
Setelah terbangun dari tidurnya yang kurang lebih selama tiga jam, Chelsea memutuskan untuk pergi ke rumah sakit di mana Dahlia masih dirawat. Sebenarnya sejak memasuki ruang rawat yang merupakan salah satu ruangan VIP rumah sakit itu, Chelsea merasa cukup canggung. Untuk saat ini Dahlia sudah lebih sehat dan stabil, mungkin Dahlia bisa pulang secepatnya. Kecanggungan yang meliputi perasaan Chelsea mungkin disebabkan oleh kesadarannya kalau dirinya memang bukanlah sosok Chelsea yang asli. Jika ditelisik lebih dalam sampai ke dasar hati, sejujurnya ia masih memiliki sedikit perasaan bersalah.
Hanya saja, ... semua yang terjadi bukan salah Chelsea alias Emily, bukan? Semesta yang meminta jiwanya untuk tinggal di raga gadis itu. Membuatnya turut terpaksa untuk berperan sebagai Chelsea Indriyana yang ia sendiri tidak tahu bagaimana perangainya.
”Beneran! Kau itu tambah cantik, cerah, dan banyak berubah, Nak! Seperti bukan putri Ibu!” celetuk Dahlia yang kembali mengucapkan kalimat bermakna sama seperti yang pernah ia ucapkan sebelumnya.
Chelsea tersenyum masygul. Kali ini ia tidak terlalu cemas mengenai kemungkinan Dahlia akan menaruh curiga terhadap identitas jiwanya, karena mau bagaimanapun kenyataan itu memang sukar untuk dipercaya oleh siapa pun. Bahkan Reynof yang sempat menyebut namanya sebagai Emily saja, kembali memutuskan untuk menganggapnya sebagai Chelsea Indriyana. Dan kemungkinan besar, pria itu masih tetap menganggapnya sedang mengalami gangguan mental. Hal yang sama tentu bisa terjadi pada Dahlia, jika Chelsea mengatakan kejadian yang sebenarnya.
“Memangnya Chelsea lebih terlihat seperti siapa, Ibu? Kok Ibu terus-terusan bilang bahwa Chelsea banyak berubah?” ucap Chelsea yang sekadar basa-basi. Namun kemudian ia memiliki satu pemikiran lain, ia harus mencari tahu bagaimana si Pemilik Raga menjalani hidup selama ini. “Mm, Ibu pasti sudah mengetahui keputusan yang sempat saya ambil, bukan? Mm, so-soal bunuh diri?”
Ekspresi di wajah Dahlia langsung berubah. Yang awalnya cerah kini menjadi lebih muram. Matanya juga terus bergerak-gerak tidak karuan, dibarengi dengan jari-jarinya yang sibuk memainkan selimut. Kemungkinan besar ia sedang diserang sejumlah kegelisahan.
”Ibu ....” Chelsea yang langsung peka terhadap kondisi sang ibu berangsur menggenggam kedua jemari ibunya itu. Senyum yang tergambar di bibirnya tak lagi masygul, melainkan lebih tulus. “Saya tidak akan melakukannya lagi. Benar-benar tidak akan! Saya berjanji!”
__ADS_1
“Benarkah, Nak?” Setetes air mata keluar dari pelupuk mata Dahlia mengiringi keluarnya sebuah kalimat tanya yang hanya terdiri dari dua kata tersebut.
Chelsea segera mengangguk mantap. “Saya bersumpah, Ibu! Saya akan terus menjaga Ibu, dan sekarang saya juga berencana untuk mengamankan kehidupan kita dari marabahaya apa pun! Sungguh!”
“Tapi, ... kenapa kau justru membahas tindakanmu itu lagi, Nak? Ibu benar-benar takut jika kau nengulanginya lagi. Gara-gara Ibu dan Ayah, kau harus sampai melakukan hal seperti itu.”
“Saya hanya ... belum banyak mengingat semuanya, Ibu. Saya didiagnosa mengalami amnesia. Meski untuk beberapa hal saya sudah cukup paham, ah ... maksudnya ingat, tapi sebagian besar memori masih belum saya ingat sama sekali. Saya ingin tahu sosok Chelsea lagi, dan apa yang saya lakukan selama ini. I-itu, demi bisa memancing ingatan lain di benak saya, Ibu.”
Dahlia merasa miris sekaligus prihatin, ketika rasa bersalah masih saja bersarang di dalam hatinya. Namun dalam waktu bersamaan, sejujurnya pun ia merasa agak lega, karena dengan kehilangan ingatan, Chelsea tidak harus mengingat banyak hal mengerikan mengenai sikap Hery Padiman. Sementara di sisi lain, Dahlia juga tidak tega jika putrinya sampai mengalami krisis identitas karena melupakan nyaris segalanya memori sepanjang hidup.
Tidak hanya di bagian pendidikan saja, Dahlia juga mengisahkan pekerjaan Chelsea di salah satu minimarket sebagai seorang kasir. Namun setiap habis gajian, Hery selalu meminta sebagian besar uang Chelsea dengan merampas kartu ATM milik gadis itu. Chelsea diperas habis-habisan tanpa diperbolehkan menjalani apa pun yang sesuai keinginannya. Membuat gadis itu berubah menjadi pribadi yang muram, pemalu, bahkan pesimis. Puncaknya adalah ketika Hery Padiman mendadak membuat keputusan mencengangkan. Hery ingin menjual Chelsea karena sudah kalah judi, lagi pula Hery memang sudah membuat kesepakatan dengan barang taruhan yakni putrinya itu sendiri.
“Ibu benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa ketika kau diseret oleh ayahmu, Nak. Maafkan Ibu. Ibu benar-benar menyesal dan bersalah, tapi di sisi lain, Ibu juga lega karena akhirnya kau bisa selamat. Tapi, ... pria itu ... pria yang membeli dirimu, apa kau disiksa olehnya, Nak? Apa kau hisa kabur darinya sampai bisa keluar dan merawat Ibu seperti sekarang?” ucap Dahlia mengakhiri segala kisah yang sempat ia ceritakan.
__ADS_1
Chelsea menelan saliva. Kembali dibuat miris setelah mendengar kisah sang pemilik raga yang benar-benar sulit. Ia sendiri tidak tahu mengapa semesta justru membuat jiwa Chelsea asli seolah hilang begitu saja. Ataukah Chelsea Indriyana yang sesungguhnya memang sedang dipersiapkan untuk kehidupan yang lebih bahagia setelah si Chelsea yang baru alias Emily telah berhasil mengubah takdir gadis itu?
“Tuan Reynof. Beliau sangat baik kok.” Pada akhirnya Chelsea berbohong, tetapi juga tidak terlalu berbohong karena perlahan ia mengakui jika Reynof masih memiliki sisi positif. “Beliau hanya ingin menyelamatkan saya dari Ayah, jadi pura-pura untuk melakukan jual-beli. Buktinya sekarang saya sudah jauh lebih baik, bukan, Bu? Saya juga tambah cantik, 'kan? Itu semua karena Tuan Reynof yang tidak pernah pelit. Selain itu, ruangan di mana Ibu berada sekarang adalah ruangan VIP yang mahal dan Tuan Reynof yang memindahkan Ibu ke tempat ini.”
“Benarkah, Nak? Oh sungguh, Ibu sangat bersyukur! Ternyata Tuhan memang tidak tidur!” Air mata kesedihan dari pelupuk mata Dahlia berubah menjadi deraian haru. “Bisakah kau mempertemukan Ibu dengan Tuan ... Tu-tuan Rey— ah, itu pokoknya! Bisakah, Nak? Ibu ingin berterima kasih pada beliau karena beliau sudah membantu kita, khususnya kau, Chelsea.”
Chelsea dibuat panik. Sempat bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal hanya demi mencari jawaban yang tepat atas permintaan dari Dahlia. Sampai tak lama berselang ia lantas berkata, “Tuan Reynof itu pimpinan perusahaan besar, Ibu. Beliau tidak bisa sembarangan diajak untuk bertemu. Jadi saya tidak bisa menjanjikan akan hal itu.”
“Waaah!” Mata Dahlia mulai berbinar. “Jadi beliau betul-betul orang besar ya, Nak! Oh, Putriku Chelsea! Kau sungguh beruntung, karena telah menemukan pria yang tepat! Sungguh, kalian harus segera meresmikan hubungan kalian ke jenjang pernikahan! Tuan Rey ... ah, pasti sangat menyukai dirimu, Chelsea.”
“A-ha-ha-ha. Mana mungkin, Ibu!” tukas Chelsea. Reynof hanya menyukai tubuh dan kemampuan saya, Ibu! Batinnya setelah itu. “Beliau hanya sekadar orang ba-ik, Ibu. Jangan berharap banyak! Lagi pula saya masih sangat muda, saya masih punya banyak keinginan. Masih terlalu dini untuk menjalani pernikahan.”
“Hihi, ya tidak masalah, asal kalian saling menyukai. Selama beliau juga masih muda dan tampan, sekaligus masih bujang. Tapi, sebenarnya Ibu hanya sedang mengujimu dengan candaan kecil ini, hihi, dan kau tidak menyangkal dengan mengatakan bahwa Tuan Reynof itu adalah om-om tua atau pria beristri. Kau hanya mengatakan bahwa beliau memang orang baik.” Dahlia berangsur menggenggam telapak tangan Chelsea. “Ibu menginginkan segala kebaikan untuk dirimu, Chelsea. Semua keputusan ada di tanganmu. Dengan siapa pun kau akan menjalani hidup, asal bukan dengan pria seperti ayahmu, Ibu pasti akan setuju. Ibu sungguh menyesal karena menikah dengan ayahmu gara-gara harus menuruti perjodohan dari orang tua kami, dan pada akhirnya Ibu dan dirimu berakhir disiksa habis-habisan. Ibu tidak mau nasib buruk kita terulang pada dirimu, Nak.”
__ADS_1
Andai Ibu tahu bahwa Reynof memiliki rekam jejak yang jauh lebih kejam dari Hery, mungkin saat ini Ibu sudah kepikiran sekaligus juga ketakutan. Tapi, di sisi lain, aku justru ingin memilih Reynof daripada pria semacam Hery maupun Ronald. Padahal Reynof tak jauh berbeda dengan para beddebah itu. Entahlah, batin Chelsea.
***