Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Penyesalan Terbesar Chelsea


__ADS_3

Reynof terpaku diam setelah membuka pintu kamarnya, dan mendapati Chelsea ada di sana. Ia lantas menelan saliva dan cukup bingung. Sungguh tidak mau jika kondisi buruknya saat ini, yang berpenampilan dengan kemeja putih acak-acakan dan dipenuhi bercak merah menimbulkan spekulasi di otak Chelsea. Apalagi jika gadis itu langsung menatapnya dengan ngeri.


Tadinya Reynof pikir Chelsea sedang beristirahat di dalam kamar lain, tetapi Chelsea malah berada di sini dan membuat Reynof benar-benar semakin cemas.


”Tuan Reynof ...?” ucap Chelsea yang sudah bangkit dari duduknya dan menatap Reynof.


Reynof langsung memutar badan untuk menyembunyikan bercak merah yang teramat banyak di kemejanya. ”Aku tidak membunuhnya kok! Dan aku benar-benar minta maaf, karena harus sekejam ini padanya. Ah, aku sungguh tidak mau membuatmu melihat kondisiku yang seperti ini, Nona. Kenapa kau malah ada di dalam kamarku?”


Tidak ada jawaban dari Chelsea, tetapi Reynof mendengar langkah kaki yang telah Chelsea ambil. Di mana tujuan Chelsea yang semakin mendekatinya, membuatnya semakin tegang dan cemas. Ia benar-benar tidak mau dicampakkan, bahkan sebelum ia menyatakan perasaan.


Grep!


Sungguh tak Reynof duga, karena Chelsea malah memeluk tubuhnya. Hingga kecemasannya langsung menghilang pada saat itu juga. Matanya berangsur turun menatap kedua telapak tangan Chelsea yang saling terikat dan tengah melingkari pinggangnya. Tak berselang lama, Reynof mencoba menyentuh jemari lentik gadis itu.


”Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tidak mengira kalau Ronald akan membawa senjata berbahaya, dan nyaris saja membunuhmu. Maafkan aku yang sudah bersikap seenaknya, maafkan aku karena sudah hampir membuatmu celaka, Tuan Reynof,” ucap Chelsea diiringi deraian air mata dan tentu saja suara tangisannya turut terdengar.


Reynof menghela napas kemudian berkata, “Ya, kau sudah membuatku sangat kesal. Sangat-sangat kesal, Nona.”


”Maafkan aku, sungguh maafkan aku. Aku akan menerima apa pun hukuman darimu.”


”Bahkan ketika aku harus mengurungmu? Apa kau akan manut?”


Chelsea mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Ya, aku akan melakukannya. Aku tak akan keluar dari tempat ini!”


”Kenapa? Bukankah kau paling benci ketika dikurung? Dan pastinya segala rencanamu akan terkendala jika kau tidak bisa keluar dari tempat ini.”


”Karena aku tidak mau gegabah lagi, dan sampai mencelakaimu untuk kedua kalinya. Aku tidak mau kau terluka!”


Reynof berangsur melepaskan dekapan Chelsea dari tubuhnya. Detik berikutnya, ia menghadapkan diri ke arah gadis itu. ”Aku tidak terluka. Yang terluka parah adalah Ronald.”


”Tapi, mau bagaimanapun kau hampir celaka! Dan semua itu gara-gara aku!”


Binar mata Chelsea sungguh memancarkan sebuah penyesalan sekaligus ketakutan yang mendalam. Isak tangis Chelsea membuat Reynof menjadi tidak tega. Penyakit Reynof yang kerap senang mendengar rintihan gadis polos sepertinya sudah sembuh total. Karena di saat Chelsea meratap menyedihkan, hati Reynof malah terenyuh dan turut terluka. Keberadaan Chelsea atau lebih tepatnya Emily sudah seperti obat mujarab bagi Reynof yang menderita gangguan mental trauma, dan hasrat gilanya. Wanita itu sungguh sangat berharga baginya.


”Ayo duduk,” ucap Reynof sembari memapah Chelsea ke bagian sofa di dalam kamar itu.


Tak ada satu pun sanggahan yang Chelsea katakan, karena ia benar-benar sudah manut. Rasa bersalah dan ketakutannya memang masih sangat besar. Ia yang tadinya ingin menjebak Ronald agar ditangkap oleh Reynof dengan alasan yang kuat, justru berakhir membahayakan Reynof.

__ADS_1


Senjata api yang dibawa oleh Ronald memang benar-benar di luar dugaan. Namun kenyataan itu tak bisa menyurutkan rasa bersalah Chelsea pada sang tuan.


“Tenanglah, aku baik-baik saja. Kita selamat,” ucap Reynof sembari mendekap serta membelai lembut punggung Chelsea.


Masih dalam keadaan sesenggukan, karena memang sulit sekali meredam tangisan, Chelsea berkata, ”Aku benar-benar minta maaf. Aku—”


”Sudahlah. Yang penting kita selamat, Nona.”


”Aku ingin kau menangkap basah Ronald, tapi tak kusangka dia membawa senjata itu, Tuan Reynof. Perutku memang masih melilit, dan otakku tak bisa berpikir dengan baik. Aku tahu ini hanya sebuah alasan. Tapi memang begitu adanya, aku sama sekali tidak ingin mencelakaimu. Dan aku tahu, perbuatanku sama sekali tak termaafkan. Aku sudah berbuat konyol hanya karena terobsesi pada sebuah bukti yang Ronald janjikan. Aku hanya ingin segera mengakhiri segalanya, tapi aku malah melakukan hal yang bodoh.”


Reynof tersenyum tipis. Meski masih terenyak sakit, nyatanya ia pun merasa senang dan lega. Kecemasan Chelsea terhadap keselamatannya benar-benar membuatnya bahagia. Bukan maksud hati ingin tertawa di atas penderitaan Chelsea, tetapi Reynof sungguh merasakan hal tersebut.


”Aku tidak sedang mengomel ya, tapi sedang memberikan sedikit nasihat. Dengar, Nona, kau tak harus terburu-buru begitu. Bukti itu pasti bisa kau dapatkan, apalagi kau sudah menugaskan Fabian untuk mengelabui Nora, bukan? Kau memang tidak mengatakan secara gamblang mengebai hal ini padaku, tapi aku yakin tebakanku tepat. Masalah menangkap Ronald, tanpa kau membuat skenario pun, aku bisa melakukannya. Aku bisa memaksanya agar dia cepat mengaku,” ucap Reynof lembut.


Chelsea menggeleng pelan. ”Aku maunya juga seperti itu. Tapi, mau bagaimanapun, saat ini posisi Ronald sebagai suami Emily cukup mentereng. Hilangnya dirinya akan disorot. Kalau dia tiba-tiba menghilang, dan itu karena dirimu, pasti kau berada dalam masalah besar. Aku pun sudah menjauhinya sejak menugaskan Fabian, tapi bukti yang dia tunjukkan membuatku sempat gelap mata, Tuan Reynof. Sekali lagi, aku tahu ini hanya alasan, tapi otakku memang sempat tak bisa berpikir dengan baik.”


”Kau masih sakit perut?”


Chelsea mengangguk. ”Ya. Aku tidak pernah mengalami sakit sehebat ini sejak hidup sebagai gadis ini. Ini pertama kalinya dan sakit sekali.”


”Apa kita harus ke dokter?”


“Ah, aku menyesal karena aku tidak paham harus berbuat apa pada wanita yang sedang mendapat jatah bulanan.”


”Tidak perlu menyesal. Aku hanya curiga kalau gadis yang selalu menderita ini sudah lama tidak mengalami haid. Sejak aku hidup di tubuh ini pun, sepertinya ini pertama kalinya aku mendapatkan jatah bulanan.”


“Oh ya? Ah, aku sama sekali tidak tahu. Pasti sakit sekali ya?”


Chelsea menelan saliva. Detik berikutnya, ia berangsur menegakkan tubuhnya. Dengan cepat ia membersihkan sisa-sisa air matanya. Dan beruntung tangisannya sudah mereda.


“Tuan Reynof?” ucap Chelsea sembari menatap Reynof dengan saksama.


Reynof membalas tatapan Chelsea sembari mengernyitkan dahi. “Kau butuh sesuatu?” tanyanya.


”Tidak, tapi ... kenapa kau diam saja ketika aku membicarakan tentang gadis ini dan selama aku hidup sebagai gadis ini? Jujurlah, hal mana yang sudah kau yakini? Kau melihatku sebagai siapa? Chelsea atau Em—”


”Hei, Nona, kau—”

__ADS_1


“Jangan memotong ucapanku lagi dan katakan padaku!”


Reynof menghela napas. Kemudian, dengan berat, ia berkata, “Untuk saat ini dan demi keamanan dirimu, aku melihatmu seperti siapa identitasmu dirimu sekarang.”


“Apa?”


“Chelsea, aku melihatmu sebagai Chelsea.”


Reynof tahu, si Jiwa pasti akan kesal dengan jawabannya. Sayangnya ia pun belum siap untuk berkata jujur. Si Jiwa adalah wanita yang pintar. Dan seharusnya jawaban Reynof bisa langsung membuat si Jiwa paham. Namun entah, karena Reynof sendiri merasa jawabannya masih ambigu. Ia benar-benar takut jika sosok Chelsea berubah. Dan setelah tragedi penyerangan yang dilakukan oleh Ronald, tentu saja Reynof harus lebih berhati-hati dalam memosisikan sosok Emily yang saat ini adalah Chelsea.


“Chelsea? Bolehkah aku membersihkan diriku dulu? Aku benar-benar tidak nyaman berada di dekatmu dengan kondisi diriku yang sangat mengerikan. Aku khawatir kau takut padaku,” ucap Reynof lalu berangsur bangkit.


Chelsea mengangguk. ”Silakan. Aku juga harus membersihkan diriku,” jawabnya.


”Beristirahatlah, dan selama seminggu ke depan, kau tak usah bekerja. Inilah hukuman yang aku berikan padamu. Kau sungguh tak boleh terlalu banyak keluar rumah.”


”Ya, aku akan melaksanakan hukuman itu. Dan terima kasih, sekaligus maafkan aku, aku tidak pernah bermaksud untuk mencelakaimu, Tuan Reynof.”


Reynof tersenyum. “Aku senang ketika kau sangat mencemaskanku.”


“Tapi, aku masih saja memberikan banyak alasan.”


”Alasanmu cukup untuk membuat rasa kesalku menghilang, Nona. Dan sekarang biarlah aku yang menuntaskan semuanya. Oke?”


”I-iya.”


“Jawablah dengan benar, Nona, dan lekas tersenyumlah.”


Chelsea tersenyum secara tulus. ”Iya, Tuan Reynop!”


”Aih! Baru saja sembuh dari rasa kesal, tapi logatmu sungguh membuatku kembali jengkel, Chelsea!”


Chelsea tertawa kecil. Detik berikutnya, ia membiarkan Reynof berlalu untuk membersihkan diri. Ketika pria itu mulai sibuk, barulah Chelsea memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut. Ia berjalan sambil menerka-nerka apa saja yang telah Reynof lakukan pada Ronald, sampai pakaian putih Reynof dipenuhi bercak merah. Sudah pasti sebuah penyiksaan berat. Namun, Chelsea tetap berharap agar Reynof tak sampai membunuh Ronald. Selain masih ingin membuat Ronald menjalani hidup dengan berbagai penderitaan yang besar, Chelsea tidak mau jika jiwa bengis Reynof malah bangkit lagi.


Dan sungguh, Chelsea benar-benar akan menyesal, jika gara-gara dirinya perubahan baik yang telah terjadi pada Reynof malah tercoreng dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Reynof pada Ronald.


“Sebelum aku lenyap, aku ingin memastikan kau benar-benar menjadi orang yang jauh lebih baik, Tuan Reynof,” gumam Chelsea sembari menekan bagian tubuh di mana jantungnya berada.

__ADS_1


***


__ADS_2