Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 45


__ADS_3

Caesa bersiap pergi ke Rumah Sakit.


Kini Caesa sudah berdiri didepan Rumah Sakit Sakura. Rumah Sakit umum, dengan gedung bertingkat empat lantai.


Caesa memasuki Rumah Sakit, ia duduk menunggu antrian.


Ada beberapa nama sebelum dirinya dipanggil.


Penampilan Caesa menggunakan baju casual yang terlihat santai, ia menggunakan masker untuk menutupi wajahnya.


Seorang perawat tiba-tiba bersuara memanggil nama Caesa, "Caesa Ayura"


Caesa mendongak, lalu mengangguk singkat.


Perawat itu mempersilakan Caesa untuk masuk ruangan.


Sekitar setengah jam kemudian, Caesa keluar dengan membawa sebuah amplop ditangannya.


Caesa berjalan menunduk, ia tidak ingin ada orang lain yang mengenali dirinya.


Caesa pulang ke rumah, ia mendengus kasar saat mendapati Papanya sedang duduk berdua dengan seorang wanita asing.


Caesa tak heran, papanya sering gonta-ganti membawa wanita yang berbeda-beda. Nyokap dan bokapnya lebih mementingkan ego masing-masing. Hubungan keduanya sudah hampir diambang perceraian.


Tapi, sampai sekarang tak ada kabar soal perceraian itu, entahlah. Ia sudah tak peduli lagi.


Terserah mereka mau bagaimana, mau selingkuh berkali-kali, mau cerai, atau mau nikah lagi pun Caesa tak akan ikut campur.


Caesa masuk ke kamarnya tanpa menatap kedua insan yang sedang duduk bermesraan.


Caesa duduk diranjang, ia membuka amplop, yang tertera nama Rumah Sakit Sakura dan nama lengkapnya.


Ia mulai membaca isi surat itu, dan ia menatapnya lama tanpa ekspresi. Sebuah memori melintas, mengingat momen dua tahun lalu.


Dua tahun lalu, dimana ia masih duduk dibangku SMP kelas 8.


Flashback Mode On


Seorang gadis berjalan riang, dia melangkah mendekati seorang cowok yang juga sama sedang berjalan didepannya.


Gadis itu melihat cowok itu yang berjarak beberapa langkah darinya.


Ia melihat cowok itu menghampiri motornya, seakan tahu kalau cowok itu akan segera pergi. Gadis itu berlari mendekati cowok itu yang sudah duduk diatas motornya.


Cowok itu mengangkat helm untuk ia pakai. Tangannya terhenti di udara saat ada sebuah tangan mungil yang menggenggam lengan kokohnya.


"Tunggu!"


Nafas gadis itu terlihat ngos-ngosan karena baru saja berlari.


"Ya?" Jawab Cowok itu.


"Gue mau"


Cowok itu mengerutkan dahinya, tanda ia kebingungan dengan maksud gadis didepannya.


"Hah?!" Cowok itu masih kebingungan.


"Ngomong yang jelas!" Sentak si cowok sedikit keras.


Gadis itu terkejut, lalu cepat-cepat membuka suaranya.


"GuemaungomongkalauGuesukasamaLo" Ucapnya dengan cepat tanpa spasi.


Cowok itu terdiam mencoba meresapi kata-kata yang masuk kedalam pendengarannya. Semoga ia tak salah dengar.


"Lo suka sama Gue?"


Gadis itu tersenyum lalu mengangguk antusias. Akhirnya ia bisa mengungkapkan perasaan yang sebenarnya didepan orangnya langsung.


Cewek itu merasa lebih lega setelah mengungkapkan perasaannya pada cowok itu.


Tapi sekarang ia gugup dengan balasan cowok itu nanti. Akan menerima atau menolak cintanya.


"Sorry, Gue udah suka sama cewek lain"


Deg


Jantungnya berdetak lebih cepat, bahkan tidak karuan saking cepatnya.


Hatinya mencelos mendengar kalimat itu keluar dari bibir cowok yang ia sukai diam-diam.


Bahkan ia menyukai cowok itu sejak pertama kali memasuki sekolah ini, lebih tepatnya saat kelas 7.


Tak menyangka kalimat sederhana itu sangat menyakiti hatinya.


Matanya berkaca-kaca, bahkan air itu sudah tumpah dari pelupuk matanya.


"G-gue.." Ucap cewek itu terbata-bata.


"Maaf, Caesa"


Setelah mengucapkan itu, cowok itu segera memakai helm dan menyalakan mesin motor.

__ADS_1


Dia segera pergi malajukannya meninggalkan Caesa yang berdiri di tengah parkiran dengan lelehan air mata dipipinya.


Caesa menangis sesenggukan karena baru saja ditolak oleh cowok yang notabennya adalah cinta pertamanya.


Rasa sakit sungguh menggerogoti hatinya.


Caesa menghapus air matanya dengan kasar. Ia benci situasi ini.


Ia benci ditolak, apalagi cintanya ditolak karena cewek lain.


Ia benci cewek itu, Caesa bertekad akan mencari tahu siapa cewek yang disukai oleh cowok gebetannya.


Caesa pulang dengan keadaan mata sembab dan pipi memerah.


Air mata itu kembali jatuh saat matanya melihat pandangan didepan.


Kedua orang tuanya berdebat, saling mengeraskan suara bahkan sampai berteriak.


Caesa menutup telinganya lalu berlari kekamar dengan lelehan air mata yang tak pernah berhenti mengalir.


Caesa menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, ia tengkurab, wajahnya ia taruh diatas bantal. Ia menangis meraung-raung tetapi suaranya teredam oleh bantal.


Caesa memukul bantal dan guling miliknya, ia kesal, marah, sedih, benci, semua campur aduk dalam emosinya.


"Kenapa ini semua terjadi sama Gue? Hiks hikss.."


"Gue salah apa?"


"Hiks hikss"


Caesa menangis tergugu dengan rambut berantakan, matanya pun bengkak karena terus-terusan menangis.


"Gue benci hidup Gue"


"Gue benci Lo Dandy!!"


Mata Caesa berkilat kebencian, tapi itu tak bertahan lama. Karena matanya kembali mengeluarkan air mata yang kurang ajar menerobos keluar tanpa permisi.


"Gue gak mau dilahirkan kalau hanya ini yang Gue dapat" Gumam Caesa lirih.


Menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.


"DUNIA GAK ADIL SAMA GUE!!!"


Caesa berteriak nyaring, disusul dengan tangisan yang memilukan. Karena lelah dengan menangis terus-menerus, ia pun tanpa sadar sudah tertidur pulas walau kadang sesenggukan karena masih terbawa dengan rasa sedih.


Keesokan harinya.


Caesa bangun dengan kepalanya yang terasa begitu sakit, ia pusing. Matanya pun sulit sekali untuk terbuka.


Tangannya mengucek kedua mata yang terasa berat untuk sekedar membuka mata, ia yakin matanya pasti bengkak karena menangis semalaman lalu langsung tertidur. Itu malah menambah bengkak dimatanya.


Menurunkan kakinya dari atas ranjang, ia melangkah menuju meja rias. Melihat pantulan dirinya sendiri didepan cermin.


Menyedihkan!


Jelek!


Ya, itu dua kata yang pantas menggambarkan keadaan dirinya yang jauh dari kata baik-baik saja.


Caesa melengos, ia enggan melihat penampilan dari dirinya sendiri.


"Gue udah cocok jadi Sadgirl" Tangannya meraih handuk di lemari.


Caesa memasuki kamar mandi dengan handuk ditangannya.


Beberapa menit, Caesa keluar dari kamar mandi sudah berpakaian sekolah seragam SMP.


Ia harus tetap masuk sekolah, walau keadaannya tidak baik.


Kalau soal fisik, Caesa masih kuat untuk beraktivitas. Tapi lain dengan mental dan hatinya.


Caesa memakai kaca mata hitamnya, untuk menutupi mata bengkaknya.


Caesa keluar kamar dan pergi sekolah tanpa sarapan. Sudah terbiasa begitu.


Tanpa pamit dan tanpa sarapan.


Boro-boro sarapan, dimeja makan tidak tersedia apapun yang bisa ia makan atau minum. Mejanya bersih dari gelas dan piring.


Mamanya tidak pernah menyiapkan sarapan lagi sejak beberapa bulan yang lalu. Dimana itu adalah puncak konflik rumah tangga yang menimpa Papa dan Mama Caesa, Raka dan Sina.


Caesa sekolah seperti biasanya, ia mendapati pertanyaan yang sama dari beberapa teman sekelasnya. Yang menanyakan alasan ia memakai kaca mata hitam didalam kelas.


Temannya yang lain ada kok yang memakai kaca mata, tapi itu adalah kaca mata minus.


Beda dengan kaca mata yang sedang dipakai Caesa. Itu adalah kaca mata warna gelap yaitu hitam, yang biasanya digunakan untuk bersantai, shopping, holiday, dan travelling.


Tentunya, kaca mata itu tidak cocok sama sekali digunakan didalam kelas, tapi Caesa menjawabnya dengan santai kalau dia lagi sakit mata.


Kenyataannya memang begitu, matanya bengkak dan sakit, tapi lebih sakit terasa pada hatinya.


Hatinya yang terisi dengan cinta untuk seseorang, tapi seseorang itulah yang menghancurkan cinta itu.

__ADS_1


Hati dan cinta yang masih utuh, sekarang telah hancur melebur.


Setelah pulang sekolah, Caesa berjalan mengendap-ngendap dan bersembunyi di balik tembok. Ia mengawasi pergerakan cowok yang ia sukai, walau ditolak.


Ia benci mengingat saat dimana ia ditolak, tapi yang paling penting sekarang adalah, ia harus mendapatkan info tentang cewek yang Dandy sukai.


"Gue harus ikutin dia"


Caesa mengikuti kepergian Dandy, ia menaikki ojek online.


"Bang, ikutin motor merah itu"


Caesa menunjuk motor ninja warna merah didepan sana.


"Tapi harus sesuai aplikasi"


"Nanti Saya bayar lebih, udah cepetan nurut aja Bang kenapa sih?!"


Si Abang ojol pun mengangguk menyetujui permintaan pelanggan dengan pasrah.


"Oke-oke Neng"


Caesa mengerutkan alisnya, ia melihat Dandy menghentikan motornya didepan sebuah cafe.


"Apa dia mau kencan disini?"


Ia mendengus kesal jika apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.


"Ini Bang uangnya, makasih"


Caesa turun dan menyerahkan uang ongkos ojek itu.


Caesa mencari posisi terdekat yang bisa untuk menguping nantinya.


Dandy turun dari motornya, menghampiri seorang gadis, yang berpakian seragam pelayan cafe.


"SYIFA!" Panggil Dandy dengan suara keras.


Gadis bernama Syifa itu menoleh dan membalikkan badan.


"Iya?"


"Lho Dandy?" Lanjut Syifa yang terkejut mengetahui Dandy yang memanggil namanya.


"Iya Gue" Dandy menyengir untuk menghalau rasa gugupnya.


"Gue mau ngomong sesuatu sama Lo"


"Ngomong apa?" Tanya Syifa penasaran.


"Gue s-suka sama Lo, Lo mau gak jadi pacar Gue?"


Pernyataan Dandy yang mengungkapkan rasa cintanya pada Syifa.


Caesa yang melihat itu dengan mata kepalanya sendiri, mengepalkan kedua tangannya. Dari sorot matanya terpancar kebencian pada sosok didepannya.


Caesa langsung pergi tanpa mendengar kelanjutannya, tanpa mendengar jawaban Syifa atas pernyataan cinta Dandy.


Caesa tidak tahu menahu bagaimana balasan Syifa atas rasa cinta Dandy.


Disitulah kebencian Caesa timbul kepada Syifa. Padahal Caesa tidak tahu, kalau Syifa sudah menolak cinta Dandy dengan halus.


"Eum, maafin Syifa ya Dandy, Syifa gak bisa nerima Dandy"


"Syifa mau fokus sekolah sama kerja, biar bisa bantu Bunda Rani dan adik-adik di Panti" Syifa lanjut menambahkan.


Dandy menunduk, ia sedih dan juga sakit.


Ternyata sebuah penolakan begitu terasa menyakitkan, pantas saja saat ia menolak beberapa cewek termasuk Caesa, mereka semua dengan spontan langsung menangis mengeluarkan air mata.


Sakitnya gak main-main coy.


Dandy mengangkat kepalanya dan mencoba tersenyum, seolah-olah ia baik-baik saja terhadap penolakan halus dari Syifa.


"Gak papa kok, Gue ngerti"


Syifa tersenyum manis, ia lega. Syifa kira Dandy akan marah-marah karena sudah ia tolak cintanya.


"Sekali lagi maafin Syifa"


"Iya, Gue maafin" Balas Dandy tersenyum manis.


Syifa pun tersenyum manis melihat senyuman tercipta dibibir Dandy.


"Syifa duluan ya, mau kerja dulu"


Dandy mengangguk, "Iya, semangat kerjanya"


"Makasih, bye"


"Bye" Balas Dandy, ia tersenyum miris melihat kepergian Syifa yang sudah memasuki cafe.


Dandy pun pergi mengedarai motor ninjanya dengan kecepatan diatas rata-rata alias mengebut.

__ADS_1


Itu adalah sebuah pelampiasan dari perasaannya.


Flashback Mode Off


__ADS_2