Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Pembicaraan Dengan Nurdin Bagian 1


__ADS_3

Kota Hujan, hari ini di akhir pekan, menjadi kawasan yang telah disinggahi oleh Chelsea, Reynof, Ruben, sekaligus juga Fabian. Rencana untuk bertemu dengan orang yang diduga sebagai Nurdin, selaku pengacara lama keluarga Rukmana, benar-benar akan mereka realisasikan. Sebab sudah tak ada waktu lagi untuk berbelit-belit, karena Nurdin bisa pergi kapan saja.


Chelsea pun sudah membuat surat peninggalannya yang telah ia susun dengan sedemikian rupa. Berkat Fabian yang turut membantunya dalam membuatkan stempel pribadi sama persis dengan miliknya ketika masih hidup sebagai Emily, ia bisa memperkuat kekuatan hukum dari surat tersebut.


Beruntung, Fabian masih menyimpan file logo stempel. Karena Chelsea sendiri tidak sempat mencari ketika dirinya bisa memasuki rumah besar peninggalan keluarga Rukmana, alias kediaman yang ia tinggali selama hidup sebagai jati diri jiwanya. Dan Chelsea sudah memastikan bahwa tulisan tangan yang ia cantumkan di surat tersebut tentu saja mirip sekali dengan tulisan tangan aslinya.


Setibanya di sebuah rumah mewah di salah satu daerah dari kota tersebut, Reynof, Chelsea, dan kedua pria lainnya langsung bergegas turun. Di mana sejak awal Fabian pun juga turut berada di dalam satu mobil dan duduk di samping Ruben, atas permintaan Chelsea meskipun Reynof sempat menentang, dan Ruben sempat merasa heran. Namun karena Fabian sudah dipastikan telah bergabung dengan Chelsea, membuat Reynof dan Ruben tak lagi membantah permintaan sang gadis.


“Silakan masuk, Tuan Besar Keihl Wangsa,” ucap seseorang pada Reynof. Orang tersebut kemungkinan besar adalah asisten atau mungkin malah keturunan dari Pengacara Nurdin.


Reynof tersenyum ramah, dan tentu saja hanya sekadar sikap basa-basinya. “Terima kasih, Tuan Muda,” jawabnya.


Langkah Reynof diikuti oleh ketiga orang yang ia bawa serta. Memasuki rumah mewah yang sebenarnya tak sebesar rumah Emily. Di ruangan pertama, sajian ruang tamu dan ornamen unik yang terbuat dari kayu memberikan kesan klasik bagi para tamu. Sebuah pigura berisi gambar pemandangan alam terpasang di tembok putih yang tepat terarah ke pintu.

__ADS_1


Orang yang menyambut Reynof dan ketiga orang lainnya mempersilakan mereka untuk duduk. Kehadiran Reynof memang telah orang itu ketahui sejak tiga hari yang lalu, bahkan Nurdin, selaku ayahnya pun sudah tahu. Dan tentu saja, siapa yang tidak antusias jika kedatangan seorang Tuan Besar pemilik Neverley yang meski merupakan kompetitor Pano Diamond Group, Reynof tetaplah seorang pesohor hebat. Nurdin pun sangat tahu, dan instingnya sebagai seorang pengacara mengatakan bahwa kedatangan Reynof pasti membawa sebuah kabar yang teramat besar sekaligus serius.


Setelah seorang bibi yang berpenampilan khas warga Sunda yang manis serta menarik, datang menyajikan minuman dan camilan, muncullah dua orang pria lain di area ruang tamu tersebut. Yang mana salah satu dari kedua pria itu dapat dipastikan adalah Nurdin. Seorang pria lainnya tergolong masih muda, tampak mendorong kursi roda di mana Nurdin duduk.


Chelsea menelan saliva, ketika matanya tengah mengerjap-ngerjap. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Nurdin yang dulu sudah ia anggap seperti pamannya sendiri sekarang berada dalam kondisi sedemikian rupa. Ia yakin ada sesuatu yang sedang mengganggu kesehatan Nurdin, terutama kaki pria tua itu.


Sudah lama Nurdin memisahkan diri dari segala hal yang berkaitan dengan keluarga Rukmana, bahkan ketika Bowo Rukmana dan Asri Dewidanti meninggal dunia, Nurdin sama sekali tidak menampakkan diri. Chelsea pikir Nurdin telah menjadi kacang yang lupa kulit, tetapi sekarang Chelsea tahu bahwa Nurdin pasti mengalami kesulitan tersendiri ketika memutuskan untuk menghilang.


Reynof segera berdiri, disusul oleh Chelsea, Ruben, dan Fabian. ”Selamat siang, Tuan Nurdin,” ucapnya santun kemudian merundukkan tubuhnya. Benar-benar profesional dan menunjukkan jiwa seorang pengusaha yang bercitra baik. Meskipun ia tahu Nurdin pasti sudah mengetahui tentang citra buruk tentang dirinya.


Nurdin tersenyum. ”Selamat siang, Tuan Besar Reynof, dan Nona serta Tuan Muda lainnya,” jawabnya. Detik berikutnya, ia menggerakkan salah satu tangannya kemudian berkata, ”Silakan duduk kembali, dan nikmati hidangan ringan dari kami.”


”Terima kasih, Tuan Pengacara,” jawab Reynof. ”Tapi, kami pun ingin segera memperbincangkan masalah yang memang sangat serius.”

__ADS_1


Nurdin mengernyitkan dahi. ”Sepertinya memang ada sesuatu yang sangat besar, ya, Tuan? Tapi, mengapa harus mendatangi saya yang sudah beranjak sepuh ini? Bahkan saya sudah tidak bisa berjalan dengan benar karena penyakit stroke yang saya derita selama bertahun-tahun. Meski terkadang sembuh, tak jarang juga penyakit itu kambuh. Belum lagi darah tinggi dan kolesterol yang sempat membuat saya drop parah. Bukan ingin pamer penyakit, tapi dengan kondisi saya yang sudah seburuk ini, memangnya apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Tuan Reynof yang Terhormat?”


Untuk kedua kalinya Chelsea menelan saliva dengan perasaan terkejut. Ingin sekali ia menghampiri Nurdin yang menyebut 'Paman' pada pria tua itu. Namun dengan wajah dan fisiknya yang bukan lagi sosok Emily, tentu Nurdin akan lantas mengernyitkan dahi.


Fabian menyadari adanya kegundahan di hati Chelsea alias Emily. Karena ia pun tahu seberapa dekat Emily dengan Nurdin. Nurdin memang pengacara jangka panjang sekaligus orang yang sangat setia pada Bowo Rukmana, dan membuat Chelsea alias Emily turut dekat dengan pria yang berprofesi sebagai pengacara sebelum memutuskan untuk menghilang tersebut.


“Ini menyangkut mendiang Emily Panorama Rukmana. Dan tentu saja kemunculan Anda sangat diperlukan, Tuan Nurhan,” ucap Reynof mulai mengatakan keinginannya. Dan segala sesuatu yang telah ia susun pun akan segera ia curahkan.


Wajah ramah Nurhan langsung kebas. Bagaimana bisa Emily disebut oleh mulut Reynof, padahal kalau dipikir-pikir kedua perusahaan milik mereka saling bersaing?


“Bagaimana bisa Anda ada hubungannya dengan Nona Muda ... maksud saya Nona Emily, Tuan Reynof?” selidik Nurdin setelah itu dengan penyebutan nama Emily yang sama seperti sebelum wanita itu menyandang status sebagai Nyonya.


”Anda pun pasti tahu bahwa Emily meninggal dunia dan menurut kabar disebabkan oleh sebuah kecelakaan yang terjadi karena Emily sedang mabuk. Tapi, Tuan, sebagai seorang pengacara paling setia dan menurut ucapan Sekretaris Fabian, Anda sendiri cukup mengenal Emily, bukan?” Reynof menunjukkan ekspresi yang sangat serius. ”Dari hubungan Anda dengan Emily di masa lalu, saya yakin Anda juga mengenal banyak hal mengenai Emily. Termasuk juga bagaimana Emily sangat tidak menyukai minuman keras jenis apa pun. Sederhananya saja, terlepas dari minuman keras tersebut, lokasi kejadian perkara pun wajib dicurigai, bukan? Mengapa Emily melewati jalan yang sangat sepi dan minim penerangan di malam hari? Padahal ada banyak sekali jalan utama. Kalau alasannya karena mabuk dan tak ingin membahayakan pengguna jalan yang lain, mungkin ... masih bisa diterima. Tapi ....”

__ADS_1


***


__ADS_2