
Syifa POV
Hari-hari berlalu begitu cepat, hari ini adalah tepat di mana Abi mengajakku untuk jalan-jalan.
Bisakah ini dinamakan kencan?
Tapi, tak ingin berpikiran yang tidak pasti. Lebih baik menikmati waktu berjalan yang akan membawaku ke suasana menyenangkan.
Aku sudah tidak sabar akan hari ini tiba, mengetahui kemana kita akan pergi membuatku begitu semangat dan antusias.
Pagi-pagi sekali Aku sudah sibuk menggledah isi lemariku, menatap puluhan pakaian yang ada di sana.
Mencari pakaian yang sekiranya cocok dengan tempat yang akan di tuju.
Mataku berbinar senang ketika melihat baju yang di cari-cari.
"Nah ketemu!!"
Aku mengambil baju itu dan melihatnya sampai di bolak balikkan. Baju yang kini ada di tanganku adalah baju kodok berbahan levis lengkap dengan baju atasan, bawahan model celana.
"Syifa pake ini buat nanti"
"Ouh iya, ke sananya jam berapa? Syifa lupa belum nanya!" Menepuk keningku secara refleks.
"Hp mana Hp?" Kepalaku celingukan memindai sekitar.
"Kok gak ada sih?"
Sebelum mencari keberadaan Hp, Aku menutup lemari dan menaruh baju di atas ranjang.
"Di mana Hp Syifa?"
Berjalan ke sana kemari mencari benda pipih sejuta manfaat itu.
Sampai mengeceknya di tas sekolah, "Huft, ternyata kamu di sini. Kenapa gak bilang dari tadi, kan Syifa nyariin kamu"
Agak aneh Aku ini, suka berbicara sendiri.
Jariku dengan lincah mengetik pesan untuk Abi.
Kak Abi
^^^Kak Abi^^^
Iya?
Kenapa Fa?
^^^Syifa mau nanya, boleh?^^^
Boleh dong
Nanya apa?
^^^Jam berapa kita kesana, kak?^^^
Ouh iya lupa, Kakak lupa bilang sama kamu😂
Jam 10 pagi yah
^^^Berarti 3 jam lagi dong^^^
Iya bener
^^^Yaudah^^^
^^^Syifa cuma mau nanya itu aja, Kak^^^
^^^Sampai jumpa nanti✋^^^
Iya
Sampai jumpa Syifa
...---•---...
"Sayang.."
Aku berhenti melihat layar Hp, ketika sebuah suara terdengar di kamarku ini.
Dari suaranya seperti orang yang ku kenal, Aku pun menoleh ke sumber suara berasal.
"Iya Mom?" Balasku setelah melihat Mommy berdiri di depan pintu kamar.
"Turun dulu yuk, kamu belum sarapan lho"
"Aah! Iya Mom, Syifa turun. Mommy duluan aja nanti Syifa nyusul"
"Baiklah, cepat ya sayang. Mommy gk mau kamu telat sarapan"
"Okey Mom!" Balasku di sertai senyuman, Aku gak mau Mommy khawatir berlebihan. Mau bagaimana pun kesehatan Mommy lebih penting.
Aku turun dari kamar dan mulai sarapan. Aku sarapan hanya berdua dengan Revan, itu karena yang lain sudah sarapan lebih dulu.
"Kenapa Kak Revan gak ikut sarapan sama yang lain?" Tanyaku sedikit kepo.
"Emm, karena Kakak bangun kesiangan" Jawab Revan di sertai kekehan.
"Oh gitu"
"Habis begadang ya, Kak" Tebakku, semoga aja gak salah.
"Tuh tau"
Aku tertawa puas, kan benar tebakanku. "Biasa, pasti mabar"
"Pengertian banget sih sayang" Dia menatapku dengan pandangan menggoda.
Haish, dasar Kakakku ini.
"Terserah Kakak"
Giliran Dia yang tertawa puas, menyebalkan.
Kita sama-sama udah selesai sarapan, tetapi belum beranjak dari meja makan.
Mumpung tidak ada banyak orang, Aku juga lagi males pindah tempat, sekalian nyantai di meja makan.
Aku beranjak ke arah dimana kulkas berada, ngeliat banyak cemilan di kulkas, senangnya bukan main.
Tau sendiri kalo Aku doyan ngemil, hehe..
Aku mencomot beberapa snack, ada wafer, coklat, keju, dan yogurt.
Setelah itu, memboyong semua itu di atas meja, lalu membuka salah satu diantara snack yang ku ambil.
Revan mengernyit melihatku memakan keju dengan lahap. Aku tau nih, itu karena Dia tak suka keju di makan tanpa campuran apapun. Menurutnya rasanya sangat asin melebihi air laut. Halah kayak udah sering minum air laut aja.
Beda lagi jika Aku yang makan, enak-enak aja tuh.
"Emang itu enak?" Tanyanya, kayaknya Dia penasaran deh.
Aku meliriknya sekilas, "Apa?"
"Keju?"
Dia mengangguk, "Iya, enak?"
"Enak dong, coklat, keju, selai, susu, yogurt, ah semuanya Syifa suka!"
"Iya deh"
Hahaha, kalah kan. Siapa dulu, Syifa gitu lho.
...••••...
Kini Aku udah siap dengan pakaian rapi, baju kodok model celana. Duduk tenang di sofa ruang tamu sambil bermain ponsel.
Revan datang dan duduk di sampingku, Aku menoleh ke arahnya, "Ngapain Kakak disini?" Tanyaku dengan nada tak santai.
"Lho, harusnya Kakak yang nanya. Kamu mau kemana pake baju rapi gitu?" Matanya natap Aku tajam banget, mulai deh introgasinya.
__ADS_1
"Kakak kepo!" Jawabku ketus.
Haha biarku kerjain, buat Dia kesel sekalian, biar mampus.
"Mau kemana?!" Suaranya udah rendah, huhu serem juga ternyata.
Udah deh, jujur aja kali ya. Aku beneran udah takut kalo gini.
"Mau pergi jalan-jalan"
"Sama siapa?"
"Kak Abi" Aku ngalihin pandangan ke depan, gak berani natap matanya.
"Gak bohong kan?" Dia masih gak percaya ternyata.
"Enggak, udah jujur ini Syifa" Ujarku gregetan.
Dia masih aja natep Aku tajam, lebih tajam matanya dari pada sebuah pisau.
Tin tin!
Aha, penyelamatku datang, makasih banget karena udah nolongin Aku dari suasana menegangkan.
Langsung aja Aku lari ke depan tanpa mempedulikan panggilan Revan padaku, bodo amat. Bolehlah sekali-kali membangkang, tak masalah kan.
"Kak Abi!" Pekikku sebang bukan main. Yeye jalan-jalan.
"Hai Syifa" Sapanya padaku, suaranya lembut banget ditambah senyuman di bibirmu selalu tersimpan di hati, seakan-akan menyentuh mesra jiwaku.
Malah nyanyi.
Dia jalan mendekat setelah markirin motor dan lepas helmnya, "Udah siap kan?"
Aku ngangguk dengan cepat, Dia ketawa ngeliat antusiasku.
"Mau jalan sekarang?"
"Iya sekarang, cepetan!" Jawabku tak sabaran. Dia lagi-lagi ketawa, manis banget.
Gangguan datang saat Aku lagi asik mandangin manisnya ketawa Kak Abi. Siapa lagi kalo bukan Revan, biang perusuh.
"Boleh ikut?" Tanyanya pas di sampingku berdiri.
Maksudnya gimana ya, dia mau ikut gitu? Hell no! Gak boleh. Yang ada dia bakal ngeganggu dan ngelarang Aku ini itu.
"Kakak mau ikut?"
Dia ngangguk, waduhh.
Aku gak sengaja ngelirik Kak Abi yang melotot horror.
"Gak boleh!"
"Kenapa?" Tanya Revan tak mengerti.
"Ya gak boleh!" Kak Abi nyatanya masih ngotot gak bolehin Kak Revan ikut.
Bibirku bergetar karena nahan ketawa.
"Kak Revan ngapain ikut? Mau ikut gimana kan Kak Abi bawa motor"
"Ya Kakak bawa motor sendiri"
Aku menghela nafas sabar, "Mending Kakak izin dulu sama Mommy kalo mau ikut kita" Suruhku padanya, semoga aja Dia nurut.
"Oke" Dia langsung masuk sambil teriak mangil-manggil Mommy.
Aku langsung narik Kak Abi untuk segera ke motor, "Yuk Kak, jalan sekarang!" Seruku buru-buru.
Dia nurut aja tanpa banyak nanya.
Setelah Aku siap duduk di boncengan motor, Dia segera menarik gas motor.
Lumayan jauh dari Mansion, Aku cekikikan yang akhirnya menjadi tawa keras.
"Ada apa sih, ketawanya keras banget"
Dia juga ikutan ketawa, "Nanti Dia marah sama kamu"
"Itu urusan belakangan Kak" Jawabku lugas, Dia ketawa lagi.
Bisa-bisa Aku Diabetes nih, lihat yang manis-manis terus.
Perjalanan lumayan lama, hampir dua jam kita di jalanan yang sedikit padat. Sedikit jenuh dan bosan, tetapi pas tau hampir sampai Aku langsung semangat empat lima.
Senyum-senyum lihat pinggiran jalan, udah penasaran banget sama tempatnya. Sebagus apa sih.
Dari depan saja sudah terlihat ramai pengunjung, mari bertour sejenak dengan tempat ini.
Aku melihat papan nama yang tertera, Pacuan Kuda Pulomas.
Abi memarkirkan motor di tempat khusus parkir, Aku yang peka langsung turun tanpa di perintah.
Melihat suasana yang asri, sangat segar.
"Ke sana yuk" Ajaknya yang ku angguki, Dia menggandengku lumayan erat.
Selagi menunggu selesai pembayaraan, Aku membuka kolom pencarian di google dan langsung menemukan hal yang menarik untuk diketahui.
...-----•-----...
Pacuan Kuda Pulomas.
Tempat pacuan yang satu ini bisa dikatakan merupakan sebuah tempat yang sangat legendaris. Sebagai salah satu tempat pacuan kuda di Jakarta, tempat yang satu ini pernah menjadi sebuah tempat yang sangat terkenal di jamannya.
Tempat ini sendiri dibangun pertama kali pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, tepatnya pada tahun 1970an. Saat di buka untuk pertama kalinya tempat ini langsung mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa.
Namun, tempat ini sendiri pernah di tutup pada tahun 1980an, dikarenakan adanya peraturan daerah yang melarang adanya perjudian.
Namun, kegiatan berkuda sendiri masih dibuka dan masih menjadi sebuah hal yang istimewa pada masa itu. Kini tempat ini sendiri menjadi salah satu tempat wisata Jakarta murah meriah yang banyak di kunjungi.
Untuk dapat menikmati sensasi menunggang kuda sendiri kita tak perlu mengeluarkan dana yang cukup besar. Cukup dengan membayar Rp 20,000 untuk dewasa dan Rp 10.000 untuk anak-anak, kita sudah bisa merasakan sensasi menunggang kuda selama satu putaran.
Selain menyediakan kuda-kuda yang bisa disewa, tempat ini sendiri juga sering dijadikan tempat untuk melatih kuda-kuda agar lebih jinak dan patuh pada pelatihnya.
Tempat pacuan kuda yang satu ini sendiri beralamat di Jl. Pulo Mas Jaya No.1, RW.16, Kayu Putih, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13210.
Tempat ini sendiri bisa sangat ramai jika sedang hari-hari libur Nasional dan Weekend.
Selain bisa menjadi tempat liburan untuk berkuda. Tempat ini juga cocok sebagai tempat wisata anak di Jakarta.
...-----•-----...
Aku tahu, pasti Kak Abi membayar mahal untuk kita berdua yang akan menunggang kuda sepuasnya.
"Udah nih, ayok" Tiba-tiba Dia udah narik tanganku aja, bikin kaget.
Aku melihat lahan luas khusus pacuan kuda, sebelumnya aku pun melihat berbagai kuda berjejer di kandangnya masing-masing.
"Mirip stadion ya kak" Ujarku mengajaknya berbicara.
"Mirip"
"Kayak Sirquit juga"
Aku tiba-tiba ingat dengan sirquit balapan motoGP, wahaha gak nyambung sebenarnya.
"Iya"
"Buat lomba lari marathon juga bisa, ya kan kak"
"Iya Syifa, Kakak tau" Wajahnya menjadi datar, Dia berhenti melangkah dan menatapku lekat.
"Tapi kalo lari marathon, gak apke pasir kayak gini. Ini kan khusus buat pacuan kuda"
Aku ngangguk mengerti, "Ouh gitu ya Kak"
"Ada pertanyaan lain?"
Aku menatapnya bingung, "Kak Abi kayak guru aja nanyanya gitu. Ada pertanyaan lain?"
__ADS_1
Dia terkekeh, lalu lanjut berjalan.
Aku bebas memilih kuda mana yang Aku inginkan. Melihat seksama semua kuda yang ada, Aku lebih tertarik pada kuda warna putih.
"Mau yang mana?" Tanya Abi padaku.
"Mau yang itu, warna putih" Ucapku sambil menunjuk kuda yang ku maksud. Segera saja petugas di sana menyiapkan kuda yang ku pilih.
Sedangkan Abi sendiri memilih kuda warna hitam, satu petugas mendampingi satu pengunjung. Dia naik ke atas tubuh kuda dengan sekali percobaan.
Aku takjub, dia seperti sudah ahli untuk sekedar menunggangi kuda. Berpikir apakah dia sudah sering datang ke sini?
"Sekarang giliranmu" Ujarnya menatapku.
Aku menggeleng, "Tidak, Syifa mau lihat Kak Abi duluan, satu putaran. Nanti baru Syifa yang nyoba" Aku menyengir setelah selesai mengucapkan kalimat.
Dia terkekeh, "Baiklah, lihat baik-baik yah"
"Okey" Balasku disertai tanda Ok dengan jari telunjuk dan ibu jari yang saling bertautan.
Abi terlihat berbicara singkat dengan petugas didekatnya, entah apa yang dibicarakan Aku tak tahu.
Yang pasti, Abi sudah mulai menjalankan Kuda agar bergerak seirama dengan gerakan tangannya yang memegang tali kekang kuda.
Kudanya berlari dengan lambat awalnya, semakin lama semakin cepat. Aku menatapnya senang, Abi semakin jauh dari pandangan dan berbelok mengikuti arah jalan.
"Cepat sekali kudanya"
"Itu karena Tuan Abi sudah mahir menunggang kuda, Nona" Balas sang petugas di sampingku yang masih setia memegang tali kekang kuda yang Aku pilih, kuda warna putih.
Aku menatapnya lamat-lamat, dan petugas lelaki itu tersenyum formal padaku, aku membalasnya.
"Kak Abi sudah mahir?"
"Benar Nona"
"Sejak kapan? Kok Syifa gak tau" Tanyaku penasaran, diakhir kalimat suaraku semakin lirih.
"Sejak Tuan Abi masih duduk di bangku SMA, Nona"
"Wahhh!" Aku bertepuk tangan riuh.
"Berarti Kak Abi sering datang ke sini?"
"Benar"
"Lalu, Kak Abi datang sendirian?"
"Tidak Nona, Tuan datang bersama satu temannya. Kalau tidak salah Genta namanya"
"Ahh Kak Genta"
Sang petugas mengangguk lalu kembali menghadap depan.
"Kak Bara bisa menunggang kuda gak ya?"
"Enggak!"
Aku terkejut, lalu menoleh ke arah samping dan mendapati wajah Abi yang tersenyum menatapku.
Juga Aku baru meyadari, bahwa dia telah selesai satu putaran menunggang kuda, kini kuda hitamnya sudah berada di tangan petugas kembali.
"Bara dulu berkepribadian dingin dan cuek, dia mana mau Aku ajak main kalo dia emang gak mau pergi main. Jadi, Aku hanya pergi berdua dengan Genta. Itu pun hanya Aku yang berlatih"
"Lho, Kak Genta gak ikut latihan nunggang kuda?"
"Enggak, Dia cuma nemenin Aku"
Aku membulatkan mulutnya sebagai respon.
"Bukankah Aku menyuruhmu untuk memperhatikanku saat menaiki kuda? Kenapa malah asik mengobrol dengan petugas itu?" Dari nadanya terdengar seperti tidak suka.
"Emm.. Itu- itu karena Kak Abi menunggang begitu cepat, jadinya Syifa gak bisa merhatiin dengan baik" Alasan yang masuk akal, mwuehehe.
"Baiklah" Dia tertawa lepas, Astaga apa jawabanku lucu, kurasa tidak.
"Sekarang giliranmu Syifa, gak mau nyoba emangnya?"
"Mau, ayo Pak!" Seruku pada petugas yang memegang kuda pilihanku.
"Mari, Nona"
Aku di tuntun juga di beri pengertian cara menunggangi kuda dengan baik dan benar.
Tapi di lihat dari bagian manapun kuda ini terlihat sangat tinggi, atau hanya tubuhku saja yang terlalu pendek? Aku bimbang juga takut.
"Ahhk!" Pekikku terkejut.
Abi tanpa izin mengangkat tubuhku dengan mudah lalu di letakkan di atas punggung kuda.
"Kak Abi!"
"Maaf Syifa membuatmu terkejut, lebih cepat lebih baik, bukan?"
Maksudnya, Aku itu lambat, lelet gitu? Astaga benar-benar.
"Tidak usah manyun begitu, kayak bebek"
"Ihh Kak Abi nyebelin!!"
Lagi-lagi ditertawakan, sudahlah menyebalkan.
"Eh"
Ternyata dia ikut menaiki kuda yang sedang aku duduki.
"Kok ikut naik?" Aku menoleh padanya yang ada di belakangku.
"Aku akan mengajarimu naik kuda dengan baik dan benar, lebih bagus kan jika dari ahlinya" Ujarnya sombong.
Aku menatapnya tak percaya, "Kakak mulai sombong nih"
"Bercanda kok"
"Ini, pegang talinya Syifa"
Aku menurut, memegang tali kekang kuda dengan kedua tanganku, lalu tangannya juga ikut memegang tali yang sama, lebih tepatnya memegang tanganku.
"Siap?" Tanyanya pelan dekat dengan telinga kananku.
Aku mengangguk, "Syifa siap!!"
"Let's go!"
Kuda mulai menghentakkan kakinya dengan lambat, yah kudanya hanya berjalan pelan dengan tenang.
Mungkin karena ini pertama bagiku jadi Kak Abi membuat kudanya berjalan lambat dan tenang.
"Wahh ternyata seperti ini rasanya menunggang kuda!"
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, banyak orang juga yang berkunnung ke sini. Entah hanya menonton atau ikut menyewa kuda sama seperti kami.
Suasanya juga asri, tempatnya luas. Aku memejamkan mataku saat angin menerpa wajah dan rambutku.
Terasa begitu tenang dan menyenangkan, aku bahkan melupakan rasa takutku saat awal akan menaiki kuda.
"Suka?"
"Iya, Syifa suka"
"Gak takut?"
"Udah enggak!"
"Good girl"
"Syifa memang anak baik" Gumamku pelan berharap dia tak mendengar apa yang ku ucapkan.
"Aku tahu kau anak yang baik"
Harapanku tak terkabul, karena dia mendengar gumamanku, pendengarannya tajam juga.
__ADS_1