
Abi membuka knop pintu rumahnya, ia masuk ke dalam dengan merangkul Syifa di samping kanannya.
"Kok sepi Kak?"
"Kayaknya Bunda lagi di belakang atau di dapur" Ucap Abi kurang yakin.
"Kakak manggilnya Bunda?"
Abi mengangguk, "Iya"
Tiba-tiba ada suara wanita paruh baya yang menginterupsi mereka berdua. "Hey kok kalian basah kuyup begini?!"
"Eh Bunda, iya bun Kita kehujanan tadi"
"Ini siapa Abi?" Tanya Bunda Abi pada putranya.
"Ini Syifa Bun, Adiknya Bara"
"Ouh Adiknya Bara, hai Sayang kenalin Saya Desy, Bundanya Abi" Ucap Bunda Abi dengan senyuman ramah.
Syifa tersenyum manis mendapat sambutan ramah dari Desy. Ia pun menyambut uluran tangan Desy padanya, "Syifa Tante"
"Panggil Bunda aja, sama kayak Abi"
"I-iya Bunda"
"Kamu yang paling basah kuyup, Abi antar Syifa ke kamar tamu ya, buat bersih-bersih sama mandi" Perintah Bunda Desy pada Abi, yang di angguki oleh putranya itu.
"Iya, Abi antar Syifa dulu Bun"
"Iya sudah sana"
Bunda Desy menatap punggung Abi dan Syifa yang mulai menjauh, "Bunda tau apa yang Kamu rasain Sayang, tanpa perlu Kamu beri tahu Bunda" Gumamnya pelan seperti sebuah bisikan. Lalu ia melangkah ke arah dapur untuk menyiapkan menu makan malam.
Abi membukakan pintu kamar yang berwarna coklat, "Ini kamar Kakak"
"Bukannya Syifa harusnya di kamar tamu ya"
Abi menggeleng, "Udah gak papa, Kamu yang di kamar Kakak, biar Kakak yang di kamar tamu aja"
"Tapi-"
"Kamu mandi terus pakai baju punya Kakak dulu ya, soalnya gak ada baju cewek" Abi memotong protesan Syifa, ia membuka lemari pakaiannya dan mencari baju yang sekiranya cocok dengan tubuh mungil milik Syifa.
"Ini bajunya, semoga cocok buat tubuh kamu" Ia meletakkan kaos dan celana trainingnya di atas ranjang.
Abi pun juga mengambil satu setelan baju untuk ia pakai sendiri.
"Itu kamar mandinya, Kakak ke kamar tamu dulu" Abi tersenyum pada Syifa dan langsung di balas senyuman, juga anggukan kepala.
Syifa menatap Abi yang hilang di balik pintu, "Kak Abi juga orang yang pemaksa ya, Syifa baru tau"
Syifa melepaskan jaket bulu dan tas yang ia gendong, ia meletakkan tas gendongnya di lantai samping ranjang. Ia membawa jaket bulu itu dan mengambil baju juga celana yang berada di atas ranjang, membawanya ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Huft, hidup Syifa di kelilingi orang type pemaksa" Ia cemberut memikirkan orang-orang yang ia sayang. Setelah itu mengunci pintu kamar mandi.
...°°°°...
Ponsel Alfa bergetar di saku celananya, ia berhenti berjalan sejenak.
"Ada apa Pak, kenapa Bapak berhenti?"
"Apa ada masalah?" Tanya Kenzo pada Alfa, selaku atasannya.
Masih ingatkah kalian, bahwa Kenzo adalah sahabat Alfa saat di Sydney, Australia. Juga Kenzo menjabat sebagai Asisten dan orang kepercayaan Alfarezi.
"Tidak ada" Balas Alfa singkat.
Alfa merogoh saku celananya lalu meraih ponsel miliknya yang terus bergetar tiada henti. Alisnya berkerut, tetapi jarinya segera memencet tombol hijau tanpa banyak kata.
"Halo Tuan"
__ADS_1
"Ada yang penting?"
"Ada Tuan"
"Apa?"
"Begini Tuan, Saya sudah mengirim email ke alamat Anda, semua yang Anda perintahkan, Saya sudah mencarinya dan ketemu"
Alfa tersenyum tipis, mirip senyuman smirk. "Kerja bagus!"
"Terima kasih Tuan" Ucap dari seberang sana terdengar senang karena di puji atas kerja kerasnya.
Alfa tanpa membalas, langsung menutup sambungan telepon.
"Lanjut jalan" Ucap Alfa tegas, Kenzo hanya mengangguk menuruti perintah atasan, walau Alfa juga sahabatnya tetapi ia harus bersikap profesional.
Alfa tak hanya bersama Kenzo saja, ada satu cewek yang berjalan di belakang Alfa, sebagai sekretarisnya.
Tenang, Alfa tidak akan bermain belakang dengan sekretarisnya sendiri seperti di film-film. Lagian, sekretarisnya juga sudah memiliki kekasih sendiri.
Alfa melangkah dan memasuki sebuah lift, Kenzo dengan cekatan memencet tombol angka 1. Mereka akan turun ke lantai satu untuk pergi ke tempat pertemuan dengan klien yang ingin suasana terbuka, bukan di dalam kantor.
"Jadwal Saya hari ini apa saja?"
Sekretarisnya langsung membuka ipad dan mengecek jadwal Alfa hari ini.
"Setelah pertemuan dengan Klien di Restoran, Anda harus turun ke lapangan mengecek pembanguan gedung secara langsung"
"Ada lagi?"
"Ada Tuan, Anda harus mengecek lantai satu sampai lantai sepuluh Apartement yang akan di buka satu bulan ke depan"
Alfa mengangguk mengerti, itu artinya ia hanya memiliki tiga kegiatan hari ini. Tapi ia yakin, semua butuh waktu yang tidak sedikit.
"Hari ini Saya lembur"
"Baik Tuan" Balas sekretarisnya di sertai anggukan kepala.
Kenzo dari tadi hanya diam mendengarkan. Ia paham kenapa Alfa meminta lembur, pasti karena ingin cepat-cepat selesai dan bisa pulang ke Indonesia agar bertemu kembali dengan tunangannya.
Kenzo membukakan pintu mobil bagian belakang, mempersilakan untuk Alfa duduk. Setelah itu, ia duduk dengan nyaman di samping Alfa. Sedangkan sekretaris Alfa duduk di depan samping sopir.
"Jalan Pak" Perintah Kenzo pada Pak Sopir, perintah itu langsung dilaksanakan oleh sang Sopir yang melajukan mobil dengan kecepatan normal.
...°°°°...
"Udah selesai Syifa mandinya?"
"U-udah Bunda" Jawab Syifa gugup karena di tatap Bunda Desy juga oleh anak lelakinya yang tak berkedip melihatnya.
Abi menatap Syifa tanpa berkedip, ia terpana dengan Syifa yang begitu cantik, tubuh mungilnya tenggelam oleh kaos miliknya yang kebesaran.
Bunda tersenyum, "Sini makan malam dulu, baru nanti pulang, Keluargamu pasti khawatir"
Syifa berjalan mendekati meja makan yang telah terisi berbagai macam menu makanan.
"Iya, Bunda"
Syifa duduk di kursi di samping Abi, sedangkan Bunda duduk di depan Abi.
Bunda mengambilkan sepiring nasi untuk Syifa beserta lauknya, Syifa menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih Bunda" Ucapnya ceria dengan mata menyipit karena tersenyum lebar.
Bunda tertawa melihat itu, "Mata kamu hampir hilang Syifa," Lalu ia lanjut tertawa.
Abi penasaran akan ucapan Bundanya, jadi ia memeriksanya sendiri, dan benar saja mata Syifa hampir hilang tenggelam oleh kelopak mata, ia ikut tertawa karena itu.
Syifa memanyunkan bibirnya karena terus di tertawakan, Bunda yang sadar segera meredakan tawanya.
"Sudah Abi, Kita lanjut makan saja" Peringatnya pada putranya itu yang tak berhenti tertawa.
__ADS_1
"Maaf ya Syifa" Lanjutnya tak enak hati dengan Syifa, sebagai tamunya di sini.
Kepala Syifa menggeleng, "Enggak papa kok Bunda," Ia membantah, agar Bunda Desy tak terus-menerus merasa bersalah.
"Tapi beneran Kamu lucu, lebih cantik kalo tersenyum" Tutur Abi enteng.
Itu membuat Syifa menundukkan kepala, ia merasa malu karena di puji, pasti pipinya memerah.
Bunda tersenyum senang, "Di makan ya"
Pandangan Abi menatap Syifa di sampingnya yang terlihat senang karena pemberian paha ayam dari Bundanya. Ia pun ingin juga di beri perhatian.
"Bun, buat Abi mana?" Ia menyodorkan piringnya yang masih kosong belum terisi apapun.
Bunda mengerutkan alisnya bingung, anaknya ini kenapa, biasanya juga selalu mandiri. Ah, ia paham sekarang, pasti karena ingin cari perhatian.
"Ambil sendiri" Ucapnya pura-pura ketus.
Raut wajah Abi berubah, ia menampilkan raut wajah sedihnya. Tangan Bunda terulur untuk menjitak kening putranya.
"Awwh, Bunda sakit!"
"Syukurin, cepat makan ambil sendiri!"
Abi menoleh karena mendengar suara cekikikan seperti orang menahan tawa. Bibirnya tambah cemberut karena Syifa yang menertawakannya.
Acara makan malam sudah di mulai lima menit yang lalu, walau sebelumnya ada acara cekcok antara Ibu dan Anak. Kali ini yang makan hanya Abi dan Syifa. Bunda berkata ingin makan malam nanti saja menemani suaminya.
Ayah Abi bekerja sebagai Dokter Ahli Bedah, nama Ayah Abi adalah Dika.
Di sela mereka berdua makan, Bunda bercerita sedikit tentang suaminya, bahwa malam ini beliau pulang lebih malam karena ada operasi mendadak. Karena itu, Bunda ingin mereka berdua nanti, masih bisa menikmati makan malam walau terlambat sedikit.
Syifa merasa terharu dengan sikap Bunda yang begitu setia menunggu sang suami pulang, ia kagum dengan sikap Bunda yang begitu lembut sama seperti Mommynya.
Keluarga Abi pun sama sepertinya, keluarga orang mampu, atau bisa di sebut orang kaya. Ia jadi merindukan suasana Panti, yang mampu membuatnya bahagia dan merasa hangat sebelum bertemu dengan keluarga kandungnya.
Kira-kira bagaimana ya keadaan mereka, Syifa kangen.
Setelah selesai makan, Syifa pamit pulang dan di antar oleh Abi. Tadi selesai makan malam, Syifa berniat membantu Bunda dengan mencuci piring, tetapi segera ditahan Bunda. Bunda melarangnya untuk mencuci piring, padahal ia tidak keberatan sama sekali.
Akhirnya karena ia tak enak jika terus memaksa, ia pun menurut dengan Bunda Desy untuk segera pulang karena waktu semakin malam.
"Bunda, Syifa pamit pulang dulu ya" Syifa mengulurkan tangannya meminta salim pada Bunda Desy.
Bunda menerima uluran tangan Syifa, "Iya, hati-hati di jalan"
Abi dan Syifa mengangguk dengan nasihat Bunda untuk hati-hati.
"Ini tas Kamu basah, buku-bukunya pasti ikut basah, nanti sampai rumah langsung di jejerin ya, biar cepet kering" Bunda menyentuh punggung Syifa yang terdapat tas gendong yang basah akibat terkena hujan.
"Iya Bun, siap"
"Baiklah"
Syifa dan Abi memasuki mobil, lalu segera menutup pintu mobil kembali. Abi membunyikan klakson sebagai tanda pamit untuk yang kedua kalinya.
Mobil melaju setelah mendapat anggukan kepala dari Bunda dan sebuah senyuman terukir di sana.
Malam ini begitu dingin, tetapi tak menurunkan air hujan sama sekali, hujan sudah reda saat Syifa makan malam tadi.
Selama perjalanan Syifa dan Abi hanya diam, Syifa yang menatap jalanan dengan menghadap kaca samping mobil, sedangkan Abi yang fokus menyetir pun tanpa membuka obrolan.
Abi yang merasa jengah dengan situasi ini akhirnya membuka suara, "Syifa, aku harap Kamu gak sakit karena hujan-hujanan"
Tak ada jawaban sama sekali, "Syifa" Pangil Abi agar Syifa segera membalasnya.
Abi menolehkan kepalanya, ia melihat Syifa terdiam menatap luar jendela mobil.
Tangan kirinya merapikan rambut Syifa yang menutupi wajah, apakah Syifa tak terganggu penglihatannya dengan rambut yang menjuntai di depan wajahnya begitu.
Setelah selesai merapikan rambut, ia baru mengetahui bahwa Syifa telah tertidur dengan pulasnya. Mungkin saja Syifa kelelahan.
__ADS_1
Ia membiarkannya saja, beberapa menit kemudian, mobilnya sampai di depan gerbang yang menjulang tinggi. Segera saja satpam yang berjaga segera membukakan gerbang setelah tau siapa yang bertamu.
Satpam tentunya kenal dengan Abi, seorang sahabat Bara, lagian ia juga sudah sering datang kemari jika ingin hangout atau nugas bersama dengan Genta dan Bara.