
Syifa tiba-tiba terbangun saat mendengar suara hewan. Perpaduan suara Jangkrik dan suara jarum jam.
Syifa mengucek matanya yang terasa berat, lalu menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap.
"Jam berapa sekarang?"
Seteleh melirik jam di nakas samping ranjang, Syifa menarik selimutnya karena udara dingin akibat AC.
"Udah jam 4, nunggu adzan subuh sekalian deh"
Karena tak ada kegiatan alias gabut, Syifa mencari di mana ponselnya berada.
Di nakas tak ada, ranjang juga tak ada. Seteleh memindai seluruh ruangan, ia melihat ponselnya berada di balik bantal sofa.
"Ternyata terselip di sana"
"Ihh dingin!" ia berjalan menuju sofa sambil menarik selimut membungkus tubuhnya.
Kemudian ia balik ke ranjang dan duduk bersandar, membuka ponsel dan menyalakan Wifi.
Setelah Wifi tersambung, banyak notif bermunculan, ia lebih tertarik membuka Whatsapp.
Banyak dari grup juga chat pribadi. Yang pertama ia buka milik Alfa.
Alfa💓
Udah tidur ya, sayang?
Kalau gitu, Good Night
Sweet dreams Honey;)
Love you💑
Syifa tersenyum membaca pesan dari Alfa, jarinya dengan cepat mengetik untuk membalas chat Alfa.
^^^Iya, makasih😊^^^
^^^Sekarang Syifa udah bangun^^^
^^^Love you too💓^^^
Selesai membalas pesan, Syifa berganti membuka chat yang lain. Untuk grup, ia hanya menyimaknya saja.
Saat asik menyimak grup kelasnya, ia mendapat notif baru.
Ternyata itu dari Abi, "Tumben"
Kak Abi
Kamu lagi online, udah bangun ternyata
^^^Iya udah, ^^^
^^^tadi Syifa kebangun denger suara Jangkrik^^^
^^^Kenapa kak?^^^
Hahaha😂
Ada-ada aja Kamu
Kakak cuma mau ajak Kamu jalan-jalan, mau gak?
^^^Wahh...^^^
^^^Mau Kak, jalan-jalan kemana?^^^
Ke Pelatihan kuda
Kita belajar naik kuda, mau?
^^^Mau mau!!^^^
^^^Asikk!^^^
^^^Kapan kak?^^^
Minggu depan?
^^^Boleh😻^^^
Okeh, deal yah?
^^^Deal Kak^^^
Okey, siip
...------...
Percakapan selesai di situ karena adzan subuh sudah berkumandang, Syifa meletakkan hpnya asal di atas ranjang.
Lalu turun, menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan shalat subuh.
Selesai shalat, ia segera mandi untuk ke sekolah hari ini.
Syifa berangkat sekolah tanpa sarapan, tetapi ia membawa bekal di tasnya.
Sudah di larang tetapi teyap saja keras kepala, Bara saja marah padanya karena tak mau sarapan.
Akhirnya Bara juga ikutan tidak sarapan seperti dirinya, Syifa menghela nafas.
Ia harus meminta maaf nanti pada Kakaknya, Bara.
Syifa menaruh tasnya di bangku, ia tak melihat Ana, Nisa, maupun Lita.
"Mungkin belum berangkat"
Ia duduk lalu memainkan ponsel untuk melihat status apa saja yang di posting, yang sekontak dengannya.
Syifa minim kontak, hanya ada kurang dari seratus jumlah kontaknya. Itu di sebabkan oleh Kakak-kakaknya yang sering menghapus kontak yang menurut mereka tak penting.
Sampai ia menangis pus tak akan di kembalikan jumlah kontaknya yang dulu, ia hanya pasrah menuruti.
Ia berhenti main ponsel ketika satu persatu teman sekelasnya berdatangan, ia menunggu kedatangan tiga orang.
"Kemana sih mereka, gak dateng-dateng!" Gerutunya sebal.
Tak lama Nisa dan Lita datang dengan berlarian, nafas mereka pun ngos-ngosan.
"Hampir aja!" Ucap Lita merasa lega.
__ADS_1
"Untung kita gak telat!" Seru Nisa sembari melihat jam di dinding ruang kelas.
"Ana mana?" Tanya Syifa kebingungan.
"Ya mana kita tahu!!" Keduanya kompak membalas membuat Syifa beejengit kaget.
"Eh maaf Fa, gak sengaja"
"Kalian ngagetin tau!"
"Maafin.."
"Iya Syifa maafin"
Pelajaran sudah di mulai setengah jam yang lalu, tetapi Ana belum masuk kelas sampai sekarang.
"Sebeneranya Ana kemana?"
"Kenapa gak masuk?"
Syifa tak fokus dengan pelajaran di depan, dan hanya bergumam dari tadi.
...••••...
Di lapangan sekolah, banyak anak-anak yang berbaris di depan tiang bendera.
Alasannya adalah mereka anak-anak yang terlambat datang ke sekolah, lalu di hukum untuk berdiri menghadap tiang bendera. Tangan mereka pun terangkat sebagai tanda hormat kepada bendera merah putih.
"Kalian hormat di depan tiang bendera sampai jam istirahat berbunyi!!" Perintah Pak Guru yang selaku sebagai guru BK.
Pak Guru itu pun pergi berlalu meninggalkan mereka semua yang kepanasan terpapar sinar matahari.
Mereka semua terlihat berkeringat dan banyak yang mengeluh akan cuaca hari ini yang sangat panas.
"Panas banget sumpah!"
"Hah! Pak Guru tega banget sih sama kita-kita!"
"Gerah huhu!!"
"Sabar aja lah, namanya juga hukuman mana ada hukuman yang enak!"
"Ada kok, hukuman suruh makan. Gue mau"
"Yee maunya Lo!"
"Hahahaha"
"Panas, yang?" Tanya seorang cowok yang berdiri di samping cewek itu.
"Iya, tapi gk papa kok. Aku masih kuat"
"Bener?" Tanya si cowok untuk memastikan.
"Iya"
"Kalo udah gak kuat, bilang sama Aku yah"
"Siap!" Cewek itu mendapat sebuah elusan di kepalanya dari si cowok.
1 jam berlalu, rasanya seperti mandi keringat. Baju mereka sudah basah oleh keringat, selain itu tenggorokan mereka pun terasa kering.
"Kurang 30 menit lagi, semangat yok!!"
Mereka bersorak saling menyemangati.
Di sisi lain, Syifa, Nisa, dan Lita, mereka bertiga kompak izin dengan alasan ke toilet.
Nisa dan Lita yang melihat Syifa murung sepanjang pelajaran, berinisiatif mengajak Syifa untuk keluar kelas sejenak.
"Kok Lo murung sih dari tadi?"
"Lo khawatir kan sama Ana?"
"Ana pasti baik-baik aja kok, Lo tenang aja"
"Syifa khawatir, Ana sampai sekarang belum ngabarin Syifa. Kenapa gak masuk kelas?" Keluhnya risau.
Syifa mendapat rangkulan dari Nisa untuk menenangkannya.
Lita melirik sekitar dan tatapannya tertuju ke arah lapangan sekolah, matanya menyipit untuk melihat siapa saja yang berada di sana.
Lalu melotot, "Eh! Itu Ana bukan sih?!" Tanya Lita histeris.
Syifa menoleh ke arah yang di tunjuk Lita, "Iya itu Ana, dia di hukum karena telat??" Syifa bertanya-tanya.
Nisa mengangguk, "Mungkin" Sahutnya singkat.
"Yuk kesana!" Ajak Lita.
Mereka mendekat ke arah lapangan, ketiganya jadi pusat perhatian dari anak-anak yang berada di lapangan.
Syifa yang bertubuh paling mungil diantara ketiganya, berwajah cantik sekaligus imut. Rambut yang tergerai indah dengan jepit ramput di atasnya. Bibir Syifa tersungging sebuah senyuman manis, bibirnya pun merah alami tanpa polesan lipstick. Para lelaki di sana melihat Syifa tanpa berkedip.
"Ana!!" Pangil Syifa tak terlalu keras.
"Syifa.."
"Ana telat?"
Ana mengangguk, "Iya"
"Sama Kak Sandi?"
Sedangkan Sandi hanya mengangguk tanpa berucap apapun.
"Terus dimana Kak Revan?"
"Revan bolos" Balas Sandi singkat. Ia akan berbicara panjang hanya pada kekasihnya saja.
Syifa berkedip-kedip karena silau akan sinar cahaya matahari yang terik.
Nisa yang peka mengajak Ana juga Sandi untuk beristirahat saja.
"Yuk ke kantin aja, di sini panas. Bentar lagi juga bel istirahat bunyi"
"Tapi nanti di marahin" Ucap Ana khawatir.
"Enggak kok, kan ada Syifa"
Ana tersenyum senang, lalu mereka berlalu kecuali Syifa yang masih berdiri di sana.
__ADS_1
"Syifa, ayok!!" Ajak Lita karena Syifa sama sekali tak berpindah tempat.
"Bentar!"
Syifa menatap yang lain yang masih menatapnya kebingungan.
"Kalian juga boleh kok istirahat, bilang aja nanti Syifa udah bolehin kalian istirahat lebih awal" Ucapnya bagaikan malaikat penolong bagi mereka yang ingin cepat-cepat ke kantin.
"Alhamdulillah ya allah, akhirnya!!"
"Makasih Syifa cantik!"
"Love you beb, really really love you!"
"Aku padamu Syifa!"
"Makin cinta kan jadinya!"
Syifa menghampiri sahabatnya yang asik tertawa karena ucapan mereka padanya, ia ikut tertawa karena merasa lucu.
"Yuk ke kantin" Ucapnya membuat tawa mereka sedikit mereda.
"Yuk!!"
"Cuss!"
"Gass!"
"Hayuklah"
Syifa terkekeh pelan karena keantusiaan mereka.
...•••••...
Pulang sekolah, Syifa langsung mencari keberadaan Kakaknya, Bara.
"Kak Bara udah pulang, Bi?"
"Belum Non" Jawab Bibi sopan.
"Ya udah makasih, Bi"
"Sama-sama, Non"
Bibi berlalu pergi ke belakang, Syifa yang baru beberapa menit pulang sekolah belum berganti pakaian. Ia masih lengkap menggunakan seragam sekolahnya.
"Coba telfon deh"
Selagi menunggu sambungan telfon tersambung dan diangkat, Syifa beranjak menuju dapur sambil menempelkan ponsel di telinganya. Menghampiri kulkas dan mengambil dua coklat dari dalam freezer.
Kembali berjalan menuju sofa ruang tamu, setelah duduk telfonnya pun diangkat.
"Hallo Kak!"
"Hmm"
Syifa terdiam, kayaknya Kak Bara masih marah padanya. Buktinya balasan dari sapaannya hanya sebuah deheman.
Syifa menaruh ponsel di pangkuannya dan meloudspeaker, kedua tangannya sibuk membuka bungkus coklat.
"Kakak" Panggilnya pelan, malah sekarang tak ada sahutan sama sekali.
"Kak Bara" Suaranya memelas, ia sedih Kakaknya mengabaikan dirinya.
"Apa?"
"Kak Bara, Syifa minta maaf" Ucapnya lirih.
"Syifa nangis nih" Ancamnya pada Bara.
Suara helaan nafas terdengar dari telfon, "Kamu kenapa sih Baby, gak mau sarapan. Padahal ada makanan kesukaan kamu tapi, kamu tetep gak mau sarapan. Kenapa buru-buru berangkat padahal masih ada waktu, bahkan kamu berangkatnya kepagian. Kakak tuh khawatir kamu kenapa-napa, kalo sakit gimana karena nglewatin sarapan gitu aja!"
Syifa berkedip-kedip menghalau air matanya, "M-maafin Syifa, Kak"
"Emm, Kakak maafin. Jangan di ulangin Baby, kamu mau Kakak bawa rumah sakit karena gak mau makan?" Sekarang giliran Bara yang mengancam.
Syifa menggeleng ribut, "Enggak! Gak mau!"
"Makanya jangan bandel"
"Syifa gak bandel!"
"Iya tapi keras kepala"
"Ihh enggak!"
Bara tertawa karena berhasil meledek Adiknya ini.
"Kak Bara nyebelin"
"Sayang Baby juga"
"Gak nyambung!"
"Biarin, wleee.."
Hening, hanya ada suara gigitan coklat dan kunyahan Syifa.
"Kamu lagi makan apa?"
"Oh ini Syifa lagi makan coklat, kak"
"Jangan banyak-banyak, nanti sakit gigi"
"Iya kak, cuma dua"
"Dua banyak itu"
"Gak papa, dari pada yang di kulkas gak ada yang ngabisin" Balas Syifa lugas, tapi terdengar menyebalkan bagi Bara karena secara tak langsung Syifa sudah membantah nasihatnya.
"Gimana sekolahnya, Baby?" Tanya Bara mengalihkan topik pembicaraan.
"Baik kok, tapi tadi pagi Ana sama Kak Sandi telat, jadi kena hukum"
"Hukumannya apa?"
"Suruh berdiri depan tiang bendera, terus hormat"
"Gak ada yang pingsan kan?"
Syifa tertawa, "Gak ada Kak"
__ADS_1
"Bagus deh"