
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Abi yang sedari tadi terus memperhatikan Syifa tanpa berkedip.
Abi bangkit lalu membuka knop pintu, "Oh, masuk aja Bi" Ucap Abi sopan dan tersenyum ramah, mempersilakan Bi Sari masuk dengan membawa nampan di tangannya. Bi Sari balas tersenyum ramah juga, lalu masuk ke kamar Syifa setelah di persilakan.
Bi Sari meletakkan nampan berisi bubur dan segelas air putih bersebelahan dengan letak obat dari Dokter.
"Kalau begitu, Saya pamit dulu, Den"
"Iya Bi, makasih udah nganterin buburnya" Senyum Abi belum luntur saat berucap dengan Bi Sari.
Bi Sari terkekeh pelan, "Gak papa Den, udah tugas Saya. Bibi pamit ya, Den"
"Iya, Bi" Abi menganggukkan kepala, setelah melihat pintu kamar di tutup oleh Bi Sari Abi duduk kembali di pinggir ranjang, sisi Syifa sebelah kiri.
Abi menatap ponselnya untuk menghilangkan kegabutan, ia menoleh pada Syifa ketika merasakan pergerakan kecil.
Abi tersenyum cerah melihat Syifa akan membuka matanya, bulu matanya berkedip-kedip menyesuaikan cahaya di sekitar.
"Enggh.." Lenguh Syifa mengucek-ucek matanya sendiri.
Abi menahan tangan Syifa agar berhenti mengucek mata, "Berhenti, nanti matanya sakit"
Syifa menatap seseorang yang berada di depannya, "Kak Abi.."
"Iya, kenapa ada yang sakit?"
"Pusing.." Keluh Syifa, tangannya memegang kepalanya sendiri, lalu bergeleng-geleng berniat mengusir rasa pusing yang mendera.
Abi lagi-lagi menghentikan kepala Syifa yang bergeleng ke kanan dan ke kiri, "Makan dulu ya, biar pusingnya hilang" Bujuk Abi lembut.
Syifa menggeleng kecil, "Gak mau" Tolak Syifa lirih, ia tak memiliki tenaga untuk berbicara normal seperti biasa.
"Nanti gak sembuh lho, makan ya"
"Enggak"
"Sedikit aja" Abi terus berusaha membujuk Syifa dengan lembut, jika terlalu memaksa itu tidak akan baik, Syifa harus di bujuk dengan lembut.
"Ya, mau ya. Kakak udah beliin bubur buat Kamu, masa Kamu gak mau makan sih, Kakak jadi sedih" Ucap Abi pura-pura sedih, ia memperlihatkan mimik wajah sedih dan kecewa.
Mata Syifa berkaca-kaca, tak tega telah membuat Abi sedih.
"Iya, Syifa mau.." Cicitnya pelan, ada nada enggan di dalamnya, bukan ia tidak suka. Tetapi, ia tidak nafsu makan, lidahnya pahit.
Abi tersenyum, ia maklum dengan orang saat sakit, pasti lidahnya tidak enak untuk makan apapun.
"Bagun yuk, pelan-pelan aja" Abi membantu Syifa untuk duduk, ia menata bantal untuk di jadikan sandaran bagi Syifa, Syifa sekarang duduk bersandar di kepala ranjang.
Abi merapikan piyama Syifa yang tersingkap dan menata rambut Syifa yang kusut.
Abi mengambil mangkuk bubur dan tersenyum menatap Syifa yang manyun, "Kakak suapin"
"Aaaa buka mulutnya"
Abi menyodorkan sesendok berisi bubur setelah bubur lumayan hangat tidak terlalu panas.
Syifa membuka mulutnya, semua tubuhnya terasa lemas.
Syifa mengunyah bubur lambat, ia menelannya dengan susah payah. Abi dengan telaten menyuapi Syifa walau Syifa mengunyahnya lama.
...••••...
Jarum jam menujukkan angka tujuh pagi, tetapi batang hidung Syifa belum terlihat.
"Ana, Lo tau Syifa kemana?"
"Gak tau Nis, Syifa di chat sama di telfon gak ada respon. Hp-nya mati kayaknya" Ana memperlihatkan riwayat spam chat dan puluhan panggilan dengan kontak Syifa.
__ADS_1
Nisa mengambil Hp milik Ana, Lita pun sama, ikutan mendekat melihat isi Hp itu. Nisa dengan cepat menscroll dan memang tak ada balasan apapun dari Syifa.
"Terakhir di lihat juga kemarin, 15.34" Celetuk Lita menunjuk Hp milik Ana.
"Iya kan, kemarin Tante Vina juga nelfon Gue"
"Nelfon?" Nisa dan Lita kompak berucap.
Ana mengangguk, "Iya, Tante nanyain Syifa, katanya belum pulang padahal itu udah hampir malam sekitar jam 6 sore"
"Apa Syifa sampe sekarang belum pulang juga?" Tanya Lita dengan pandangan menerawang jauh.
"Masa sih?" Nisa tak yakin, bagaimanapun keluarga Winata bukan keluarga biasa, pasti banyak orang suruhan yang mampu untuk mencari keberadaan Syifa.
"Yang bener?!" Ana jadi sedikit panik dengan ucapan Lita jika itu benar.
"Ya mana Gue tau, kan baru praduga Gue" Balas Lita mengangkat bahunya, ia pun tak yakin dengan pasti.
Tiba-tiba dari arah pintu, muncullah seorang pria paruh baya. Beliau lah yang akan mengajar mata pelajaran jam pertama.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi, Pak!" Balas mereka serempak.
"Ada yang tidak hadir hari ini?"
"Syifa, pak!" Balas salah satu siswa.
"Ouh Nak Syifa, dia tidak berangkat hari ini dikarenakan sedang sakit, Kita bisa jenguk Syifa setelah pulang sekolah" Ucap Pak Guru di depan kelas.
Semua anak menganggukkan kepalanya tanda setuju, "Baik, Pak!" Seru mereka kompak.
"Menurut Lo, Syifa kira-kira sakit apa?" Tanya Lita penasaran.
"Gak tau, makanya nanti kita jenguk!" Jawab Nisa ketus, Lita cemberut mendapatkan balasan yang kurang baik. Sedangkan Ana terkikik pelan melihat wajah masam Lita.
...••••...
Kenzo baru saja sampai tadi jam lima pagi, karena sudah terlanjur lelah, ia malas mengganti pakaian, cuci muka saja ia malas berjalan ke kamar mandi.
Langsung saja tadi malam ia meloncat ke kasur, sepatu pun masih melekat di kedua kakinya, dasar pemalas.
Kenzo mengucek kedua matanya yang terasa berat, ia mengernyit tidak suka mendengar gangguan berupa deringan ponsel.
Ia melirik sinis ponselnya yang berdering tiada henti, perasaan ia tidak memasang alarm di jam segini, kenapa bisa berbunyi tak ada henti.
Kenzo meraih ponselnya lalu matanya melihat nama seseorang terpampang jelas di sana, ia mendengus kasar.
"Masih pagi elah, udah nelfon aja!" Gerutunya kesal bercampur lelah.
Ia menggeser tombol hijau ke atas, "Hallo" Suaranya masih serak karena baru bangun tidur belum lama, lagipula ia juga belum cuci muka dan gosok gigi.
"Lo udah bangun kan?!" Suara Alfa terdengar di telinganya, sebenarnya ia sangat-sangat malas untuk melakukan apapun hari ini. Ia ingin rebahan seharian penuh tanpa di ganggu siapapun.
Tetapi sepertinya harapannya tak terkabul.
"Hemm"
"Cepet siap-siap, Lo harus bertugas hari ini juga, mulai detik ini juga!"
"Astaga, Lo gak kasian apa sama Gue?! Gue baru tidur dua jam doang!!" Ia yang masih mengantuk menjadi sensitif, lihatkan Alfa pagi-pagi sudah membuatnya darah tinggi.
"Kagak, bodo amat!"
Tak ada balasan dari Kenzo, ia malah memejamkan kedua matanya, ingin kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu.
"Gue gak mau tau, Sekarang Lo harus standby ngawasin, kasih Gue laporan setiap tiga jam sekali!"
Tuuuut
__ADS_1
Alfa dengan seenak jidat mematikan telfonnya, "Ingin Gue berkata kasar!"
Kenzo melempar ponselnya di atas kasur, lalu mengusap wajahnya kasar.
Kenzo turun dari atas ranjang, lalu masuk ke kamar mandi dengan bibir komat-kamit menggerutu, mengumpati Alfa dengan segala jenis binatang yang ada di dunia.
"Kalo bukan karena gaji gede, Gue ogah kerja sama Lo, Alfa!"
"Tapi kalo bukan karena Alfa, Gue pontang-panting di jalanan sana!"
Di pikir-pikir lagi, Kenzo memang sudah sangat bergantung pada keluarga Alfa. Alfa dan keluarganya sangat berjasa buat hidupnya sampai saat ini.
Kenzo anak rantauan, ia jarang pulang karena memang padatnya pekerjaan yang menuntutnya.
Dirinya merupakan tulang punggung keluarga, ia tidak mau melepaskan pekerjaannya yang sekarang. Selain karena gajinya tinggi, Alfa juga sudah menjadi sahabatnya sejak lama.
"Haish, hidup gini banget"
...••••...
Syifa kembali tertidur pulas setelah menghabiskan satu bubur dan menelan obatnya. Walau dengan sedikit paksaan dan ancaman Abi berhasil membuat Syifa menelan obat itu.
Abi bernafas lega, Syifa yang masih lemas tak banyak memberontak tadi, makanya ia mudah memaksa Syifa untuk meminum obat.
"Cepet sembuh Syifa, jangan sakit-sakit lagi"
Abi mengelus pipi kemerahan Syifa, suhu tubuh Syifa masih hangat tetapi tak sepanas tadi pagi.
Abi melirik jam di ponselnya, angka menunjukkan jam 11. 45 siang.
Tangan Abi bergetar, ia melihat ponselnya menyala dengan layar menampilkan panggilan dari Genta, sahabatnya.
Abi berjalan menjauhi ranjang Syifa, ia berdiri di pinggiran pembatas balkon, "Hallo" Sapanya setelah mengangkat telfon.
"Hallo Bi, Lo lagi di rumah Bara kan"
"Kok tau" Abi heran mengapa Genta bisa tau, apa ini Bara yang memberi tahunya.
"Bara tadi yang bilang sama Gue" Balas Genta santai, nah kan, dugaannya tidak salah.
"Bara lagi sama Lo?"
"Enggak, Gue sendiri. Bara lagi ngejar-ngejar Dosen, ngakak Gue lihat wajah melas Bara"
"Mohon-mohon dia biar cepet di ACC kan?!" Tebak Abi pada Genta.
"Bener banget Lo! Hahaha"
Genta tertawa ngakak di susul suara tawa Abi, lalu setelah teringat kalau masih ada Syifa, ia memelankan suara tawanya.
"Kasian Gue sama Bara"
"Iya, tapi biarlah Gue seneng ngetawain dia" Balas Genta seenaknya.
"Sahabat lucknut Lo!"
"Lo juga ya, jangan sok baik Lo!"
Genta tak terima, ia menyudutkan Abi juga agar terseret.
"Iya-iya Gue ngaku, kita sama-sama nistain Bara aja, seru tuh" Usul Abi kurang ajar dengan ide cerdik di otaknya.
"Boleh tuh, hayuk lah"
Sudahlah, mereka berdua sama-sama Sahabat lucknut, suka menistakan sahabat sendiri.
Tetapi, walau begitu mereka tetap tau kondisi di mana mereka harus bersikap, dan harus siap untuk menjadi sandaran saat sahabat mereka membutuhkan.
Ini baru sahabat sejati namanya.
__ADS_1