
Waktu cepat berlalu, tak terasa hari mulai malam. Syifa yang asik menonton TV tidak menyadari langit mulai berubah gelap.
Cuaca malam ini cukup dingin, mampu membuat Syifa menggigil sejenak.
"Errg dingin banget" Ucap Syifa dengan mengelus kedua lengannya sekedar menghilangkan sedikit rasa dingin.
Ia sudah mandi tadi sore setelah pulang Sekolah, dan ia sudah mulai merasakan kondisi cuaca yang mulai berubah saat mandi.
Ia mengambil sebuah toples yang berada di atas meja, tangan Syifa mencomot Sukro dari dalam toples yang ia peluk. Matanya tak pernah lepas dari Televisi di depannya.
Mulutnya mengunyah dengan ritme pelan, seakan-akan menikmatinya.
"Udah malam kok Mommy belum pulang sih!" Gerutu Syifa setelah mengingat bahwa Vina belum juga kembali.
Tanpa Syifa sadari, ada seseorang yang mulai mendekatinya. Dia terus menatap Syifa dengan intens.
"Hai Ifa" Sapa Adnan dengan mata teduhnya.
Kepala Syifa menoleh ke arah sumber suara.
"Hai Kak Anan! Syifa kangenn" Seru Syifa riang, ia mengembalikkan toples di meja, lalu segera memeluk tubuh tegap Kakaknya.
Adnan tersenyum, "Sama"
"Sama apa?" Raut bingung tercetak di wajah Syifa.
Tangan Adnan menoel hidung mungil Syifa dengan gemas, "Sama, Kakak juga kangen sama Kamu" Jelas Adnan, supaya Syifa mudah paham.
Adnan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kepala Syifa dengan nyaman masih menyender di dada Adnan.
"Kak" Panggil Syifa pelan.
"Hmm" Balas Adnan dengan deheman.
"Mom kok belum pulang?" Tanyanya.
"Entahlah" Adnan menggedikkan bahunya
"Kok gitu?!" Syifa mulai protes.
Tangan Adnan mencubit kecil pipi Syifa, "Kakak gak tau sayang, mungkin urusannya belum selesai"
"Kata Bi Sari, Mom jenguk Caesa yang lagi sakit, tapi lama banget"
Ia menjelaskan tanpa di suruh. Kalimat terakhir Syifa terdengar mengeluh.
"Sabar sayang, kan ada Kakak"
Syifa mendapatkan sebuah elusan lembut di kepalanya dari Adnan.
"Kakak tau kalau Caesa sakit?"
"Hmm, enggak" Ucap Adnan singkat.
Ia tak peduli dengan yang namanya Caesa itu, menurutnya cewek itu hanya mencari perhatian pada keluarganya.
"Kakakk" Syifa mulai merengek.
Adnan menatap Syifa dengan dalam, menunggu akan ucapan Syifa selanjutnya.
Lagian ia juga sedikit heran, pasalnya semenjak Adiknya ini bertunangan dengan Alfa, ia rasa Syifa sudah mulai berubah, sedikit lebih dewasa.
Tapi kini lihatlah, Syifa mulai kembali merengek. Meski begitu, ia tetap menyayangi Syifa.
"Tangan Syifa sakitt" Syifa menunjukkan tangan kanannya di hadapan Adnan.
Raut wajah Adnan berubah khawatir, "Sakit?!"
__ADS_1
"Sini Kakak lihat"
Adnan menarik tangan kanan Syifa untuk mengeceknya.
"Sakit bagian mana Ifa?"
"Yang sakit Ibu jari sama Jari telunjuk" Ucap Syifa memberitahu.
"Kita ke Rumah sakit aja yuk" Ajak Adnan sedikit panik.
Kepala Syifa menggeleng pelan berkali-kali, "Gak usah Kak, gak separah itu kok"
"Tapi kan Kamu kesakitan"
"Kakak" Ucap Syifa penuh penekanan walau terdengar imut.
Menghembuskan nafas, Adnan mengangguk pasrah. "Oke-oke sayang, gak jadi ke Rumah sakit"
Syifa tersenyum senang karena Adnan mau menuruti apa perkataannya.
Adnan kembali sibuk mengecek tangan Syifa yang sedikit memerah pada Ibu jari dan Jari telunjuk.
Tangan Adnan mengurut pelan jari-jari tangan Syifa, "Kenapa bisa merah gini?"
"Itu karena Syifa pegang Pulpen terlalu kenceng, Syifa nulisnya sambil di tekan. Karena kalau sedikit di tekan tulisannya jadi rapih, juga Syifa harus ngerangkum banyak. Tangan Syifa jadi pegel" Syifa menjelaskan kronologinya sekaligus mengeluh.
Adnan melotot tajam, ia seperti sedang marah.
"Biar Kakak marahin tuh guru yang ngasih materi banyak sama Kamu!" Ucap Adnan menggebu-gebu.
Syifa terkejut, matanya terbelalak, mulutnya juga ikut terbuka. Segera setelah ia tersadar, ia kembali bersuara.
"Eh! Jangan Kak!"
"Kenapa!" Tanya Adnan tidak terima dengan Syifa yang protes.
"Jangan dimarahin gurunya dong Kak, mereka kan ngasih materi sesuai kurikulum. Ini juga udah jadi tugas Syifa sebagai pelajar"
"Baiklah-baiklah, terserah Kamu aja"
"Tapi Kakak gak mau ya kalau Kamu sampai maksain diri, sampe pegel, dan tangannya merah gitu!" Ucap Adnan tegas.
Kepala Syifa mengangguk cepat.
"Iya Kak, siap!"
Adnan kembali mengurut tangan Syifa pelan sebisanya, ia bukan tukang urut. Tapi untuk Adiknya ia rela melakukan apapun, selagi itu untuk kebaikan.
Setelah beberapa menit, Adnan menyelesaikan mengurut Syifa dan mengelusnya. Terakhir, ia mengecup tangan kanan Syifa yang lagi sakit.
Syifa tersenyum menatap kakaknya dengan haru, ia sungguh menyayangi Adnan. Tubuh Syifa menubrukkan pada tubuh Adnan, memeluknya erat. Adnan ikut membalas pelukan Adik tersayangnya.
"Makasih Kak Anan"
Adnan tersenyum tipis, tetapi sorot matanya memancarkan kasih sayang.
"Sama-sama Princess"
Adnan mengelus punggung kecil Syifa lalu mengelus kepalanya. Beberapa menit berlalu, sudah terdengar suara dengkuran halus. Menandakan Syifa sudah tertidur pulas.
Pelukan dari Adnan yang terlampau nyaman, mampu membuat Syifa mudah terlelap, membawanya ke alam mimpi.
Adnan membopong Syifa ala bridal style, Ia membaringkan tubuh Syifa di kamar.
Adnan menyelimuti Syifa sampai batas bahu, "Sweet dreams Baby"
"Kakak sayang Kamu" Bisik Adnan di telinga Syifa.
__ADS_1
Kepala Syifa sedikit bergerak, merespon dari bisikan Adnan di telinganya.
Adnan tersenyum kemudian mengecup pipi Syifa dengan lembut. Ia pun keluar kamar Syifa.
Tangannya menutup pintu dengan hati-hati, takut Syifa sampai kebangun.
......●●●......
Paginya, Syifa sudah bersiap mengenakan seragam sekolah. Tangan Syifa mengambil ponsel dam memasukkan ke dalam saku roknya.
Terakhir, Syifa mencangklok tas nya di pundak. Kaki mungilnya melangkah pelan dengan senyum riangnya.
Syifa berhenti melangkah di tengah tangga.
Di meja makan ada Caesa, dia duduk dengan memakai pakaian biasa.
"Memangnya Caesa tidak sekolah?"
"Tapi yang paling penting, Caesa sejak kapan ada di sini?"
Alis Syifa mengkerut bingung, lalu berusaha tidak terlalu memikirkan hal itu. Tiba- tiba ia merasakan berat di pundaknya.
Ia menoleh, ternyata ada lengan besar yang sedang bertengger manis di pundak sempitnya.
"Ada apa Kak?"
"Yuk turun" Ajak Revan dengan senyum tengilnya.
Syifa tersenyum lebar, "Ayo Kak"
Mereka berdua menuruni tangga bersama.
Semuanya sudah berkumpul untuk memulai acara sarapan. Setelah selesai dengan acara makan, Syifa segera membuka suara karena sudah sangat kepo.
"Mommy pulang jam berapa?"
Vina menatap putrinya yang mengajukan pertanyaan padanya, "Mom pulang jam 9 malam sayang"
"Berarti Syifa udah tidur"
Kepala Vina mengangguk, "Iya, Kamu udah tidur nyenyak"
"Terus, Caesa kok udah ada di sini?" Syifa kembali bertanya.
"Gini, kemarin Caesa sakit tapi tidak mau Mommy tinggal. Jadi Mommy putuskan membawa Caesa untuk menginap di sini sementara waktu, sampai kondisi Caesa membaik" Ucap Vina membuat Syifa terkejut.
Menginap? Batin Syifa bertanya-tanya.
"Berarti Caesa gak sekolah ya" Ucap Syifa seraya menatap baju Caesa.
"Iya, Aku Izin gak masuk hari ini" Balas Caesa.
Syifa berkedip-kedip lucu, sebenarnya ia bertanya yang ditujukan kepada Vina. Tapi malah Caesa tiba-tiba membalas pertanyaannya.
"Ooh" Mulut Syifa membulat seperti huruf O.
"Syifa pamit mau berangkat Mom, Dad, Kak" Pamit Syifa pada semuanya tanpa menyebut nama Caesa.
Caesa terlihat kesal, matanya menatap Syifa dengan sinis.
Awas Lo! Batin Caesa mengancam.
"Iya Princess, hati-hati ya" Ucap Aditya dan Vina bersamaan.
"Hati-hati Baby" Ucap Bara.
"Semangat belajar Ifa" Support Adnan untuk Adiknya.
__ADS_1
Syifa mengangguk dengan nasihat keluarganya, "Makasih semuanya"
"Yuk sayang. Kita berangkat!" Seru Revan heboh.