
Rapuh dan benar-benar kehilangan daya. Gambaran tentang Nora yang sedang meringkuk lemas di lantai kamarnya. Setelah memutuskan untuk pulang tanpa mau menemui para petinggi Pano Diamond terlebih dahulu, ia memang tidak keluar dari kamar sama sekali. Tangis serta ketakutan membuat dirinya terus gemetaran. Nora sudah terlanjur salah langkah. Semua rencana yang sudah ia susun, bahkan sampai membuang kekasihnya sendiri malah salah kaprah.
Bahkan meski masih memiliki jabatan tinggi lantaran memang belum dipaksa mengundurkan diri, Nora sudah merasa tak punya apa-apa. Dan di dalam kamarnya itu, Nora terus menggigil bahkan sampai halusinasi beberapa kali. Beberapa botol wine menjadi satu-satunya teman, di saat ia sudah kehilangan Ronald, terutama kepercayaan pria itu. Mungkin dirinya masih mampu berdiri dan lantas menemui Ronald sekaligus meminta maaf, tetapi rasa malunya masih sulit ia atasi.
"Pft … hahaha." Nora tertawa, tetapi percayalah, perasaannya masih sangat kecut. Bahkan setelah itu ia malah menangis sembari menenggak minuman langsung dari botolnya. "Kakak, kau sudah mati, tapi kenapa? Kenapaaa?! Kenapa kau terus menggangguku?" Ia nyaris sepenuhnya dikuasai minuman keras tersebut.
Nora lantas merintih. "Andai saja kau tahu … betapa sulitnya diriku … gara-gara bapakmu itu! Andai saja kau tahu … kalau aku benar-benar sangat membencimu sejak ayahku mati, apa kau bisa mengerti, Kak? Apa kau akan merasa bersalah? Apa kau malah akan menertawaiku?"
"Siaaal! Sampai saat ini pun kau terus menggangguku. Kau terus populer daripada aku!" Nora menjadi geregetan. Kedua telapak tangannya mencengkeram kuat rok span yang belum ia ganti. "Menyebalkan! Menyebalkaaan! Aku sudah muak mendengar namamu, Emily!" Setelah itu ia melontarkan sejumlah kata-kata kotor, lalu malah tertawa lagi.
Sungguh Nora akan benar-benar di ambang kehancuran jika dirinya terus begini. Ia sama sekali tidak memiliki siapa pun. Ronald sudah menjauhinya, bahkan memusuhinya, padahal sebelumnya pria itu terus tunduk padanya. Dan saat ini, Ronald pasti akan tertawa sekeras-kerasnya. Benar-benar pria kurang ajar yang bisanya hanya menumpang!
"Hihihi, Ronald, awas saja jika kau menertawaiku seperti tadi, aku yang akan membunuhmu." Nora kembali mengumpat dan meneguk minumannya. "Jika kau mati … aku bisa melimpahkan semua kesalahan semua kesalahan padamu tanpa kesulitan sama sekali. Dan kau … akan menyusul Emily di neraka, tahu tidak?! Hahaha, kalian kan serasi karena sama-sama bodoh!"
Dan adegan menitikkan air mata lagi-lagi Nora lakukan. Ia melakukan hal yang sama berulang kali. Terus tertawa, menangis, mengumpat, dan menenggak minumannya sampai satu botol habis. Nora semakin tidak sadar. Matanya yang selalu cerah dengan polesan eyeshadow cantik kini benar-benar sayu. Hidung dan pipinya memerah, tetapi bukan karena blush-on.
Tak berselang lama, Nora mendongakkan kepalanya dengan rahang yang menganga. Kedua tangannya telentang lemah, dan sepasang kaki sudah ia luruskan. Sepasang netra sayunya itu sibuk menatap langit-langit kamar yang didesain begitu apik. Sesekali ia masih tertawa, meski tidak sekeras sebelumnya. Dalam keadaan sedemikian rupa, sejatinya Nora masih merasa bingung. Rasa frustrasi memang belum kunjung menghilang bahkan ketika dirinya sudah menenggak setidaknya tiga botol minuman. Ia berakhir kecanduan seperti halnya mendiang ayahnya yang sampai overdosis.
"Dik …."
Sebuah suara mendadak terdengar. Suara yang begitu halus dan terdengar dari salah satu area kamar itu. Namun Nora memilih mengabaikan, karena dirinya memang sedang dikuasai efek dari minuman.
"Dik … ini … Kakak …."
"Apa sih?! Aaah!" keluh Nora dengan kasar sembari mengusap telinganya.
"Kenapa … kau melakukannya, Dik?" Lagi, suara tersebut terdengar, tetapi sudah terdiri dari beberapa kata. "Sakit. Kepalaku sakit, Nora …."
Kini tak hanya sekadar suara, melainkan juga sebuah tangisan. "Aku tidak bisa bernapas … sakit."
Mendengar kalimat itu, mata Nora yang sebelumnya sayu kini mendadak melebar. Detik berikutnya, ia lantas menegakkan tubuhnya. Dengan perasaan bingung, ia bertanya-tanya. Siapa yang berbicara? Apa efek minuman itu sampai membuat Nora halu?
Sembari mengeluh dan mengusap telinganya dengan kasar, Nora memutuskan untuk bangkit. Dikarenakan belum sepenuhnya stabil, langkahnya cenderung sempoyongan, bahkan tak jarang ia nyaris jatuh saking lemasnya kaki. Seharusnya Nora meminum pereda agar lebih bisa bergerak bebas.
"Dik, ini … kakak. Besok Ronald ulang tahun …." Suara itu kembali terdengar dengan kalimat yang sudah berubah. Tangisannya pun muncul lagi. "Tapi, kau merusak segalanya."
Deg!
Nora menelan saliva. Langkah gontainya pun lantas terhenti. Ia berusaha keras untuk mengumpulkan sejumlah energi agar bisa menyadarkan diri, dan ia terus memasang telinganya baik-baik. Dan suara itu bukan sekadar halusinasi. Rasanya benar-benar nyata! Namun di mana keberadaan orang yang sedang berbicara?
"Nora … Kakak sayang padamu. Tapi kau … hiks."
"Dik … besok Ronald ulang tahun …."
"Dik … ini Kakak."
"Nora … kenapa kau melakukannya?"
"Sakit."
__ADS_1
"Sesak."
"Merah … ada genangan merah."
"Bau …."
Tubuh Nora mulai gemetaran. Ia bahkan sampai memukuli telinganya sendiri. Napasnya pun sudah tersengal-sengal. Nora meronta. "Hentikan! Tidak! Bukan aku! Sungguh bukan aku, Kakak!" teriak Nora histeris. "Hentikan! Kumohon! Maaf, maafkan aku ! Aaarrrggghhh!"
Nora terus berteriak-teriak. Entah milik siapa suara itu, tetapi dari setiap ucapan yang terdengar, membuat Nora langsung teringat akan Emily. Yang tentu saja membuatnya semakin histeris dan sampai memutar-mutar tubuhnya sendiri tanpa beralih dari satu tempat. Dalam keadaan gemetaran, takut, frutrasi, dan mendelik, Nora menatap semua sisi kamarnya. Dan kosong! Sungguh tidak ada Emily, tetapi tangisan Emily masih terdengar menyeramkan.
"Nora, kau harus mati!" Suara itu terdengar lebih tegas dan kian mengerikan. "Matilah! Mati!"
"Aaaaaaa! Tidak! Kakak, maafkan akuuu! Maaaaaf! Aaaaa!" Nora menangis, dan tetap histeris.
Hingga akhirnya dirinya terjatuh. Dengan susah-payah, Nora menyeret tubuhnya dalam keadaan duduk. Ia harus keluar dari kamarnya. Ia tidak mau mati! Sungguh tidak mau!
Suara ketukan pintu terdengar tiba-tiba, dan lagi-lagi membuat Nora berteriak ketakutan.
"Nora, ada apa?" Suara Ronald terdengar. "Hei, suara teriakanmu sangat berisik, Nora!"
"Ro-ronald? Apa itu kau?" Nora yang hampir sampai pintu langsung berusaha untuk berdiri. Dengan cepat, Nora bangkit dan berangsur membuka pintu. Dan ia sangat lega ketika Ronald ada di hadapannya. "Ronald? Selamatkan aku! Aku akan dibunuh!"
"Menyebalkan sekali! Apa kau sudah buta waktu, hah?! Ini sudah sangat malam, Sialan!" omel Ronald. "Dan lihat rupamu itu, benar-benar menjijikkan. Kau mabbuk?! Kau sama sekali belum mandi? Dan apa pula itu, dibunuh? Kau sudah gila ya setelah dikritik habis-habisan?!"
Nora langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Ronald, tanpa memedulikan ucapan hinaan dari pria itu. "Se-selamatkan aku, Ronald. Emily datang, Emily ingin membunuhku, sungguh!"
"Waaah! Kau sudah gila, Nora, benar-benar deh! Lepaskan aku, ah! Bikin mual saja!"
"Ronald, tunggu aku. Jangan cepat-cepat. Kau mau ke mana sih?!" ucap Nora, sementara tangannya terus mencengkeram ujung baju pria itu.
Ronald mengumpat lalu berkata, "Kau habis minum berapa botol sih? Benar-benar bau, Sialan! Kau ingin seperti ayahmu yang mati karena minuman, hah?!"
"Jangan bawa-bawa ayahku! Sekarang ini kita dalam bahaya, Emily datang, Ronald!"
"Halu kau, Nora! Sekalipun dia datang, kau yang akan dibunuh. Kau yang merencanakan kematiannya, bukan?!"
"Iiiih! Jangan cepat-cepat! Kau mau ke mana sih?!"
"Mau menjual tas Emily, aku kehabisan uang gara-gara kau!"
Nora menelan saliva lalu menghentikan Ronald dengan paksa, ketika dirinya dan pria itu sudah berada di depan kamar Emily yang memang masih satu lantai dengan kamar Nora.
"K-kau mau masuk ke sini?" tanya Nora.
Ronald menatap Nora lalu tersenyum sinis. "Ya iyalah! Memangnya kau bakal kasih izin padaku untuk menjual tasmu? Tidak, 'kan? Kau pun tidak mau mewarisi tas-tas Emily, itu artinya aku berhak melakukan apa saja dengan barangnya!"
"Ja-jangan masuk! Ada Emily!"
"Ck, ck, ck, saking takutnya dilengserkan, kau sampai halu parah ya? Pergi saja kalau takut, tak usah ikut!"
__ADS_1
Ronald berangsur membuka pintu kamar itu dan segera masuk. Melihat Ronald yang justru santai dan asyik bersenandung, Nora hanya mampu menelan saliva. Keadaan lantai teratas yang sudah tak terlalu terang, lantaran memang sudah malam, semakin menambah kengerian yang Nora rasakan. Apalagi ketika dirinya menatap ke sekeliling yang betul-betul sepi.
"Ronald! A-aku ikut!" Yah lebih baik, berada di dalam kamar bekas pembunuhan bersama seseorang, daripada sendirian. Nora akhirnya memasuki kamar itu.
Namun … tubuh Nora langsung terpaku diam ketika ia tidak menemukan Ronald sama sekali. Dan seketika pintu kamar itu tertutup dengan sangat keras, padahal tidak ada angin dan tidak ada orang di luar. Nora yang sempat terpekik hingga terlonjak kaget kini terpaku tegang.
"Ro-ronald … ka-kau di mana? Ja-jangan tinggalkan aku. Ro-ronald?" ucap Nora terbata-bata. Dan gerakan tubuhnya sudah seperti halnya sebuah robot. Ia menelan saliva dan mulai menatap area kamar itu. Namun situasi kosong, selain hanya terisi barang-barang milik mendiang Emily.
"Dik! Hihi." Suara yang sama kembali terdengar.
"Aaaaa!" Nora berteriak sembari menutup kedua telinganya. "Ronald, jangan mengerjaiku!"
"Ini Kakak lho. Kau kangen ya?" Suara tawa mengiringi kalimat yang terucap. "Terima kasih. Tapi kau harus mati!"
"Huaaaaa! Pergi! Pergi! Kau itu sudah mati, Emily!"
"Hihihi."
Sekelebat bayangan bergerak di belakang Nora, hingga membuat Nora lemas dan otomatis meluruhkan tubuhnya. Nora mulai menangis ketika suara tawa tersebut kembali terdengar. Ia berusaha menyeret tubuhnya ke area lain kamar itu.
Dan tak berselang lama, muncul sepasang kaki dari area ruang ganti. Sepasang kaki yang mengenakan sepatu merah milik Emily. Ketika gorden perlahan dibuka, Nora yang semakin tidak karuan lantas melihat gaun merah membalut tubuh seorang wanita pemilik kaki itu.
"Dik! Ini Kakak," ucap wanita itu.
"Huaaaa! Tidak, Kakak! Tidak, jangan bawa aku!" ronta Nora dan terus mengesot untuk menjauh, padahal ia sama sekali belum melihat wajah si wanita lantaran gorden ruang ganti masih belum sepenuhnya terbuka. "Tidak, tidak. Tidaaaak! Aaaaa!" Nora menutup mata, bahkan sampai memukul-mukul matanya.
"Hei, hei, hei! Apa yang kau lakukan?! Berisik, tahu tidak?!" Suara Ronald akhirnya terdengar. "Ada apa sih, Nora? Para pelayan bisa bangun dan bergosip keesokan harinya! Malu!"
Nora yang sudah membuka mata kemudian berkata, "Kau sendirian di sana?" tanyanya pada Ronald yang muncul dari ruang ganti. "Ta-tadi aku melihat Emily!"
"Sudah aku katakan, tidak ada Emily! Lebih baik kau turun dan segera minum pereda halumu itu!"
"Ronald, aku se-serius! Dia memakai sepatu dan gaun merah milik Emily!"
"Aku sejak tadi ada di sini, dan tidak ada apa pun, selain teriakanmu yang berisik. Tadinya aku ingin mengabaikan kegilaanmu, tapi aku benar-benar sudah tidak tahan! Aaah, menyebalkan sekali kau, Nora."
"Ronald, aku tidak berbohong!"
Ronald menghela napas dan berangsur membuka gorden ruang ganti di kamar itu. "Lihat, tidak ada apa pun, 'kan? Barisan sepatu merah Emily juga tidak ada yang hilang satu pun. Jika kau tak percaya, pastikan sendiri. Termasuk gaun yang kau maksud tadi."
"Tapi, aku melihatnya. Bahkan aku sudah mendengar suaranya sejak aku ada di kamarku, Ronald!"
Ronald yang berlagak tidak habis pikir, akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang ganti itu. Namun ia sudah menenteng salah satu tas milik mendiang istrinya. Setelah menghampiri Nora yang sangat tidak berdaya dan betul-betul ingin membuatnya tertawa, Ronald berangsur merunduk. Dengan separuh keikhlasan hatinya, ia membantu Nora yang ternyata sudah sangat gemetaran untuk segera bangkit. Kalau Nora tidak segera diamankan, wanita itu akan langsung pingsan atau malah jantungan. Oleh sebab itu, Ronald memutuskan untuk membawa sang mantan kekasih keluar dari kamar tersebut.
Chelsea muncul dari sisi lemari pakaian yang berada di dalam ruang ganti. Wajahnya begitu datar, kendati dirinya sudah sukses meneror Nora dengan ide konyol, tetapi menakjubkan. Dengan sepatu dan gaun merah yang persis dengan miliknya ketika hidup sebagai Emily, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.
Chelsea berjalan menuju meja rias berlaci. Setibanya di tempat tujuan, Chelsea menatap pantulan dirinya di cermin rias. Ada setetes air mata yang lantas meluruh menodai salah satu pipinya. Sungguh sesak rasanya ketika harus kembali ke kamar tercintanya, tetapi dengan raga dan identitas orang asing. Sungguh menyakitkan karena dirinya harus berpijak di tempat tubuhnya menuju momen meregang nyawa. Chelsea menangis sesenggukan, tetapi sebisa mungkin tanpa suara. Ia pun tidak mau jika Ronald menaruh curiga padanya.
Setelah hampir lima berusaha menguatkan dirinya sambil menahan rasa mual yang sudah tak tertahankan, Chelsea berangsur membuka laci meja rias itu. Tidak sulit baginya membuka benda tersebut, lantaran ia masih ingat toples antik tempat penyimpanan kunci. Detik berikutnya, Chelsea menukar ponsel cadangannya dengan ponsel lain yang serupa.
__ADS_1
***