
Setelah bel pulang berbunyi, Syifa dan Ana dengan sigap membereskan alat tulis mereka.
Lita dan Nisa sibuk berceloteh kegiatan mereka berdua setelah ini.
Tempat duduk Lita dan Nisa tepat didepan bangku yang diduduki Syifa dan Ana.
"Pada langsung pulang nih?"
Lita bertanya pada mereka bertiga.
"Syifa langsung pulang. Gak bakal dibolehin pergi kalau Syifa belum izin sama Kakak"
"Aku juga"
Ana yang giliran membalas.
"Samaan"
Nah!
Ini baru Nisa yang menyahut.
"Ouhh" Lita manggut-manggut mengerti.
"Ayok pulang" Ajak Syifa cepat.
"Ayok!"
Seru mereka bertiga atas ajakan Syifa barusan.
Mereka berempat segera berjalan keluar kelas. Langkah demi langkah mereka lewati di sepanjang koridor sekolah.
"Kok Gue capek ya" Celetuk Nisa pelan.
"Nisa capek?" Syifa memiringkan kepalanya menghadap Nisa, yang berjalan disebelah kiri Ana.
"Iya Fa, padahal cuma duduk sama mikir pelajaran doang"
Nisa memegang tengkuknya, lalu kepalanya miring kekanan dan kekiri.
"Lo kebanyakan gaya sih"
Lita mencibir Nisa dengan santainya.
"Kagak ya, Gue mah anggun, kalem"
"Kalempit-lempit, baru bener"
Ana ikut mencibir Nisa lalu ketiganya tertawa. Tanpa memperdulikan wajah Nisa yang cemberut.
Tak terasa mereka telah sampai di parkiran sekolah.
"Gue sama Lita pulang duluan ya"
"Iya, hati-hati kalian dijalan"
Ana membalas pamitan dari Nisa.
"Iya gak papa kok. Kalian harus nyetir hati-hati"
Syifa berucap dengan senyuman lebar.
"Iya Ana, Syifa, makasih ya. Kita duluan" Lita pun membalas ucapan Syifa.
"Dadah Nisa, Lita"
Syifa dan Ana berucap kompak.
Setelah Nisa dan Lita pergi dengan mengendarai motor maticnya. Syifa segera mengalihkan pandangan ke sekitar ia berdiri.
Syifa sedang mencari keberadaan Kakaknya yang dari tadi sudah ia tunggu. Tapi tak kunjung datang.
Lama sekali.
"Kak Sandi kemana sih. Kok gak muncul-muncul"
Ana menggerutu sebal.
Pasalnya sudah lumayan lama mereka berdua menunggu kedatangan Revan dan kawan-kawan.
Tak biasanya seperti ini.
"Iya nih. Syifa capek nunggu"
"Apalagi nunggu yang gak pasti"
Mereka berdua diam dengan saling berpandangan.
Lalu mereka sama-sama tertawa atas ucapan terakhir dari Ana.
Bucin-bucin.
Syifa melirik jam ditangan kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul 16.47.
"Udah sore banget"
"Mana-mana?"
Ana segera mendekat pada Syifa. Karena ia ingin melihat sekarang sudah pukul berapa.
"Iya ih udah sore"
"Aku chat tadi siang aja gak dibales sama Kak Sandi" Lanjut Ana berucap.
"Kak Revan terakhir dilihat tadi pukul 13.00"
"Gimana dong, Syifa cemas"
Lanjut Syifa khawatir.
Kenapa mereka semua kompak tidak Online.
"Tenang dulu ya Fa. Apa kita cari aja ke kelas mereka?"
"Yaudah yuk kita kesana"
Syifa akhirnya setuju dengan ajakan Ana. Mereka berdua berjalan cepat menuju kelas XI IPS.
Semoga saja mereka bisa cepat menemukan keberadaan Revan, Sandi juga Doni.
Ditengah jalan menuju kelas IPS.
Syifa berpapasan dengan seorang cewek yang lagi jalan sendirian pakai headset ditelinganya.
Syifa berhenti berjalan. Ana pun ikut berhenti jalan juga.
Syifa berbalik arah lalu menghadang cepat langkah cewek tadi.
"Maaf Kak, Syifa boleh tanya gak?"
Si cewek tadi melepas headset dari telinga kanannya.
"Hah? Tadi Lo ngomong apa?"
"Syifa mau nanya boleh?"
"Ya, tanya apa?"
Mata Ana sejak tadi bolak-balik melihat ke arah Syifa lalu ke arah cewek itu.
Begitu seterusnya.
__ADS_1
Untung matanya gak juling.
Masih Gue pantau. Batin Ana.
"Kakak lihat Kak Revan gak?"
"Revan?"
"Iya. Kak Revan. Lihat gak Kak?"
"Ouh, Dia tadi dihukum bersihin gudang belakang. Entah masih disana atau enggak. Gue gak yakin"
"Dihukum" gumam Syifa sangat pelan.
"Gudang belakang sekolah kan Kak?"
"Iya"
Hampir saja Syifa berlari lagi. Tapi sebelum itu Ana sudah menghentikannya.
Ana menyela ingin juga bertanya kepada cewek itu. Yang sepertinya salah satu teman sekelasnya Revan dan kawan-kawan.
"Aku mau nanya juga"
"Iya buruan"
"Sandi-"
Cewek tadi mendengar nama Sandi disebut. Ia sudah mengerti apa yang akan ditanyakan Ana padanya.
"Sandi juga sama dihukum kayak Revan. Geng Revan, alias RSD, mereka bertiga gak merhatiin pelajaran tadi siang. Makanya mereka dihukum disuruh bersihin gudang"
*RSD singkatan dari nama Revan, Sandi, Doni. Keren kan?
"Udah ya nanyanya. Gue mau pulang nih. Udah sore banget"
Cewek tadi segera berjalan terburu-buru.
"Eh, IYA MAKASIH KAK"
Ana dan Syifa kompak berteriak mengucapkan terima kasih pada cewek itu.
Dan cewek itu hanya mengangkat tangannya sebagai tanda balasan.
"Ayok Ana Kita cari ke Gudang belakang"
"Iya ayok"
10 menit kemudian
"Kenapa gak nyampe-nyempe sih?!"
Syifa mendumel tidak jelas. Kakinya sudah terasa pegal-pegal
"Gimana mau cepet nyampe, kalo Sekolah ini segede gaban"
"Gaban apaan Ana?"
"Mana Ana tau. Ana kan orang"
Syifa cemberut mendengar balasan Ana yang nyeleweng.
Ana dan Syifa celingak-celinguk ditempat mereka berdiri, sesampainya di Gudang belakang sekolah.
"Mana Kak Revan ya?"
"Where is My boyfriend?"
"Ih Ana sok-sok an pake Bahasa Inggris. Padahal selalu Remidi kalo ada Ulangan" Cibir Syifa kejam.
"Aaa sakitnya hatiku hiks.. hiks.."
Ana mendramatisir keadaan dengan memegang dadanya lebay.
Lalu ia tertawa akan ucapannya sendiri.
Syifa memandang Ana dengan tatapan Aneh.
Ana kesambet apa ya? Batin Syifa gemas.
Syifa berjalan meninggalkan Ana sendiri yang masih asyik dengan tawanya.
Beberapa detik kemudian Ana tersadar.
"Eh kok Gue ditinggalin sih" Ana mendumel pelan seraya mengikuti langkah Syifa.
...●●●...
Kantor Adnan
Tok Tok Tok
"Masuk" Ucap Adnan datar.
Roy berjalan menghampiri meja Adnan.
"Tuan ini berkas Meeting tadi pagi"
"Ya. Letakan disitu"
Roy meletakkan berkas itu diatas meja kerja Adnan.
"Kalau begitu. Saya permisi Tuan"
Adnan mengangguk singkat.
Roy yang melihat anggukan Tuannya segera membungkuk sopan pamit undur diri.
Setelah kepergian Roy, datanglah tamu tak diundang.
Ceklek
"Hai Bro!"
"Ck. Ngapain Lo kesini!"
"Santai kenapa sih. Sewot amat"
Tamu itu dengan seenak jidatnya duduk santai disofa ruangan Adnan.
Adnan mendelik.
Ia bangkit berdiri dari kursinya. Menghampiri tamu yang menurutnya mengganggu saja.
"Ngapain kesini. Gak pulang. Atau gak punya rumah. Gue aduin Ifa kalo tunangannya suka ngelayab"
Benar, tamu yang datang tak diundang itu merupakan Alfa, Tunangan dari Asyifa.
"Sadisnya mulut Kau"
Adnan diam.
"Belum pulang Lo. Udah sore juga"
Tanya Alfa dengan membuka majalah yang terletak diatas meja.
"Lembur kayaknya"
"Oh"
"Ck. Ganggu"
__ADS_1
"Ouh gitu Lo. Gak kangen apa sama Gue yang udah lama gak pernah ketemu"
PD sekali Alfa ini.
"Gak tuh"
"Yakin?"
"Enggak"
"Ck"
Alfa berdecak sebal. Adnan ini sungguh menyebalkan.
"Gue haus, gak ditawarin minum nih?"
"Minta sendiri sana"
Adnan segera menelpon OB untuk membawakan minuman untuknya.
"Udah kan"
Adnan bertanya setelah Alfa meletakkan kembali gagang telepon ditempatnya.
Tak ada balasan apapun dari Alfa.
Adnan tau kalo sahabatnya ini sedang balas dendam padanya.
Adnan bangkit berdiri, ia akan melanjutkan saja pekerjaannya daripada mengurus Alfa yang kekanakkan.
Padahal kata kekanakan lebih cocok untuknya.
Alfa terkekeh melihat kelakuan Adnan.
Adnan tanpa sadar menghentakkan kakinya kesal kelantai. Persis seperti anak kecil.
Adnan yang sadar Alfa menertawainya tambah membuatnya kesal.
"Mau ngumpat gak usah didalam hati. Gue tau kalo Lo ngatain Gue kekanakkan. Tapi nyatanya Lo sendiri yang persis seperti anak kecil"
Alfa kayak cenayang bisa tau isi hati Adnan.
"Bodo amat"
Alfa semakin tertawa puas dengan kejudesan Adnan.
...●●●...
"Kak Revan!!"
Syifa berteriak keras memanggil Revan yang malah asyik tidur dengan posisi terduduk bersandar didinding Gudang.
Sandi dan Doni juga sama-sama tertidur pulas. Hanya Doni yang posisi tidurnya kurang mengenakkan untuk dilihat.
Doni tertidur terlentang dengan tangan dan kaki terbuka lebar.
Seakan ia sedang tidur dikasur miliknya sendiri.
"Sandi! Bangun Sayang"
"Kak Revan bangun atau Syifa siram nih" Ancam Syifa.
"Emang disini ada air Fa?"
"Ada"
Syifa mengambil botol minumnya yang tersisa setengah. Ia membuka tutup botolnya. Lalu segera menyiramkan pada wajah mereka bertiga sama rata.
"BANJIR BANJIR!!"
Syifa berteriak heboh.
RSD bangun dari tidurnya dengan gelagapan.
"HAH BANJIR BANJIR" Doni meraup wajahnya kasar.
"MANA BANJIR MANA MANA!" Revan celingak-celinguk dengan wajah kaget plus cengo.
"BANJIR WEH BASAH NIH GUE" Sandi meraup wajahnya juga mengibaskan kerah seragamnya yang ikut basah kena air.
"Gak ada banjir. Kalian itu udah Kita tungguin diparkiran malah gak dateng-dateng. Udah WA gak Online. Syifa kira Kalian tuh diculik. Terus Kita bela-belain cariin sampe kesini. Eh malah kalian lagi enak-enakan tidur"
RSD menghela nafas kasar. Mereka dikibulin ternyata. Mereka kira beneran ada banjir.
"Tapi ini kok basah?"
Doni yang heran akhirnya bertanya. Ia mengibas-ngibaskan kerah seragamnya.
"Siapa yang nyiram?"
Revan bertanya kalem.
"Syifa yang nyiram. Kalian susah banget dibangunin"
"Astaghfirullah Princess. Kita tuh capek habis bersih-bersih nih Gudang yang kotornya Naudzubillah"
"Ya itu salah Kalian juga yang gak merhatiin pelajaran dikelas"
RSD kaget. Kok bisa tau sih. Kan belum mereka kasih tau.
"Tau darimana Princess?"
"Rahasia"
"Ayok Sayang bangun" Ana membantu Sandi berdiri.
Begitu juga Syifa yang membntu Revan berdiri.
Doni mah sadar diri. Ia bagun sendiri karena gak ada yag bakal bantuin dia.
"Syifa aduin Kak Revan Ke Mommy"
"Eh eh! Jangan dong Princess. Nanti Kakak kena omel"
"Bodo amat. Syifa gak peduli"
Syifa udah keburu kesel soalnya makanya selalu ketus saat berbicara.
"Auto potong uang jajan nih" Revan bergumam pelan agar tak terdengar oleh Syifa.
Revan sedikit terkejut dengan Syifa tadi. Yang sebelumnya selalu lembut sekarang terlihat lebih galak.
Atau jangan-jangan Syifa sedang PMS.
Wahh Adeknya ini kudu dibaikkin. Biar gak kena imbas cewek PMS.
...■■♡■■...
1500 Karakter
Kangen gak sama OAF??
Kalo kangen Author?😂
Makasih yang masih setia nunggu OAF Update.
Alhamdulillah PAS ku udah selesai. Dan sekarang aku ada ide buat lanjutan cerita ini. Waahh senangnyaa.
Semoga suka part gaje ini😭
Selamat Sore semua
__ADS_1
Bye👋
^^^Minggu, 13 Desember 2020.^^^