Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 42


__ADS_3

Siang ini Syifa sudah pulang sekolah diantar oleh Alfa. Alfa memiliki waktu luang untuk menjemput kekasihnya.


Syifa tentunya senang, Alfa bisa menjemput dirinya.


"Gimana sekolahnya, yang?"


"Baik, paling tugasnya yang semakin hari semakin banyak" Syifa tertawa atas ucapannya sendiri.


Alfa tersenyum tipis, "Kalau Kamu kesulitan, bisa minta tolong sama Aku. Insyaallah bakal Aku bantuin, yang"


"Enggak deh"


"Kok gitu?!" Alfa berucap cepat.


Alfa protes karena penolakan Syifa barusan.


"Bukannya Aku gak mau, cuman dirumah juga ada Kakak Aku, Aku bisa minta ajarin Kakakku"


"Tapi kan Aku juga bisa!"


Alfa cemburu, ia merasa tersingkirkan oleh kakak-kakak Syifa.


Syifa mengelus lengan Alfa yang mencengkram stir mobil, mencoba meredakan rasa kesal dalam diri Alfa.


"Maksud Aku bukan itu"


"Terus apa?!" Balas Alfa sewot, alisnya menukik karena kesal.


Syifa tersenyum geli, seorang Alfa kalau sedang merajuk terlihat lucu.


"Maksud Aku tuh gini,"


Syifa menjeda ucapannya, ia melirik wajah Alfa yang lempeng-lempeng saja, tanpa ekspresi.


Akhirnya ia kembali melanjutkan ucapannya, "Aku penginnya Kita hanya menikmati waktu berdua, tanpa memikirkan tugas-tugas ataupun yang lainnya"


Alfa menahan senyumannya.


"Aku pengin, Kita gak diganggu sama hal lainnya. Khusus waktu Kita berdua"


"Jadi, Aku bakal minta tolongnya sama Kakakku aja"


Alfa tak bisa menahan senyumnya lagi, Akhirnya ia tersenyum dengan lebar. Sampai matanya hampir hilang, saking lebarnya ia tersenyum.


Syifa ikut tersenyum juga, akhirnya Alfa tidak lagi ngambek.


"Sekarang Aku tau" Ujar Alfa dengan senyumannya.


"Tau apa?" Syifa penasaran, apa yang ingin disampaikan Alfa.


"Kalau Kamu penginnya," Alfa menunjuk Syifa dengan jari telunjuknya.


"Ha?"


Syifa bingung, maksudnya apa sih?


"Kamu penginnya, Aku hanya tertuju padamu, bukan yang lain"


"Kamu gak pengin Aku beralih ke yang lain kan?"


"Iya, kan?" Goda Alfa pada Syifa.


Syifa memalingkan wajahnya ke samping mobil. Pipinya memanas, pasti pipinya sudah memerah merona.


Alfa mencolek dagu Syifa, ia makin gencar mengoda Syifa.


Syifa menepis tangan Alfa dari dagunya. Bibirnya cemberut masam, sedangkan Alfa tertawa senang berhasil menggoda Syifa.


Tangan Syifa bersidekap didada, ia kesal, bibirnya mencebik.


Bukannya jelek, ia malah terlihat semakin menggemaskan.


"Maaf sayang" Tangan Alfa mengelus kepala Syifa, tangan satunya masih menyetir.


Syifa masih diam, ia mempertahankan aksi ngambeknya.


Tak lama mobil Alfa sampai di depan Mansion Syifa, Alfa melajukan mobilnya memasuki Mansion.


Alfa menghentikan mobilnya, "Yang"


"Sayang"


Syifa tetap diam.


Alfa yang gemas melihat pipi Syifa pun menciumnya. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali.


Syifa tertawa, merasa geli dengan kecupan Alfa yang bertubi-tubi.


"Haha.. u-udah"


"G-geli udah ih"


Alfa pun menghentikan aksinya, "Jangan marah sayang"


"Udah enggak" Balas Syifa lugas.


"Nah, gitu dong"

__ADS_1


Syifa melepas sabuk pengaman, sebelah tangannya membuka pintu mobil.


"Iya, Syifa turun duluan ya. Kamu pulangnya hati-hati"


Syifa pun turun dari mobil dan menutup pintunya, Alfa segera menurunkan kaca mobil.


"Siap sayang, dadah"


Alfa menstater mobilnya dan putar balik.


"Dadah"


Alfa melihat Syifa yang melambaikan tangannya dari kaca spion.


Syifa berbalik, melangkah masuk kedalam Mansion.


Di dalam seperti ada tamu, bahkan terdengar suara tawa seseorang.


Syifa melangkah mengikuti arah suara itu, ia sampai di ruang keluarga.


Disana terlihat satu cewek dengan seragam yang sama seperti yang di kenakan Syifa.


Cewek itu tertawa lepas seperti sudah sangat akrab dengan Vina.


Vina yang pertama mengetahui keberadaan Syifa.


"Sayang, sudah pulang?"


Syifa mengangguk menanggapi pertanyaan Vina.


"Sini duduk dulu"


Syifa menurut, ia duduk di depan Vina dan cewek yang ia kenal.


"Princess kenalin, ini Caesa"


"Gadis yang Mommy ceritain tadi malem"


"Kita udah kenal Mom" Sela Caesa cepat.


"Mom?" Beo Syifa heran. Sejak kapan Caesa memanggil Vina dengan sebutan Mommy.


"Iya, Mom yang minta Caesa manggil dengan sebutan Mom"


Caesa tersenyum, entah senyuman tulus atau tidak.


Syifa mengangguk pelan atas penjelasan Vina.


"Caesa, Kamu gak satu kelas ya sama Syifa"


"Oh gitu"


Vina dan Caesa mengobrol dengan akrab, Syifa hanya memperhatikan tanpa terlibat dalam obrolan itu.


Syifa menghela nafas.


"Mom"


Syifa memotong obrolan mereka.


"Iya, sayang ada apa?"


"Syifa mau ke kamar dulu, ganti baju"


"Yaudah, jangan lupa mandi Sayang"


"Iya, Mom" Balas Syifa mengangguk.


Syifa melangkah menuju tangga.


Caesa menatap Syifa yang berjalan menjauh, memasuki kamar di lantai dua.


"Mom ke dapur dulu ya" Pamit Vina.


"Mau Caesa bantuin, Mom?"


"Eh, gak usah. Udah Kamu disini aja"


"Yaudah deh"


"Mom duluan ya, Kamu bisa nonton TV, itu remotnya" Tunjuk Vina pada sebuah remot diatas meja ruang keluarga.


"Iya Mom" Caesa mengangguk.


Vina tersenyum, lalu berjalan ke arah dapur.


Caesa melihat-lihat interior Mansion ini.


"Sungguh mewah" Ucap Caesa pelan dengan pandangan kagum.


"Enak banget yang bisa tinggal di rumah segede ini"


Pandangan Caesa jatuh pada remot didepan ia duduk.


"Mending Gue nonton TV aja deh, mumpung udah diizinin"


Caesa mengambil remotnya, ia pun menyalakan TV yang berukuran sangat besar.

__ADS_1


Sebuah SmartTV, yang bisa menghubungkan TV dengan Youtube, Netflix, dan aplikasi lainnya dengan menggunakan Wifi atau pun data seluler dari ponsel.


Saat Caesa sedang asik dengan acara TV, ia mendengar mesin mobil dari halaman depan. Sepertinya ada yang datang.


"Salah satu anggota keluarga ini kayaknya"


Dan benar saja, empat orang lelaki dengan usia yang berbeda memasuki Mansion.


Caesa memandang wajah-wajah rupawan itu dengan takjub.


Ia memang sudah tidak asing dengan wajah-wajah anggota keluarga Winata. Hanya saja saat melihatnya langsung, rasanya sungguh menyegarkan mata.


Dirinya merasa sangat beruntung, karena bisa melihat mereka secara langsung.


Mereka berempat berhenti, sama-sama menatap seorang gadis yang sedang duduk di sofa.


Caesa tersenyum semanis mungkin, semoga mereka terpesona dengan dirinya.


"Siapa?"


Itu suara Aditya, mewakili pertanyaan yang juga sama ingin diungkapkan oleh tiga putranya.


"Ouh" Caesa reflek berdiri.


Ia mencoba tersenyum dengan anggun, "Perkenalkan, Saya Caesa"


"Ouh" Balas Aditya mengangguk, ia baru ingat nama itu saat kemarin malam istrinya menceritakan sedikit tentang gadis itu.


Adnan dan Bara pergi berlalu tanpa pamit, mereka tak peduli. Yang mereka inginkan segera istirahat dan mandi, badannya sudah terasa lengket dan gerah karena keringat.


Aditya menggelengkan kepalanya melihat kedua putranya itu, "Tolong di maklumi ya, mereka memang gitu, dingin dan cuek sama orang yang belum kenal"


"Iya gak papa kok, Om"


Menarik, Batin Caesa.


"Saya pemit dulu ya, mau mandi" Ujar Aditya.


"Iya, silakan" Caesa mengangguk, dirinya sedikit gugup ditatap oleh lelaki tampan empat sekaligus tadi.


Setelah Aditya berlalu, Revan pun berjalan mendekat.


"Lo Caesa?" Tanya Revan yang sekarang berdiri didepan Caesa.


Caesa mengangguk, "Iya, Gue Caesa"


"Kenapa?" Lanjut Caesa, ia mendongak menatap Revan, karena Revan lebih tinggi darinya.


"Cewek baru, bener kan?"


"Iya, kok tau"


"Tau lah, Gue sahabatnya Doni. Lo masih ingat Doni kan?"


"Doni?" Caesa menerawang, mencoba menggali ingatannya.


"Ah! iya Gue ingat"


"Bagus" Revan mengangguk-angguk.


"Gue ke atas dulu ya, bye" Revan melambaikan tangannya dengan mengedipkan sebelah matanya genit.


Caesa kaget, ia tersenyum malu-malu atas kelakuan Revan barusan.


Waktu bergulir, Sekarang jam makan malam dipercepat. Karena kedatangan Caesa yang lebih awal.


Saat pulang sekolah Caesa langsung menuju Mansion, karena itulah ia lebih lama berada di sini.


Acara makan malam sudah dimulai, Vina dengan sigap mengambil piring untuk suaminya, ia mengisinya dengan nasi dan lauk.


Yang lain mulai melakukan hal yang sama. Tapi saat Caesa akan mengambil nasi, ia ditahan Vina.


"Biar Mom aja yang ambilkan"


Caesa tersenyum mendengarnya.


Syifa yang melihat itu hanya diam, lalu ia bersuara.


"Mom, Syifa gak diambilkan juga" Tanya Syifa pelan.


"Aduh, sayang. Kamu jauh duduk disana. Ambil sendiri aja ya" Vina hanya menggeser wadah nasi agar lebih dekat dengan tempat duduk Syifa.


Tadi, saat Syifa turun dari lantai atas. Ia melihat tempat yang biasanya ia duduki, sudah ditempati oleh Caesa. Katanya itu disuruh oleh Vina karena ingin lebih dekat dengan gadis itu.


Syifa menunduk, akhirnya ia mengangguk. Syifa berdiri mengambil centong nasi dan mengisi piringnya sendiri.


Caesa melihat Syifa menunduk dengan raut sedih. Ia tersenyum merasa menang. Tak disangka, Vina sekarang sudah ada dipihaknya tanpa paksaan.


Mereka semua makan dengan keadaan hening, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Mereka asik dengan makanannya, tanpa menyadari ada satu perasaan seseorang yang sungguh merasa diabaikan.


Mungkin mereka tanpa sadar telah mengabaikan dia, tapi biarlah ia memendamnya. Ia pikir ini mungkin karena ia yang sedang sensitif.


Semoga besok suasana hatinya sudah lebih baik.


Semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2