Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 53


__ADS_3

Saat jam istirahat, Syifa segera keluar kelas dengan langkah cepat, membuat sahabatnya keheranan.


"Syifa mau kemana?!" Teriak Ana, Lita, dan Nisa kompak.


Syifa berhenti berlari dan membalikkan tubuhnya menghadap pintu kelas, dimana Sahabatnya sedang berdiri menatapnya penasaran.


"Syifa mau ke kantin" Ucap Syifa polos.


Ana memiringkan kepalanya, Lita yang melongo, dan Nisa yang melototkan matanya. Ketiganya heran, kenapa harus lari kalau tujuan mereka sama.


Syifa tak peduli dengan berbagai ekpresi dari mereka, ia melanjutkan larinya dengan riang menuju kantin.


"Syifa kenapa sih?!" Tanya Nisa mendengus.


Mereka berjalan santai untuk menyusul Syifa.


"Entahlah" Balas Lita menggedikkan bahunya.


"Syifa dengan tingkah ajaibnya" Ucap Ana dengan perumpamaan.


"Ajaib?!" Suara Nisa yang terdengar heran.


"Itu kan perumpamaan" Balas Ana membela dirinya sendiri.


"Ajaib kayak Jin. Coba kalau Gue punya lampu ajaib. Gue bakal ngajuin 3 permintaan" Ucap Nisa ngawur.


"Halu" Ucap Lita sadis.


Nisa melotot, ia tidak terima dengan ucapan Lita yang menyebalkan.


"LO MAU GUE JAMBAK?!!" Teriakan Nisa menggelegar memenuhi koridor.


Lalu Lita berlari dengan cepat agar dapat terhindar dari amukan Nisa.


Ana yang tertawa ngakak melihat ekspresi Nisa, wajahnya merah padam.


Nisa tidak mengejar Lita, hanya saja ia menghentakkan kedua kakinya kesal dan mendengus.


"Ketawa aja terus!!" Sahut Nisa dengan ketus.


Ana tak peduli dengan ucapan Nisa yang ketus, ia tetap melanjutkan tertawa.


Sampailah mereka di kantin, Di tempat duduk bagian ujung, Syifa sedang menukmati makanannya. Tak terlihat Lita di samping Syifa. Sepertinya Lita sedang sibuk memesan makanan.


"Syifa sendirian, berarti Lita masih pesen. Lo pesen sana!" Nisa memerintah Ana seenak jidat.


Mata Ana melotot menatap Nisa di sampingnya.


"Lo nyuruh Gue?" Tangan Ana menunjuk dirinya sendiri.


"Iya! Siapa lagi?!"


"Udah sana cepetan!" Lanjut Nisa, tangannya mendorong tubuh Ana untuk melangkah.


"Kagak usah dorong-dorong dong, sakit!" Balas Ana mulai sewot.


Nisa tak menghiraukan, ia berjalan meninggalkan Ana tanpa menoleh sedikitpun.


"Ya allah sabar, sabar" Ana menggelengkan kepalanya dengan tangan mengelus dada.


Ana dengan pasrah melangkah untuk memesan makanan.


...●●●...

__ADS_1


Syifa sudah pulang sekolah sejak satu jam yang lalu. Kini ia sedang rebahan dengan ponsel di genggamannya.


Membuka banyak aplikasi untuk sekedar mengisi kebosanannya. Akhirnya Aplikasi Youtube lah yang menjadi tontonannya paling lama.


Ia mensearch judul lagu K-pop, lagu-lagu dari idol kesukaannya. Matanya fokus menatap ponsel tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.


Bibirnya pun ikut mengembangkan senyum. Sebuah senyuman lebar terpatri di wajah Syifa.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu, Syifa mempause video Youtube-nya.


"Princess" Suara seseorang di luar kamarnya.


"Itu seperti suara Mommy"


Kepala Syifa menoleh ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.


"Iya Mom sebentar!" Balas Syifa dan bangkit berdiri.


Ia melangkah untuk membukakan pintu. Bunyi tanda kunci terbuka terdengar. Memang tadi Syifa sempat mengunci pintu kamarnya.


Pintu terbuka, terlihatlah Vina dan Caesa yang berdiri didepannya sekarang.


Alis Syifa mengernyit, "Ada apa Mom?"


"Kita masuk boleh?"


Bukannya menjawab pertanyaan Syifa, Vina malah mengajukan pertanyaan.


Syifa menganggukan kepala cepat, "Boleh kok, Ayo masuk"


Syifa mundur, memberikan keduanya akses untuk masuk ke kamarnya.


Syifa menatap keduanya dengan bingung, kira-kira ada apa ya?


"Duduk sini sayang" Ucap Vina menyuruh putrinya untuk duduk disebelah kirinya. Karena sebelah kanannya sudah ada Caesa.


Syifa menurut, ia mendudukkan dirinya di samping kiri Vina.


"Ada apa sih Mom?" Tanya Syifa yang sudah sangat penasaran.


"Begini, Caesa kan masih sakit, butuh pengawasan buat jagain dia. Jadi, Mom putuskan Caesa akan tidur di kamar Kamu ya"


"Hah?" Syifa melongo antara kaget dan tidak paham.


"Maksudnya, tidur bareng Syifa?" Syifa menanyakan itu ragu-ragu.


Kepala Vina mengangguk, Caesa hanya diam dari tadi.


Melihat Vina yang mengangguk membenarkan, membuat bahunya merosot tanpa sadar.


Entah kenapa sejak kedatangan Caesa di Mansionnya, ia merasa sedikit tidak suka. Seperti ada something tapi apa? Ia sungguh bingung.


"Eum.."


"Bolehkan Princess?" Ucap Vina dengan suara lembut, sedikit merayu untuk membujuk.


Menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan, ia mengangguk lesu.


Bibir Vina dan Caesa tersenyum lebar.


"Terima kasih sayangnya Mommy" Vina memeluk tubuh kecil putrinya.

__ADS_1


Syifa akhirnya tersenyum lebar mendapat sebuah pelukan dari Mommnya.


"Ya udah Mom tinggal dulu ya, Kamu Caesa habis ini langsung istirahat ya biar cepat pulih"


Caesa menganggukkan kepala pelan, "Iya Mom"


"Bagus" Ucap Vina puas.


"Mom ke bawah dulu"


"Siap Mom" Balas Syifa lebih cepat. Sedangkan Caesa hanya menganggukkan kepala.


Vina melangkah keluar kamar, setelah pintu tertutup, suasana di kamar itu berubah.


"Syifa mau lanjut nonton youtube ya" Ucap Syifa memulai percakapan di antara mereka.


Cesa hanya melirik sekilas lalu mengangguk, ia tetap diam tanpa sepatah kata.


Ponsel yang teronggok di atas ranjang, kembali Syifa raih. Melanjutkan acara streaming musik.


Kaki Caesa berjalan menuju sebuah soda berukuran sedang. Merebahkan tubuhnya di sana, ia memandang Syifa yang duduk di atas ranjang.


Matanya bergulir ke seluruh ruangan kamar, ia berdecak kagum dengan design interior yang sungguh memukau. Walau sangat terasa feminin, tapi tak menghilangkan aura elegan.


Lihatlah, langit-langit kamar aja di penuhi dengan hiasan, tak lupa barang-barang aesthetic memenuhi sudut ruangan.


Banyak boneka tertata rapi di rak khusus, meja belajar yang sungguh nyaman dengan lampu belajar, meja nakas terisi lampu tidur yang cantik, jam weker warna ungu dan merah muda.


Tiga lemari besar yang pastinya berisi pakaian-pakaian milik Syifa.


Sebanyak itu? Aih apalah Gue gak sebanding dengan kekayaan Winata. Tapi perbedaan itulah yang bikin Gue benci. Batin Caesa.


Mata Caesa memandang Syifa intens, matanya menajam seiring dengan rasa benci yang muncul ke permukaan.


Dulu Lo masih menengah ke bawah, beberapa tahun doang berlalu Lo udah naik kasta. Bahkan langsung jadi anak konglomerat.


Beruntungnya lagi, Lo bisa dapetin seorang Alfarezi. Lelaki idaman seluruh wanita. Tampan, mapan, apa lagi yang kurang.


Gue benci semua orang yang udah hancurin kebagaian Gue, Bokap-Nyokap, Dandy, dan yang terakhir Lo!


Tanpa sadar mata Caesa mulai sayu, pertanda dirinya mengantuk. Tak lama kemudian, Caesa benar-benar sudah tertidur lelap.


Syifa yang sadar tak ada pergerakan dari Caesa, ia menoleh, melihat Caesa yang berbaring di atas sofa. Matanya tertutup rapat, dan nafasnya tertatur.


"Udah tidur ternyata"


Syifa beranjak dari ranjangnya, ia melangkah ke arah lemari dan membukanya. Mengambil sebuah selimut.


Ia menyelimuti tubuh Caesa, setelah itu dirinya kembali menikmati menyelam di dunia maya.


Tiba-tiba ia mengingat sesuatu, matanya mengerjap beberapa kali.


"Eh, Caesa kan lagi sakit, nanti kalau tidur di sofa tambah sakit gimana?"


"Apa Syifa bangunin aja ya"


"Tapi kan Caesa baru aja tidur, kan kasian" Bibir Syifa mencebik.


Ia bimbang, di landa rasa gelisah.


"Ishh Syifa bingung!"


"Ah biarin dulu deh, kasian baru aja tidur masa langung Syifa bangunin" Final Syifa membuat keputusan, setelah berperang dengan opininya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2