
Holla, aku ngaret banget updatenya, oke aku emang sadar kok, udah lama gak update Overprotective Asyifa Family.
Mohon maaf sebesar-besarnya kawan, makasih juga yang udah setia menunggu cerita ini update. Thank you so much💞
...•••...
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa waktu untuk menguji kemampuan siswa semakin dekat.
Kini, seluruh guru sedang mengadakan rapat untuk membahas jadwal Penilaian Akhir Semester (PAS).
Tentunya murid-murid Winata High School mempunyai waktu untuk bersantai dan bergabut ria, apalagi jika bukan jamkos.
Begitu senangnya mereka, bahkan sudah heboh dengan dunianya sendiri. Ada yang bernyanyi, berjoget tidak jelas, bermain ponsel, makan, duduk diam menyimak, ada juga yang tertidur dengan nyenyaknya seolah-olah tak terganggu dengan bisingnya suasana kelas.
Nah itu adalah gambaran kondisi kelas Syifa, X MIPA 3.
"Gimana Lo pada udah ada persiapan?" Tanya Lita dengan menatap satu per satu wajah sahabatnya.
Ana dan Nisa kompak menggeleng, sedangkan Syifa menganggukkan kepalanya mantap.
Lita mendengus dengan gelengan Ana dan Nisa, "Udah Gue duga sih, Lo berdua pasti belum belajar sama sekali"
"Beda lagi kalo Syifa, ya gak Fa?" Lita menggoda Syifa dengan menaik-turunkan alisnya.
Syifa tersipu malu, "Enggak kok, cuma Syifa lagi rajin aja"
Lita mengangguk seolah ia percaya, biarlah Syifa mungkin malu untuk dipuji.
Ana berinisiatif untuk menanyakan hal sama pada Lita, tetapi sang empu mematung dan terdiam.
"Kalo Lo emang udah belajar?"
Melihat keterdiaman Lita, membuat Ana dan Nisa saling pandang, melakukan telepati lalu mengangguk-anggukkan kepala tanda paham.
"Palingan belum dia, iya kan?" Tanya Nisa menatap Lita mengejek, di akhiri dengan kekehan.
Nisa dan Ana bertos ria lalau tertawa keras, Lita berdecih melihat keduanya tertawa mengejek dirinya.
Syifa melihat ketiga sahabatnya dengan pandangan bingung, tak paham apa yang sedang di bahas sampai Ana dan Nisa tertawa, karena ia tadi tidak terlalu memperhatikan.
Tok tok tok!
Suara pintu diketuk, semuanya terdiam. Setelah sadar mereka lari terbirit-birit untuk duduk di bangku masing-masing. Termasuk Nisa dan Lita yang kembali duduk menghadap depan.
Ana pun sudah berhenti tertawa, lalu dapat Syifa lihat, seorang guru perempuan memasuki kelasnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh anak-anak"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh bu" Jawab mereka serempak.
"Jadi, Ibu mau membagikan informasi, bahwa pelaksanaan Penilaian Akhir Semester tanggal 2, senin besok"
Selagi berbicara, guru tersebut juga membagikan sebuah surat berisi informasi yang terkait dengan PAS ini. Lebih tepatnya itu di berikan kepada wali murid/orang tua di rumah.
"Waktunya tinggal tiga hari lagi untuk dipersiapkan, Ibu harap kalian mempersiapkan diri dengan baik, belajar yang giat dan jangan lupa berdoa"
"Siap bu!"
"Baik, itu saja yang ingin Ibu sampaikan, sekarang kalian boleh pulang, hati-hati di jalan jangan keluyuran ingat! Semangat juga buat belajarnya anak-anak semua, kalian pasti bisa!"
"Iya bu"
"Asyiap!"
"Terima kasih bu guru"
"Iya sama-sama, kalau begitu Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"
Ibu guru pun keluar kelas, siswa-siswi mulai membereskan peralatan sekolah mereka ke dalam tas.
"Udah selesai belum Fa?" Ana menatap Syifa yang masih berusaha menutup resleting tasnya.
"Udah, ini Syifa lagi nutup resletingnya"
Melihat Syifa yang sepertinya kesusahan, Ana berjalan mendekat untuk membantu, "Sini Aku bantuin"
"Nah, udah nih" Ana mengembalikan tas milik Syifa, sang empu tersenyum senang.
"Makasih Ana"
"Sama-sama, yuk pulang"
"Ayo!" Seru Syifa semangat, dan kembali tersenyum merasakan genggaman seseorang pada tangan kirinya.
Ana melangkah dengan santai dan tangan kanannya menggenggam tangan kiri Syifa, melirik Syifa yang tersenyum lebar membuatnya ikut tersenyum.
...•••...
Malam pun tiba, Syifa sedang asik belajar sambil rebahan dengan beberapa buku juga ponsel dan laptop yang menyala, berhenti sejenak dari kegiatannya saat mendengar suara ketukan pintu.
Ia bangkit dari ranjang lalu membuka pintu lebar-lebar.
Terlihatlah seorang pelayan yang menunduk sopan padanya.
"Ada apa ya Bi?"
"Itu Non, di bawah ada Tuan Abi Non"
"Kak Abi?"
"Iya Non, Tuan Abi"
Pelayan itu menggelengkan kepala dengan tingkah lucu majikannya, berlari riang hanya dengan piyama warna peach, juga melupakan pintu kamar yang masih terbuka lebar.
Sang pelayan menutup pintu kamar Syifa lalu turun melalui tangga, untuk melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.
Di bawah Syifa mendapati keberadaan Kak Abi yang sudah rapi, entah mau kemana.
"Hai Kak Abi"
"Hai juga" Balasnya disertai sebuah senyuman.
"Kakak mau kemana udah rapi? Kok datengnya sendirian, gak bareng Kak Genta? Ouh atau mau ketemu Kak Bara ya, mau ajak Kak Bara main kan? Tapi Kak Baranya lagi pergi" Tanya Syifa beruntun karena saking penasarannya.
Rentetan pertanyaan Syifa membuat Abi tertawa, merasa lucu dengan ekspresi Syifa yang berubah-ubah.
"Ish kok ketawa sih!"
"Aduh maaf-maaf"
"Oke, Aku jawab ya satu-satu. Aku udah rapi emang mau pergi, perginya bukan bareng Genta, juga bukan mau ketemu Bara"
"Tebakan kamu salah semua"
Syifa mengerutkan alisnya kebingungan, ia berjalan menuju sofa yang tersedia dan duduk di sana, di ikuti Abi yang duduk di sampingnya.
"Lho terus Kakak mau kemana? Kalo mau pergi harusnya gak perlu ke rumah Syifa dulu kalo gak ada urusan, kasian kakak bolak-balik nanti" Seru Syifa menasehati, sok bijak.
Suara kekehan terdengar di samping tubuh Syifa, yaps Abi yang terkekeh dengan semua celotehan Syifa yang membuatnya gemas.
"Aku kesini mau emang ada urusan"
"Urusan apa? Tadi katanya bukan ketemu Kak Bara"
__ADS_1
"Emang bukan"
"Ter-"
"Dengerin dulu makanya aku ngomong, kan belum selesai" Potong Abi cepat, Syifa berkedip-kedip lucu lalu mengatupkan bibirnya rapat.
"Aku mau ajak kamu keluar, kita Dinner yuk" Ucap Abi lembut.
Ajakan Abi yang tiba-tiba membuat Syifa terkejut.
"Dalam rangka apa nih Kak Abi ajak Syifa Dinner"
"Sebenarnya gak ada apa-apa sih, Aku pengin aja ajak kamu"
Ah satu lagi, Syifa pun baru sadar kalau gaya bicara Kak Abi sudah berubah yang tadinya memanggil dengan sebutan Kakak, sekarang jadi Aku-Kamu.
"Kamu mau gak?"
Syifa menganggukan kepala, ia tak enak menolak karena Kak Abi sudah rapi datang ke sini, masa ia tolak begitu saja. Untuk belajarnya bisa ia lanjutkan nanti.
"Mau Kak, ya udah Syifa siap-siap dulu ya"
"Iya, Kakak tunggu"
Melihat anggukan Kak Abi, Syifa segera naik ke lantai atas untuk bersiap. Tak ingin membuat Kak Abi menunggu terlalu lama.
...•••...
Bara sedang asyik nyebat, alias merokok. Banyak juga sebenarnya yang merokok, mereka sedang ada di Basecamp tempat biasa mereka nongkrong. Jadi nyebat adalah hal lumrah bagi sekumpulan cowok.
Genta menghampiri Bara yang duduk di pojokan, ia duduk di depan Bara dan ikut mengeluarkan bungkus rokok. Lalu menyelipkan satu batang rokok di bibirnya.
"Bar, minta korek" pinta Genta menengadahkan tangan.
Bara langsung melemparkan korek api miliknya yang langsung diterima Genta dengan sigap.
Setelahnya Genta menghisap rokok itu dengan pelan, meresapi rasa nikmat yang dihasilkan dari Nikotin yang mampu membuat seseorang kecanduan.
Genta menghempuskan asap rokok itu melalui mulut, tak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Bara. Mereka asyik dengan merokok, tak mau keheningan melanda lebih lama, Genta mulai membuka suara.
"Bar, Abi belum dateng?"
"Belum" Balasnya singkat, terlihat tak peduli.
Genta mengangkat alisnya melihat respon Bara yang acuh tak acuh. Sedetik kemudian ia menampilkan smirknya.
"Yakin Lo gak peduli?"
"Buat apa? Nanti dia juga dateng sendiri" Balas Bara datar, tak mau ambil pusing.
Orang di seberang Bara tertawa keras, "Yakin deh Gue setelah Lo lihat ini, Lo gak mungkin gak peduli"
"Cih! Apa emangnya" Decih Bara meremehkan, ia sedang tak ingin bercanda kali ini. Moodnya sedang jelek.
Genta membuka ponselnya lalu melemparnya ke arah Bara, untungnya langsung di tangkap Bara dengan gesit, kalau tidak ponsel Genta selesai riwayatnya.
Bara penasaran apa yang ingin di tunjukkan Genta padanya, sampai wajah Genta seserius itu.
Ia melihat satu foto di sana, ia terkejut karena isinya seseorang yang ia kenal, malahan sangat ia kenal.
"Ada satu lagi, slide berikutnya" Perintah Genta pada Bara untuk membuka slide berikutnya dalam ponsel itu.
Kini ia, lebih terkejut lagi. Ya, itu merupakan sebuah rekaman suara. Suara orang yang sama dalam foto sebelumnya.
"B*ngsat!"
Genta tertawa ngakak melihat wajah Bara memerah penuh emosi, "Udah Gua bilang kan"
__ADS_1
"Anj*ng!" Umpat Bara yang kini ditujukan pada Genta yang sedang tersenyum kemenangan.