Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Pancingan Selanjutnya


__ADS_3

Di dalam kamarnya itu, dan sembari membayangkan lagi perbincangannya dengan Fabian, Chelsea berangsur duduk di sebuah kursi santai. Sebuah mug berisi cokelat hangat turut menemaninya di malam yang betul-betul dingin ini, meskipun langit tidak sedang menitikkan air mata.


Chelsea belum mendapatkan jawaban apa pun dari Fabian, lantaran sore tadi, pria itu memutuskan untuk segera pergi. Namun Chelsea tentu sudah mengetahui bahwa pengakuannya yang memang tidak masuk akal, cukup sukses dalam mengguncang mental Fabian. Bahkan sekretarisnya tersebut, pergi dengan langkah kaki yang begitu gontai dan tampaknya masih syok sekaligus bingung. Untuk saat ini Chelsea hanya bisa berharap, agar setidaknya Fabian bersedia untuk berada di pihaknya. Barangkali Fabian pun bisa mencari tahu apa saja yang dilakukan oleh Nora dan lantas memberikan informasi-informasi penting.


”Yang bisa aku lakukan untuk Fabian saat ini, apakah hanya sekadar menunggu saja?” gumam Chelsea lalu meneguk cokelat hangatnya. ”Atau sebaiknya aku segera membuktikan bahwa diriku adalah Emily? Toh, masih ada beberapa ingatan tentang kenangan kami yang tidak mungkin orang tahu, sekalipun memang benar ada seorang penguntit.”


”Fabian itu pintar, tapi cukup polos. Meski dia selalu siaga jika aku dalam bahaya, tapi sifatnya benar-benar lunak dan serba tidak enakan. Dia selalu berpikir dengan logika sama seperti Reynof. Tapi, jika dibandingkan dengan Reynof yang tidak pernah memercayai pengakuanku, Fabian jauh lebih mudah untuk diyakinkan. Dia bukan orang sekeras kepala Reynof. Dan tentu saja, jika aku dapat membuktikan bahwa aku memanglah Emily, daripada menganggapku sedang kesurupan, aku yakin Fabian akan lebih memilih untuk percaya,” lanjut Chelsea.


Detik berikutnya, Chelsea menghela napas lalu kembali berkata, ”Aku tidak mau melibatkannya. Tapi, ... jika dia bersedia membantuku, tentu aku bisa lebih cepat untuk mengakhiri semua ini dan bisa pergi dengan tenang. Yah, meski aku tidak tahu nasibku akan lantas bagaimana setelah semuanya berakhir, aku tetap harus mempersiapkan diri jika memang harus menghilang, bukan? Sebab nyatanya diriku hanyalah sekadar jiwa yang sedang menumpang saja.”


Selalu sesak napas dan cemas ketika membayangkan masa depannya yang sudah benar-benar ditentukan. Siapa sih yang tidak takut mati? Hampir semua orang di dunia ini takut dengan yang namanya kematian, bukan? Kecuali jika mereka sudah benar-benar gila akan kehidupan duniawi, sampai membuat mereka lupa tentang masa hidup di dunia ini tidak akan abadi. Atau mungkin juga, kecuali mereka yang justru merindukan kematian, karena merasa dunia sangatlah melelahkan.


Namun sebagai manusia biasa yang memiliki segudang dosa, Chelsea alias Emily benar-benar masih ketakutan. Apalagi dirinya pernah mati karena dibunuh oleh suaminya. Rasa sakit di kepalanya pasca dipukul dengan vas bunga saja seolah masih betul-betul terasa. Ia pun merasakan tenggorokannya yang sakit, benar-benar sakit dan sulit baginya untuk berbicara. Mungkin rasa sakit itu terjadi ketika Ronald mencekokinya dengan wine dengan kadar alkkohol tinggi, yang memang tidak pernah sekalipun ia sukai.


“Ugh ....” Chelsea mencengkeram lehernya yang serasa tercekat ketika tragedi malam itu muncul di benaknya. Bahkan saat ini perutnya sampai melilit, karena tidak mampu membayangkan kengerian itu terlalu lama.


Chelsea lantas menghela napas sedalam-dalamnya. Matanya pun turut terpejam erat, saking getirnya perasaan yang ia rasakan saat ini. Dan meskipun sudah berpindah raga, nyatanya kenangan buruk itu masih membuatnya benar-benar trauma.


”Tidak, jika aku tidak mampu menguasai diri, aku akan terus seperti ini jika bertemu dengan mereka berdua. Aku ... tidak mau menjadi lembek, setelah semua kekuatan yang terus aku kumpulkan demi pembalasan dendam yang aku inginkan,” gumam Chelsea sembari mencengkeram gaun merahnya dengan erat. Ia berusaha mengendalikan dirinya dari terjangan trauma yang memang belum sepenuhnya menghilang.


Sampai tak lama berselang, dering ponsel yang berada di meja bundar kecil di samping tempat duduk Chelsea lantas terdengar. Susah-payah Chelsea meraih benda tersebut, sampai akhirnya ia berhasil mendapatkannya. Nama Ronald menjadi pemandangan pertama bagi mata Chelsea ketika ia menatap layar yang sudah menyala.


Sesaat setelah menghela napas dan sukses mendapatkan sedikit ketenangan, Chelsea lantas menerima panggilan dari suami kejamnya itu. “Ya, halo. Selamat malam, Tuan Ronald,” sapa Chelsea meski suaranya masih terdengar serak.


”Oh, Nona! Selamat malam,” sahut Ronald dari kejauhan. ”Ada apa dengan Anda?”


Dahi Chelsea mengernyit. “Tidak ada apa-apa, Tuan. Memangnya kenapa?”

__ADS_1


”Tidak, hanya saja ... suara Anda menunjukkan jika Anda mungkin saja berada dalam kondisi kurang sehat. Saya hanya merasa khawatir.”


”Oh, tidak kok, mungkin hanya sedang lelah saja. Akhir-akhir ini kan saya banyak sekali pekerjaan. Ada apa ya?”


”Semoga sehat selalu, Nona Chelsea. Mm, sebenarnya saya mau memberikan sedikit informasi sekaligus saran.” Suara Ronald terdengar lebih pelan dan cenderung berhati-hati. ”Begini, sejak pulang dari kantor, Nora sama sekali tidak keluar dari kamar. Bahkan kata salah satu pelayan di rumah ini, Nora malah pulang lebih awal dari biasanya. Sepertinya dia sempat terguncang karena setelah kabar kerja sama antara Tuan Reynof dan Mr. Gaspard beredar, Nora dikritik habis-habisan. Bahkan kabarnya, dia memutuskan untuk kabur daripada menemui para petinggi perusahaan.”


Informasi dari Ronald benar-benar mampu mengusir semua ketakutan dan kegelisahan yang sempat melanda hati Chelsea. Di mana sebuah seringai pun lantas terlukis di bibirnya yang manis. Chelsea menjauhkan ponsel dari telinganya terlebih dahulu, selanjutnya ia berdeham untuk memperbaiki pita suaranya.


“Aaah, Tuan Ronald!” ucap Chelsea lebih antusias daripada sebelumnya. “Saya bingung, haruskah saya meminta maaf pada Nona Nora?”


“Lho? Memangnya kenapa?” sahut Ronald dan dapat dipastikan bahwa saat ini dirinya tengah bingung.


”Mm, begini. Saya benar-benar tidak tahu jika kedatangan Mr. Gaspard awalnya adalah untuk bertemu dengan pihak Pano Diamond, khususnya Nyonya Emily. Tapi, meski kedatangan beliau berusaha dirahasiakan, namanya orang terkenal pasti tetap bakal ada yang tahu, bukan? Apalagi tuan saya bukanlah pria biasa, Tuan Reynof kan cerdas dan selalu mampu mengetahui banyak hal. Saya pikir apa yang Tuan Reynof dapatkan saat ini bukanlah sesuatu yang salah, karena namanya pebisnis, pastinya bisa langsung berusaha untuk mendapatkan sebuah peluang besar.”


Ronald terdengar berdeham. “Jadi? Apa inti dari semua penjelasan Nona Chelsea?”


“Begini, tadi setelah kami baru sampai di Neverley. Kami, ah, maksud saya Tuan Reynof, saya, Sekretaris Ruben, dan juga Kayla malah dihadang oleh Nona Nora yang datang tanpa membuat janji temu terlebih dahulu. Nona Nora melabrak Tuan Reynof, dan sampai menuduh macam-macam. Dan tentu saja, Tuan Reynof tidak terima. Saya sebagai sekretaris Tuan Reynof tentu harus berlagak membela tuan saya, bukan? Karena ucapan Nona Nora yang sudah keterlaluan, saya dan Tuan Reynof sampai mengatakan hal yang tak seharusnya, dan mungkin sampai membuat Nona Nora malu. Mungkin juga ... saat ini Nona Nora sedang ketakutan dengan ancaman Tuan Reynof juga, terlepas dari masalah beliau di dalam perusahaan beliau sendiri.”


Tertawalah sepuas-puasnya selama kau bisa, Ronald. Karena tak hanya Nora saja yang akan hancur, dirimu pun akan lebih hancur setelah ini. Tapi, untuk saat ini mari bersenang-senang, Ronald. Bersenang-senang dalam permainan menarik dengan istri yang kau bunuh ini. Jika kau pintar, kau pasti bisa memanfaatkan situasi Nora, dan lantas mengajakku untuk datang ke rumahku sendiri, karena aku semakin tahu jika kau adalah orang yang mudah sekali dikendalikan. Siksa saja wanita yang kau pilih itu, bersama diriku, istri yang kau bunuh, batin Chelsea.


Setelah hampir satu menit terus tertawa sampai sulit untuk berbicara, akhirnya Ronald mulai bersedia meredam suara tawanya itu. Yah, meski sesekali ia masih kelepasan. Namun memang benar, bahwa saat ini dirinya sungguh senang. Nora yang sudah sangat angkuh, bahkan begitu berani dalam membuang dirinya, sekarang akhirnya mendapatkan sebuah kesengsaraan. Ronald pun tahu jika ancaman yang keluar dari mulut seorang Reynof Keihl Wangsa bukanlah ancaman sepele yang bisa dilupakan begitu saja. Dan sudah pasti, Nora akan sangat ketakutan.


“Begini, Nona Chelsea, jika Anda belum melupakan rencana kita. Bukankah akan lebih bagus jika kita melakukan rencana itu saat ini juga?” ucap Ronald.


Dapat ikan! Batin Chelsea girang. Menyadari umpannya berhasil memancing Ronald, senyumannya pun kian melebar. Pria itu sungguh konyol, seorang penipu yang mudah sekali ditipu.


“Wooow! Haruskah?” sahut Chelsea berlagak terkejut. “Apa tidak apa-apa, Tuan Ronald? Itu artinya, saya harus masuk ke rumah Anda lho! Lalu, kapan? Malam ini? Tentu, tentu, saya bisa!”

__ADS_1


“Ya, malam ini adalah malam yang sangat tepat. Demi istri saya, Nona Chelsea. Saya juga tak keberatan Anda datang kemari.”


Istri saya matamu! Batin Chelsea, kesal.


”Tapi, bukankah akan terlalu jahat, Tuan Ronald?” Chelsea berlagak lagi. “Mental Nona Nora kan sedang down parah, bukankah kesannya terlalu jahat jika kita melakukan teror, bahkan meski teror itu tak akan berbahaya untuk fisik?”


“Tidak, justru bagus. Dia pasti akan benar-benar ketakutan dan mengakui apa yang telah dia lakukan dalam keadaan terpuruk itu. Asalkan Anda masih memercayai saya, ketika dia mendadak melimpahkan segala kesalahan pada saya demi keselamatannya. Justru bagaimana dengan Anda, Nona? Mau bagaimanapun, Anda adalah penggemar berat istri saya, dan bukan seorang keluarga. Apa Anda tidak masalah untuk melakukan rencana ini dengan saya?”


”Tentu saja saya tidak masalah!” sahut Chelsea. “Seorang idola itu sudah seperti separuh jiwa saya. Dan jika saya berhasil mengetahui apa yang Nona Nora sembunyikan, tentu saja, saya akan bangga pada diri saya sendiri. Dan Nyonya Emily pasti akan berterima kasih dengan saya, bukan? Saya akan menjadi seorang pahlawan, Tuan! Dan saya tulus untuk membantu Anda, saya pun tidak meminta sepeser pun uang, karena saya memang benar-benar mengagumi Nyonya Emily.”


”Tapi, jika Anda ketahuan, pasti Anda akan terluka, Nona. Mengingat Nora adalah orang yang sangat kasar.”


“Jika terjadi apa-apa dengan saya, saya tak masalah kok, karena mau bagaimanapun, saya masih berada di bawah perlindungan Tuan Reynof. Meskipun Tuan Reynof terkenal sebagai pria dengan citra yang buruk dan kejam, sebenarnya beliau selalu memberikan perlindungan pada kami—bawahan beliau. Beliau akan mencari saya, jika saya tidak datang bekerja. Karena bagi beliau, semua orang yang bekerja dengan beliau harus tetap sehat, sehingga kinerja kami pun akan terus maksimal.”


“Ah ... be-begitu ya?”


”Benar, Tuan Ronald! Dan mm, sssttt ... ini rahasia, terlepas dari semua perlindungan yang selalu Tuan Reynof berikan pada para bawahannya. Sebenarnya, beliau itu menyukai saya secara pribadi lho. Jadi, jika saya sampai kenapa-napa, beliau akan langsung turun tangan lho!”


”O-oh be-begitu ya?” Ronald cukup syok. “Apa ada hubungan khusus di antara kalian?”


Chelsea tersenyum. Ia memang sengaja berkata demikian untuk mencegah adanya kemungkinan Ronald akan meleccehkan dirinya. “Belum ada, oleh sebab itu saya masih bebas menemui Anda. Kalau sudah ada hubungan khusus di antara kami, pasti Tuan Reynof akan melarang saya untuk menemui pria lain. Ah, sudahlah, saya jadi malu sendiri hihi. Kita fokus saja pada rencana mulia kita, Tuan Ronald. Mm, satu jam lagi, saya pastikan sampai di area kediaman Anda.”


“Ba-baik, Nona!”


“Okeee! See youuu!”


Chelsea menutup panggilan itu dengan secepat mungkin. Wajahnya yang sempat riang saking asyiknya menikmati sandiwara, kini kembali berekspresi datar. Detik berikutnya, ia lantas bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju nakas yang berada di kanan ranjang tidurnya.

__ADS_1


Sesampainya di tempat tujuan, Chelsea membuka laci nakas paling bawah. Ia mengambil sebuah benda berbentuk kotak. Ponsel yang sama persis dengan ponsel cadangannya ketika dirinya masih hidup sebagai Emily.


***


__ADS_2