
"Mari Den" Ucap Satpam pada Abi yang kaca mobilnya sudah terbuka setengah.
Abi mengangguk juga tersenyum, "Makasih Pak"
"Sama-sama Den" Balas Pak Satpam sopan.
Abi menjalankan mobilnya memasuki pekarangan Mansion Winata. Mesinnya berhenti setelah ia mematikannya, tatapannya tertuju pada gadis lugu yang tertidur di sampingnya.
Tangannya terulur mengelus pipi chubby yang sedikit kemerahan, lucu.
Bibirnya lagi-lagi menebarkan sebuah senyuman melihat bagaimana pulasnya Syifa saat ini.
"Cantik" Satu kata berjuta makna itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Tak di pungkiri bahwa wajah Syifa memang cantik, dengan wajah asli khas Asia, kulit putih susu, tubuh mungil, dan bibir merah cerry.
Apalagi dengan penampilan Syifa yang sekarang, memakai kaos oblong kebesaran dan celana training yang kedodoran. Sungguh godaan bagi kamu lelaki manapun.
"Gue janji, bakal jagain Lo semampu Gue. Kalau perlu mempertaruhkan nyawa Gue pun, bakal Gue jabanin"
Abi segera turun dari mobil setelah mengatakan itu, ia membuka pintu sampingnya. Kedua tangannya yang kokoh segera menarik Syifa untuk ia gendong di depan ala bridal style.
Kakinya yang panjang segera mendekat ke arah pintu besar itu, tangannya dengan susah payah menekan bel yang berada di samping pintu.
Tak lama ada seseorang yang membuka pintunya, seorang wanita paruh baya, beliau adalah Mommy Syifa.
...°°°°...
Di kala ada waktu senggang, Alfa segera membuka email yang di kirim dari orang suruhannya.
Membacanya dengan teliti, matanya menajam membaca nama seseorang tertera di layar komputernya.
Terus menscroll ke bawah, semakin lama membaca ia semakin kesal. Ternyata orang ini sangat menjengkelkan.
"Dasar bocah ingusan!"
Tak lama, ia pun telah membaca sampai bagian paling bawah, "Okey, jadi begitu"
"Gue tahu nih, bocah ini pasti merencanakan sesuatu. Gue harus cari tahu"
Ia merogoh sakunya, mengambil ponsel lalu menekan tombol yang sudah tertera nama seseorang.
"Halo Al, ada apa?"
"Kita masih satu gedung juga, kenapa harus nelfon sih, tinggal pake lift, terus ketemu deh Kita!" Ucap orang di seberang sana dengan jengkel.
"Cerewet!" Balas Alfa ketus.
"Lo ya! Gue bicara baik-baik, di bilang cerewet. Kurang ajar!"
"Diem! Mau dengerin Gue kagak?!" Ia berucap galak.
"Iya iya! Apa?!"
"Lo, Gue tugasin buat jaga Syifa di Indonesia, jaga diem-diem jangan sampai ketahuan"
"Lho kok Gue?! Kan Lo masih punya Bodyguard banyak!"
"Gak usah protes! Lo harus kasih informasi keseharian Syifa terus kirim ke Gue"
"Iya tau Gue, yang namanya Bodyguard ya pasti gitu-gitu kerjaannya"
"Kenzo!"
__ADS_1
"Iya, apa lagi?" Ucap Kenzo jengah.
"Ini yang lebih penting, Lo harus cari tau semua hal tentang bocah ingusan ini, nanti Gue kirim datanya"
"Siapa sih? Cowok?"
"Bukan"
"Terus? Ya namanya siapa?!"
"Caesa Ayura" Balas Alfa dingin.
"Oke-oke, tapi gaji Gue, Lo naikkin kagak?" Kenzo memastikan nasib dirinya, jika tidak ada gaji tambahan.
"Itu urusan gampang, asal tugas Lo becus aja" Ucap Alfa tanpa minat, bahkan ia sudah mengejek kinerja Kenzo yang tak pernah mengecewakan.
"KURANG AJAR LO!!"
Alfa menjauhkan ponsel dari telinganya, ia tertawa keras karena sudah membuat Kenzo naik pitam.
"Kapan nih Gue mulai kerja jadi Bodyguard cewek imut nan cantik" Tanya Kenzo genit.
"Kenzo, jangan coba macem-macem!"
"Kagak lah, bercanda Gue"
"Lo pulang ke Indonesia, besok!"
"HAH?!!"
Lagi-lagi Alfa menjauhkan ponselnya, lama-lama telinganya bisa tuli karena terus-terusan pengang akan teriakan Kenzo.
"Kagak usah teriak! Gue kagak budeg!"
"Lo yang bener aja dong, masa besok, Gue belum siapin apa-apa" Kenzo protes pada Alfa.
Alfa duduk di sebuah sofa yang berada di lantai satu, ia menelfon Kenzo karena Kenzo berada di lantai delapan. Ia tidak mau menghampiri Kenzo ke sana, makanya ia lebih memilih menelfonnya saja yang lebih simple.
"Tenang aja, Gue udah siapin semuanya buat Lo. Tiket dan barang-barang Lo udah di tata rapi sama suruhan Gue, Lo tinggal berangkat besok pagi jam 9"
"Okey" Balas Kenzo terdengar lesu.
"Kenapa lesu gitu, gak suka?"
"Gue suka aja, selagi gaji Gue nambah. Tapi, Gue jadi gak bisa jalan-jalan di Instanbul dong!"
"Gak penting!" Ucap Alfa sarkas. Ia langsung mematikan sambungan telponnya.
"Padahal Gue pengin jalan-jalan di tempat-tempat terkenal, nasib Gue belum beruntung. Tapi gak papa deh, gaji Gue kali ini nambah banyak!!" Ucap Kenzo ceria dengan mengangkat kedua tangan ke atas.
Ia menghentikan aksi konyolnya karena terus di perhatikan karyawan lain yang berada di lantai delapan Apartemen ini.
Yaps, Alfa dan rekannya sedang mengecek persiapan pembukaan gedung baru yaitu Apartement.
Mereka di sini baru datang lima belas menit yang lalu, Tetapi Alfa meminta Kenzo yang lebih dulu naik ke lantai atas. Sekarang Kenzo tahu, ternyata Alfa yang meminta dirinya lebih dulu memeriksa karena Alfa mencari tahu tentang si bocah itu.
Tapi, ia sebal karena ia yang lagi-lagi harus menjalankan tugas ini itu, "Hah, sudahlah terima saja Kenzo. Selagi uang mengalir ke rekeningmu" Kenzo menyemangati diri sendiri.
...°°°...
Sepulangnya Nyonya Winata dari acara sosialitanya, ia langsung memasuki rumah karena sudah terlalu lelah, dirinya ingin segera beristirahat sembari menunggu Suami dan anak-anaknya pulang.
Vina menapaki lantai marmer yang begitu mengkilap itu, sejauh matanya memandang ia belum menemukan sosok seseorang yang ia cari.
__ADS_1
Ia mengangkat pergelangan tangan kanannya,
melihat jarum jam menunjuk angka lima.
"Sudah jam lima sore, kok sepi sih?"
"Bibi!!" Panggilnya pada Bi Sari, selaku ART di sini.
"Iya Nyonya, butuh bantuan, Nya?" Tanya Bi Sari dengan nafas terengah-engah karena sehabis di bawa lari.
"Anak-anak udah pada pulang Bi?"
"Anu itu.. emm.." Ucap Bi Sari gagap.
"Apa Bi? Ngomong yang jelas"
"Ta-tadi Den Revan pulang, tapi pergi lagi"
"Kalo Bara? Syifa?" Tanya Vina memastikan, karena hanya nama Revan lah yang di sebut Bi Sari.
"Den Bara sama Non Syifa belum pulang, Nya" Jelas Bi Sari takut-takut kena semprot, tapi majikannya memang bukan sosok yang menyeramkan, jika Vina marah, beliau tak akan memarahi bawahannya tanpa alasan yang jelas jika bukan benar-benar kesalahan dari mereka.
Vina hanya akan menampilkan raut kesal, dan menangis akhirnya, karena sudah tertutupi rasa khawatir.
"Syifa belum pulang?!"
"B-belum, Nya" Jawab Bi Sari pelan.
"Bentar, biar Saya hubungin nomor Syifa dulu" Ucap Vina menahan agar Bi Sari tidak undur diri lebih dulu.
Para pelayan di sana berjejer mengelilingi Vina dan Bi Sari, mereka menunduk sesekali melirik sang majikan. Tak ada suara bisik-bisik dan lainnya, karena itu adalah hal yang tidak sopan.
Vina meraih ponsel di tas jinjingnya, ia segera menekan tombol hijau di sana.
"Kok gak aktif sih ponselnya" Ucapnya sarat akan cemas.
"Gimana ini?" Ia masih berusaha menghubingi nomor Syifa berkali-kali. Kemana putrinya pergi?
"Telfon temannya Non Syifa juga, Nya" Saran Bi Sari ikut khawatir.
"Ah, iya benar" Vina menyetujui saran itu, kenapa tidak terpikirkan olehnya dari tadi.
"Halo Ana"
"Iya Mom, ada apa telfon Ana?"
"Syifa lagi sama kamu gak?" Tanya Vina buru-buru, tak sabar.
"Syifa? Syifa enggak lagi sama Ana, ini Ana lagi di kamar sendirian kok"
"Emang Syifa belum pulang Mom?" Tanya Ana heran, bercampur khawatir.
"Belum, Syifa kemana ya?" Ucap Vina cemas.
"Tadi Syifa bilang mau naik Taxi atau gak Angkutan umum, tapi gak tau sekarang udah dapet apa belum. Maafin Ana ya Mom, ninggalin Syifa sendiri" Jelas Ana, ia juga merasa bersalah akan Syifa.
"Sudah tidak apa-apa, biar Kita cari Syifa sendiri, makasih ya Ana" Ucap Vina menenangkan Ana.
"Iya Mom"
"Saya tutup ya telfonnya"
"Iya" Balas Ana lirih, ia jadi ikut cemas karena Syifa belum pulang sampai sekarang.
__ADS_1
"Semoga Syifa baik-baik aja" Doa Ana untuk Syifa yang keberadaannya belum diketahui.