
Happy Reading...π
...βββ’ββ...
"Ayo anak-anak! Cepat ke Lapangan. Kita pemanasan dulu!" Ucap Pak Wawan.
Pak Wawan merupakan Guru Mapel PJOK/Olahraga di kelas Syifa dan Ana.
"Baik Pak!" Ucap serempak murid X MIPA 3.
Semua murid segera berjalan ke Lapangan Sekolah.
Syifa bergandengan tangan dengan Ana, berjalan santai menuju Lapangan.
Sesuai instruksi dari Pak Wawan, semua murid berbaris rapi untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
"Ayo rentangkan kedua tangan kalian!"
Pak Wawan berucap tegas seraya merentangkan kedua tangannya sebagai contoh.
Yang di ikuti oleh semua murid.
Ketika semuanya sibuk berbaris dan merentangkan tangan. Disaat itu juga terdengar banyak bisikan.
Yang sayangnya bisikan itu masih terdengar keras.
"Sana! Geser kesana!"
"Minggir! Minggir!"
"Ini sempit woy!"
"Jangan senggol-senggol ih!"
Itulah beberapa bacotan siswa-siswi yang rempong.
Kalau Syifa sih hanya cemberut, karena terdorong-dorong teman sebelahnya.
Untungnya keadaan segera dikondisikan oleh Pak Wawan.
Pak Wawan siap sedia dengan peluit yang ia kalungkan dilehernya. Lalu segera meniupnya.
Prriiiiiittt!!!
"Sudah-sudah. Harap tenang semua!"
Semuanya pun diam.
"Ayo Ketua Kelas segera pimpin pemanasan"
"Baik Pak"
"SATU, DUA"
"TIGA, EMPAT, LIMA"
"ENAM, TUJUH, DELAPAN"
Mereka selesai berhitung pemanasan.
Semua kembali berdiri rapi.
"Baik. Sekarang Kita akan mempelajari materi Permainan Bola Besar. Lebih tepatnya Sepak Bola atau Futsal." jelas Pak Wawan sambil menatap anak muridnya.
"YESS!!"
"ASIIKK!!"
Banyak sorakan dari anak laki-laki yang terlihat semangat.
Tentu saja, pasti semua anak laki-laki bisa bermain Sepak Bola atau Futsal.
Sedangkan untuk perempuan terlihat lesu.
"Sepak Bola?" Beo Syifa pelan.
"Untuk lebih efektif. Pak guru akan membagi kelompok. Kita bermain Futsal saja yah. Untuk anak laki-laki, Pak guru minta tolong. Ambilkan bola Futsal di ruang Olahraga"
"SIAP PAK WAWAN" Ucap serempak anak laki laki menjawab permintaan Pak Wawan.
Kemudian mereka segera berjalan.
"Eh.. perwakilan 3 orang saja. Jangan semuanya."
"Iya Pak."
Semuanya kembali ke barisan. Dan tersisa 3 orang yang akan mengambil bolanya.
Pak Wawan pun membagi anak muridnya menjadi empat kelompok.
Kelompok A, B, C, dan D.
Yang pertama bertanding adalah Tim A dan Tim B. Yang terdiri dari laki-laki semua
Semua anak perempuan terlihat heboh menyoraki untuk memberi semangat dan support.
"AYO AYO SEMANGAT"
"TENDANG TERUS SAMPAI GOL!"
"*TERUSS!!"
"SEDIKIT LAGI"
"TENDANG YANG KENCENG"
"CEPET ITU UDAH DEKET GAWANG"
"IYA IYA NAH*"
"GOLL!!!"
Nah kini Tim B sudah mendapat 1 point melawan Tim A.
Dan Tim B berhasil memenangkan pertandingan dengan point unggul 2 - 1 dari Tim A.
Sekarang giliran Tim C dan D yang bertanding. Terdiri dari anak perempuan semua.
"Ayo!! untuk siswi perempuan segera bersiap-siap"
Prrriiitt!!
Suara peluit terdengar.
Sebagai tanda dimulainya pertandingan.
Siswi-siswi berlomba-lomba menendang dan mengoper bola untuk digiring menuju gawang lawan.
"Ini Ana! Tangkep bolanya"
__ADS_1
Syifa berkomando pada Ana untuk menangkap operan bola darinya.
Syifa dan Ana kebetulan satu kelompok.
Jadi Syifa berniat mengoper bola dari kakinya untuk ia tendang ke arah Ana.
Syifa mulai bersiap menendang bolanya.
Semua memperhatikan Syifa yang akan mengoper bola.
Tapi,
Tunggu dulu.
Ada yang aneh.
"Eh.."
Syifa heran.
Bolanya tidak bergerak sama sekali.
Padahal Syifa sudah mengayunkan kakinya.
Syifa menatap bolanya intens.
"Aduh Syifa.. kamu bukan nendang bola. Tapi nendang angin"
Suara Ana terdengar menginterupsi atensi semua orang.
Ana menepuk jidatnya, Syifa ini ada aja.
Iya.
Syifa memang sudah mengayunkan kakinya. Tapi kakinya malah melipir ke samping bola. Jadinya Syifa hanya menendang angin.
"BWUAHAHAHAA..."
Semuanya serempak tertawa.
Pertandingan kali ini bukannya serius. Tapi malah menghibur.
Siswa laki-laki dan Pak Wawan kompak menepuk jidat.
Ada-ada saja.
Syifa hanya menyengir.
Lalu bibirnya mencebik karena ditertawakan teman-temannya.
Masih untung Syifa gak nangis.
...βββ...
Ana mengajak Syifa ke kantin.
Setelah selesai pelajaran Olahraga. Sekarang waktunya untuk istirahat.
Setelah sampai kantin.
Kini giliran Syifa yang menarik Ana untuk duduk di meja yang biasanya di duduki oleh Kakaknya, Revan.
Mereka berdua duduk dibangku tersebut.
"Mau pesan apa Fa?"
"Nasi goreng telur. Terus minumnya es teh" balas Syifa menatap Ana.
Ana berdiri dari bangkunya dan diangguki Syifa atas ucapan Ana.
Tak berapa lama, suasana kantin yang tadinya biasa saja. Kini jadi heboh dan ramai dengan pekikan tertahan siswi-siswi.
Ternyata yang membuat siswi disini heboh. Karena kedatangan Revan dan kawan-kawan.
Revan menatap Princess yang tersenyum polos. Lalu ia balas juga tersenyum dengan lembut pada Syifa.
"Habis Olahraga yah? Kaosnya belum diganti"
Revan berujar lalu duduk disebelah Syifa.
Syifa mengangguk cepat.
"Iya Kak Rev. Syifa ganti bajunya nanti kalau udah makan. Hehe.."
Syifa tersenyum manis dan imut.
Membuat tangan Revan terulur untuk mengelus pipi Syifa yang sedikit merah karena terpapar matahari.
"Ana gak ikut ke sini Fa"
Pertanyaan Sandi membuat Syifa menoleh padanya.
"Ana tadi ikut kok, Kak San. Cuman lagi pesan makanan"
Jawaban Syifa hanya ditanggapi Sandi dengan membulatkan mulunya. Berbentuk O.
Lalu Sandi beranjak untuk memesankan makanan sahabatnya. Yang sudah dihafal di luar kepala.
Sekalian mau menemui pacarnya, alias Ana.
Mau modus. Hehe...
Setelah makanan datang, mereka fokus dengan makanan masing-masing.
Syifa makan dengan lahap Nasi goreng pesanannya, dengan telur orak arik. Tak lupa dengan minumannya, Es teh.
Syifa tidak mempedulikan sisa nasi yang tertinggal di sudut bibirnya.
Revan yang dari tadi memperhatikan Syifa makan, langsung membersihkan nasi di sudut bibir Adiknya.
"Kalau makan pelan-pelan aja Princess. Jangan terburu-buru. Nanti tersedak."
Revan berujar lembut dengan tangan masih asik membersihkan mulut Syifa yang belepotan.
Syifa mengangguk.
Lalu melanjutkan makannya yang tertunda.
"Ihh dedek emeshnya Kakak makin imut deh"
Celetuk Doni sambil menatap Syifa dengan pandangan gemas.
"Aah maca cih?"
Syifa membalas ucapan Doni dengan cedal. Persis seperti anak kecil.
Ana dan Revan terkekeh mendengar suara Syifa yang menyerupai anak balita.
Sandi malah asik sendiri mamainkan ujung rambut Ana yang menjuntai.
__ADS_1
Doni hanya tertawa mendengar balasan Syifa yang mirip anak kecil.
Sangat polos.
Setelah itu, mereka melanjutkan kegiatan makannya. Kerena sebentar lagi bell akan berbunyi.
Juga Syifa dan Ana yang akan segera mengganti kaos Olahraga dengan seragam Osis kembali. Memang hari ini adalah hari Selasa.
...βββ...
"Baiklah anak-anak. Karena bell sudah berbunyi. Bu guru akhiri materi sampai disini. Hati-hati pulangnya. Wassalamualaikum Wr. Wb."
"Wa'alaikumsalam Wr. Wb."
Serempak murid-murid menjawab salam dari guru didepan. Termasuk Syifa.
Syifa sibuk membereskan alat tulis, memasukkannya ke dalam tas. Lalu pandangannya beralih pada teman sebangkunya.
"Yuk Ana. Kita pulang!!"
Ajak Syifa ceria pada Ana yang selesai mencangklokkan tas pada pundaknya.
"Ayo!" Balas Ana tak kalah ceria.
"Hai Princess"
Revan menyapa didepan kelas Syifa.
"Sini Sayang"
Giliran Sandi yang mengajak Pacarnya untuk mendekat.
Di depan kelas X MIPA 3, sudah terdapat 3 lelaki. Yang sayangnya tampan.
Sangat tampan, Terutama Revan.
Tentunya Revanlah yang paling tampan. Tapi Sandi dan Doni juga tak kalah tampan.
Revan menyapa Syifa dengan senyuman manisnya.
Sandi melambaikan tangannya seolah menyuruh pacarnya, Ana untuk mendekat padanya.
Ana menurut.
"Pulang bareng Aku yah"
"Iyah" Balas Ana atas permintaan Sandi.
Lalu mereka berdua pamit pulang lebih dulu.
"Ayo pulang Princess. Udah sore ini"
"Siap!"
Syifa berdiri tegak dengan tangan diangkat ke atas. Seperti hormat pada tiang bendera saat Upacara.
Revan mengulum senyumnya.
Lalu merangkul Syifa berjalan meninggalkan kelas, menuju parkiran.
Berjalan berdua yang kali ini tanpa pamit pada Doni.
"Nasib!. Nasib!. Awas aja kalau gue udah jadian sama My Crush"
Doni mendengus sebal pada Revan yang mengabaikannya. Khusus untuk dedek emesh, ia mana bisa marah lama-lama.
Ahh dasar buaya.
Mobil berjalan santai dengan kecepatan sedang.
Revan fokus pada jalanan di depan yang terlihat padat. Karena waktunya jam anak sekolah pulang.
Syifa memicingkan matanya melihat sesuatu didepan sana.
Ia tertarik dengan yang ada didepan.
"Kak Revan"
"Hmm. Apa Sayang"
"Mau beli Ice Cream di sana"
"H-hah?"
Revan mengikuti arah telunjuk Syifa yang mengarah pada Kedai Ice Cream.
"Syifa mau Ice Cream. Boleh yaa"
Syifa menggoyangkan lengan sebelah kiri Revan. Tak lupa dengan tatapan puppy eyes.
Memohon pada Kakaknya agar mau membelikannya Ice Cream.
Revan menghela nafas.
Lalu akhirnya mengangguk.
Ia lemah dengan tatapan puppy eyes milik Syifa. Yang bisa langsung membuatnya luluh, tak bisa menolak.
Revan membelokkan stir mobilnya.
Lalu memarkirkannya pada halaman Kedai Ice Cream yang diinginkan Princess.
Mereka turun dan memasuki Kedai tersebut.
...β β β§β β ...
1356 Karakter.
Hallo..π₯
Aku Up nih
Nungguin ga?π
Semoga suka Part iniπ
Ayo Vote nyaa yang banyak...
Coment nya juga jangan lupa
Sampai jumpa lagi di next partπ
Dadahππ
Selamat malamπ
Salam sayang
Liaπ
__ADS_1
^^^Kamis, 8 Oktober 2020.^^^