Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 77


__ADS_3

Syifa selesai berbenah diri, penampilannya sudah cantik maksimal. Dengan dress selututnya berwarna pastel, rambut di gerai di sertai jepitan rambut yang berwarna senada. Kaki jenjangnya memakai flatshoes, tak lupa dengan tas selempang berukuran kecil tersampir di pundak kanannya.


Menatap cermin di depannya, ia tersenyum lebar, merasa senang dan bangga dengan penampilan sendiri.


"Okey, sekarang ayo turun" Ucapnya riang sambil berjalan menuju pintu kamarnya.


Suara flatshoes yang beradu dengan undakan tangga terdengar nyaring, membuat Abi yang tadinya berfokus pada ponsel kini mendongakkan kepala dan memandang dengan takjub sosok di depannya.


Mata Abi melotot terkejut juga bibir yang terbuka, penampilan Syifa malam ini sangat menarik perhatian membuat pandangan seseorang langsung tertuju padanya seorang.


Pemandangan di depan Abi mampu membuatnya tak berpaling, sesampainya Syifa di depan Abi, Syifa mendongakkan kepalanya karena perbedaan tinggi badan yang signifikan.


Syifa melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Abi yang masih terbengong.


"Kakak"


"Kak!"


"Kak Abi!!" Teriak Syifa menaikkan satu oktaf, membuat Abi terjengit kaget.


"Hah? Iya kenapa?!" Ucapnya cepat efek dari keterkejutan.


Syifa tertawa pelan, sungguh manis dan ayu rupawan.


"Kakak kenapa melamun?"


"Ah iya maaf, tadi aku terpesona" Ucapnya jujur, terlalu jujur.


Lagi-lagi Syifa tertawa pelan akan ucapan Abi, "Ih kak Abi mah"


Syifa menundukkan kepalanya malu, ia tersipu malu dengan pipi memerah.


Abi membelai pipi kemerahan Syifa dengan lembut, "Udah yuk, kita berangkat takut kemaleman nanti" Ajak Abi.


Bersyukur ajakan Abi membuat Syifa sedikit teralihkan dari rasa malu.


"Ayo kak"


Abi menggandeng tangan mungil Syifa, membawanya menuju mobil miliknya.


Selama perjalanan hanya di isi keheningan saja, keduanya tak berniat untuk membuka suara.


Satu fokus menyetir, satunya lagi fokus memandang jalanan yang mereka lewati.


Tak butuh waktu lama, Abi memelankan laju mobilnya dan berhenti setelah memarkirkan mobil dengan benar.


"Jangan keluar dulu ya, tunggu aku"


Melihat anggukan Syifa, Abi segera melepaskan safety belt nya, keluar dari pintu lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagian penumpang.


Abi kembali menggandeng tangan Syifa dan mereka mulai memasuki restoran tersebut.


Abi fokus berjalan ke depan untuk melihat tempat duduk yang kosong juga nyaman. Sedangkan Syifa asyik melihat-lihat keseluruhan restoran yang bergaya klasik itu.


Walaupun terlihat klasik dan kunk, tetapi tak meninggalkan kesan elegan, cantik, dan nyaman.


Abi mempersilahkan Syifa untuk duduk di kursi yang telah ia tarik ke belakang, "Duduk sini Fa"


"Makasih Kak Abi"


"Sama-sama" Setelah itu Abi duduk di kursinya sendiri.


Melihat ada pelanggan yang baru saja datang, segera sang pelayan menghampiri meja pelanggan tersebut.


"Tuan dan Nona, ingin memesan apa?" Tanyanya sopan sambil membungkuk tubuhnya sedikit rendah.

__ADS_1


Abi melihat buku menu lalu menywbut menu makanan dengan mantap.


"Tidak ada yang ingin di pesan lagi, Tuan?"


"Tidak"


"Baiklah, pesanan akan sampai 20 menit kemudian, mohon di tunggu"


"Iya" Balas Abi dan Syifa serempak.


"Kalau begitu, saya pamit undur diri, terima kasih sudah datang dan memesan"


Setelah sang pelayan pergi dari meja mereka, Abi segera membuka obrolan.


"Suka sama restoran yang Aku pilih?" Tanya Abi menatap Syifa intens.


Syifa mengangguk cepat, "Iya, Syifa sangat suka sama restoran ini. Cantik dan nyaman" Balasnya cepat dan jujur.


Abi tersenyum, "Iya cantik, kayak Kamu"


"Apa sih Kak Abi, gombal deh" Seru Syifa malu.


"Aku gak gombal kok, seriusan ini gak bohong. Kamu cantik, Sangat cantik"


"Makasih Kak Abi"


Abi mengangguk, tiba-tiba dering telepon berbunyi dari ponsel Abi. Sang empu meliriknya sekilas lalu membiarkan begitu saja.


"Kok gak di angkat teleponnya Kak?"


"Gak papa biarain aja"


"Tapi, siapa tau itu penting"


Dering ponsel itu berhenti, lalu berganti dengan notifikasi pesan, masih dari orang yang sama. Abi mengeceknya dan membaca kalimat demi kalimat yang tertera.


"Aku ke toilet dulu ya, sebentar kok"


"Iya Kak, gak papa"


Setelah mendapat izin, Abi melangkah menuju toilet.


Syifa setia menunggu Abi yang katanya ingin ke toilet, tetapi sudah 15 menit tak kunjung balik.


Syifa jadi khawatir takut Abi kenapa-napa, "Kak Abi kok lama ya"


"Gimana kalau Kak Abi kenapa-napa di sana"


"Apa Aku susul Kak Abi ya" Syifa menggigit bibir bawahnya karena resah.


Pikiran negatif mulai bermunculan di dalam otak kecilnya, cara duduknya pun sudah tak benar karena bergerak terus menerus saking khawatirnya.


Syifa menatap ponsel dan arah toilet secara bergantian, kemudian ia mampu bernafas lega setelah melihat sosok Abi dari kejauhan.


"Maaf lama, tafi toiletnya sedikit antri"


"Gak papa Kak, kirain Syifa Kak Abi kenapa-napa karena lama di toiletnya"


"Enggak kok, Aku baik-baik aja"


"Syukur deh kalo Kak Abi baik-baik aja"


"Iya. Makanan belum dateng?" Tanya Abi karena melihat meja mereka masih kosong.


Syifa menggeleng, "Belum Kak"

__ADS_1


Lima menit kemudian, pesanan mereka datang dan langsung di sajikan di meja mereka duduk.


"Silahkan di nikmati, Tuan dan Nona"


"Iya, makasih"


"Sama-sama, saya permisi"


Pelayan pun pergi, Abi menatap Syifa lembut, "Selamat makan, semoga suka pilihanku"


"Selamat makan juga Kak Abi, Syifa suka kok. Syifa suka semua makanan!" Serunya ceria membuat Abi tertawa lepas.


...•••...


Pagi menyambut dengan cuaca cerah, bagus untuk melanjutkan kegiatan seperti biasa dengan kesibukan masing-masing orang. Ada yang bersekolah, bekerja, dan lain sebagainya.


Syifa pun sudah duduk tenang di bangkunya sesuai urutan yang ditentukan dari pihak sekolah. Ia duduk sebangku dengan kakak kelas.


Hari ini adalah hari pertama pelaksanaan Penilaian Akhir Semester (PAS). Syifa berdoa untuk kelancaran pelaksanaan juga kelancaran otaknya dalam memahami soal dan bisa menjawab dengan tepat dan juga benar.


Syifa terpisah ruangan dengan Ana dan Lita, karena Ana dan Lita satu ruangan di sebelah ruangan yang ia tempati. Tapi Syifa juga bersyukur bisa seruangan dengan Nisa, walau tempat duduknya berjauhan, tak masalah setidaknya ia masih ada sahabatnya yang nanti bisa keluar dan masuk ruangan berbarengan, seseorang yang benar-benar akrab.


Guru pengawas mulai memasuki ruangan dengan menenteng dua tumpukan soal, satu untuk angkatan Syifa satu lagi untuk kakak kelas yang duduk di samping anak kelas Syifa.


Semuanya menundukkan kepala untuk berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Kemudian guru pengawas tersebut membagikan soal, yang sudah kebagian soal langsung membacanya dengan teliti lalu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang di anggap benar.


2 jam berlalu begitu cepat, bel pun sudah berdering nyaring pertanda bahwa waktu mengerjakan soal sudah selesai.


Syifa keluar ruangan kelas bergandengan dengan Nisa, wajah Syifa tersenyum sumringah berbeda dengan wajah Nisa yang keruh seolah frustasi dengan soal barusan, padahal baru mata pelajaran pertama.


"Gila sih, mapel pertama kali ini bikin Gue stress!" Gerutu Nisa sepanjang jalan menuju kantin.


Memang sehari ada dua mata pelajaran yang di uji, dan di tengahnya di selingi dengan jam istirahat sekitar 30 menit.


Syifa hanya tertawa pelan menanggapi gerutuan Nisa.


Kemudian, setelah sampai di kantin, mereka melihat Ana dan Lita yang sudah duduk nyaman di salah satu bangku.


Ana memberikan kode pada Syifa untuk duduk di sebelahnya, Syifa pun menurut. Sedangkan bangku di depan mereka di isi oleh Nisa dan Lita.


"Gimana hah soalnya?" Tanya Lita angkuh, lebih tepatnya pura-pura angkuh.


Nisa langsung menyerobot, "Ya jelas gak manusiawi lah!"


"Gue stress, frustasi hampir depresi tau gak!"


Lita, Ana, dan Syifa sama-sama menahan tawa.


"Gila aja hari pertama udah di buat gini! Apalagi besok, besoknya lagi!" Nisa masih juga tak terima dengan soal yang di berikan.


"Halah, itu mah dasar otak Lo kecil, mana paham" Ledek Lita lalu tertawa setelahnya.


"Lo juga!" Tunjuk Nisa pada Lita.


"Gue kenapa?"


"Lo gak usah sok-sokan yang paling pinter di sini ya! Otak Lo juga pas-pasan tuh"


"Lo ngajak gelud?!"


"Ayok, Gue ladenin sini!" Nisa mulai menyingsingkan lengan seragamnya.


Syifa dan Ana tertawa, merasa lucu dengan aksi mereka berdua yang selalu ribut bila bertemu, tetapi jika tidak bertemu mereka akan saling merindukan.


...•••...

__ADS_1


...**Kalian kangen gak sama cerita ini?...


...Kalo kangen komen ya**...


__ADS_2