
Sesaat setelah mobilnya berhenti, Chelsea lantas menatap Reynof lalu berkata, ”Jika hal itu terjadi, maka aku akan langsung membunuhnya, Tuan Reynof!”
“Hah?! Apa kau yakin bisa membunuhnya?” sahut Reynof tak percaya. Karena mau bagaimanapun, Ronald adalah suamimu, Emily! Selain itu, jika Ronald adalah pelakunya, maka orang yang ingin kau bunuh itu sudah pernah membunuhmu! Batinnya setelah itu.
”Ke-kenapa aku tidak bisa melakukannya, Tuan Reynof?”
Reynof mengembuskan napas secara kasar seiring dengan tertutupnya kelopak matanya. Dan di saat sudah membuka matanya lagi, ia berkata, “Meskipun kau pintar tentang urusan bisnis dan pekerjaan, kau itu hanya wanita lemah, Chelsea! Sekeras apa pun kau melawan Ronald, dia sudah pasti akan menang!”
”Ka-kalau begitu ... berikan aku sebuah pistol untuk berjaga-jaga!” celetuk Chelsea. “Atau mungkin belati, pisau, dan benda tajam lainnya!”
“Jangan gila!” Suara Reynof semakin keras. ”Kau tidak boleh menjadi seorang pembunuh, itu maksudku! Kenapa malah minta benda-benda berbahaya?”
“Mau bagaimana lagi?! Kau pun tak percaya jika aku bisa melawannya! Dan lagi, hal yang kau pikirkan itu belum tentu bakal terjadi. Jika Ronald bisa berpikir, tentu dia tidak akan menyentuhku sama sekali, karena aku punya kau, Tuan Reynof! Kau bilang, aku boleh memanfaatkan dirimu sesuka hatiku, bukan? Dan aku akan memanfaatkan namamu serta hubungan kita untuk membuatnya tak berkutik atau berbuat macam-macam padaku! Aku akan membuatnya percaya bahwa aku adalah gadis sekaligus seorang bawahan yang paling kau sayangi! Dan dia pasti akan mundur dari niat jahat apa pun yang sempat muncul di hatinya terhadap diriku!”
Chelsea melanjutkan dengan perasaan yang mulai tenang, “Jangan berpikir macam-macam. Dan jangan meremehkanku. Mungkin sebelumnya aku memang wanita naif yang mudah percaya pada orang lain. Tapi sekarang tidak, aku tidak akan mudah percaya, kecuali ... pada dirimu saja, Tuan Reynof. Dan tampaknya, aku sungguh-sungguh sudah percaya padamu, dan ini bukan sebuah rayuan. Namun aku tetap akan lebih berhati-hati pada semua orang sekaligus setiap langkah yang aku ambil. Dan aku membuat keputusan, tentu sudah dengan segala pertimbangan.”
Dia menceritakan dirinya yang sebagai Emily, seorang wanita naif dan mudah percaya pada orang lain? Batin Reynof. Hatinya pun berangsur tenang ketika Chelsea mengaku sudah sepenuhnya percaya padanya. Hanya dengan pengakuan itu, segala kejengkelan yang sebelumnya telah menutupi nyaris seluruh sanubari Reynof, kini berangsur menepi.
Sepertinya, gadis yang selalu memusuhi, bahkan sejak gadis itu masih hidup sebagai Emily, sudah berkenan untuk membuka pintu hati bagi Reynof. Tentu bukan pintu untuk saling jatuh cinta, melainkan kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih baik, daripada sekadar hubungan karena jual-beli sekaligus kesepakatan.
“Kau itu kalau sedang cemburu, bisanya hanya marah-marah saja! Hobi sekali membentak seorang gadis berumur dua puluh tahun lebih sedikit!” ucap Chelsea.
__ADS_1
“Cemburu?” sahut Reynof sembari mengernyitkan dahi. “Kau keberatan jika aku cemburu?”
Chelsea mengangguk. ”Tentu saja! Kau sudah macam monster kalau sudah cemburu. Bahkan Ruben Diego saja sampai kau beri hukuman lama. Asal kau tahu, meski aku tidak mungkin jatuh cinta padamu, tapi setidaknya aku akan lebih memilihmu daripada orang lain! Kau tahu kenapa? Karena aku bisa memanfaatkanmu sesuka hatiku, terhitung sejak tadi siang!”
“Ck, ck, ck. Benar-benar gadis yang licik!” Reynof menghela napas. ”Tapi, kau sangat menggemaskan jika seperti ini, Chelsea.”
”Jangan menatapku dengan pandangan nakal seperti itu, Tuan Reynof!”
“Kenapa? Toh, aku sudah berjanji untuk tidak memaksamu lagi, jadi, sekalipun pandanganku nakal, aku tidak akan meleccehkanmu.”
”Ya, memang benar. Tapi kau masih bisa memeluk serta menciumku secara tiba-tiba!”
“Hmm ....”
“Apa yang ingin kau lakukan? Dan lagi, kau rela jika aku berduaan dengan Kayla?”
Dahi Chelsea mengernyit. ”Kenapa tak rela? Aku yakin kau tak akan tergoda padanya, karena dia bukan seleramu, benar, 'kan? Dan mm, dan soal itu ... aku harus mencari sebuah penginapan.”
Chelsea terpaksa jujur, karena membohongi Reynof sama saja bunuh diri. Lagi pula, pria itu akan tahu kapan ia berbohong, atau saat ia berkata jujur. Dan Chelsea tidak punya banyak waktu untuk segera mencari penginapan sementara untuk ibunya. Besok pagi, ia harus bekerja. Ketika jam makan siang tiba, ia sudah harus membawa Dahlia untuk keluar dari rumah sakit. Akan lebih baik, jika ia sudah memiliki tempat tujuan agar ibu barunya itu bisa langsung beristirahat.
”Kau ingin menginap dengan siapa? Seharusnya bersamaku, 'kan?” selidik Reynof.
__ADS_1
“Sebenarnya ... besok ibuku sudah boleh pulang. Dan karena terlalu sibuk, aku lupa mencari apartemen.” Sialnya, Chelsea terkesan ingin meminta bantuan. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meminta sebuah properti dari Reynof. ”Karena kau melepaskan ayahku, tentu aku tidak mungkin membawa Ibu pulang ke rumah itu lagi. Jadi, aku ingin check-in dulu di salah satu hotel. Karena besok aku harus bekerja dari pagi. Memang sih bisa dipesan secara online, tapi, aku ingin sekalian mempersiapkan barang-barang untuk menyambut Ibu dulu. Karena mungkin, Ibu bakal menginap di hotel sampai aku bisa menyewa sebuah apartemen.”
”Kenapa kau baru bilang, Chelsea? Belakangan ini pun, aku juga sibuk karena memikirkan cara untuk mempengaruhi Gaspard Cassel. Aku melupakan soal ibumu.” Reynof mengusap kepala Chelsea dengan lembut. “Dan kenapa kau malah mencari hotel? Kau tahu, jika tuanmu ini adalah seorang pemilik hotel dan resort, bukan? Termasuk juga dengan tempat perbelanjaan dan laon sebagainya. Kau juga wanita yang pintar, jadi untuk melakukan hal yang menyulitkan?”
”Wanita?” Dahi Chelsea mengernyit.
”Usiamu sudah di atas dua puluh tahun, meskipun baru lebih bulan bukan tahun, memangnya apa lagi kalau bukan wanita? Sampai kapan kau ingin dipanggil sebagai seorang gadis?”
Lagi pula, jiwamu sudah berusia dua puluh tujuh tahun. Jadi, kenapa kau malah begitu menikmati hidup sebagai gadis muda? Membuatku seperti seorang peddofil saja! Batin Reynof.
“Mm, baik,” jawab Chelsea. “Kalau begitu, tolong beri kamar di mana aku pernah tinggal setelah bersepakat denganmu! Aku tahu tempat itu menyisakan kenangan buruk, lantaran kita pernah bertengkar, dan kau nyaris melukai leherku. Tapi, tempat itu sangat bagus. Aku ingin menutup kenangan buruk kita, dengan kenangan manis bersama Ibu!”
”Kau juga telah melukai tanganku sampai berdarah, Chelsea!” balas Reynof. “Kau bahkan melempariku sebuah vas bunga, saat aku baru datang!”
“Itu tidak sengaja! Aku hanya benci vas bunga! Makanya semua vas bunga di dalam kamar langsung aku minta buang! Ini hanya sekadar informasi, jika aku tak menyukai bunga! Terutama bunga mawar merah! Aku benar-benar tidak menyukainya, karena membuatku mual dan tertekan. Jadi, jangan pernah berpikir untuk memberiku bunga. Karena aku tak akan senang! Aku tahu aku tidak bisa menghindari berbagai bunga, lantaran bunga selalu ada di mana-mana. Tapi, setidaknya jangan berada di dekatku, itu saja.”
”Kau alergi?”
“Tidak, bukan alergi. Tapi, ada kejadian yang benar-benar membuatku membenci bunga, terutama mawar.”
Wajah Chelsea tampak gusar, dan membuat Reynof penasaran. Namun ia akan mencari tahu alasan di balik kebencian Chelsea terhadap barang yang seharusnya paling disukai kaum wanita itu, secara perlahan. Untuk saat ini, Reynof ingin mempertahankan kepercayaan yang baru ia dapatkan.
__ADS_1
Chelsea melajukan mobil itu setelah mampu menepis ingatan masa silamnya. Beruntung, Reynof tak lagi memaksanya memberikan alasan lebih gamblang. Pria itu justru membahas hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan.
***