
“Apa Anda baik-baik saja, Tuan Ronald? Anda tidak menghubungi saya sama sekali sejak pertemuan terakhir kita,” ucap Chelsea setelah Ronald sudah menerima panggilan suara darinya. “Saya benar-benar mengkhawatirkan Anda, Tuan. Sejujurnya, tadi malam saya bertemu dengan Nona Nora dan kami sempat bertengkar, dan ... saya telah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya saya katakan mengenai Anda. Apakah Anda sudah mendengar akan hal itu? Jika sudah, maafkan saya, jika belum, mari kembali bertemu, Tuan. Saya ingin meminta maaf secara langsung pada Anda.”
Chelsea langsung berbicara panjang lebar, untuk lebih mendominasi keadaan sebelum Ronald lebih dulu menerangkan sebuah kekecewaan. Hal itu Chelsea lakukan untuk mengantisipasi kemarahan Ronald, seandainya Ronald sudah mendengar perdebatannya dengan Nora tadi malam. Dan tak lama berselang, tepatnya setelah mendapatkan persetujuan sebagai jawaban atas penawaran untuk bertemu kembali, Chelsea lantas mematikan panggilan tersebut.
Usai memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer seperti sebelumnya, Chelsea berangsur menghadapkan diri ke arah cermin toilet itu. Ia memandangi wajahnya yang tetap cantik, meskipun tanpa polesan make-up yang berlebihan. Kedua bola matanya yang bulat itu kembali memancarkan semangat yang jauh lebih besar.
“Tinggal bagaimana caranya aku mengatakan rencanaku pada Reynof yang sudah pasti akan merengut dan marah-marah lagi,” gumam Chelsea. Detik berikutnya, ia lantas menghela napas ketika teringat akan ibunya.
Tadi, sewaktu masih makan siang, Chelsea memang telah dihubungi oleh staf medis yang sudah ia percayai, dan kata staf tersebut, ibunya besok sudah bisa pulang. Kondisi Dahlia sudah semakin membaik, tekanan darahnya tak lagi terlalu rendah meski masih belum sampai ke tahap normal. Namun secara fisik terlepas dari kecacatan kakinya, Dahlia sudah berangsur pulih.
“Saking sibuknya, aku sampai melupakan hal yang seharusnya aku lakukan. Mencari sebuah apartemen untuk Ibu. Apa besok, aku ajak ke hotel dulu saja ya?” ucap Chelsea mempertimbangkan. “Baiklah. Mungkin memang harus begitu. Aku tidak mau meminta bantuan dari Reynof lagi ... meskipun dia tidak akan keberatan.”
Sudah waktunya kembali bekerja, dan Chelsea tidak boleh terlihat sedang berleha-leha. Mau bagaimanapun, ia tidak mau dianggap terlalu memanfaatkan kebaikan Reynof padanya, kendati pria itu bukan orang yang sepenuhnya baik. Dan demi melawan tatapan sinis Kayla yang masih saja tak mau menerima keberadaannya, Chelsea harus menunjukkan kerja kerasnya.
Tempat kerja Chelsea berada di bilik divisi tertinggi, di mana Kayla juga kerap berada di sana ketika Ruben masih berada di tempat. Dan ketika Ruben harus keluar untuk mengurus masalah lain, Kayla baru menggantikan Ruben untuk mengurus berbagai agenda untuk Reynof. Sementara Chelsea yang notabene orang yang masuk tanpa melakukan tes apa pun, kerap mengerjakan berkas-berkas yang langsung ia terima dari Reynof. Dan tidak jarang ia langsung berdiskusi dengan Reynof, setelah pria itu mengacungi jempol atas kemampuannya yang sangat hebat untuk ukuran gadis yang tidak lulus kuliah.
“Hei!” Mendadak terdengar suara seorang wanita setelah Chelsea keluar dari toilet kantor. Yakni Kayla yang setelah Chelsea menghentikan langkah sekaligus menoleh ke arahnya, lantas kembali berkata, “Kau dipanggil lagi oleh Tuan Reynof. Seharusnya setelah jam kerja dimulai, kau itu duduk di tempat kerja dan tak membuat orang lain kerepotan mencarimu!”
__ADS_1
“Ah, maafkan aku dan terima kasih karena kau sudah berkenan untuk mencariku, Nona Kayla,” sahut Chelsea lalu tersenyum tipis.
“Sebenarnya aku benar-benar malas, kalau bukan karena Tuan Reynof aku tidak akan pernah melakukannya!”
“Jangan terlalu ketus, Nona Kayla. Sudah sejauh ini aku berada di perusahaan ini. Bukankah tak baik jika kita masih bermusuhan? Yah, bukan maksudku untuk mengajakmu berteman, tapi setidaknya kita bisa bersikap sopan satu sama lain. Jangan terlalu cemburu lagi, lantaran kecemburuanmu itu akan sia-sia, sebab Tuan Reynof sudah sepenuhnya memilihku daripada kau!”
Kayla tersenyum kecut. “Rupanya kau masih tidak sadar, bahwa kau bisa dibuang kapan saja ya? Sementara aku? Aku yang bekerja selama bertahun-tahun, tetap akan dipertahankan!”
“Ayolah, Nona, kau dipertahankan karena kebetulan kau pun cukup pintar. Apalagi aku yang jauh lebih pintar? Sudah pasti aku unggul lagi dan terus dipertahankan!” sahut Chelsea membalikkan keadaan. “Ah, sudahlah. Sekali lagi terima kasih karena kau sudah mencariku, Nona Kayla yang seksi bin murahan! Aku permisi!”
“Baik, Kakak. Aku anggap itu pujian!”
Chelsea yang tidak mau terlibat perdebatan panjang lebar dengan Kayla yang sampai saat ini enggan berubah, segera mengambil langkah cepat. Tidak hanya karena ingin menghindari Kayla saja, karena Chelsea pun sudah cukup penasaran tentang mengapa Reynof yang seharusnya mengerjakan hal lain dan dibantu oleh Kayla, lantaran Ruben pergi, malah memanggilnya lagi.
Tidak butuh banyak waktu, karena keberadaan kantor Reynof tepat berada di atas lantai yang sebelumnya Chelsea pijaki. Chelsea segera mengetuk pintu dan bergegas untuk memasuki ruangan itu. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah keberadaan Reynof yang duduk sembari bersandar di sofa tamu ruangan itu. Membuat Chelsea lantas bertanya-tanya, tentang mengapa Reynof justru melamun serta memangku dagu dengan salah satu telapak tangan.
“Ada apa, Tuan?” tanya Chelsea setelah tiba di hadapan Reynof.
__ADS_1
Reynof berangsur mendongak, menatap Chelsea yang belum mengambil sikap duduk. Namun alih-alih meminta gadis itu untuk duduk, Reynof justru memutuskan untuk berdiri. Ia berjalan ke arah Chelsea, dan lantas memeluk tubuh Chelsea dengan erat.
Mendapatkan perlakuan sedemikian rupa, tentu saja Chelsea langsung melongo. Mungkin Reynof memang playboy kelas kakap yang kiprahnya di dunia malam bersama beberapa wanita memang tidak perlu diragukan lagi, tetapi kali ini pelukan Reynof terasa berbeda dan tidak diiringi dengan hasrat yang nakal. Chelsea dapat menebaknya dari cara Reynof mengembuskan napas, napas yang tidak memburu atau terdengar bernafsu, melainkan napas yang normal.
“Kenapa kau tiba-tiba memelukku, Tuan Reynof?” tanya Chelsea ketika wajahnya nyaris terbenam di tubuh Reynof secara sepenuhnya.
Reynof menjawab, “Aku hanya ingin menghiburmu saja.”
“Hah? Menghibur untuk apa? Aku kan tidak sedang sedih, aku justru senang karena kita bisa berhasil.”
Namun pertanyaan Chelsea dibiarkan mengambang tanpa jawaban pasti, ketika Reynof memilih diam.
Sebenarnya belum lama ini, Reynof membuka sosial media yang terbilang jarang ia buka, karena selama ini hanya dikelola oleh Ruben dan Kayla sebagai strategi marketing sekaligus membangun citra namanya. Dan Reynof mendadak membuka laman media sosialnya untuk mencari seseorang yang sebenarnya berada di dekatnya, lebih tepatnya jiwa orang itu.
Nama Emily P Rukmana yang Reynof ketika di kolom pencarian sebagai kata kunci, membawa Reynof untuk menemukan akun media sosial milik wanita itu. Barisan foto Emily yang cantik dan lebih didominasi foto formal sebagai seorang pimpinan utama sebuah perusahaan besar, membuat Reynof sempat terenyuh sekaligus prihatin.
***
__ADS_1