
Siang ini terasa sangat terik, matahari bersinar terlalu terang, panasnya sungguh menyengat kulit.
Untung saja kali ini Bara mengemudikan mobilnya, bukan menggunakan motor.
Kalau ia memakai motor sportnya, yang ada ia kepanasan sepanjang jalan raya.
Bara menghentikan mobilnya tepat saat melihat rambu lalu lintas berwarna merah, melihat ada kesempatan ia membuka ponselnya dan mendial nomor seseorang.
"Hallo"
Suara di seberang sana terdengar serak.
"Baru bangun lo?"
"Hm"
"Cepet siap-siap, gue tunggu di Basecamp"
"Masih pagi juga, mau ngapain?"
"Ntar gue jelasin di sana, lu dateng dulu makanya"
"Gue masih ngantuk, gua izin gak hadir ya"
"Gak bisa!"
"Ah pelit lo!"
"Cepet gua bilang!!"
"Iya iya sabar!"
Karena kesal Bara langsung mematikan panggilan itu sepihak. Bertepatan dengan lampu hijau yang menyala, ia segera mengemudikan laju mobilnya.
...•••••...
Di sisi lain...
Seseorang tertidur dengan pulasnya sebelum terusik dengan suara dering ponsel, sebuah panggilan dari seseorang.
Berniat untuk mengabaikan panggilan tersebut, tetapi ia tidak tahan akan suara nyaring yang mengganggunya tidur pagi ini.
"Siapa sih astaga ganggu aja!"
Tangannya meraba nakas dengan mata tetap terpejam karena masih mengantuk.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia segera menggeser ikon di layar untuk mengangkat panggilan.
"Hallo" sapanya dengan ogah-ogahan.
"Baru bangun lo?"
"Hm"
Ia bergumam tak jelas karena masih mengumpulkan nyawa sehabis bangun.
"Cepet siap-siap, gue tunggu di Basecamp"
"Masih pagi juga, mau ngapain?" Jawabnya malas tak ada tenaga.
"Ntar gue jelasin di sana, lu dateng dulu makanya"
"Gue masih ngantuk, gua izin gak hadir ya" ini mencoba peruntungan siapa tau orang di seberang sana mau berbaik hati.
"Gak bisa!"
"Ah pelit lo!"
Gagal sudah, dasar orang ini tak ada belas kasihan.
"Cepet gua bilang!!"
"Iya iya sabar!"
Tuuut
"Pemaksa, gak sabaran, pemarah, paket komplit lah buat Bara!"
__ADS_1
Ia terpaksa bangun dari ranjang untuk membersihkan diri.
"Terpaksa nih gua harus bangun pagi gini karena Baranj*ng sial*n!"
"Padahal gua libur gak ada kelas"
"Sabar Genta, sabar"
Ia masuk ke kamar mandi masih dengan gerutuan tak jelas.
...•••••...
Seminggu berlalu, Penilaian Akhir Semester telah berakhir.
Ya, hari ini adalah hari terakhir Syifa mengikuti ujian. PAS ini memang akhir dari penentuan kemampuan siswa-siswinya dalam belajar selama satu tahun.
Syifa terlihat antusias berangkat sekolah karena mengetahui bahwa ini adalah ujian terakhir.
Sepanjang jalan di koridor, Syifa memamerkan senyumnya pada orang lain yang lewat di dekatnya.
Tak tanggung-tanggung ia juga menyapa mereka dengan ceria.
"Hai"
"Hallo"
"Selamat pagi"
"Semangat buat kamu"
Dan berbagai macam sapaan lainnya, tentunya orang yang di sapa Syifa terheran-heran.
Ada apa gerangan dengan Asyifa Putri Winata ini yang tiba-tiba menjadi sangat akrab dengan orang di sekitarnya.
Memang sih kalau Syifa anaknya ceria dan mudah menyesuaikan, tetapi akan terasa berbeda untuk hari ini.
Dalam benak orang-orang terbesit bahwa Syifa pasti sedang merasa bahagia akan suatu hal.
Untuk itu, mereka yang melihat senyuman manis terpancar di wajah imutnya, akan dengan spontan ikut balik tersenyum, karena bisa merasakan kebahagiaan juga.
Syifa memasuki ruangan ujian dengan masih mempertahankan senyumnya.
"Pagi"
"Pagi juga"
"Pagi Syifa"
"Makasih hehe" balas Syifa diakhiri kekehan.
Setelah menyapa, ia duduk di bangku miliknya yang sudah ia duduki selama satu minggu ini, ah lebih tepatnya ini adalah hari ke delapan ia ujian.
Syifa tak sabar untuk segera menyelesaikan ujian ini, agar ia juga bisa cepat pulang ke rumah dan bersantai.
Bel berbunyi dengan nyaring, menandakan bahwa waktu ujian segera di mulai.
Syifa menangkup kedua pipinya dengan tangan kecilnya, matanya berbinar-binar melihat guru pengawas membawa kertas ujian.
Setelahnya guru pengawas mengintruksikan untuk berdoa sebelum memulai ujian, kemudian mulai membagikan kertas ujian satu persatu kepada siswa.
Syifa mulai menerima kertas ujian miliknya, lalu tangannya menulis data diri dengan benar.
Ia lanjut membaca soal yang tertera dan menjawab yang menurutnya paling benar.
...•••••...
Genta selesai mandi dan berpakaian. Ia berjalan keluar kamarnya sambil menenteng kunci motor dan helm di kedua tangan masing-masing.
Baru beberapa langkah ia mendapati saku celananya bergetar.
Genta berhenti berjalan, memeriksa saku celananya. Ternyata ponselnya menyala dengan notifikasi pesan dari Abi.
Lo dateng ke Basecamp?
Itulah pesan yang di kirim Abi untuknya. Segera setelah membaca pesan itu, ia menekan ikon telepon, alasannya simpel ia malas mengetik.
"Iya Ta?"
__ADS_1
"Ck, gue udah bilang jangan panggil Ta, kayak cewek kesannya"
"Suka-suka gue, gue yang manggil kok"
"Manggil tuh yang lengkap, Genta"
"Iya iya Ta"
"Nj*rlah lo ngeyel di bilangin"
"Haha santai bro jangan ngegas"
"Eh lo dateng ke Basecamp gak?"
"Iya gue dateng"
"Kenapa lo nanya gitu, jangan-jangan lo gak dateng ya"
"Haha tebakan lo bener bgt"
"Kan kan, bener apa yang gua pikirin"
"Hehe, izinin gue ya Ta"
"Kagak mau, izin sendiri lo"
"Aaahh lo aja deh, Bara nyeremin"
"Idih, lo kira mudah dapet izin Bara"
"Kan lo bisa bujuk dia"
"Kagak bisa! Gue aja tadi izin gak hadir hari ini kagak di bolehin sama dia"
"Lah terus gue?"
"Ya jelas, Bara marah sama lo entar"
"Yahh, please lah tolongin gue"
"Gak!"
Genta lanjut berjalan keluar rumah, ia kesel juga lama-lama karena Abi masih bersikeras memaksa.
"Abi! Lo keras kepala banget sih?!"
"Bodo amat, itu urusan lo!"
Ia segera mematikan panggilan, tak ingin lagi mendengar Abi memaksanya lagi dan lagi.
Ia mengantongi kembali ponsel dalam saku celananya.
Genta menaiki motornya lalu memakai helm yang ia tenteng dari dalam rumah, setelah semua siap, ia mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi. Tak ingin terlambat dan berakhir kena omelan pedas Bara nantinya.
...•••••...
Jam istirahat baru saja di mulai, semuanya berhamburan keluar kelas setelah sekitar dua setengah jam berpikir keras menghadapi soal ujian.
Sedangkan Syifa masih duduk anteng di dalam kelas. Ia membuka novel miliknya dan mulai membacanya dengan tenang.
Alasan ia tak seperti yang lain, yang pergi ke kantin adalah karena ia sedang malas saja dengan keramaian di kantin yang penuh, nantinya pasti akan berdesak-desakan.
Maka, ia putuskan untuk membaca novel saja selagi menunggu waktu berlalu. Hari ini ada dua mata pelajaran yang di uji, jadi tinggal satu mata pelajaran lagi yang perlu di kerjakan.
Saat asik membaca rentetan kalimat dalam novel, ia di kejutkan siswa-siswi yang berlarian kesana kemari.
"Ada apa sih, kok rame banget?"
"Emang mereka pada gak ke kantin apa, pada kumpul semua di koridor" monolognya bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Memang benar, sekarang banyak siswa-siswi yang berlalu lalang di koridor depan ruang kelasnya. Dan yang lebih mengherankan adalah mereka sesekali menatapnya dari luar dengan pandangan yang sulit diartikan.
Aneh sekali, ia jadi sedikit kepo. Kira-kira apa yang sedang terjadi saat ini.
Baru ingin beranjak dari kursi tetapi terhenti karena bel berbunyi keras, terpaksa Syifa mendudukkan diri lagi di kursinya karena jam istirahat sudah berakhir.
Syifa mengerjakan soal kali ini dengan pikiran yang rumit, masih belum puas karena rasa ingin tahunya belum terpenuhi.
__ADS_1
Semoga bukan hal yang buruk, semoga saja.