Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 39


__ADS_3

Vina masih terlibat dalam percakapan ditelpon dengan suaminya.


Sebenarnya ini udah lumayan lama mereka mengobrol.


"Mas, emang Kamu gak sibuk?"


"Enggak kok"


"Bohong, Kamu jangan lalai ya sama tugas Kamu. Jangan jadi contoh yang buruk buat karyawan-karyawan Kamu, Mas"


Di telpon terdengar suara kekehan Aditya, "Enggak lalai Sayang, kan ada sekretaris Aku yang bisa handle sementara"


"Apa-apa jangan sekretaris semua Mas, jangan membebani, kasian Mas"


"Astaghfirullah sayang, sekretaris Aku gak cuma satu. Asistent Aku juga banyak kalo Kamu lupa"


"Gaji mereka juga tinggi kok, yang. Kamu gak perlu khawatir" Lanjut Aditya, membela dirinya sendiri.


"Harus mandiri suamiku"


"Iya dong mandiri, suaminya siapa dulu?"


"Suaminya Vina" Jawab Vina dengan menggoda.


Mereka berdua sama-sama tertawa lepas.


"Udah dulu ya Mas, Aku mau belanja kebutuhan rumah dulu. Sekalian mau habisin duit suami"


"Silakan yang, uang Aku gak bakalan habis buat shopping doang"


"Sombong nih"


"Biarin, fakta kok"


"Iya, percaya Aku"


"Harus dong" Balas Aditya cepat, membuat Vina lagi-lagi tertawa.


"Aku tutup telfonnya ya, Mas"


"Iya, bye sayang"


"Bye, Mas"


Vina menutup telfonnya, ia memasukkan ponsel kedalam tas yang ia bawa.


Vina berdiri ia berjalan sambil melihat isi tasnya, bukan melihat jalan didepannya.


Akhirnya ia tak sengaja menabrak orang yang lewat didepannya.


"Ah!"


"Maafkan Saya Tante, Saya gak sengaja" Ucap seorang gadis didepan Vina.


Gadis itulah yang telah bertabrakan dengan Vina saat berjalan di keramaian pengunjung Mall.


"Ah, gak papa. Tante yang minta maaf harusnya, udah nabrak Kamu"


"Maafin Tante ya" Lanjut Vina meminta maaf pada gadis tersebut.


"Iya Tante, gak papa kok"


"Ouh iya, siapa nama Kamu sayang?" Tanya Vina lembut.


Suara lembut itu dengan lancang masuk ke gendang telinga sang gadis. Membuat gadis itu tertegun.


Tidak menyangka hanya karena sebuah suara yang lembut penuh kasih, mampu membuat hatinya luluh.


"Nama Saya Caesa, Tante"


Yaps!


Caesa lah yang saat ini berdiri didepan Vina Winata.


"Nama yang cantik, seperti orangnya" Puji Vina pada Caesa.


Caesa tersipu malu, ia tersenyum-senyum sendiri.


"Makasih Tante, Tante bisa aja deh"


Vina terkekeh pelan, "Sebagai permintaan maaf, Tante ajak makan bersama, ini kartu nama Tante"


Vina menyerahkan kartu nama miliknya kepada Caesa. Berisi nama lengkap, Nomor telepon, dan alamat Mansion.


"Kamu bisa hubungin nomor Tante, atau bisa Kamu datang aja ke alamat itu. Tante berharap Kamu datang ya"


Caesa menerima kartu nama milik Vina itu, ia menganggukkan kepalanya.


"Baik Tante, nanti Saya pasti datang kok" Caesa menekan kata pasti, tetapi Vina tidak menyadari itu.


"Yaudah, Tante duluan yah, soalnya buru-buru banget harus belanja kebutuhan rumah"


"Iya Tante, sekali lagi makasih"


Vina tersenyum dan menggangguk, dirinya segera berjalan terburu-buru.


Hari semakin siang, ia harus bergegas berbelanja.


Setelah tubuh Vina hilang ditelan banyaknya pengunjung, Caesa menatap kartu nama ditangannya.


Ia tersenyum smirk. Ia merasa rencananya sungguh sangat terdukung dengan adanya kartu itu.


"Ah, acara tabrakan gini. Ngebuat Gue semakin dekat sama tujuan Gue"


"Ini semakin memudahkan Gue buat hancurin Lo"

__ADS_1


Setelah itu, Caesa pergi melangkah keluar Mall. Caesa menyetop Taxi untuk ia naikki.


"Jalan Pak, ke alamat ini" Caesa menunjukkan sebuah alamat di ponselnya.


Sang Sopir mengangguk, "Siap"


Sopir itu pun segera menancapkan gas, mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.


...●●●...


Ding dong~


Suara bel berdenting nyaring didalam rumah milik Ana.


Ana yang sedang rebahan di kasurnya pun segera melangkah untuk membukakan pintu.


Ding dong~


"Sebentar!"


Ana membuka pintu rumahnya, didepan pintu terdapat satu sosok tinggi, kuning langsat, rambut sedikit panjang, hoodie abu-abu dan celana jeans.


Tampan, itulah kata yang cocok untuknya.


"Kamu dateng kesini kok gak bilang-bilang Aku"


"Maaf yang, biar surprize" Ucap Sandi.


Sandi lah yang datang berkunjung ke rumah Kekasihnya, Ana. Tentunya kedatangan Sandi membuat Ana terkejut karena tidak memberitahu sebelumnya.


"Yaudah Kamu masuk dulu"


Ana mempersilakan Sandi untuk masuk rumahnya.


Sandi pun masuk rumah Ana, dan duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu tadi lagi ngapain?" Tanya Sandi, matanya terfokus menatap Ana yang duduk disampingnya.


"Aku lagi rebahan doang, sama main HP"


Sandi mengangguk paham.


"Jalan-jalan yuk?" Ajak Sandi riang.


Ana melirik jam dinding yang terpasang di dinding ruang tamu.


Jarum jam menunjukkan angka 10.32


Itu termasuk masih pagi.


"Ayo, tunggu bentar, Aku mau siap-siap dulu" Ana berdiri dari duduknya.


"Iya, jangan lama-lama"


"Ish!" Protes Ana, mana mungkin cewek kalo dandan cuma dua menit.


Sandi tak membalas teriakan Ana, ia membuka ponsel dan memainkannya.


Memainkan sebuah game yang bisa menemaninya dari kebosanan saat menunggu doi berdandan.


Beberapa menit kemudian, Ana selesai bersiap.


Ia menggunakan blouse biru muda dan rok selututnya.


Ana pun segera keluar kamar, menghampiri Sandi disana.


"Yang, Aku udah siap nih"


Sandi menoleh pada Ana, ia tersenyum. Tangannya mematikan ponsel, lalu memasukkannya kedalam saku celana.


"Kamu cantik" Puji Sandi untuk Ana.


Ana tersipu, tersenyum malu.


"Makasih"


"Yuk" Sandi mengulurkan satu tangannya.


Bermaksud untuk digandeng Ana, Ana menerima uluran tangan itu.


Mereka berjalan berdampingan dengan tangan saling bertaut.


"Kamu bawa mobil?" Tanya Ana saat melihat kendaraan yang digunakan Sandi ketika datang kerumahnya.


"Iya"


"Aku gak mau Kamu kepanasan nanti kalo Aku pake motor" Lanjut Sandi yang mampu membuat hati Ana tersentuh.


Sungguh perhatian sekali Sandi, walau terkadang masih sering berlaku cuek.


Namun Ana paham sifat cuek Sandi hanya berlaku pada orang lain, tidak untuknya.


Sandi membukakan pintu untuk Ana disertai senyuman manis dari pria itu.


Ana tersenyum, "Makasih sayang"


"Sama-sama, yang"


Pintu mobil bagian Ana ditutup oleh Sandi, ia berlari kecil memutari mobil untuk duduk dikursi kemudi.


Sandi menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.


"Kita mau kemana?"


"Maunya kemana?"

__ADS_1


"Aku ngikut Kamu aja"


Sandi terkekeh mendengar jawaban Ana, "Okey"


Sandi memberhentikan mobilnya di pelataran sebuah Mall.


Ana celingak-celinguk, "Mall?"


"Iya, gak papa kan?"


Sandi khawatir, Kekasihnya tidak menyukai tempat pilihannya untuk kencan kali ini.


Ana tersenyum, "Gak papa"


Sandi tersenyum lega.


"Ayo turun"


Ana menggangguk atas ajakan Sandi. Ana melepas sabuk pengaman.


"Tunggu disini"


Sandi mencekal tangan Ana yang akan membuka pintu disebelahnya.


Sandi turun duluan setelah melepaskan sabuk pengamannya.


Sandi segera memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk Ana.


"Terima kasih, yang"


"Sama-sama"


Setelah menutup pintu dan mengunci mobilnya, Sandi mengaitkan tangannya di jari-jemari Ana.


Ana tersenyum merasa senang dengan hal-hal kecil yang dilakukan Sandi untuknya.


Ana sudah dari dulu kenal dengan geng RSD, itu karena mereka Most Wanted, itu pun hanya kenal nama.


Tapi tidak sedekat sekarang setelah ia bersahabat dengan Syifa.


Sedangkan Sandi, ia mulai memperhatikan Ana saat tahu bahwa cewek itu bersahabat dengan Adiknya Revan.


Dari situlah mulai ada ketertarikan pada cewek itu. Tapi belum bisa mengungkapkannya.


Setelah keduanya semakin hari semakin dekat, mungkin itu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, begitu pikir Sandi.


Sejak itulah kedua menjalin hubungan.


Ana dan Sandi memasuki Mall yang sudah mulai ramai pengunjung.


Sandi melirik jam tangan ditangan kirinya.


"Kita nonton aja gimana?" Tanya Sandi mengusulkan.


Ana mengangguk mengiyakan, "Iya, gak papa"


"Tapi nonton Romance, ya" Pinta Ana memohon.


"Horor aja"


Ana bergidik mendengar kata horor.


"Jangan, Aku penginnya Romance"


"Please.." Ana memohong pada Sandi yang berdiri disampingnya, dengan mengedipkan matanya.


Semoga dia luluh, Batin Ana memohon.


Sandi tidak tega Ana sampai memohon-mohon padanya.


"Iya-iya Kita nonton Romance" Putus Sandi akhirnya mengiyakan permintaan Ana.


"Yes!!" Ana memekik senang mendengar ucapan Sandi yang menyetujui permintaannya.


"Aku pesen tiketnya dulu"


"Tunggu"


Ana mencekal lengan Sandi, Sandi pun berhenti melangkah.


"Ada apa?"


"Aku yang beli Popcorn sama minuman"


Sandi mengangguk ia mengeluarkan dompetnya.


Alis Ana berkerut bingung, kenapa Sandi mengeluarkan dompetnya.


"Ini uang buat beli Popcorn"


"Gak usah, Aku ada kok" Tolak Ana halus, ia tidak enak jika semuanya dibayar oleh Sandi.


"Jangan nolak" Suara Sandi terdengar datar.


Akhirnya Ana menerima uangnya karena sedikit takut dengan Sandi. Mukanya serem kalau marah.


"Makasih"


Sandi mengangguk lalu mengecup kening Ana sebelum melangkah pergi untuk memesan tiket.


Ana mematung, tubuhnya membeku.


Ia terkejut dengan aksi Sandi yang tiba-tiba. Apalagi ini ditepat umum.


Pipinya terasa panas, ia yakin pasti ia sedang blushing.

__ADS_1


"Ish!" Ana sebal dengan dirinya yang blushing ditengah keramaian begini.


Ana pun segera melangkah untuk membeli Popcorn dan minuman.


__ADS_2