
Syifa dan ketiga sahabatnya sedang berjalan santai menuju gerbang sekolah, hari sudah sore karena memang sekarang waktunya untuk pulang.
"Tugasnya mau di kerjain di rumah siapa?" Tanya Lita pada ketiganya.
"Di rumah Gue aja gimana?" Balas Nisa dengan sebuah pertanyaan juga.
"Kalian setuju gak?" Ana menanyakan kembali pendapat sahabatnya.
"SETUJU!!" Balas lainnya berseru sedikit kencang.
"Mau hari apa?" Syifa menanyakan kapan kerja kelompoknya.
Mereka berempat beruntung sekali menjadi partner satu kelompok, tak terpisahkan. Begitu kata Lita tadi siang.
Materinya cukup mudah, hanya perlu membuat power pint di laptop lalu di presentasikan di depan kelas nanti.
"Kamis gimana?" Usul Ana menyahut.
"Berarti lusa dong?" Nisa bertanya sambil mengerutkan kening.
"Ya iyalah pinter" Balas Ana gregetan.
"Gak usah sewot kan bisa"
"Lo yang ngajak ribut kok, ya Gue ladenin!" Ucap Ana ketus.
"Heh ngada-ngada!" Balas Nisa tak terima.
"Lo yang bikin Gue kesel!"
"Lo!!" Tangan Nisa pun sudah terangkat menunjuk-nunjuk wajah Ana.
Syifa dan Lita hanya menatap keduanya dengan alis berkerut, Lita yang sadar segera menarik tangan Syifa untuk berjalan lebih dulu menuju gerbang.
"Udah yuk Kita jalan duluan, biarin mereka ribut terus"
"Kok dibiarin nanti-" Ucapan Syifa terpotong karena Lita segera menyela.
"Udah gak papa, nanti juga baikan"
Syifa hanya pasrah dengan tarikan Lita, ia hanya mengikuti langkah Lita yang berjalan cepat meninggalkan Nisa dan Ana yang bertengkar adu mulut.
"Tumben banget Ana jadi sewot ngeladenin Nisa, biasanya juga diem-diem bae" Gerutu Lita dengan heran.
Ini adalah pertama kalinya Ana beradu mulut, biasanya kan yang sering beradu mulut dengan Nisa adalah dirinya. Makanya Ia terheran-heran.
"Iya, gak tau tuh. Syifa juga bingung"
Syifa mengangkat bahunya tanda ia pun juga sama bingungnya.
Kepala Syifa menoleh ke belakang dan ia menggelengkan kepala tak habis pikir karena Nisa dan Ana masih saja bertengkar. Apa mereka tak capek mulutnya terus berbicara begitu tak ada hentinya.
"Lo pulangnya di jemput?"
Pandangan Syifa beralih pada Lita di sampingnya, ia mengangguk sebagai jawaban.
"Terus Lo mau nunggu?"
Ia mengangguk lagi, ia membalikkan tubuhnya mengahadap depan dan bersender di pintu depan gerbang sekolah.
Yaps, mereka berdua sudah sampai di gerbang dua menit yang lalu, sedangkan Ana dan Nisa masih ada di koridor dengan mulut tak ada hentinya beradu argumen.
"Tapi ini udah mendung banget"
Kepalanya menghadap ke atas, memandang langit yang tiba-tiba berubah gelap, sepertinya akan turun hujan tak lama lagi.
"Iya kok mendung sih, perasaan tadi Syifa lihat masih cerah"
"Nah makanya, Lo udah kasih tau yang mau jemput Lo belum, kalau Lo udah selesai kelas?"
"Ouh iya lupa!" Syifa menepuk keningnya dengan refleks.
Lita tersenyum geli melihat tingkah Syifa yang pelupa.
Syifa segera membuka look screen handphone-nya tak lupa segera menekan tombol call. Sebuah nama dan foto profil terpampang jelas di ponselnya yang sedang mencoba menghubungkan telepon. Ia menempelkan ponsel di telinganya, berharap segera mendapatkan respon di seberang sana.
"Belum diangkat?"
"Belum Lit, Kok lama banget ya"
"Emang siapa yang Lo telpon?"
"Daddy Syifa"
"Sibuk kali"
"Kayaknya iya deh, Daddy lagi sibuk"
Syifa pun segera mematikan sambungan telponnya takut mengganggu Aditya.
"Tapi, kalau gak telpon Syifa pulangnya gimana?"
"Coba telpon lagi" Lita memberi usul pada Syifa.
__ADS_1
Syifa mengangguk menyanggupi, "Iya Syifa telpon Daddy lagi"
Lita menatap Syifa dengan mengangkat alisnya, "Gimana?"
"Yess!! Di angkat!!" Ucapnya semangat karena telponnya di terima Aditya.
"Hallo Princess"
"Hallo Daddy! Daddy gak lupa kan kalau mau jemput Syifa hari ini?"
"Aduhh sayang, maaf ya Daddy lupa sekarang aja Daddy lagi di restoran, mau meeting sama klien. Maaf ya sayang Daddy bener-bener lupa"
"Yahh, terus Syifa pulangnya gimana?"
"Coba kamu telpon Sopir di rumah sayang, buat jemput kamu"
"Okey Dad"
"Daddy tutup telponnya ya, sebentar lagi mau mulai meeting"
"Iya Dad"
Setelah itu, sambungan telponnya langsung terputus. Syifa membuka kontak untuk mencari nama Sopirnya, setelah ketemu langsung saja ia menekan tombol call.
"Semoga langsung di angkat" Gumamnya yang terdengar Lita.
"Lo nelpon siapa lagi Fa?"
"Syifa nelpon Sopir buat jemput Syifa"
"Lho kok, tadi katanya-" Ucapan Lita terpotong karena melihat Syifa memberi kode untuk diam dengan menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.
Saat Syifa sibuk dengan ponselnya, datanglah Nisa dan Ana yang sudah terlihat baik-baik saja, tidak lagi beradu mulut.
"Syifa lagi telpon siapa?" Tanya Ana menatap Lita di depannya.
"Sopirnya" Jawab Lita singkat, Ana pun mengangguk paham.
Ketiganya menatap Syifa yang sedang mengobrol di telpon, mereka juga penasaran kenapa Syifa sampai merubah raut wajah begitu singkat. Tadi mereka lihat, Syifa masih seperti biasa tak seperti sekarang.
"Hallo Pak"
"Iya hallo Non, ada yang bisa Bapak bantu?"
"Pak Joko bisa jemput Syifa sekarang gak?"
"Aduh Non maaf, Saya gak bisa jemput Non karena Saya mau nganter Nyonya, katanya Nyonya ada urusan"
"Ehm, urusan apa ya Pak kalau Syifa boleh tau?"
"Ya udah deh, gak papa Pak. Syifa tutup telponnya ya"
"Iya Non, Monggo"
"Bisa?" Tanya Lita setelah Syifa selesai bertelepon.
Syifa menggelengkan kepala dengan pelan, wajahnya murung dan sedih.
...°°°...
Semua siswa-siswi telah keluar satu per satu dari kelas masing-masing, tak terkecuali dengan Caesa dan Zela.
Masih ingat dengan Zela kan, dia adalah cewek yang duduk sebangku dengan Caesa di kelas IPS.
"Lo pulangnya naik apa Cae?"
Caesa terkekeh karena ia di panggil 'Cae'. Entahlah terdengar aneh saja.
"Gue pulangnya naik Ojek, kenapa?"
"Lo gak mau ikut Gue aja, mumpung Gue bawa motor"
Caesa menimang-nimang tawaran Zela, beberapa detik kemudian ia berkata, "Enggak deh"
"Main gitu, jalan-jalan kek, Shoping atau yang lain?"
Caesa menggelengkan kepalanya.
"Tetep gak mau?"
"Enggak Zela Monata, Gue mau langsung pulang aja"
Zela cemberut mendengar penolakan Caesa padanya.
"Kapan-kapan deh Kita jalan bareng, shoping. Gimana?"
"Bener ya"
"Iya" Balas Caesa ogah-ogahan.
"Janji dulu dong" Ucap Zela yang masih tak percaya, takut Caesa mengingkari. Makanya ia suruh berjanji terlebih dahulu.
"Iya, Gue janji Zel!" Ucap Caesa kesal karena terus di cecar Zela.
__ADS_1
Zela cengengesan tak jelas, "Maaf"
Ia berucap maaf tapi mulutnya tak berhenti tertawa melihat wajah Caesa yang kesal.
"Ish Lo nyebelin!!"
Zela tertawa lebih keras. Setelah tawanya mereda, ia segera menyamakan kembali langkahnya yang sedikit teetinggal dengan Caesa yang lebih dulu melangkah di depannya, mungkin karena kesal ia tertawakan terus-terusan.
"Gue pulang duluan ya, bye-bye ngeces!!" Ucapnya lalu berlari menjahui Caesa untuk menghundari amukan Caesa.
"NAMA GUE CAESA YA!! SATU LAGI, GUE KAGAK NGECES SEL-SEL!!!"
"BODO AMAT WOY!" Balas Zela berteriak kencang tak mempedulikan tatapan siswa-siswi yang menatap mereka aneh.
Zela mengerjai Caesa dengan memanggilnya Ngeces, sedangkan Caesa memplesetkan nama Zela dengan sel-sel.
Cesa mendengus, matanya menatap sinis mereka yang masih menatapnya aneh.
"Ngapain Lo liat-liat hah?!!" Ucapnya kasar, mereka pun mengalihkan pandangan dan membicarakan Caesa yang sudah berbicara tak ada sopan-sopannya.
Caesa yang risih dengan ocehan mereka segera berjalan cepat keluar gerbang.
Lima langkah lagi mendekati gerbang, ia menghentikan langkah kakinya. Ia melihat ada punggung seseorang di depan gerbang. Tetapi dari suaranya, ia yakin itu adalah suara milik temannya Syifa.
Ia pun bersembunyi agar mereka tak dapat melihat dirinya, lalu bersiap mendengarkan pembicaraan mereka.
Yaps! Apalagi kalau selain menguping.
...°°°...
"Ada apa sih?" Nisa yang kebingungan pun akhirnya bertanya apa yang sedang terjadi.
Syifa menghembuskan nafas kasar, tangannya membenarkan letak tas yang melorot dari pundaknya.
"Syifa tadi nelfon Daddy buat jemput Syifa, tapi Daddy lupa terus sekarang lagi ada meeting di resto. Daddy suruh Syifa buat nelfon Sopir tapi Pak Joko gak bisa jemput Syifa, karena udah ada tugas buat nganterin Mommy karena ada urusan, huft.." Ia menghembuskan nafas di akhir kalimatnya.
Bibirnya cemberut di majukan ke depan, ia menghentakkan kakinya. Hentakan kaki itu berhenti karena sebuah pelukan hangat yang ia dapat dari ketiga sahabatnya ini. Ia tersenyum senang dan membalas pelukan mereka.
Cih! Drama banget. Batin Caesa tidak suka.
"Udah Lo jangan sedih, Lo lupa kalau masih ada Kita di sini" Lita berkata untuk menenangkan Syifa yang sedang bersedih.
Mereka pun melepaskan pelukannya secara bergantian satu per satu.
"Iya jangan sedih lagi ya, Mending Lo ikut Kita aja" Sambung Nisa menawarkan.
Syifa tersnyum manis, "Makasih ya karena Kalian ada buat Syifa saat-saat Syifa sedih"
"Jangan gitu, Kita kan udah jadi sahabat" Balas Ana tenang disertai senyuman.
"Iya, buat tawaran Nisa, Enggak usah Syifa bisa pulang sendiri kok" Syifa menolak tawaran Nisa karena tidak enak merepotkan.
"Gak papa, tuh jemputan Gue dah datang" Nisa menunjuk mobil hitam tak jauh dari mereka berdiri.
Mereka menatap yang di tunjuk Nisa, lalu Syifa menggelengkan kepala, ia tak enak kalau terus-terusan merepotkan.
"Enggak papa, mending Kamu pulang duluan aja, biar Syifa pulang naik Bis atau gak nanti naik Ojek"
"Enggak-enggak, nanti kalau Lo kenapa-napa gimana?!" Tolak Ana yang begitu khawatir dengan keadaan Syifa.
"Ini juga udah mendung banget" Celetuk Lita menengadah ke atas menatap awan yang berubah gelap dan sedikit menghitam.
"Nanti kalau Lo kehujanan gimana?!" Nisa pun sama khawatirnya.
"Syifa bakal baik-baik aja kok" Ucapnya tersenyum manis mencoba menenangkan ketiga sahabatnya. Ia berterima kasih dalam hati karena mereka sudah begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Lebih baik sekarang Kalian pulang duluan aja, biar Syifa nunggu Bis di sini"
"Emangnya Kak Revan kemana?!" Tanya Nisa melotot karena baru mengingat kalau Syifa memiliki Kakak.
Yang lain pun ikut melotot karena ucapan Nisa yang baru terpikirkan oleh mereka. Syifa pun merutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya melupakan Kakaknya itu.
"Cepet telpon Kakak Lo, buat jemput Lo!" Perintah Lita sedikit keras, mengagetkan Syifa yang melamun.
Caesa yang mendengar ucapan Lita segera membuka ponselnya dan langsung menekan tombol call.
Hal yang sama dilakukan Syifa, ia menelpon Kakaknya berharap agar bisa pulang bersama.
"Gimana, di angkat gak?" Tanya Ana tak sabar.
Kepala Syifa bergeleng lemah, "Kakak lagi ada di sambungan lain, kayaknya Kak Revan lagi telponan sama temennya" Ucapnya lesu, kelewat lemas tak ada harapan.
Caesa tersenyum smirk, ia pun menatap ponsel miliknya sendiri.
"Hallo?!"
"Lo ngapain nelfon Gue hah?!"
"Hey, jawab Gue dong!!"
Caesa masih diam tak membalas perkataan Revan di seberang telfon.
"Kalau gak penting Gue tutup telfonnya" Ucap Revan dengan nada dingin, lalu sambungan terputus sepihak.
__ADS_1
Caesa tersenyum menang, "Gak Gue sangka, rencana dadakan pun berhasil"