Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 9


__ADS_3

Matahari begitu terik.


Siang yang cerah, tapi suasana tidak secerah itu.


Hatinya mendung. Rasanya sakit dan sesak.


"Sayang.. minum obatnya dulu yah" ucap Adnan lembut.


Mencoba memberi pengertian pada adik tersayangnya.


"S-syifa hiks ga mau minum hiks obat. Pahit"


Syifa menggelengkan kepalanya cepat. Ia benar-benar tidak mau minum obat.


Rasanya pahit.


Semua yang masuk ke dalam mulutnya rasanya sama, pahit dan hambar.


"Engga kok. Pahit cuma sedikit, coba dulu"


"Adnan, biar Daddy yang bujuk" usul Aditya pada Adnan.


Ia juga khawatir.


Keadaan Syifa yang dikatakan sudah membaik malah drop karena tidak meminum obatnya.


Adnan mengangguk menanggapi, berpindah posisi duduk disofa.


Memberikan ruang untuk Aditya.


...●●●...


Mari berFlashback terlebih dahulu.


Flashback Aditya POV


Dulu sebelum Saya menjemput Syifa di Panti Asuhan untuk tinggal bersama.


Saya sudah lebih dulu mencari informasi dan berbagai hal.


Vina juga Saya beri tahu soal ini.


Mana mungkin Vina sebagai Ibunya tidak tahu menahu tentang Putrinya.


Masih ingatkah kalian, kejadian saat di mobil, menuju Mansion.


Hari dimana kehidupan Syifa berubah.


Ketika Saya bertanya kegiatan apa saja yang dilakukan Princess sehari-hari?.


Dan jawaban Syifa saat itu adalah 'Sekolah dan Bekerja.'


Tentang Saya yang membentak Syifa karena kaget bahwa Princess bekerja.


Sebenarnya Saya tidak terlalu terkejut.


Melainkan Saya spontan meninggikan suara.


Sampai-sampai ditegur istri sendiri karena sudah membuat Princess menangis.


Saya begitu karena ingin mendengar kejujuran Syifa.


Saya ingin putri Saya yang bercerita langsung.


Maklum dari dulu Saya ingin memiliki seorang putri, yang selalu berceloteh ketika sepulang sekolah kepada Ayahnya.


Tapi takdir berkata lain.


Ada saja orang yang ingin menjauhkan Saya dari Putri Saya sendiri.


Kejadian yang membuat suasana Mansion Winata menjadi sunyi, dingin, dan hampa.


Tapi tenang saja.


Orang itu telah mendekam di penjara.


Saya jamin Dia tidak akan bisa menganggu Keluarga Winata lagi.


Terutama Princess Syifa.


Flashback End.


...●●●...


Hal paling kecil yang Aditya tahu adalah ini.


Syifa yang rewel kalau lagi sakit, susah untuk minum obat, dan takut jarum suntik.


Tapi Aditya tahu bahwa Syifa merupakan anak yang penurut jika diberi nasihat dengan lembut.


"Princess. Daddy sedih loh kalau Syifa ga mau minum obatnya"


Aditya mendudukan Syifa pada pangkuannya. Mengelus surai hitam legam dan halus milik Syifa.


"Nanti ga sembuh-sembuh. Daddy tau kalau Princess lemas kan badannya"


Pertanyaan Aditya langsung dijawab Syifa dengan anggukan pelan.


Syifa lemas.


Perutnya sedikit melilit.


Kepalanya juga ikutan pusing, ditambah tadi Syifa menangis malah pusingnya menjadi-jadi.


Syifa mengusalkan kepalanya pada dada bidang Aditya.


"Daddy" panggilnya lirih.


"Apa sayang?"


"Pusing"


Adu Syifa pada Aditya sembari menyentuh kepalanya.


Aditya menarik tangan putrinya digantikan dengan tangannya. Memijat lembut kepala putri tercantiknya ini.


Hal itu tak luput dari pandangan ketiga putranya beserta istrinya.


Melihat bagaimana lembutnya Aditya pada Syifa. Membuat mereka tersenyum senang.


Inilah yang mereka impikan selama ini.


"Makan dulu, lalu minum obat sama vitaminnya ya sayang. Princess gak mau kan buat Daddy, Mommy, sama Kakak-kakakmu sedih. Hmm"


Syifa bergumam tak jelas.


Yang pasti ia sudah menyetujui untuk makan dan minum obat.

__ADS_1


"Emmh"


Syifa mengangguk lesu.


Pasrah dan menurut.


Itu yang Syifa lakukan sekarang.


Vina yang peka langsung mengambilkan piring berisi makanan. Lalu tanpa membuang waktu langsung menyuapi Princess dengan telaten dan perlahan.


Setelah itu membantu Syifa untuk meminum obat dan vitaminnya.


Memang Syifa sempat rewel dan protes. Karena obatnya sangat sangat pahit, katanya.


Tak lupa Vina juga membereskan bekas makan Syifa tadi.


Setelah Syifa selesai makan, kini giliran yang lain untuk Makan Siang dengan tenang.


Tenang karena Syifa sudah Makan Siang dan minum obat.


...●●●...


Syifa POV


Entah kenapa Aku sangat ingin bermanja pada keluargaku.


Aku selalu ingin didekat Mereka.


Setelah Aku meminum obat dan vitamin, Aku merasa sangat mengantuk.


Mungkin karena efek obat.


Aku duduk bersila diatas ranjang. Kelopak mataku memberat ingin sekali menutup mata.


"Hoammh.."


Aku menutup mulutku karena menguap.


"Kamu ngantuk sayang?"


Mommy vina bertanya sembari mengelus pipiku.


Itu malah membuatku tambah mengantuk.


Aku mengangguk menanggapi pertanyaan Mommy.


"Syifa ingin digendong Kak Bara" ucapku pelan.


Mataku tertuju pada Kak Bara yang sedang duduk disofa bermain ponsel.


Orang yang ku sebut tadi menolehkan kepalanya.


Ia menatapku sambil tersenyum.


Kak Bara bangkit dan memasukan ponselnya di saku celananya.


"Baby ingin digendong Kakak hmm?"


Aku mengangguk cepat dan tersenyum manis.


Kak Bara juga ikut tersenyum membalas senyumanku.


Aku berakhir digendongan Kak Bara, digendong didepan ala koala.


Nyaman sekali.


Aku memeluk lehernya, membenamkan kepalaku pada ceruk leher Kak Bara.


"Tidur ya sayang.."


Kak Bara berucap pelan didepan telingaku.


Seperti sihir Aku langsung terlelap, mengarungi mimpi indahku.


Syifa POV End.


...●●●...


Bara menidurkan Syifa di ranjang dengan hati-hati.


Menarik selimut sampai batas dada.


Mengecup kedua pipi dan dahi Syifa.


**Cup


Cup


Cup**


Setelah mengecup Syifa.


Bara beralih menatap Revan.


Lalu berjalan mendekati Revan.


"Van, ngapain?"


Bara mendudukkan diri disofa samping Revan yang sedari tadi bermain ponsel.


"Ini Kak, Doni ngajakkin gue nongkrong di Basecamp. Terus juga nantangin gue buat ikut Balapan lagi"


"Bukannya Lo udah biasa yah ikut balapan"


Bara berucap sambil mengunyah cemilan yang sudah mereka beli lewat Gofood tadi.


"Itu sebelum Syifa kembali. Asal lo tau ya Kak, Gue udah gak pernah ikut nongkrong sama Balapan lagi semenjak itu."


Bara manggut-manggut mengerti.


Ia tetap mengunyah keripik kentang itu.


"Jadi malem ini Lo mau balapan?"


"Enggak ah. Nanti Gue kena bogem lagi sama kak Adnan. Dia udah mewanti-wanti Gue buat gak ikut Balapan lagi. Kalau Syifa sampai tau, terus minta ikut. Kan repot"


Revan bergidik membayangkan bogeman Adnan.


Sungguh itu sangat sakit.


"Nanti kalo wajah tampan Gue pada bonyok kan gak elit"


Bara berdecak dengan tingkat kepedean Revan yang terlalu melambung.


Sombong.


Eits... jangan salah Revan sombong karena emang itu kenyataannya.

__ADS_1


Semua keturunan Winata pasti tingkat ketampanannya tidak bisa diragukan lagi.


Khusus untuk Syifa dan Mommy Vina, yang pastinya cantik kaya Bidadari.


Bahkan Baby Doll.


Oh ya ngomong-ngomong, Adnan dari tadi sebenarnya memperhatikan mereka berdua.


Tapi tidak terlalu mendengarkan apa yang kedua adiknya bicarakan.


Adnan disibukkan dengan banyaknya e-mail yang masuk ke ponsel dan laptopnya.


Adnan sengaja membawa beberapa berkas yang penting ke sini, karena ingin sekaligus menjaga Syifa dalam pantauannya.


Aditya setelah memastikan Syifa tertidur tadi. Ia kembali ke kantor dan membawa istrinya untuk ikut bersamanya.


Karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Ia berpesan pada ketiga putranya untuk menjaga Princess.


Jangan sampai meninggalkan Princess sendirian.


"Kak"


Panggil revan entah tertuju pada siapa.


Tetapi keduanya menoleh bersamaan menatap penuh tanya pada Revan.


Adnan menaikkan satu alisnya sebagai tanda bertanya 'Apa'.


Bara berhenti mencomot makanan yang berbeda lagi, pilus.


"Kenapa Van?"


Bara memulai percakapan, karena Revan tidak segera melanjutkan pembicaraan.


"Gue boleh pergi malem ini gak?"


"Kemana?"


Adnan bertanya tapi tidak menatap Revan. Ia melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


"Cuma nongkrong di Basecamp"


"Oh"


"Cuma oh doang!. Kan gue tanya, gue boleh pergi apa ngga?!"


Sewot Revan mendengar balasan dari Adnan.


Cuma 'Oh'.


Seperti proklamasi saja, dengan tempo sesingkat singkatnya.


Menyebalkan.


"Yaudah"


Revan mengembuskan nafas lelah.


Malas menghadapi kakaknya yang satu ini.


Revan melirik tajam pada Bara yang malah terkikik menahan tawa. Ia sungguh kesal!


Malah tambah kesal dengan Bara yang menertawakannya.


"Terserah!"


"Hilih. Ngambek kayak cewek Lo"


"PMS kali"


Sekarang Bara dengan leluasa tertawa lepas karena ucapan Adnan. Ia tertawa terbahak bahak.


Ya kali Revan PMS.


Untung jarak ranjang Syifa dan sofa yang diduduki Bara sedikit jauh.


Maklum kamar VVIP, Jadi tempatnya luas.


Atau mungkin Syifa saja yang kebo. Sama sekali tidak terusik dengan suara keras milik Bara saat tertawa terbahak.


Ah kasihan Syifa. Pasti Dia sangat capek.


Revan semakin sebal.


Ia menekuk wajahnya, ia yang biasanya menistakan sahabatnya si Doni.


Malah sekarang ia di nistakan oleh kakak-kakaknya.


Adnan tersenyum mengejek pada Revan.


Revan yang melihat itu menunjukkan kepalan tangannya pada Adnan.


Yang dibalas tatapan heran oleh Adnan.


Seolah-olah berkata 'emang lo berani sama gue?.'


Revan mendengus kasar melihat tatapan Adnan yang dilayangkan padanya.


Bara semakin terbahak melihat interaksi Revan dan Adnan.


Bara jelas tahu senakal-nakalnya Revan. Revan juga tetap takut pada Adnan.


...■■♡■■...


1342 Karakter.


Hai hai hai😄👋👋


Aku Update lagi.


Mau Double Up?


Komen dibawah👇 atau


komen di atas di salin kata 'Duoble'


Okeyy👌


Luv you semuaa💜❤💜😙


Tunggu Double Up nya


Vote banyak banyak✔


Comment jangan lupa✔


Bye bye👋

__ADS_1


^^^Minggu, 20 September 2020.^^^


__ADS_2