
Happy Reading...
"Semuanya sudah siap kan?"
Vina mengecek seluruh anggota keluarga. Takut ada yang tertinggal seperti di film home alone. Si Kevin yang tertinggal oleh Keluarganya.
"Sudah Mom."
Serentak mereka semua berucap mantap. Vina menggangguk puas.
Ngomong-ngomong, Keluarga Winata ini, kecuali Grandpa dan Grandma. Akan menuju Bandara untuk kembali ke Negara Indonesia. Lebih tepatnya Jakarta.
Karena urusan kantor sudah selesai. Aditya memutuskan segera kembali ke Jakarta.
Kasihan anak-anak sudah tertinggal banyak materi pelajaran.
"Grandma ikut nganter Kalian ya" mohon Nara pada anak dan cucunya.
"Mom kan harus banyak istirahat. Jangan banyak tingkah deh"
Aditya menasehati sekaligus mencibir Mommynya sendiri.
"Nye-nye-nye-nye"
Nara meledek Putra tunggalnya yang terlalu cerewet. Bian terkekeh dengan apa yang dilakuan Istrinya.
Lalu Nara beralih menatap cucu perempuannya dengan tatapan memelas.
"Grandma boleh ya.."
Syifa yang dasarnya tidak tegaan. Akhirnya memperbolehkan Grandma ikut mengantar sampai Bandara.
"Em, yaudah deh. Grandma boleh ikut"
Aditya dan Adnan kompak berdecak.
"Ck."
Tau saja, kalau Syifa tidak bisa menolak. Makanya Nara memohon pada Syifa begini.
Nara menatap Aditya dan Adnan dengan pandangan mengejek. Ia akhirnya menang dari anak dan cucu pertamanya yang menyebalkan.
Semua bersiap ke mobil untuk segera menuju ke Bandara. Dengan 3 mobil sekaligus 3 Sopir.
Mobil 1 diisi Sopir, Aditya, Vina, dan Syifa.
Mobil 2 diisi Sopir, Adnan, Bara, dan Revan.
Mobil 3 diisi Sopir, Bian, dan Nara.
...●●●...
Alfarezi POV
Gue masih saja disibukkan dengan kerjaan kantor yang selalu ada dan bahkan menumpuk.
"Menyebalkan!"
Hari ini sudah lima hari pertunangan Gue dan Syifa. Gue sungguh bahagia.
Tentu saja, Syifa adalah gadis pertama yang bisa membuat hati Gue berbunga-bunga.
Rasanya membuncah bahagia.
Tanpa Gue sadari, dari tadi Gue udah senyum-senyum sendiri.
Gue sungguh merasa geli sendiri.
Gue terlihat seperti anak remaja yang baru merasakan jatuh cinta. Tapi kan Gue sudah bukan remaja lagi.
"Aishh sudahlah lupakan."
Gue teringat sesuatu.
Lalu mengecek jam di tangan kiri Gue.
Ternyata Gue hampir terlambat.
"Arghh!! Bisa-bisanya kelupaan!"
Segera Gue kantongi Smartphone yang terletak diatas meja kerja kedalam saku Jaz Gue.
Lalu bergegas pergi menuju Bandara.
Untuk mengantar Syifa dan Keluarga, balik ke Indonesia. Walau hampir terlambat, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Gue turun dengan menggunakan lift khusus untuk Gue sendiri sebagai CEO SCH Company.
Gue mendapat banyak sapaan dari para bawahan di Kantor.
Tapi gak Gue peduliin. Yang terpenting sekarang Gue harus cepat sampai di Bandara.
Gue membuka pintu mobil dan segera melajukannya.
Alfarezi POV End.
...●●●...
Alfa memang sudah tahu kalau Syifa sekeluarga akan kembali ke Indonesia Pagi ini. Tapi malah ia kelupaan karena sudah teralihkan dengan banyaknya tumpukan berkas.
"Ck. Awas kalau sampai terlambat. Gue bakal buang semua berkasnya!"
"Eh.. tapi kalau dibuang. Gimana nasib perusahaan?"
"Double Shit!"
Saat di tengah perjalanan, Alfa menyempatkan untuk membeli sebucket bunga untuk Syifa, Gadisnya.
Dia beli bunga itu pun dengan terburu-buru. Bahkan tidak mempedulikan uang kembalian.
__ADS_1
Seorang karyawan toko bunga berteriak memanggil Alfa karena belum mengembalikan uang sisa pembayaran sebucket bunga.
"Tuan ini kembalian Anda!"
"Tidak perlu, buat Anda saja!"
Alfa juga ikut berteriak karena ia sedang terburu-buru tanpa memikirkan uang kembalian.
"Terima kasih Tuan. Padahal uangnya terlalu banyak"
Karyawan tadi bergumam pelan sambil memandangi uang pemberian dari Alfa.
"Gue beruntung. Jalanan kali ini gak macet"
Alfa bergumam, matanya tetap fokus kedepan memandang jalanan.
Tak berapa lama, akhirnya ia sampai juga di Bandara milik Winata.
Alfa bernafas lega, ternyata ia tidak terlambat.
Mungkin Syifa masih dalam perjalanan. Alfa memutuskan untuk menelfon Gadisnya.
Alfa mengambil Ponselnya disaku Jaz-nya. Mendial nomor Syifa. Lalu mendekatkan Ponsel itu ke telinganya.
Tut~ Tut~ T-
Belum sampai nada sambungan ketiga, tapi seseorang diseberang sana sudah mengangkat telfonnya.
"Halo Kak Alfa"
Suara diseberang telefon terdengar ceria.
Alfa tersenyum sumringah mendengar suara Syifa menyapa gendang telinganya.
"Kamu udah sampai mana?"
"Ini udah deket kok. Sebentar lagi Syifa sampai Bandara"
"Ya udah. Hati-hati ya Sayang"
"He'em. Siap Sayangnya Syifa"
Tuuut~~~
Sambungan telefon terputus sepihak oleh Syifa.
Alfa tersentak.
Bukan, bukan tersentak oleh sambungan terputus sepihak.
Melainkan ucapan terakhir Syifa padanya.
Syifa mengucapkan kata 'Sayangnya Syifa'.
Itu sudah cukup membuatnya bahagia. Tanpa sadar pipinya memerah, bahkan merambat ke telinga.
Alfa mengusap telinganya yang terasa panas. Ia tersenyum-senyum sendiri.
Alfa mengusap tengkuknya salah tingkah.
...●●●...
Tiga mobil sudah terparkir rapi berjejer di halaman Bandar. Lalu keluarlah delapan orang penting dari ketiga mobil tersebut.
Alfa segera menghampiri Kekasihnya yang sedang berlarian kepadanya.
Alfa merentangkan kedua tangannya, lalu segera membalas pelukan dari Syifa tak kalah erat.
Syifa menubrukkan tubuh mungilnya. Untuk masuk sepenuhnya kedalam pelukan hangat Alfa.
"Syifa kangen"
Syifa berucap lirih dalam pelukan Alfa.
"Aku juga kangen Sayang. Banget malah"
Alfa melepaskan pelukannya, tetapi lengan kirinya tetap merangkul bahu sempit Syifa.
Satu tangan Alfa memegang sebucket bunga, tetapi disembunyikan dibelakang punggung Syifa.
Alfa menyalami anggota keluarga Syifa dengan sopan.
Lalu bertos ala laki-laki dengan ketiga Kakak Syifa. Yang sebentar lagi menjadi Kakak Iparnya.
Walaupun Bara dan Revan lebih muda dari Alfa. Tapi mereka tetap menjadi Kakak Iparnya, karena mereka berdua Kakaknya Syifa.
Secara otomatis menjadi Kakaknya juga. Walau agak kurang sinkron dengan umur asli mereka.
Alfa mengalihkan atensinya kembali pada Kekasihnya yang imut dan cantik. Alfa tersenyum lembut penuh cinta.
Ia memberikan sebucket bunga yang tadi ia beli. Yang diterima baik oleh Syifa.
Syifa bahkan sampai berjingkrak-jingkrak senang.
"Suka bunganya Sayang?"
"Suka! Syifa sangat suka bunganya. Terima Kasih Kak Alfa"
Syifa tersenyum manis dengan mata berbinar cerah.
"Sama-sama Sayang"
Alfa mengecup lembut kening syifa. Didepan Keluarga Winata.
Terang-terangan sekali.
Syifa memejamkan matanya, menikmati kecupan lembut dari Alfa.
Setelahnya Syifa menyengir polos menatap Alfa dan bunga itu bergantian.
__ADS_1
Terlihat sangat menggemaskan.
Alfa menatap Syifa dengan teduh. Rasanya bahagia sekali. Walau dengan hal kecil begini, Syifa sudah sangat senang.
"Princess"
Aditya memecahkan keromantisan anak dan calon menantunya.
"Iya Dad?"
"Daddy sama yang lain mau ke Pesawat. Mau duduk Daddy udah pegel nih"
Aditya berucap sambil berpura-pura mengelus pundaknya. Seolah ia pegal-pegal. Padahal itu hanya alasan saja. Ia juga ingin bermesraan dengan istrinya.
"Sekalian mau sarapan" Revan menimpali.
Bara berdecak mendengar penuturan adiknya.
"Kan udah sarapan tadi. Masa masih laper sih!" Bara mengomel pada Revan, padahal mereka sudah sarapan sebelum ke Bandara. Tapi Revan masih saja merasa lapar.
Soal koper-koper, semua sudah diurus oleh petugas. Yang sudah dipekerjakan oleh Keluarga Winata selama bertahun-tahun lamanya.
"Ya biarin sih! Kan enak banyak cemilan. Minta apapun pasti dikasih sama Pramugari cantik."
Balas Revan tak kalah ngotot. Tak sadar ia malah mengucapkan gombalan recehnya.
"Revan!"
Vina menjitak Revan dengan gemas. Bisa-bisanya putranya ini pandai bergombal. Belajar dari mana coba.
Heran. Pikir Vina.
"Aduh! Shh... sakit Mom. Jangan dijitak kepala Revan Mommy."
"Biarin. Makanya jangan asal ngomong gitu"
"Iya iya Mom!"
Hening beberapa saat.
Sekarang Adnan yang membuka obrolan.
"Yaudah kalian tunggu aja di Pesawat. Nanti Aku sama Ifa bakal nyusul. Oh ya Grandma dan Grandpa sebaiknya pulang aja. Istirahat di rumah."
Semuanya mengangguk.
Mereka menurut saja karena Adnan berucap dengan nada tegas, tak ingin dibantah.
Nara dan Bian pulang diantar Sopir. Juga diikuti mobil lainnya yang tadi mengantar Syifa dan Kakaknya.
Sedangkan Aditya, Vina, Bara, dan Revan berjalan memasuki kabin Pesawat.
Sekarang hanya tinggal mereka bertiga.
Adnan memberikan ruang pada Ifa untuk berpamitan pada Alfa.
"Kak Alfa, Syifa balik dulu ya. Sekolah Syifa udah ketinggalan jauh. Kak Alfa jaga kesehatan pokoknya disini. Jangan sampai sakit. Makan dan tidur teratur."
Syifa mengenggam jari-jemari besar nan kokoh milik Alfa.
"Iya Sayang, pasti. Besok Aku bakal susul Kamu ke Indonesia. Kita bisa habisin waktu berdua. Kamu tenang aja."
Alfa balas tersenyum menenangkan. Karena melihat mata Syifa yang berkaca-kaca. Tak mau berpisah. Padahal hanya sementara.
"Iya Kak Alfa. Syifa tunggu Kak Alfa nyusulin Syifa di Jakarta."
Syifa mengangguk dan menyengir lebar.
"Jaga kesehatan Sayang"
"Kakak juga"
"I love you" Alfa menyatakan perasaanya.
"I love you too" balasan cinta dari Syifa untuk Alfa.
Alfa pun mengelus pucuk kepala Syifa sayang seraya tersenyum.
Lalu Adnan menggandeng tangan mungil itu untuk segera masuk ke Pesawat.
"Pamit Alfa. Cepet susulin Kita" Pamit Adnan pada tunangan adiknya. Sekaligus sahabatnya.
Alfa mengangguk.
Lalu melambaikan tangannya pada gadisnya.
"Take Care Sayang!" teriak Alfa untuk Syifa. Syifa mengangguk dan tersenyum.
"Sampai jumpa Kak Alfa!" Syifa ikut berteriak pada Alfa.
...■■♡■■...
1388 Karakter
Hai Aku Update nih..
Udah lama yah gak Up lagi😂
Semoga suka part ini😍😍
Jangan lupa VOTE✅✅✅
COMMENT✅✅✅
DADAH SAYANGNYA ADNAN
😂😂😂
Spam Komen bisa gak? biar aku semangat😂
__ADS_1
^^^Minggu, 25 Oktober 2020.^^^