diteriaki oleh istrinya pun ikut berteriak lebih keras.


Bahkan Raka sampi menunjuk-nunjuk Istrinya dengan jari telunjuknya.


"Ini hidup Saya! Kamu gak punya hak ngatur-ngatur hidup Saya!"


"Tentu Aku punya hak! Aku masih istri Kamu Mas!"


Pyaarrr


Raka membanting gelas yang ada dimeja makan.


Serpihan kaca itu berserakan di area dapur. Menambah ketegangan diantara mereka berdua.


Raka berjalan meninggalkan istrinya sendirian tanpa sepatah kata pun, menuju kamar.


"Mas! Mas!" Panggil Sina kepada suaminya yang berjalan meninggalkn dirinya seorang.


"Mau kemana Kamu?!"


Raka tak menoleh sedikit pun atas panggilan Sina. Ia terus berjalan menuju kamar untuk tidur.


"Agghhh!!"


Sina berteriak marah, sebagai bentuk luapan amarahnya.


Padahal jam masih menunjukkan 06.15


Tapi, Mama dan Papa Caesa sudah bertengkar hebat seperti itu.


Caesa masih berdiri mematung disana. Beberapa detik kemudian, Sina mengetahui keberadaan anaknya yang berdiri tak jauh dari dirinya.


"Ngapain Kamu jam segini udah dandan? Mau kelayaban?!" Cerca Sina pada putrinya, dengan kata-kata kasar.

__ADS_1


"Terserah Aku lah" Caesa melengos, tidak ingin menatap Mamanya.


Wajah Sina yang sudah merah karena amarah pun bertambah merah karena kelakuan anaknya.


"Kamu tidak ada sopan santunnya sama Orang tua!"


"Gak peduli"


Caesa berjalan santai keluar rumah, ia tidak menghiraukan panggilan Mamanya.


"Caesa!! Jangan pergi Kamu! Mama belum selesai bicara!"


"Males amat denger suara Mama ngoceh" Gumam Caesa dengan delikan mata sinis.


"Caesa!!"


"Caesa!!"


Sina terus berteriak memanggil nama anaknya, tapi itu semua tak membuat Caesa menurut padanya.


Caesa berjalan menuju gerbang rumahnya, ia berbalik menghadap rumah sederhana milik kedua orang tuanya.


Untungnya Sina tidak sampai mengikutinya. Pastinya Sina sedang marah-marah tidak jelas didalam sana.


Ia tersenyum sinis, hidupnya tak seindah saat ia berpenampilan.


Rumahnya pun sederhana, hanya lantai satu. Dari luar terlihat asri dan sederhana.


Sedangkan dalam rumahnya, sangat jauh dari kata sederhana dan harmonis, alias rumit. Banyak hal yang tidak mengenakan terus menyerang dirinya.


Hidupnya sudah hancur sejak kecil, ditambah pertengkaran kedua orang tuanya yang tidak ada habisnya.


Maka, ia ingin orang lain juga merasakan sakit yang ia rasa, biarlah ia melampiaskan kehancurannya pada orang lain.


Dirinya tak peduli.


"Sebentar lagi, Lo bakal ngerasain sakit yang Gue rasa"


"Tunggu aja"


Caesa menyetop Taxi yang ia pesan Online, lalu masuk kedalam mobil.


"Jalan Pak"


"Baik, neng" Ucap Pak Sopir Taxi.


...●●●...


"Udah capek ya yang?"


"Kamu haus?" Lanjut Alfa bertanya.


"Syifa udah capek, haus juga" Syifa berhenti dari berlarinya.


Alfa juga ikut berhenti berlari. Mereka berdua berjalan sampai taman komplek mansion Syifa.


Alfa melihat ada bangku didekat mereka, segera mengajak Syifa untuk duduk.


"Duduk dulu yuk disana" Tunjuk Alfa pada bangku taman.


Syifa mengangguk sambil mengatur nafasnya.


Setelah memastikan Syifa duduk dengan nyaman, Alfa kembali membuka suara.


"Aku beli minum dulu, tunggu sebentar ya"


"Iya"


"Jangan kemana-mana" Ingat Alfa pada Syifa, takut kalau Syifa pergi dari jangkauannya.


Syifa tertawa kecil, "Iya, Syifa gak bakal kemana-maba kok"


"Janji?"


"Janji, udah sana katanya mau beli minum?"


"Oke, tunggu sebentar sayang"


Syifa mengangguk-anggukkan kepalanya.


Selagi menunggu Alfa kembali, ia menatap langit yang terlihat cerah.


Matahari juga sudah memunculkan dirinya. Taman ini sudah lumayan ramai karena banyak yang melakukan aktivitas olahraga maupun hanya jalan-jaln pagi.


Syifa menunggu dengan bosan, ia menggoyang-goyangkan kedua kakinya bergantian.


Matanya menatap sepatunya yang terpasang dikedua kakinya.


Syifa melihat-lihat sekeliling taman, taman ini cantik dengan banyak pepohonan yang rindang dan hijau.

__ADS_1


Sangat sejuk dan teduh.


__ADS_2