Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 57


__ADS_3

"Bukannya Syifa gak mau cerita, tapi.."


"Tapi apa?" Ketiganya mendesak Syifa untuk segera bercerita.


Syifa menghembuskan nafas pasrah melihat bagaimana ketiga sahabatnya mendesak dirinya, tidak sabaran.


"Okey, Syifa bakal cerita"


"Jadi gini..."


Syifa menceritakan semuanya dari awal, ketiganya mendengarkan dengan seksama, berbagai ekspresi dapat ditangkap Syifa.


Ia memakluminya, dirinya saja tak mengira kejadian ini terjadi padanya.


Tentang Caesa, bagaimana awal mula Caesa datang, perilakunya, semuanya. Ia menceritakan itu semua pada sahabatnya.


Ia berharap sahabatnya dapat mengerti apa yang ia rasa.


"Dia kok gitu?" Ucap Ana keheranan.


Setelah ia selesai bercerita, tanggapan pertama ia dapat dari Ana.


Syifa memiringkan kepalanya dan menggedikkan bahunya menjawab ucapan Ana, Sama ia pun tak tahu kenapa Caesa begitu.


"Kenapa harus bohong sih? Dia mau ngeprank?" Raut wajah Lita terheran-heran.


"Ngeprank apaaan?! Itu namanya udah kelewatan!"


Lita mengelus lengan Nisa pelan, berusaha menenangkan Nisa yang terlihat menggebu-gebu karena emosi.


"Udah kelihatan sih dari wajah dan gerak-geriknya" Ujar Nisa dengan bersidekap dada.


"Keterlaluan banget" Ucap Ana pelan dengan menggigit jarinya, kepalanya lalu bergeleng dengan cepat.


Lita menganggukkan kepala cepat mendengar gumanan Ana.


Ketiga tatapan mereka tertuju pada Syifa. Yang ditatap hanya mengangguk pelan.


Lalu kepala Syifa menunduk dengan tatapan sedih.


"Punya nyali dia, bohongin Winata" Sahut Lita menimpali.


Syifa menghembuskan nafas lelah, ia bisa lihat reaksi sahabatnya.


Pagi tadi saat sarapan pun keadaan belum sepenuhnya pulih, memang di meja makan sudah tidak ada Caesa di sana.


Syifa yang penasaran akhirnya bertanya keberadaan Caesa, Vina mengangkat suara bahwa Caesa telah pulang pagi-pagi buta.


Sebenarnya ia lega, tapi sepertinya tidak dengan Vina. Mommynya ini tampak sedih dan lesu. Ia tidak tega melihatnya, tapi juga tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Hatinya seperti tercubit, otaknya kembali berpikir apakah ia sudah tergeser posisi di hati Vina.


Apakah sekarang keberadaan Caesa di Mansion lebih penting dan berarti?


Banyak pertanyaan yang muncul di otak kecilnya. Pertanyaan yang sangat membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Syifa berjengit kaget mendengar suara bell yang berdering dengan keras, ia melipat bibirnya ke dalam, berusaha untuk tidak menangis.


Lagi, ia merasa terkejut karena mendapatkan sebuah pelukan dari seseorang di sebelahnya, ia tertegun seraya tersenyum bahagia.


Ana memeluk Syifa dengan spontan dan lumayan erat, dapat ia rasakan bahwa tubuh Syifa menegang, lalu kembali rileks dan membalas pelukannya.


Dua orang yang melihat adegan pelukan itu tak tinggal diam, mereka ikut memeluk Syifa bersamaan, kini Syifa mendapat pelukan dari ketiga sahabatnya.

__ADS_1


Ya, Lita dan Nisa sekarang sudah ia klaim sebagai sahabatnya, walau masa kenalan mereka lebih singkat dari pada saat ia kenalan dengan Ana. Tapi tak apa, mereka adalah orang-orang yang paling mengerti dirinya, mau menerima dirinya di bagaimanapun keadaan.


Perlahan satu per satu melepas pelukannya, Syifa tersenyum bahagia menatap ketiganya, ia sungguh bersyukur memiliki mereka di sisinya.


"Makasih" Syifa bergumam lirih karena terharu.


"Kita Sahabat kan?" Tanya Nisa pada mereka semua, dibalas anggukan ketiganya.


"Ya udah berarti ini emang udah jadi tugas Kita sebagai Sahabat" Lanjut Nisa.


"Iya, jangan sungkan sama Kita, kalau mau curhat pasti Kita dengerin, bakal Kita kasih saran juga" Tutur Lita panjang lebar.


"Bener apa kata mereka, Kita gak keberatan kok kalau Kamu mau berbagi cerita, apapun itu. Usahakan juga gak ada rahasia diantara Kita" Ucap Ana dengan senyuman.


"Bener" Ucap Nisa membenarkan tutur kata Ana.


"Setuju, sekarang Lo jangan sedih lagi, Kita akan tetap dukung Lo" Hibur Lita berusaha membuat Syifa tersenyum kembali.


Kepala Syifa mengangguk cepat dan sebuah senyuman terbit dengan begitu lebarnya.


"Syifa gak tau mau bilang apa"


"Pokoknya Syifa seneng banget dengan adanya kalian di hidup Syifa. Syifa gak mau kehilangan kalian"


"Syifa mau Kita terus sama-sama" Ucapan Syifa mengandung sebuah harapan yang besar.


"Syifa tidak ingin persahabatan Kita hanya akan bertahan saat masa putih abu-abu saja, Syifa ingin Kita bisa selalu berbagi suka, duka, luka, canda, dan tawa sampai Kita tua" Ucapnya berharap.


Semoga permintaannya terkabul.


Ucapan Syifa membuat mereka terenyuh, mereka sampai meneteskan air mata karena terharu. Tak menyangka bahwa Syifa akan menaruh harapan besar pada persahabatan mereka. Mereka senang mendengarnya, itu artinya mereka termasuk penting di posisi hati Syifa.


Mereka tertawa dengan Syifa yang merajuk, tangan mereka dengan sigap mengusap pipi masing-masing yang terkena lelehan air mata.


"Merusak suasana Lo!" Ucap Nisa pedas, yang lain tertawa melihat Syifa mengerucutkan bibir.


...•••...


Alfa mendudukam dirinya di sofa samping tempat meja kerjanya, ia sedang berada di ruang kerja yang ada di rumahnya.


Memejamkan mata berusaha merilekskan tubuh dan pikirannya dari banyaknya berkas yang menggunung di meja kerjanya.


Tak lupa dengan Meeting yang sering menyita waktunya, bahkan untuk menghubungi Kekasihnya saja ia tak ada waktu.


Selagi ada waktu, ia sudah terlalu lelah dan akhirnya tertidur.


Alfa menghela nafas beratnya, ia mengambil ponsel di kantong celananya, mengotak-atiknya mencari nama seseorang di kontak ponselnya.


Setelah ketemu ia mendial nomor tersebut dan berharap akan ada jawaban di seberang sana.


Dan harapannya pun terkabul.


"Hallo!! Kamu sibuk banget ya? Kok gak kabarin Syifa, Syifa udah rindu berat tau! Kamu udah makan belum? Udah mandi? Kapan pulang?"


Alfa terkekeh mendengar suara antusias dari Syifa juga pertanyaan beruntun yang terucap dari seberang sana.


"Hallo juga Sayang, Nanyanya satu-satu dong, Aku bingung mau jawab yang mana dulu"


"Hehe.. maaf"


"Gak papa sayang, sekarang aku jawab satu-satu ya"

__ADS_1


"He'em"


"Iya, di sini Aku lumayan sibuk, berkas Aku aja sampai numpuk di meja. Belum lagi dengan meeting yang banyak menyita waktu"


"Aku ada waktu senggang cuma pas malem, tapi takut ganggu Kamu karena perbedaan waktu. Kadang juga aku lupa sampai ketiduran. Maaf ya sayang jadi jarang ngabarin"


"Gak papa, Syifa ngerti. Kerjanya jangan di forsir. Pasti capek banget ya, harus banyak istirahat. Awas aja kalau sampai sakit, Syifa bakal marah"


"Enggak, Kamu gak perlu khawatir, Aku pasti jaga kesehatan"


"Ya jelas Syifa bakal Khawatir, Udah makan? Udah Mandi?"


"Aku udah makan tapi belum mandi, sekarang aku lagi duduk di sofa ruang kerja, sambil telfonan sama Kamu"


"Kamu lagi ngapain sayang, udah makan?" Lanjutnya bertanya.


"Alhamdulillah kalau Kamu udah makan. Syifa udah makan tadi. Ini Syifa lagi nulis, ngerjain tugas sekolah"


"Belajar yang rajin ya, biar tambah pintar"


"Iya, siap"


"Kapan pulang?"


"Dua minggu lagi kayaknya"


"Lama"


"Nanti Aku usahain cepet selesain proyek, biar cepet pulang, Kamu tenang aja"


"Udah gak sabar, kangen berat"


"Sama dong, Aku lebih rindu Kamu"


"Kamu mau aku bawain oleh-oleh apa?" Tawarnya menanyakan keinginan Syifa.


"Syifa gak mau apa-apa"


"Gak papa sayang, minta aja pasti Aku kabulin"


"Beneran Syifa gak mau apa-apa, gak mau oleh-oleh. Yang Syifa penginin Kamu pulang dengan selamat aja Syifa udah bersyukur dan bahagia"


Terenyuh dengan Kalimatnya yang sungguh menusuk relung hati, wajah Alfa menunjukkan raut kebahagiaan.


"I love you"


"I Love you too"


"Ada masalah gak?"


"Eh-Enggak kok, semua baik-baik aja"


"Jangan bohong, Kamu sembunyiin sesuatu dari Aku kan?"


"Gak ada, Syifa gak sembunyiin apa-apa"


"Gak mau cerita?"


"Cerita apa? Emang gak ada yang perlu di ceritain kok"


"Aku tahu Kamu bohong, Aku bakal cari tahu sendiri kalau Kamu gak mau cerita sama Aku"

__ADS_1


__ADS_2