
Aku punya grup Whatsapp OAF, kalian kalo mau gabung yuk boleh banget.
Kalian komen aja di bawah, "AKU MAU" gitu aja.
Nanti aku kasih linknya.
Kalian di sana bisa ramein dan bahas apa aja. Boleh curhat pokoknya bebas deh, yang penting masih di batas wajar.
Tolong di baca juga deskripsinya, setelah masuk grup langsung intro ya😋
...••••••...
Bara berjalan menyusul Genta di depannya, lalu segera masuk ke dalam mobil bagian belakang.
Setelah masuk ke mobil, Bara melihat satu lagi seorang cowok, tak lain dan tak bukan ialah Abi.
Abi duduk di samping Genta yang menyetir.
Mobil memang sudah melaju sejak satu menit yang lalu, Bara menatap Abi intens. Anehnya Abi tak terusik bahkan menengok pun tidak.
"Bi, Lo masih ngangep ada Gue di sini kan?"
Abi menoleh, ia memiringkan kepala, lalu menghadap ke depan kembali, "Ya masih lah! Emang apa yang Lo harapin. Lo mau Gue ngangap Lo gak ada di dunia ini, udah isdet gitu?" Tanya Abi sarkas, di hadiahi suara tawa keras Genta.
Genta tertawa terpingkal-pingkal, ia berusaha mengontrol tawanya agar tidak mengganggu saat menyetir dan membahayakan mereka bertiga.
Bara berdecak kesal, "Terserah lah!"
"Ngembek Lo?" Heran Genta melihat Bara dari kaca spion tengah yang berada di atas dan tergantung di atap-atap mobil.
Bara diam, akhirnya Genta tak lagi bertanya, biarkan saja Bara merajuk. Tak perlu khawatir padanya, itu mungkin hanya sesaat dan tak benar-benar marah sungguhan.
"Kenapa Lo gak turun dari mobil tadi?" Tanya Bara tetapi matanya melihat arah kanan pada jendela mobil yang menampakkan padatnya jalan raya di daerah Jakarta.
Jakarta sudah tidak asing dengan kemacetan dan kebanjiran. Sebenarnya Kota Jakarta sudah banyak tercemar polusi baik udara maupun air. Udara di sini sudah tidak sehat, banyak polusi dari berbagai faktor pencemarnya.
Lebih indah dan sejuk jika kita ada di pedesaan, di sanalah tempat refreshing yang tepat dan mampu merelekskan tubuh dari penat.
Semakin padatnya penduduk maka semakin besar kemungkinan terjadinya penyakit, entah ringan ataupun berat. Dan itu berlaku di Jakarta, banyak orang berpindah dan akhirnya menetap tinggal di Jakarta, makanya Jakarta sangat padat begini.
Syukuri saja lah apa yang ada, kita pun tak punya pilihan mau terlahir di mana, dari keluarga siapa, kapan, dan berbagai opini yang bersarang di otak manusia ketika sedang stress dan depresi.
Mereka pasti akan menyalahkan takdir jika masalah menimpa diri mereka masing-masing, kita ambil pelajarannya, yang baik di ambil yang buruk di tinggal.
Abi menoleh ke arah belakang, "Lo nanya Gue?" Tanya Abi dengan wajah menyebalkannya.
Bara mendelik, lalu mendengus, "Ya iyalah! Siapa lagi?!"
"Hehe.." Abi cengengesan tak jelas.
Bara tak menghiraukan Abi, ia menunggu kelanjutan apa yang akan di ucapkan Abi. Genta pun terdiam tak ikut mengobrol, ia lebih memilih untuk jadi pendengar saja.
__ADS_1
"Gue lagi main game, males turun"
Bara mengangguk singkat tanda ia paham. Tetapi ucapan selanjutnya dari Abi membuat ia tersulut emosi.
"Lebih tepatnya sih Gue males lihat Lo!!" Ucap Abi sarkas, ia sengaja memancing emosi Bara. Menyenangkan rasanya membuat sahabat kita marah-marah.
"Kurang ajar!!"
"Ya makanya di ajarin"
"SIALAN!!"
Abi tertawa keras bahkan terbahak-bahak, ternyata tawa Abi menular pada Genta.
Bara yang ditertawakan keduanya hanya mendengus. Beginilah punya teman lucknut, tapi asyik.
...••••••...
Syifa turun dari mobil dengan riang, ia balas tersenyum saat ada yang menyapanya.
Di depan sana ada Ana yang sedang berjalan bergandengan dengan pacarnya, siapa lagi kalau bukan Sandi.
"Itu Kak Sandi, Berarti Kak Revan udah sampai dong"
Syifa celingukan kesana kemari, mencari sosok lelaki yang ia kenal. Berharap dapat melihatnya di sekitar ia berdiri sekarang.
"Ah, tuh Kak Revan. Apa Syifa bilang, Kak Revan udah sampai duluan daripada Syifa"
"Pasti naik motornya ngebut tuh"
Syifa menggelengkan kepala takjub, "Ada-ada aja Kak Doni"
"Ouh iya, Kak Doni kan suka PD tingkat gak ketulungan" Ucapnya di sertai tawa, lalu berbalik dan melanjutkan langkah.
Syifa masuk ke dalam kelas dengan sisa tawanya. Ana, Nisa, dan Lita yang melihat Syifa tertawa merasa heran.
Apa yang di tertawakan Syifa? Begitu pikir mereka.
Setelah Syifa duduk di samping bangku Ana, ia mendapati tatapan penasaran ketiga sahabatnya.
Syifa berkedip-kedip lucu menatap ketiga manusia ini.
"Ada apa?"
"Lo yang ada apa?" Balas Lita menunjuk Syifa dengan dagunya.
"Kok jadi Syifa?" Syifa lebih heran lagi, ia menunjuk diri sendiri karena tidak paham.
"Kenapa ketawa tadi?" Tanya Ana lebih jelas akan maksudnya.
"Ouh itu.."
__ADS_1
"Apa-apa?!" Serobot Nisa tak sabaran.
Lita mendengus dengan tingkah Nisa, "Lo diem dulu!"
"Iya-iya"
"Lanjutin" Perintah Ana tak menghiraukan kedua orang yang ada di depannya.
"Jadi, Syifa ketawa karena lihat Kak Doni lagi sisiran terus ngaca di spion motornya sendiri. Syifa keinget kalo Kak Doni itu punya kePDan tingkat gak ketulungan. Jadi ya gitu, ngerasa lucu aja"
"Hahaha bener banget Lo"
Respon ketiganya sama, sama-sama tertawa ketika membayangkan Doni sibuk sisiran dan spion motor sebagai kacanya. Tetapi yang pertama berkomentar adalah Nisa.
Lita dan Nisa bahkan sampai saling memukul lengan satu sama lain. Yang memulai adalah Lita yang memukul lengan Nisa, Nisa yang tak mau kalah ikut memukul lengan Lita sebagai balasan.
Syifa terkekeh pelan, "Udah-udah, bentar lagi bell masuk bunyi. Kalian sana duduk di meja masing-masing" Suruh Syifa tertuju pada Nisa dan Lita.
Kedua orang yang di suruh hanya menurut, tanpa membalas ucapan Syifa. Karena masih ada sisa tawa.
...•••••...
Kantin ramai dengan banyak kaum adam dan hawa yang memenuhi seluruh penjuru kantin.
Stand makanan pun tak luput di serbu lautan manusia. Karena inilah suasana lebih panas, gerah, sumpek, dan pengap.
Semua aktivitas yang di lakukan langsung terhenti mendadak karena kedatangan Revan dan kawan-kawannya.
Revan dan Doni di temani teman sekelasnya yang ikut ke kantin berbarengan. Tak ada Sandi di sana, mungkin ia ada urusan.
Semua penghuni kantin menatap rombongan Revan dengan diam, ada yang melongo, ada juga yang melamun. Dari semua tatapan itu, tatapan kekagumanlah yang lebih dominan.
Setelah rombongan Revan duduk di bangku yang hanya tersisa satu meja, semua orang bisa bernafas lega dan berkativitas kembali seperti tak terjadi apa-apa.
"Rame banget cuy"
"Iya, pengap sumpah!" Salah satu cowok di sana mengibas-ibaskan kerah seragamnya.
Revan menatap temannya dengan acuh.
"Cepet pesen sana, habis itu baru ke rooftop!" Suruh Revan entah kepada siapa. Yang jelas itu tertuju pada orang-orang yang satu meja dengannya.
"Oke, Gue yang pesen. Mau apa Lo pada?" Cowok yang tingginya 180 cm itu berdiri menawarkan diri untuk memesan makanan.
Revan mengangguk singkat, Setidaknya ada salah satu yang sukarela jadi babu kali ini, ia tersenyum geli dengan pemikirannya sendiri.
Yang lain sibuk mengajukan menu mereka untuk di pesan pada cowok tadi, tapi tidak dengan Doni yang memperhatikan Revan yang tersenyum-senyum itu.
"Lo ngapa dah senyum-senyum begitu?"
Revan menoleh, ia mengangkat alis.
__ADS_1
"Kepo!"
"Ck. Serah Lo dah!" Doni pasrah tak mau mengetahui lebih lanjut. Karena perutnya sudah keroncongan.