
Malam harinya, setelah lelah bekerja dan menyambut kenaikan Nora sebagai pimpinan utama, Fabian terduduk diam di salah satu kursi yang berada di dalam kamarnya. Ia memang tidak punya siapa pun di dunia ini, apalagi setelah Emily sudah tiada. Ia tidak pernah tahu siapa kedua orang tuanya, karena sejak kecil dirinya tumbuh di panti asuhan.
Namun saat ini, Fabian tidak ingin memikirkan tentang latar belakangnya. Perasaannya masih hancur karena kepergian wanita yang sangat berharga baginya. Ia pikir dirinya bisa melindungi Emily, sejak diberikan kepercayaan besar oleh wanita itu, baik sebagai teman maupun sekretaris pribadi. Sayangnya, Fabian justru tak berhasil menjaga Emily dengan baik, dan ia berakhir kehilangan Emily untuk selama-lamanya.
Menyesal, terluka, dan bersalah. Ketiga perasaan itu yang kini tengah menyelimuti seluruh ruang hati Fabian. Seandainya di malam kematian Emily, ia ada di samping wanita itu. Seandainya ia tidak membiarkan Emily lembur sampai larut. Ah, pasti tragedi mengerikan tidak akan pernah terjadi. Bodohnya, Fabian justru pulang lebih awal. Hanya karena ditolak ketika hendak menemani sampai Emily pulang, Fabian lantas menyerah dan undur diri duluan.
Dan sekarang tidak hanya persoalan tentang Emily saja yang tengah Fabian pikirkan. Gadis muda yang dua kali ia temui, dan tempat pertemuan terjadi di sekitar tempat milik Emily, baik pemakaman maupun rumah Emily, masih mengganggu pikirannya sampai saat ini. Fabian masih sangat ingat ketika gadis itu sempat menyebut namanya. Dirinya bahkan tak pernah sekalipun bertemu dengan gadis tersebut. Namun mengapa namanya bisa diketahui?
"Dia itu siapa? Kenapa ... kenapa gesture tubuhnya mirip dengan Emily? Dan bagaimana bisa dia mengetahui berapa orang yang tinggal di rumah Emily saat ini? Lalu, untuk apa dia mengawasi rumah Emily? Buat apa juga dia datang ke pemakaman Emily, tapi tak mau mendekat?" gumam Fabian lalu menghela napas. "Apakah dia hanyalah salah satu penggemar Emily yang begitu fanatik, sampai bersikap layaknya Emily? Tapi ... kenapa dia mengatakan bahwa aku harus hati-hati dengan dua orang penghuni rumah Emily? Maksudnya Ronald dan Nora?"
Semakin dipikirkan, semakin membingungkan. Fabian bingung, tetapi ia juga sangat yakin bahwa ia dan Emily sama sekali tidak pernah bertemu dengan gadis muda itu. Ia yang begitu dekat dengan Emily sejak masih kecil, remaja, hingga Emily dewasa, tahu betul lingkup pertemanan Emily yang tidak terlalu luas. Emily juga tidak tergabung di dalam perkumpulan para wanita sosialita. Emily akan muncul sebagai pimpinan utama dan untuk urusan yang berkaitan dengan perusahaan saja. Dan gadis itu ... sungguh! Fabian yakin, Emily tidak pernah berkaitan dengan gadis itu.
Lantas, siapa gadis itu sebenarnya?
***
Di sisi lain, selepas menghampiri setiap tempat yang dulunya ia kunjungi ketika masih hidup sebagai Emily, Chelsea memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua barunya. Kediaman Hery Padiman dan Dahlia, kedua orang tua sosok Chelsea yang sebenarnya. Namun bukan berarti ia hendak menginap di sana. Ia hanya berpikir bahwa dirinya harus mengamankan Dahlia terlebih dahulu dari Hery Padiman sebelum ia melakukan rencana pembalasan dendamnya.
Apalagi saat ini langkah untuk menggapai Ronald dan Nora sudah berada di depan mata. Besok atau lusa, Chelsea bisa saja memulai dengan langkah pertama. Dan ia tidak sekurang ajar itu sampai melupakan ibunda si pemilik raga yang ia ketahui tidak bisa berjalan. Apalagi Hery adalah pria yang kejam, Dahlia bisa mati jika terus-terusan hidup dengan pria sejahat ayah Chelsea asli tersebut.
Setibanya di rumah kedua orang tua barunya itu, Chelsea tidak langsung turun. Ia masih berdiam diri di dalam mobilnya. Meski yakin bahwa Hery sedang tidak ada, tetapi hatinya tetap resah. Barangkali Reynof benar, jika Chelsea bertemu Hery, dirinya bisa ditawarkan pada pria lain.
__ADS_1
"Sudahlah, aku terlalu overthinking. Lebih baik aku masuk dan menyelamatkan ibu baruku. Aku harus berterima kasih pada gadis ini. Lagi pula, dengan menyelamatkan Nyonya Dahlia, aku pun bisa merasakan punya ibu lagi," gumam Chelsea membuat keputusan, setelah akhirnya ia bergegas untuk keluar dari mobilnya.
Suasana rumah sederhana itu cukup gelap dan senyap. Seolah-olah tidak ada penghuninya sama sekali. Namun tak mungkin Dahlia pergi, mengingat kondisi wanita paruh baya itu yang tidak bisa berjalan. Lagi pula, mengingat sifat Hery, tak mungkin Hery mengajak istrinya jalan-jalan, bahkan meski memiliki banyak uang.
"Ibu?" ucap Chelsea sembari mengetuk pintu. Namun tidak ada sahutan sama sekali. "Ibu? Ibu, ini Chelsea. Chelsea sudah pulang ...."
Pintu rumah itu terbuka ketika Chelsea mengetuknya agak keras. Dahi Chelsea mengernyit, merasa heran mengapa pintu tidak dikunci rapat ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hery tak hanya jahat, tetapi juga ceroboh!
"Ibu!" seru Chelsea menaikkan satu oktaf suaranya. "Ibu, Chelsea pulang."
Detik berikutnya, Chelsea menyalakan lampu ketika ia menemukan salah satu saklar. Kosong. Rumah itu tidak ada siapa pun, hanya berisikan barang-barang rapuh dan kusam. Kondisinya sangat berantakan. Chelsea menelan saliva, matanya lantas menatap ke arah pintu salah satu kamar yang separuh terbuka.
Dan ....
"Ibuuu!" Teriakan Chelsea semakin melengking keras ketika ia melebarkan pintu salah satu kamar itu. Ia berlari untuk menghampiri Dahlia yang berada dalam keadaan lemah.
Wanita paruh baya itu babak belur! Wajah hingga lengannya penuh memar dan sudah dipastikan akibat bekas pukulan. Dahlia dalam keadaan sekarat. Jika dibiarkan, Dahlia bisa kehilangan nyawa.
Dengan cepat, Chelsea menggendong tubuh kurus Dahlia sembari menangis sesenggukan. Ia teringat kematian tragis ayah dan ibunya sebagai Emily. Namun meski dalam keadaan syok dan tak bisa bernapas dengan teratur, Chelsea terus berlari.
"Ibu, bertahanlah, Ibu. Kumohon. Aku sudah pulang. Chelsea yang sekarang tidak akan kabur, Chelsea yang sekarang akan melindungi Ibu! Jadi tolong bertahanlah, Ibu!" ceracau Chelsea panik parah.
__ADS_1
Lalu setelah berhasil memasukkan tubuh Dahlia ke dalam mobil bagian belakang, Chelsea lantas berlari ke ruang kemudi. Tanpa menunggu banyak waktu, ia langsung melajukan mobil itu secepat mungkin. Ia tidak memedulikan batas kecepatan, karena yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah Dahlia bisa segera mendapatkan pertolongan!
Perjalanan yang Chelsea arungi kurang lebih lima belas menit, sampai ia menemukan rumah sakit terdekat. Ia memaksa para petugas medis untuk segera mengurus Dahlia yang sudah di ambang hidup dan mati. Tak lupa Chelsea meminta mereka untuk memotret setiap luka sebelum membalutnya dengan perban. Karena hal itu akan menjadi bukti untuk menuntut Hery Padiman.
Ketika Dahlia sudah diurus para petugas medis yang begitu tanggap, Chelsea berjalan ke sana kemari di ruang tunggu. Ia menggigit ibu jarinya seperti kebiasaannya sebagai Emily. Meski tidak mampu menyelamatkan Bowo Rukmana dan Asri Dewidanti, kedua orang tuanya, ia harus menyelamatkan Dahlia!
"Pria tua jahat itu ...!" Napas Chelsea terengah-engah ketika menyebut julukan untuk Hery Padiman. "Aku harus memberinya pelajaran!"
Setelah membuat keputusan demikian, Chelsea langsung meraih ponselnya. Hanya satu nomor saja yang bisa ia hubungi dan nomor tersebut adalah milik Reynof. Lagi pula, ia memang hendak menghubungi pria itu. Ia menelan tombol panggil dan menempelkan ponsel itu di daun telinga kanannya.
"Ya, halo, Nona Kecilku. Ada apa? Apa kau sudah puas berkeliling hari ini? Apa kau sudah pulang? Aku masih mengawasimu lho! Tapi, rupanya kau justru berada di rumah sakit ya? Kenapa? Kau terluka?" sahut Reynof dari kejauhan. Terdengar suara musik diskotik yang begitu keras. Beruntung suara Reynof masih bisa Chelsea dengar.
"Aku ingin meminta bantuan darimu, Tuan," ucap Chelsea. "Tangkap ayahku. Tangkap Hery Padiman. Dan biarkan aku memberinya pelajaran. Aku ... a-aku ... akan menyerahkan diriku malam ini juga padamu. Dan aku ... akan berpenampilan menarik agar kau berselera."
"Waaaooow! Tawaran yang menarik. Dan mudah saja untuk aku lakukan, tapi tak kusangka kau berkenan untuk memberikan dirimu hanya demi bantuan semudah itu ya, Nona? Tapi, janji adalah janji. Kau sudah mengatakannya. Dan kau harus menepatinya setelah aku mengabulkan permintaanmu."
Chelsea langsung menurunkan ponselnya. Air matanya menetes lagi. Ia tidak menyangka ia akan menyerahkan dirinya pada Reynof secepat ini. Detik berikutnya, Chelsea mendongak, menatap atap yang putih bersih.
Hai, Nona Chelsea yang asli. Kau tidak boleh marah, ya? Karena aku menyerahkan tubuhmu demi ibumu. Kau juga ingin ayahmu dihukum, bukan? Aku yang akan menikmati rasa mualnya. Tapi, maaf, suatu saat ketika kau meminta ragamu lagi, mungkin keadaan raga ini sudah tidak suci lagi. Maafkan aku ....
***
__ADS_1