Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 71


__ADS_3

Bara berjalan disepanjang lorong kampus, banyak tatapan kaum hawa yang tertuju padanya. Semuanya adalah tatapan kekaguman, tapi tak dihiraukan Bara.


Bara lebih fokus melihat layar ponselnya, di pundaknya terdapat tas punggung berisi laptop dan alat tulis lainnya.


"Bara!!"


Bara menoleh ketika seseorang memanggilnya, "Oh Genta, kenapa?"


Bara melanjutkan langkahnya, Genta mencoba menyamai langkah Bara agar dapat bersisian.


"Lo mau langsung pulang?" Tanya Genta melirik Bara di sampingnya.


Bara mengangguk, "Iya, capek banget Gue pengin langsung tidur"


Tak ada balasan lagi dari Genta, mereka berjalan tanpa membuka pembicaraan lagi.


Bara yang selesai dengan ponselnya segera menyimpan ponsel di saku celananya, tiba-tiba tatapannya melihat siluet Abi.


"Abi tunggu!!" Seru Bara berteriak.


Genta mengernyit heran, tapi tetap mengikuti Bara yang berlari menghampiri Abi di parkiran motor.


"Ada apa?" Tanya Abi tak sabaran.


"Lo mau kemana buru-buru amat?" Tanya Bara merasa aneh dengan gelagat Abi yang tergesa-gesa.


"Gue mau jemput seseorang"


Bara dan Genta saling berpandangan, siapa kira-kira seseorang yang bakal di jemput Abi?


"Siapa?" Tanya keduanya kompak.


Abi tak langsung menjawab tetapi ia menaiki motornya dan lekas memakai helm. Membuka kaca helm sebentar lalu berucap, "Seseorang yang Gue maksud itu, Adek Lo!"


Setelah berucap seperti itu, Abi menjalankan motornya lalu menutup kaca helmnya.


Bara melotot, "Apa maksud Lo Bi! Abi!!"


Tak ada tanggapan karena motor Abi sudah menjauh.


"Sialan!"


Genta tertawa, "Kasian, Lo yang sebagai Kakaknya gak dianggap. Abi gak izin kan mau jemput Adek Lo? Hahaha!"


Bara mengumpat atas ucapan Genta yang sialnya benar adanya.


"Awas kalo Abi macem-macem sama Adek Gue!"


Genta meninggalkan Bara menuju parkiran mobil yang tak jauh dari parkiran motor. Berdiri di dekat mobil Bara terparkir.


"Bara cepetan Lo mau pulang apa kagak?!!" Genta berteriak memanggil si empu yang punya mobil.


Bara berjalan mendekat dengan muka masam, "Lo ngapain di situ hah?!"


"Hehe, Gue nebeng Lo ya" Genta cengengesan tak jelas.


Bara mendengus, "Nyusahin Lo!"


"Sama sahabat sendiri juga, jangan pelit-pelit!"


Bara diam, ia mengklik tombol kunci dan otomatis mobil berbunyi tanda kunci terbuka, lalu membuka pintu dan di susul Genta yang duduk di sampingnya.


Genta melirik wajah Bara yang masih terlihat kesal.


"Udahlah Bar, Abi kan berniat baik mau jemput Adek Lo!"


"Gue yakin pasti Adek Lo selamat sampe rumah"

__ADS_1


"Hmm" Balas Bara singkat, hanya sebuah deheman. Genta menghela nafas, biarlah suka-suka Bara saja.


••••


Di balik kaca helm full facenya, Abi melihat Siluet gadis yang duduk di bangku halte dekat Winata High School.


Abi menghentikan motornya tepat di depan gadis itu, ia turun setelah melepaskan helm dari kepalanya.


"Hai" Sapanya pada gadis itu.


"Hai Kak Abi!" Balas gadis itu riang.


Abi menatap intens gadis yang sedang duduk didepannya.


Syifa menatap Abi dengan pandangan polos, ia tak mengerti kenapa Abi, Sahabat Kak Bara menatapnya sedemikian intens.


"Udah nunggu lama?" Tanya Abi akhirnya membuka suara.


"Belum lama kok, Kak" Balas Syifa sambil bergeleng pelan.


"Ya udah, yuk Kakak anter pulang"


Syifa mengangguk lalu berdiri.


Abi meraih tangan Syifa untuk ia genggam, menariknya pelan menuju motor yang terparkir di depan halte.


Di halte hanya tersisa Syifa seorang, murid lain sudah pulang lebih dulu dengan jemputan atau angkutan umum.


Abi memakaikan helm yang ukurannya lebih kecil dari miliknya sendiri ke kepala Syifa.


Syifa menerimanya dengan senang hati. Setelah itu, ia naik dengan di bantu Abi tentunya.


Motor melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan Jakarta yang kali ini tidak terlalu padat.


Selama perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi. Syifa yang tak ingin menganggu Abi yang sedang fokus menyetir.


Abi melajukan motornya memasuki pelataran halaman luas Mansion Syifa. Syifa turun perlahan setelah motor berhenti melaju.


"Hati-hati" Peringat Abi.


Syifa menyerahkan helm pada Abi yang masih duduk diatas motor.


"Makasih ya kak, udah anter Syifa sampe rumah"


"Sama-sama"


"Mau mampir dulu Kak?" Tawar Syifa dengan senyuman manis.


Abi terlihat berpikir sejenak, "Enggak dulu deh, kapan-kapan Kakak main ke sini"


"Oke kak" Syifa mengangguk sambil membenarkan tas di gendongan pundaknya yang melorot.


"Sana masuk, di cariin Mommy kamu nanti"


"Iya, Syifa masuk dulu. Kak Abi pulangnya hati-hati yah, dadah!"


Abi tersenyum dan membalas lambaian tangan Syifa.


Setelah melihat Syifa masuk dan hilang di balik pintu, Abi melajukan motornya untuk pulang.


Abi mentlakson ketika melewati Pak satpam dan di balas anggukan serta senyuman Pak satpam rumah Syifa.


...••••...


Setelah mengantar Genta pulang, Bara pun segera melajukan mobilnya untuk pulang. Tubuh dan otaknya sudah sangat lelah dengan urusan kuliah.


Bara mengejar mata kuliahnya agar cepat selesai dan lulus dengan cepat.

__ADS_1


Bara ingin cepat-cepat bisa bekerja dan dapat memberi Syifa apapun sesukanya jika ia telah memiliki uang sendiri.


Ia tak mau terus-terusan memakai uang orang tuanya.


Tak terasa Bara sampai di depan rumahnya, Bara mendapat sapaan dari Pak satpam rumahnya.


"Baru pulang, Den?".


"Iya Pak" Balas Bara singkat, Pak satpam pun memaklumi hal itu. Sudah hal biasa jika lelaki keluarga Winata ini sering berbicara singkat dan seperlunya saja, tak suka basa-basi.


Bara memarkirkan mobil di depan, bukan di garasi. Biarlah Pak satpam yang mengurusnya nanti.


Bara berjalan dengan menenteng tasnya ogah-ogahan, ia seperti tak ada semangat. Lagi pula moodnya sedang tak baik sekarang.


"Selamat datang Kak Bara!!"


Bara terkejut menerima sapaan mendadak dari Adiknya ini.


Tak lama, senyuman pun terbit di wajah keruh Bara yang sekarang berganti wajah cerah.


Bara memeluk tubuh mungil Syifa dengan erat, Syifa membiarkan Kakaknya memeluk  hatinya.


Bahkan tubuhnya di goyangkan ke kanan dan ke kiri bergantian.


Tangan mungil Syifa mengelus punggung lebar Bara dengan lembut, kepalanya masuk ke dalam dada bidang Bara yang hangat.


Tas Bara yang tadi ia bawa pun sudah tergeletak tak berdaya di lantai.


Syifa terkikik pelan dengan tingkah Kakaknya ini.


"Mau peluk Syifa berapa lama lagi?" Tanya Syifa di sertai tawa.


"Gak mau, jangan di lepas!"


"Kakak mandi dulu sana, habis itu makan. Syifa juga belum makan"


Bara melepaskan pelukan, "Kamu belum makan?!"


Syifa menggeleng, "Nanti makan bareng-bareng ya, Kak"


Bara menghela nafas, "Jam segini kok belum makan Baby" Suara Bara terdengar rendah.


Syifa meringis takut, "S-syifa nungguin Kakak pulang biar bisa makan bareng-bareng"


Bara menatap Syifa dengan tajam, "Tunggu Kakak mandi bentar. Kamu ke meja makan dulu"


Syifa mengangguk antusias lalu berlari ke meja makan dengan cepat, Bara ingin memperingati Syifa agar tak berlari tapi terlambat karena Adiknya sudah duduk di kursi meja makan.


Bara dengan cepat memungut tas yang tadi ia jatuhkan di lantai, lalu berjalan menuju kamarnya untuk mandi.


Syifa duduk dengan nyaman di kursi meja makan sambil melihat-lihat apa saja yang tersaji di meja makan.


Tak berapa lama, Bara datang menghampiri ruang makan.


"Mommy kemana? Kok gak kelihatan dari tadi"


"Kata Bibi, Mommy nyusul Daddy buat nganter makan siang. Tapi sampai sekarang belum balik" Balas Syifa tanpa menatap lawan bicara karena sudah terhiur akan aroma makanan di depannya.


Bara terkekeh, "Udah laper ya, Baby"


Melihat anggukan dari Syifa, segera Bara menuangkan dua centong nasi dan lauknya ke dalam piring. Lalu menghidangkannya di depan Syifa.


Tatapan Syifa berbinar, "Syifa makan ya Kak"


"Iya, makan yang banyak. Biar cepet gede"


"Ish!" Syifa manyun karena ledekan Bara padanya. Di tambah suara tawa Bara yang terdengar menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2