
Syifa pagi-pagi sudah duduk tenang ditempat duduknya. Bahkan Lita dan Nisa sudah datang ke sekolah. Hanya Ana saja yang belum berangkat.
Bukan Ana saja sih, tapi masih banyak yang lain yang belum berangkat ke sekolah. Karena ini masih terlalu pagi.
Syifa berangkat pagi karena hari ini adalah jadwal piketnya, walau hanya menghapus papan tulis, lumayan lah.
Sedangkan Lita dan Nisa, mereka juga sama hari ini jadwalnya piket. Mereka berdua sedang menyapu kelas disertai acara menggosip.
"Fa, Lo udah piket?" Tanya Bagas pada Syifa yang sedang duduk dengan sebuah buku diatas meja, dan sebuah pulpen ditangan kanannya.
Syifa mendongak menatap Bagas, sang ketua kelas yang sedang mengawasi anggotanya untuk melaksanakan piket.
Syifa mengangguk, "udah kok, Syifa udah piket tadi, hapus papan tulis"
Bagas membuka mulutnya lalu mengatupkannya lagi. Ia tidak jadi berbicara, juga tidak berani.
Lagian sekolah ini juga milik Winata. Jadi, ya sudah lah. Sebenarnya Syifa sudah di wanti-wanti untuk tidak perlu melaksanakan piket. Tapi dasarnya Syifa yang tidak enakan, ia tetap melakukannya.
Syifa tidak enak dengan teman-temannya. Masa yang lain piket, dirinya tidak melakukan apapun.
Bagas kembali mengawasi yang lain, agar tidak lalai dari tanggung jawab untuk melaksanakan piket.
"Nisa! Gak usah gosip, masih pagi juga!" Bagas berucap tegas dan keras.
"Suka-suka Gue lah!" Nisa melengos menatap Bagas sinis.
"Nyapu yang bener!"
"Ini udah bener, kok!"
"Nyapu itu pake tangan, bukan mulut"
Nisa yang tidak terima, langsung mengangkat sapunya ke atas. Bagas langsung berlari keluar kelas karena takut kena amukan Nisa.
Apalagi memakai sapu, takut di pukul.
Nisa yang melihat Bagas kabur, ia ikut berlari mengejarnya. Ia harus dapat Bagas untuk ia cincang.
"AWAS LO BAGAS!!"
Anak sekelas pun seketika tertawa melihat aksi mereka. Lita menggelengkan kepalanya masih dengan tawanya, tangannya sampai memegang perut yang sedikit kram karena terus tertawa.
"Aduh.. aduh.. Gue kram nih hahaha.."
Syifa menoleh pada Lita dengan sisa tawanya yang sudah mulai mereda.
"Udah-udah Lita ketawanya, mending lanjutin piketmu aja, biar cepet selesai"
Lita pun mengangguk, ia mulai menghentikan tawanya, lalu menghembuskan nafas perlahan.
Tarik nafas lalu buang perlahan
Lita kembali melanjutkan menyapu lantai kelas yang berdebu karena sepatu-sepatu yang tidak bertanggung jawab, meninggalkan jejak begini.
Syifa melirik jam ditangan kirinya, "Kok, Ana belum dateng sih"
Syifa memasang raut sedih, lebih tepatnya ia sedang badmood. Tanpa adanya Ana, rasanya berbeda. Kurang afdol jika sahabat kita tidak bersama kita dikeadaan tertentu.
Bel berbunyi 5 menit lagi, tapi Ana belum masuk ke kelas. Syifa sungguh khawatir, takut Ana kenapa-napa.
"Semoga Ana baik-baik aja" Syifa menggigit jarinya cemas.
Dua menit kemudian, Syifa tersenyum lebar melihat kemunculan Ana yang berlari tergesa-gesa memasuki kelas.
__ADS_1
"Ya allah, Ana, Kamu kok baru dateng sih"
"Untung masih ada waktu tiga menit, sebelum bel"
Ana menetralkan deru nafasnya. Ia mengelus dadanya yang terasa sesak karena habis berlari. Rasanya seperti berlari marathon, capeknya gak ketulungan.
Syifa yang peka, ia memberikan Ana minum. Syifa membukakan tutup botol miliknya, lalu diberikan kepada Ana.
"Nih, minum dulu, Ana"
Ana meminum airnya dengan terburu-buru, setelah meneguk air itu, tenggorokannya sudah tidak terasa kering lagi.
Sekarang ia bisa menelan saliva dengan benar, "Ah, leganya" Ucap Ana dengan mengelus leher depannya.
Syifa menggiring Ana untuk duduk dikursi.
"Jelasin, kenapa Ana bisa telat"
"Aku telat tuh, karena Kak Sandi bangunnya kesiangan. Sedangkan Aku udah nunggu dari pagi-pagi buta"
"Aku telfonin dia berkali-kali, gak diangkat. Aku chat, gak dibales"
"Boro-boro dibales, dibaca juga kagak" Cerocos Ana dengan muka sebalnya.
Syifa menghembuskan nafas setelah mendengar cerita Ana, ia pikir Ana kenapa-napa atau dalam bahaya.
"Yang sabar ya, Kak Sandi pasti kelelahan"
"Kelelahan karena begadang main game iya!" Sewot Ana dengan mendengus.
Syifa tertawa kecil, sudah ia duga. Pastinya Kak Revan yang jadi teman mabar nya, gak salah lagi.
...●●●...
Mengisi perut adalah hal yang wajib, bahkan tidak boleh kelewatan.
"Bolos kuy" Ajak Revan pada kedua sohibnya.
Revan berbicara dengan suara berbisik, agar tidak kedengaran guru didepan.
Doni yang duduk didepan Revan dan Sandi, menolehkan kepala dengan hati-hati.
"Ayo aja Gue mah" Balas Doni dengan senyuman konyolnya.
"Kantin?" Tanya Sandi to the point.
"Iya kantin, asalkan gak ada guru pengawas aja" Balas Revan menjawab pertanyaan Sandi.
Sandi mengangguk.
"Gue pergi duluan" Ucap Revan singkat, lalu berdiri dari duduknya.
Revan berjalan menghampiri guru didepan yang sedang menulis materi di papan tulis.
"Pak" Panggil Revan.
Pak guru menoleh, "Ada apa?"
"Saya izin, mau ke samping"
"Samping?"
"Ngapain Kamu ke kelas sebelah, mau ngerusuh?" Lanjut Pak guru.
__ADS_1
"Eh, Bapak jangan nuduh-nuduh gitu dong"
"Ya terus?"
"Saya itu mau ke toilet, tapi karena toilet berada di samping kelas sebelah, jadi saya mau ke samping"
"Bener kan Pak?" Tanya Revan dengan wajah tanpa dosa.
Pak guru itu melirik Revan sinis, "Terserah Kamu lah, ya udah sana jangan lama-lama"
"Baik, Pak" Revan berjalan keluar kelas dengan melambaikan tangan pada teman-teman sekelasnya.
Anak-anak sekelas menatap iri pada Revan yang keluar dengan mudah, mereka paham kalau Revan keluar untuk membolos.
Revan sudah nangkring di kantin dengan Doni dan Sandi. Doni dan Sandi langsung menyusul Revan tadi yang keluar kelas lebih dulu. Mereka makan dan bermain ponsel sesuka mereka.
Revan dan Doni asik memakan makanannya dengan lahap, sedangkan Sandi memegang ponselnya, ia sedang membuka Instagram.
Melihat-lihat video lucu dan musik-musik populer.
Tiba-tiba Caesa datang bersama Zela dibelakangnya. Zela menatap Revan dengan malu-malu.
Doni tersenyum melihat Caesa berada didepannya, dengan kata lain Caesa duduk disamping Revan.
Zela juga tak mau kalah duduk disamping Revan yang satunya.
"Hai, Caesa" Sapa Doni dengan cengiran khasnya.
"Hai juga, Doni"
"Gue boleh gabung sini kan?"
Revan hanya mengangguk, ia masih asik dengan makanan dipiringnya.
"Boleh dong" Ucap Doni antusias.
Sedangkan Sandi mencibir pelan, "Udah duduk duluan, ngapain nanya boleh gabung apa kagak"
Caesa shock, ternyata cowok yang satu ini pintar sekali mulutnya, pedas kalo ngomong.
Caesa mengangkat bahunya cuek, ia tak peduli yang penting ia sudah duduk nyaman disini.
Zela sempat mencuri pandang pada Revan yang asik makan, sungguh ciptaan yang sempurna. Pahatan wajah yang indah, rahang tegas, hidung mancung, rambut hitam lurus dan lebat, tubuh kokoh, dada bidang, sungguh maha karya yang sempurna tanpa cacat.
Flashback Mode On
Caesa *menatap Zela yang duduk disebelahnya, ia menyenggol lengan Zela pelan.
Zela terkejut, ia langsung menoleh pada Caesa.
"Apa sih?"
"Ikut Gue bolos, yuk" Ajak Caesa tiba-tiba.
"Hah?" Zela tidak salah dengar, kupingnya masih berfungi kan? Kenap Caesa mengajaknya bolos.
"Ayo Kita bolos*"
"Mau ngapain Kita bolos?"
"Palingan juga gabut" *Lanjut Zela dengan cibiran.
"Lo kenal Revan?"
__ADS_1
"Ya kenal lah*"