
Caesa pulang ke rumah dengan wajah lesu. Selain lelah karena materi di sekolah, ia juga lelah dengan keadaan orang tuanya.
Caesa membuka pintu dan di sambut dengan suara barang jatuh, tak salah lagi itu pasti ulah kedua orang tuanya yang tak ada habisnya dengan selalu bertengkar bila bertemu.
Lemparan demi lemparan barang terdengar memenuhi seluruh penjuru rumah, Caesa berdecak kesal.
Ia mencoba menulikan pendengaran dengan berjalan lurus menuju kamarnya.
Tapi itu tak mempan sama sekali, suara Mama dan Papa nya yang saling menyalahkan terdengar sampai telinganya.
"Berisik!!"
Percuma, mereka tak akan mendengar.
Caesa mengabaikan suara teriakan, kata-kata kasar, dan makian itu. Setelah menutup pintu kamar, ia membuang tas sekolah dan membanting tubuhnya di atas ranjang.
Ia menghela nafas sambil menatap langit-langit.
"Perceraian hampir di depan mata"
"Kayaknya Nyokap-Bokap Gue gak ada harapan mau akur dan baikan"
"Kalo perceraian itu terjadi, gimana nasib Gue nanti"
"Gak-gak, Gue gak mau hidup kesusahan. Gue harus cari cara buat bikin hidup Gue melejit di atas"
Caesa berpikir dengan mata menerawang, yang ada di pikirannya adalah cara bertahan hidup untuk lebih dari apa yang sekarang ia punya.
Tiba-tiba muncul bayangan keluarga Winata di benaknya.
Caesa terdiam, lalu tersenyum miring.
"Plan"
"Gue harus buat rencana"
...•••••...
Genta dan Abi duduk santai di bangku kantin. Mereka sedang menunggu seseorang, siapa lagi jika bukan Bara.
"Bara kemana sih?! Di tungguin dari tadi gak nongol-nongol!" Genta mengeluh karena lelah menunggu.
"Gak tau tuh anak kemana" Balas Abi lesu.
"Kita udah nunggu hampir satu jam lho"
"Coba Gue telfon deh"
Genta mengangguk setuju, Abi membuka kontak di ponselnya.
Abi menunggu telfon di angkat, karena sambungan masih berdering.
"Loudspeaker dong, Bi"
Abi mengangguk saja, tak lama sambungan di angkat oleh Bara.
"Hallo"
"Hallo Bar, Lo di mana woy! Kita nungguin Lo dari tadi"
"Sorry, Gue lupa ngabarin kalian"
"Ck, cepet ke sini!"
"Kan udah Gue bilang sorry, Gue gak bisa ke sana sekarang"
"Kenapa gak bisa?
"Gue lagi di perputakaan, cari materi tambahan"
"Sejak kapan lo di sana?" Kini Genta yang bersuara.
"Ouh ada Genta juga, kira-kira Gue udah dari satu jam yang lalu sih di perpus"
"Anj-astghfirullah!!" Abi dan Genta berucap serempak. Berniat mengumpat tapi tidak jadi, akhirnya hanya mengucap istighfar, harus sabar dengan kelakuan sahabat yang satu ini.
"Lo bener-bener ya Bar, bikin Gue emosi aja!! Lo gak tau kan Kita nunggu Lo dari tadi?! Kita udah lumutan buat nunggu Lo doang, tapi yang di tunggu malah lupa! Dasar lucknut!" Cerocos Abi panjang lebar.
Bara menghela nafas kena omel Abi, "Iya-iya sorry, maaf banget ya. Besok Gue traktir deh, Kalian mau apa?"
"Jam tangan Rolex Oyster Perpetual Black Dial Automatic Men's Watch" Ini Abi yang minta, dia lancar mengucapkan sebuah merek, padahal tidak mudah untuk di ingat.
"Smartphone Apple iphone 12 pro max 256 GB Gold" Genta pun ikut meminta.
"Kalian mau morotin Gue ya!"
"Terserah sih kalo gak mau kita maafin-"
__ADS_1
"Iya, Gue beliin buat kalian!!" Sela Bara cepat, sahabatnya ini di kasih hati minta jantung, eh bukan, udah di baikin tapi ngelunjak, ah sama aja lah.
"Nah gitu dong, Kita seneng Lo tenang"
"Tenang dari mananya anjim?!"
Tuut
Abi memutuskan sambungan telfon, mereka berdua tertawa ngakak karena berhasil membuat Bara naik pitam.
"Wuahahahaa, seneng banget Gue, Bara marah-marah, biarin dia cepet tua!"
"Biarin dia punya riwayat darah tinggi, jantungam, habis itu meninggal" Sahut Genta kejam.
Abi tertawa lebih keras dengan celetukan Genta yang gak ada akhlak.
...•••••...
Pagi menyapa, matahari pun bersinar terang, bahkan cahayanya sangat menyengat.
Syifa keluar dari Mansion lengkap dengan seragam dan tasnya.
"Eh!!"
Dia terkejut, sangat.
Karena melihat sosok lelaki yang berdiri di depannya dengan senyuman tampan.
"Kok, Kak Abi di sini?"
"Ouh nungguin Kak Bara ya, tapi Kak Bara udah berangkat-"
"Bukan"
"Terus?"
"Nungguin Kamu"
"Syifa?" Ia menunjuk diri sendiri.
Abi mengangguk, "Iya, berangkat yuk, Kakak Anterin" Ajaknya dengan mengulurkan tangan.
Syifa menatap uluran tangan Abi, ia ragu.
Setelah beberapa saat menimbang keputusan, "Baiklah"
"Kakak naik motor?"
"Iya, gak papa kan"
Syifa mengangguk cepat, "Justru Syifa pengin banget naik motor, tapi gak di bolehin" Ujarnya lesu di akhir kalimat.
Abi mengelus rambut Syifa lembut, "Kan sekarang bisa naik sama Kakak" di tambah senyum menenangkannya, sungguh pemandangan yang teduh.
Melihat senyum itu membuatnya teringat dengan Alfa, ia merindukan Alfa, sungguh. Tapi apa daya, Alfa sedang sibuk dengan urusan pekerjaan, jauh pula.
Tersadar telah melamun, ia membalas senyum Abi tak kalah ceria, ia begitu semangat akan menaiki motor.
Abi naik ke motornya dengan mudah, lalu ia membuka jaket hitamnya untuk di berikan kepada Syifa.
"Nih pakai!"
"Enggak dingin kok, cuacanya panas gini. Jadi gak usah kak jaketnya"
Abi tertawa lepas, lucu sekali gadis ini, "Bukan itu Fa, Jaketnya buat nutupin paha kamu. Apa mau di pamerin?" Abi menarik kembali jaketnya tetapi di tahan Syifa.
"Di pakai kok kak" Syifa merebut jaket itu, lalu melingkarkan di pinggangnya, tetapi ia kesusahan karena tasnya yang menghalangi.
"Sini Kakak bantu"
"Kalo susah itu bilang!"
"Hehe, maaf"
"Yaudah naik, cepet!"
"Sabar dong kak" Ucapnya cemberut.
Motor melaju dengan kecepatan sedang, Abi tak mungkin membawa motor dengan kebut-kebutan, bisa di kebiri Bara nanti. Apalagi Adnan, Kakak Syifa yang sangat menyeramkan itu, ihhh gak sanggup dia.
Tak ada percakapan selama perjalanan itu, hanya suara kendaraan juga tlakson yang berlalu lalang di jalan raya, pagi yang padat.
Sekitar tiga puluh menit, lumayan lama karena Abi pun menyetir dengan sangat lamban, mereka sampai di sekolah Syifa, gerbang menjulang masih terbuka lebar.
Syifa menghela nafas, selama perjalanan ia terus berharap agar ia tidak terlambat. Bagaimana ia tak berpikir begitu, karena Abi mengendarai motornya mirip dengan orang yang mengayuh sepeda, sangat-sangat lambat, macam siput, hadeuh.
Mau menegur tapi sungkan, yang bisa ia lakukan hanya pasrah duduk anteng dengan memandang pohon dan rumah sekitar yang ia lewati sepanjang jalan.
__ADS_1
Kaki mungilnya turun perlahan dari motor, tangannya berpegangan erat pada tangan besar Abi.
"Makasih kak!"
"Sama-sama, belajar yang rajin"
"Iya kak, Syifa rajin kok"
"Rajin apa"
"Rajin ngehalu"
"Yee itu mah gak penting"
"Penting tau kak"
"Buat apa"
"Penting buat kebahagian kaum hawa yang haus akan cogan" Seru Syifa dengan semangat.
Abi bergidik, tangannya menyentil dahi Syifa pelan, "Cogan mulu yang di pikirin"
"Biarin, yang penting happy"
"Iyain lah"
"Syifa masuk deh, makasih kak udah mau nganterin Syifa sekolah. Dadah Kak Abi" Tangannya melambai-lambai tanda perpisahan.
Abi mengangguk dengan senyuman lebar, "Dadah"
Setelah Syifa masuk dan hilang dari pandangan Abi, Abi segera menormalkan ekspresinya, bisa di bilang wajahnya datar.
Abi melajukan motor menuju kampusnya dengan kecepatan penuh, ia mengebut berbeda sekali saat ia masih memboncengkan Syifa.
...•••••...
Ana dan Nisa yang tak sengaja melihat kedatangan Syifa segera mendekat.
"Syifa, sejak kapan kamu punya jaket hitam gitu?" Tanya Ana penasaran.
"Iya, Modelnya kek Jaket cowok. Atau punya Kakak Lo?"
Syifa menunduk melihat pakiannya, ia menepuk jidat.
"Syifa lupa balikin jaket Kak Abi" Tangannya segera melepas ikatan jaket pada pinggangnya.
"Kok bisa?"
"Bisa lah, kan Syifa di anterin Kak Abi tadi"
...•••••...
Yang penasaran sama wujyd jam tangan Rolex nih, aku kasih gambaran, kalian bisa searching di google kok, semuanya bagus-bagus.
**Tuh kan, harganya aja melejit, uangnya bisa buat apa aja tuh ya segitu😍
Btw salfok sama bulu di tangan yang makai jam, pasti cowoknya macho banget, bulunya lebat tuh di tangan, wahahaha😂**
**Nih yang HP iphone, udah pada tau kali ya di antara kalian.
Semua harganya tuh bikin ngiler, tenang... kan Winata itu Holang Kaya, gak bakal bangkrut kok cuma beliin dua barang itu.
Kalian kalo mau, minta aja sama Mommy Vina, siapa tau bakal di beliin. Mommy Vina kan baik... mwuehehe😂😂
Oh iya aku kasih pertanyaan buat kalian, di jawab ya😉**
Please kalian pilih salah satu di antara ini ya
1. Aku Update episode panjang tapi lama, bisa seminggu lebih [Sibuk sama sekolah]
2. Aku update pendek tapi bisa tiga hari langsung up lagi [Di usahain bisa up tepat waktu]
Pilih ya guys, aku jadi merasa menyepelekan cerita yang aku buat karena respon kalian pun gak ada sama sekali, akhirnya cerita ini terbengkalai.
Semua readers pun pengin authornya up cepet, bisa sampe triple. Tapi aku masih anak sekolahan, tugas pun tiap hari dateng. Hari minggu pun kadang ada, guruku aesthetic banget😙
Kalian kalo merasa, aku udah lama banget gak up, chat aku ya, atau spam komen aja. Sebagai tanda pengingat. Itu pun kalo kalian mau😖
Aku mau ucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin😊
__ADS_1