Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 41


__ADS_3

Syifa dan Alfa makan siang di Cafe, mereka duduk tenang disana disertai canda dan tawa. Tak lupa meja mereka yang dipenuhi dengan menu makanan.


Tanpa disadari, Caesa sudah memperhatikan Syifa intens.


Caesa duduk tak jauh dari meja yang Syifa duduki, lalu tatapan Caesa pun beralih pada satu cowok yang duduk didepan Syifa.


"Itu pacarnya Syifa?" Caesa bergumam pelan.


"Ganteng sih, tapi kenapa gak sama Gue aja"


"Coba kalo Gue ketemu sama cowok itu duluan, pasti Gue udah jadi pacarnya" Caesa mulai halu.


Caesa didatangi seorang pelayan cowok, "Permisi Nona, mau pesan sesuatu?"


Caesa menoleh pada pelayan itu, "Eh, Saya gak pesan apa-apa"


"Baiklah, Nona. Kalau begitu Saya permisi" Pelayan itu pun pergi untuk melayani pelanggan lainnya.


Caesa hanya mengangguk, matanya kembali berfokus pada meja Syifa.


"Kayaknya Lo bahagia banget"


"Gak lama lagi, Lo bakal kehilangan semua itu"


"Gue yang bakal ambil alih semuanya" Caesa tersenyum smirk.


"Today, Done"


Ia berdiri dari duduknya, lalu meraih slingbag nya. Caesa keluar dari Cafe tersebut.


Setelah Caesa sampai di halaman depan Cafe, Caesa menoleh ke belakang, ia tertawa senang.


"Besok adalah hari yang panjang, permainan pun dimulai"


Setelah berucap seperti itu, Caesa pergi berlalu meninggalkan Cafe.


...●●●...


Tak terasa waktu berlalu cepat, hari sudah semakin sore. Matahari pun mulai bersembunyi.


Kencan kali ini sungguh menyenangkan menurut Syifa. Begitu juga bagi Alfa, ia merasa lebih leluasa karena banyak waktu untuk berdua jika akhir pekan.


Sejak bertunangan, Alfa semakin merubah sifatnya yang dulunya dingin, cuek, irit bicara, sekarang ia sudah tidak seperti dulu jika dengan Syifa.


Sebenarnya Adnan dan Alfa hampir mirip sifatnya, tetapi sekarang hanya Adnan yang masih irit bicara dan cuek.


"Kamu udah capek, yang?"


Alfa bertanya pada kekasihnya, tangannya terangkat untuk mengenggam satu tangan Syifa.


Syifa balas meremat tangan besar Alfa yang terasa kasar tapi begitu hangat.


"Lumayan, hari ini sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan" balas Syifa tersenyum menatap Alfa yang sedang menyetir.


Alfa tersenyum mendengar perkataan Alfa, walau tanpa menoleh. Karena matanya masih fokus pada jalanan didepannya.


"Baguslah kalau Kamu bahagia"


"Tentu, apalagi sama Kamu"


Alfa tertawa lepas.


Bisa-bisanya Syifa yang polos jadi  pintar menggombal. Pasti ada yang tidak beres.


"Kok ketawa sih?" Protes Syifa saat Alfa tertawa atas ucapannya.


Setelah tawa Alfa mereda, ia pun segera membuka suara.


"Di ajarin siapa kata-kata itu?"


Syifa mimiringkan kepalanya, "Gak diajarin siapa-siapa"


"Masa?" Alfa masih tidak percaya.


"Iya, Syifa tahu pas nonton Drakor"


Syifa menjeda ucapannya.


"Syifa juga denger perkataan dari Kak Revan pas-"


Alfa memotong ucapan Syifa, padahal Syifa belum selesai berbicara.


"Pantes"


"Kok?" Syifa heran, ia menatap Alfa dengan sorot mata meminta penjelasan


"Udah Aku duga, ini ada hubungannya sama kakak Kamu yang suka tebar pesona" Lanjut Alfa ketus.


Syifa tertawa.


Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Alfa telah sampai di pelataran Mansion.


"Udah sampai" Ujar Alfa.


"Gak kerasa ya, ternyata udah sampai"

__ADS_1


Alfa meengangguk membenarkan, "Iya gak kerasa. Padahal Aku masih pengin lama-lama sama kamu"


"Apa sih"


Syifa tersipu malu, sedangkan Alfa terkekeh.


"Makasih ya buat hari ini" Ucap Syifa tersenyum manis.


"Iya, Sama-sama, yang"


Alfa tersenyum lembut pada Syifa seraya tangannya terulur mengelus kepala Syifa sayang.


"Habis ini mandi, yang" Perintah Alfa.


"Siap" Syifa mengangkat jempolnya dihadapan Alfa.


Alfa hampir membuka sabuk pengamannya tetapi ditahan Syifa.


"Gak usah, Aku turun sendiri aja. Nanti langsung masuk"


"Tap-"


"Gak papa" Ucap Syifa cepat.


Buru-buru Syifa melepaskan sabuk pengaman, lalu membuka pintunya.


Syifa pun keluar dari mobil milik Alfa. Alfa menurunkan kaca mobilnya.


"Hati-hati" Ingat Syifa pada Alfa.


Alfa mengangguk, "Bye, yang"


"Bye"


Tangan Syifa melambai-lambai pada Alfa.


Mobil Alfa putar balik, lalu bunyi tlakson terdengar sebagai tanda pamit.


Setelah mobil Alfa menjauh hilang dibalik gerbang tinggi Mansion, Syifa pun melangkah ceria masuk kedalam Mansion.


Syifa melihat keadaan Mansion sepi, pasti semuanya sedang ada dikamar masing-masing.


Akhirnya Syifa memutuskan untuk mandi saja. Syifa melangkah dengan riang, senyuman tak pernah pudar dari bibirnya.


Hari ini sungguh membuatnya bahagia, kencan berjalan lancar.


Saat sedang berdua dengan doi memang gak kerasa waktu berjalan terus.


Bahkan Kita merasakan waktu berjalan terlalu cepat, senangnya hati Syifa.


Syifa masuk kamar, lalu meletakkan slingbag nya di atas ranjang. Syifa mengambil handuk untuk ia mandi, dan senyuman itu tak pernah luntur.


Sungguh efek jatuh cinta begitu besar.


...●●●...


Malam sudah tiba, kegelapan melanda bila mati listrik. Mansion Syifa kecil kemungkinan untuk mati listrik.


Bulan dan bintang menemani langit yang berubah gelap, sekarang langitnya sudah terang dan indah.


Di meja makan, sudah ada Bara yang duduk sendirian, dengan ponsel ditangannya.


Makan malam belum dimulai, Bara saja yang sudah nangkring disitu terlalu cepat.


"Ini kayaknya, Gue deh yang kecepetan"


Bara melirik jam di ponselnya, waktu makan malam masih 40 menit lagi.


"Coba telfon Sobat Gue deh"


Bara mengklik tombol telpon, ia menelpon Abi, lalu ia menambahkan Genta juga dalam satu telpon.


Tak lama sambungan terhubung, Abi dan Genta untungnya langsung mengangkat telponnya.


"Hallo" Ucap Bara santai.


"Apaan sih! Gue sibuk tau!" Genta berucap sewot, membuat Bara mendengus kesal.


"Gak usah sok sibuk deh"


"Tau tuh, Gue yakin dia juga lagi gabut" Sela Abi, setuju dengan ucapan Bara.


"Gue mau nanya" Ucap Genta tiba-tiba.


"Apa?" Ucap Abi.


"Apaan?"


"Whatsaap sebenernya buat apa sih fungsinya" Tanya Genta.


"Chattingan, telfon, video call" Jawab Abi lugas.


"Nah, ya gitu lah, bener kata Abi"


"Terus kenapa kagak ada yang Chat Gue sih" Genta menggerutu dengan kesal.

__ADS_1


Abi dan Bara sama-sama tertawa. Menertawakan nasib Genta.


"Makanya, cari jodoh sana"


"Di aplikasi juga banyak tuh, jodoh-jodoh yang cocok buat Lo" Saran Bara ngawur.


"Kagak mau!"


"Apaan! Cari doi lewat aplikasi, takut ketipu" Lanjut Genta.


Lagi-lagi celetukan Genta membuat Abi dan Bara tertawa keras, ngakak kenceng pokoknya.


Bara melihat Adnan turun, melangkah menuruni tangga. Itu membuat Bara panik.


"Udah dulu yah, Gue matiin. Ada Kak Adnan, soalnya mau makan malem"


"Iya" Abi membalas terlebih dahulu.


"Yaudah"


"Bye"


Bara mematikan telfonnya, lalu langsung mematikan ponsel. Bara meletakkan ponselnya diatas meja.


Bara duduk tenang, mencoba rileks. Semoga Adnan tidak memarahinya karena bermain ponsel, Karena ini sudah waktunya makan malam.


Adnan hanya melirik Bara sebentar, ia duduk di kursi dengan santai.


Bara menghembuskan nafas lega.


Tak lama semua anggota terkumpul di meja makan satu per satu.


Mereka semua mulai makan malam dengan tenang.


Setelah selesai, Semuanya berpindah posisi ke ruang keluarga seperti biasa.


Bara langsung mengambil alih remot TV, ia tak ingin remot itu diambil duluan oleh Revan.


"Gimana hari ini? Menyenangkan?" Tanya Aditnya pada keluarganya.


Semua mengangguk, Syifa langsung berucap menyeritakan kencannya dengan antusias.


Semuanya gemas dengan wajah imut Syifa.


"Syifa tadi pagi Jogging, lalu jalan-jalan dan makan di cafe"


"Pokoknya asyik deh, gak bakal Syifa lupain"


Aditnya mengangguk dan tersenyum dengan kebahagian putrinya.


"Oh iya tadi Mommy ketemu sama seorang gadis, seumuran Princess kayaknya"


"Bener Mom?" Syifa bertanya riang.


"Iya"


"Terus?" Balas Adnan singkat.


"Ck!"


Vina berdecak dengan tanggapan Adnan.


"Lanjutkan" lerai Aditya.


"Mom gak sengaja nabrak gadis itu, terus karena Mom gak enak, Mom ajak makan malam di sini"


"Gak papa kan?" Tanya Vina memastikan tidak ada yang keberatan.


"Gak papa"


"No Problem" Ujar Revan antusias.


Ia senang ada cewek yang bakal berkunjung ke sini. Setidaknya ia bisa berkenalan dengannya. Ia yakin Cewek itu bakal terpesona dengan ketampanannya.


"Gak papa, Sayang. Malah bagus nambah teman buat Princess" Balas Aditya tersenyum menatap Istrinya.


Aditya beralih fokusnya pada Syifa.


Syifa mengangguk cepat, "Iya, gak papa dong"


"Namanya siapa Mom?" Tanya Revan.


Tingkat kekepoan Revan sudah meronta-ronta.


"Namanya Ca- Caesa kalo gak salah" Vina lupa-lupa ingat dengan nama gadis yang ia temui di Mall.


"Cae- Caesa yang itu bukan sih?" Ucap Syifa pelan, ia menduga-duga.


"Kenapa Sayang?" Tanya Vina melihat Syifa seperti berfikir keras.


"Enggak ada apa-apa kok, Mom" Syifa nyengir tidak jelas.


Syifa enggan menjelaskan lebih lanjut, biarlah ia memendamnya sendiri.


Padahal sesuatu yang dipendam sendiri itu tidaklah baik, terkadang sungguh menyakitkan, ditambah menyesakkan.

__ADS_1


Sebagai contoh, menangis. Jika menangis ditahan-tahan seperti menangis tanpa suara, itu lebih menyakitkan dari pada menangis meraung-raung.


__ADS_2