Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Reynof Harus Bagaimana Jika Jiwa Emily Lenyap?


__ADS_3

”Tolong jaga putri saya dengan baik, Tuan Reynop. Saya tahu kami adalah orang miskin dengan segala hal yang serba kekurangan. Tapi, putri saya adalah putri yang sangat baik sekaligus berharga. Namun dia sama sekali tak pernah merasakan bahagia, lantaran ada masalah di dalam keluarga kami. Jadi, Tuan Reynop, jika Anda menyukai putri saya, tolong jangan pernah menyakiti dia.”


Demikian ucapan yang Dahlia katakan ketika Chelsea masih sibuk di dalam dapur, tadi siang di hotel milik Nerverley Group. Meski Dahlia itu tidak bisa menyebut nama Reynof secara benar, Reynof malah terus kepikiran tentang permintaan wanita paruh baya itu. Dan saat ini, Reynof termenung diam sembari duduk di sofa kesayangannya dan di dalam kamarnya.


Tentu saja sebagai sosok pria yang membeli Chelsea dengan nominal uang yang tak sedikit, sekaligus pria yang lambat-laun begitu menginginkan Chelsea—Emily, Reynof akan dengan senang hati menyetujui permintaan Dahlia. Hanya saja ... ada satu hal yang membuat Reynof tersadar. Mengenai sosok Chelsea yang jiwanya palsu. Jika jiwa di dalam tubuh gadis itu bukan jiwa milik Emily, apakah Reynof akan menginginkan gadis itu sebesar saat ini?


Karena sejak awal, Reynof membeli Chelsea bukan karena cinta, melainkan nafsu serta keinginannya untuk mendengar jeritan gadis itu demi memenuhi kepuasan batinnya yang menyukai suara wanita tersiksa. Namun ternyata, setelah bertemu dengan sosok Chelsea, Reynof justru ditawari sebuah kesepakatan yang membuatnya tertantang sekaligus penasaran. Di mana setelah itu, ia malah menemukan hal-hal janggal dari sosok Chelsea yang seharusnya bertindak bodoh dan naif selayaknya gadis muda tak lulus kuliah.


Segala kemampuan Chelsea benar-benar membuat Reynof terheran-heran, sampai akhirnya Reynof mendapatkan jawaban. Sebuah jawaban yang sebenarnya tak bisa diterima oleh akal dan pikiran Reynof dalam waktu cukup lama, kendati Chelsea secara tidak langsung sudah mengaku bahwa dirinya adalah Emily. Hingga setelah mendengar penuturan dari Nora, Reynof baru memutuskan untuk meyakini kenyataan aneh yang memang telah terjadi tersebut.


”Jika dia bukan Emily, apa aku bisa berbuat sejauh ini untuknya? Apakah aku akan mempertahankannya sampai sekarang?” gumam Reynof bertanya-tanya. ”Di mana jiwa Chelsea yang sebenarnya? Di mana sosok asli gadis itu? Benarkah dia sudah lenyap? Atau justru masih menyelinap di bagian tersembunyi tubuh itu? Jika masih, apakah dia akan meminta tubuhnya kembali? Jika iya, bagaimana nasib Emily? Apakah jiwanya akan lenyap, karena tubuhnya pun sudah terkubur di bawah tanah?”


”Jika Emily lenyap, apa aku bisa menerima kehadiran si Pemilik Tubuh yang sebenarnya? Atau, apakah perasaanku akan berbeda, meskipun rupa mereka tetap sama? Aku ... menyukainya, bukan karena dia sekadar cantik. Karena nyatanya Emily juga sangat cantik.” Reynof berangsur menurunkan arah pandangnya, kemudian menatap layar ponsel yang menyajikan gambar diri Emily dengan balutan gaun putih dengan bagian bawah yang mekar. Wanita itu cantik sekali. “Jika jiwamu lenyap, aku harus bagaimana, Emily? Aku ... ingin kau menjadi istriku, Emily. Aku menginginkanmu lebih dari yang aku duga. Tapi bagaimana caranya aku mempertahankan dirimu yang sudah tak punya raga?”


Reynof menelan saliva. “Apakah aku harus membunuh gadis lain, dan menjadikan tubuhnya sebagai tempat tinggalmu? Tapi, jika aku mendapatkan tubuh itu, bagaimana aku bisa memindahkan jiwamu?”

__ADS_1


Setelah selalu merasa dirinya bak Dewa Penguasa, kini akhirnya Reynof menyadari bahwa dirinya hanyalah sekadar manusia yang terkadang tak punya daya. Di saat ia menemukan sosok wanita yang begitu ia inginkan, dan mungkin sudah betul-betul ia cintai, ia justru dihadapkan dengan kenyataan seperti ini. Ada kemungkinan Emily lenyap, dan Reynof akan kehilangan wanita itu sepenuhnya. Masalahnya, ini berkaitan dengan takdir Sang Maha Kuasa, bukan kehilangan akibat ulah sesama manusia. Sehingga Reynof menderita ketakutan yang tak bisa ia taklukkan dengan mudah.


Kendati raga Chelsea sudah pasti utuh ketika si Pemilik Raga muncul, Reynof yakin dirinya tidak akan bisa mencintai gadis asli itu. Satu-satunya wanita yang terus menentangnya adalah Emily, dan hal itu cukup membuatnya terkesima. Dan tak hanya itu saja, sebab keberanian Emily melakukan apa saja demi sebuah ambisi, membuat Reynof benar-benar terpukau. Reynof yang selalu bersikap sebagai pengecut yang tak berani melawan ayahnya pun dibuat malu oleh Emily yang memutuskan untuk melawan Hery Padiman, padahal si Chelsea asli juga tak mungkin berani, lantaran gadis itu justru memutuskan untuk bunuh diri.


Reynof yakin, yang ia cintai bukan fisik Chelsea, melainkan segala karakter memukau milik si Jiwa yang tinggal di tubuh gadis itu. Namun Reynof harus bagaimana untuk mencegah lenyapnya jiwa Emily?


***


Setelah sempat drop dan panik ketika baru mendengar kabar pembatalan rencana kerja sama langsung dari Gaspard Cassel, kondisi Nora sudah pulih kembali. Aktivitasnya pun masih sama saja, kecuali agenda baru yang mengharuskannya untuk tetap bertahan dari meningkatnya kritikan yang diterimanya. Namun sebagai seorang pimpinan sekaligus pemegang saham terbesar yang ia dapatkan setelah Emily meninggal, Nora memutuskan untuk terus bersikap seangkuh mungkin demi menghadapi semua orang. Dan ia selalu menggunakan kekuasaan yang ia miliki untuk membuat para pengkritik langsung terdiam.


Nora tidak peduli kehilangan Ronald yang selama ini telah merangkap tak hanya sebagai suami Emily, melainkan juga menjadi kekasihnya. Karena nyatanya, pria yang Nora temui di sebuah diskotik sekitar dua tahun yang lalu itu, memang hanya ia manfaatkan saja.


Pertemuan Nora dengan Ronald diawali dengan kejadian malam panas yang mereka lewati bersama karena sama-sama mabuk berat. Membuat Nora malah terus mencari keberadaan Ronald yang kerap datang ke klub malam. Berkat kedekatannya dengan Ronald tersebut, Nora akhirnya tahu jika Ronald terobsesi untuk menjadi orang kaya, lantaran sejak kecil sudah hidup miskin. Tak jarang Ronald dihina, diremehkan, sampai dianggap tak penting dan membuat pria itu geram serta jengkel.


Ambisi Ronald membuat Nora akhirnya memutuskan untuk memanfaatkan pria itu demi keinginannya dalam mengobrak-abrik keluarga Rukmana. Ia yang sudah terlanjur marah karena Rusmana selaku ayah kandungnya dibiarkan mati oleh Rukmana, tidak bisa tinggal diam begitu saja ketika Rukmana sekeluarga justru berbahagia dengan menikmati kekayaaan mereka.

__ADS_1


Memang benar, bahwa sejak Rusmana mati, Nora telah diasuh oleh Rukmana sekeluarga, tetapi hal itu tak membuatnya lantas memaafkan mereka yang telah membuat ayahnya mati secara tak berarti. Sampai saat ini pun, Nora sama sekali tidak menyesal dengan segala hal yang telah ia lakukan pada Rukmana sekeluarga, karena ia berpikir hal itu adalah sebuah keadilan untuk dirinya yang tak lagi punya keluarga. Lagi pula ia bukan pembunuhnya, karena Ronald-lah yang selalu menjalankan semua rencananya selama ini.


Senyum sinis lantas terulas sampai menarik salah satu sudut bibir Nora. “Seandainya kematian Emily dibuka lagi karena banyak desakan dan kejanggalan, tentu aku akan membuat Ronald sebagai pelaku utama. Sebab dialah yang memang mengeksekusi istrinya sendiri. Bahkan dia juga sudah menghabisi paman dan bibiku. Sayang sekali ya, sampai mati pun Emily tidak tahu jika kedua orang tuanya dibunuh oleh pria yang dicintainya. Tuan putri yang bodoh bin naif,” gumamnya lalu berangsur menyantap wine yang sudah ia pegang, di saat dirinya masih sibuk menatap ke area luar kamarnya di rumah besar milik mendiang pamannya.


”Bisa-bisanya Emily pacaran dengan pembunuh orang tuanya selama satu tahun, bahkan sampai menikah. Waaah! Hahaha. Bodoh sekali kau, Kakakku!” Nora tertawa terbahak-bahak setelah membayangkan kebodohan kakak sepupunya sendiri. Mengingat akan hal itu, moodnya yang belakangan ini naik-turun setelah mendapatkan penolakan atas rencana kerja sama dari pengusaha besar, langsung naik drastis.


“Ah, aku jadi rindu Kakak ketika Kakak sedang berbuat bodoh dengan menceritakan semua sikap manis Ronald yang sebenarnya palsu. Pft ....”


Nora sudah hampir dikuasai alkohol dan semakin meracau. Dirinya bahkan tak peduli pada hal lain, selain keberhasilannya merampas segalanya dari Emily. Dan sekarang meskipun tak lagi semesra dulu dengan Ronald yang kerap merengek, Nora tak pernah merasa keberatan. Toh, setelah terlepas dari obsesi pria itu, ia malah mendapatkan kebebasan untuk mendapatkan kepuasan dari pria mana pun. Dan ia memiliki Fabian, sekretarisnya yang masih saja menolaknya, tetapi malah membuat dirinya semakin penasaran.


“Kakak, terima kasih telah mati, hehehe,” ucap Nora lalu sibuk menari ketika wine di gelasnya sudah habis. Seperti halnya seorang balerina yang sedang menikmati panggung pentas, Nora meliuk-liukkan tubuhnya.


Tanpa Nora sadari, bahwa di bawah ranjang tempat tidurnya, ada Ronald yang sedang bersembunyi. Sebelumnya pria itu hendak memasang sebuah alat penimbul suara serta alat sadap seperti yang Chelsea sarankan lewat pesan singkat tadi pagi, tetapi tanpa adanya alat sadap pun, dirinya malah telah mendengar semua rencana Nora yang juga ingin melimpahkan segala kesalahan padanya. Geram, ingin sekali Ronald bergegas keluar dan memukul Nora dengan benda keras jenis apa pun. Namun ia tetap tidak boleh gegabah. Ia harus bertahan karena ada rencana yang jauh lebih aman sekaligus elegan.


Sebab memang tidak aman, ketika Emily belum lama mati, lalu disusul kematian Nora. Jika Nora mati, tentu saja Ronald yang akan langsung dicurigai sepintar apa pun dirinya berkilah.

__ADS_1


***


__ADS_2