
Sesaat setelah membuka pintu ruang baca, Chelsea justru terpana dengan keberadaan Reynof. Namun ternyata bukan Reynof saja yang ada di dalam ruangan tersebut, melainkan juga Kayla. Bahkan saat ini keduanya terlihat sedang saling berpegangan tangan, lebih tepatnya tangan Kayla yang sedang menggenggam jemari Reynof. Namun Chelsea tidak memedulikan kenyataan itu, karena baginya siapa pun yang menggenggam, tetaplah ada sentuhan saling berpegangan!
Tak hanya Chelsea yang terpana, karena Reynof bahkan Kayla juga sampai terkejut dengan kehadiran mendadak gadis itu. Reynof mendadak linglung, sementara Kayla justru langsung memiliki sebuah ide baru. Seringai sinis nan tajam lantas terulas di bibir wanita bertubuh indah bak gitar Spanyol itu.
“Tuan, bagaimana jika kita ke kamar saja?” tanya Kayla dengan sengaja.
“Hah? Apa?” Reynof masih bingung, belum sepenuhnya mendapatkan kesadarannya. Ia tak lagi menatap Chelsea melainkan Kayla.
Senyum Kayla yang sinis berubah menjadi lebih manis. “Agar saya bisa lebih leluasa untuk—”
Suara pintu ruangan yang ditutup membuat ucapan Kayla menjadi dipotong begitu saja. Pasalnya, Chelsea sebagai pelaku yang menutup pintu itu memang telah mengerahkan seluruh tenaga untuk sekadar menutup benda tersebut, sampai menimbulkan suara dentuman yang cukup keras.
Chelsea tidak tahu mengapa dirinya bersikap demikian. Namun yang pasti saat ini dadanya tengah terasa sesak. Ia sampai tidak bernapas setelah menyaksikan kedekatan Kayla dan Reynof yang duduk bersebelahan di sofa panjang yang berada di ruang baca tersebut. Di mana Kayla tak hanya sekadar memegang jemari Reynof, tetapi juga mengajak Reynof untuk menuju ke kamar.
“Ouh! Panas sekali!” ucap Chelsea yang mendadak merasa gerah. Sayangnya ia tidak bisa mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengurangi sedikit hawa panas itu, lantaran ia sedang memegang nampan berisi dua cangkir teh chamomile.
“Sudahlah, bukan urusanku. Diminum sendirian juga tak apa. Hujannya sudah reda, sambil duduk di taman belakang sepertinya bukan hal buruk.”
Chelsea telah membuat keputusan. Dan tanpa menunggu lama ia segera mengambil langkah cepat. Ia memasuki sebuah elevator agar lebih cepat sampai di lantai paling dasar mansion tersebut. Dulu ketika masih tinggal di kamar kumuh yang sempat agak mendingan setelah ia bersihkan, ia pernah duduk di kursi kayu panjang yang berada di taman area belakang mansion. Di sana ada beberapa lampu taman berbentuk bulat, beberapa tanaman hias, sampai kolam ikan berukuran kecil yang juga sudah didekorasi layaknya air terjun mini. Menjadikan tempat itu cukup pantas sebagai tempat bersantai atau merenung sendirian.
Tak berselang lama, Chelsea sampai di taman itu. Namun ia mendapati kursi kayu berukuran panjang yang masih basah. Dan ia tidak membawa alas untuk duduk. Herannya Chelsea sama sekali tidak kepikiran hal tersebut, selain hanya memikirkan hujan yang sudah reda.
“Sial, sudah jauh-jauh ke sini, aku malah melupakan hal terpenting. Haruskah aku masuk ke dalam kamarku saja?” gumam Chelsea. Ia berpikir sejenak sampai kemudian, ia berteriak, “Aaaa! Tidak mau! Jauh banget! Ini rumah apa mal sih sebenarnya? Bikin lelah saja!”
Sepertinya Chelsea sudah terlalu terbiasa untuk hidup sebagai identitas barunya, yang merupakan gadis dari kalangan miskin. Sampai ia lupa mengenai sosok jiwanya yang adalah Emily Panorama Rukmana, di mana ia pun memiliki rumah super besar meskipun mansion Reynof memang jauh lebih besar.
Lelah dan cukup frustrasi membuat Chelsea akhirnya memilih untuk duduk tanpa memedulikan kondisi kursi taman yang masih basah. “Meskipun punya banyak pelayan, tapi dia kan tidak punya keluarga lagi di rumah ini, kenapa tidak memilih tinggal di apartemen saja sih? Apa dia ingin menampung Kayla, agar wanita itu terus menemaninya? Bukankah Kayla juga punya rumah sendiri, karena belakangan ini Kayla tak tampak berada di mansion ini? Lalu, kenapa sih kalau mau bermesraan justru di ruang baca yang bisa dibuka orang lain? Di kamar kan bisa! Bikin yang melihat menjadi malu bahkan geli, tahu!” ceracaunya diiringi rasa kesal dan muak.
__ADS_1
“Dan lagi, kenapa wanita itu sengaja sekali ingin pamer?! Se-begitunya ingin mengalahkan aku ya? Iya sih, dibandingkan tubuh ini, tubuh dia jauh lebih seksi! Tapi kan dari segi wajah, wajah tubuh ini jauh lebih cantik! Bahkan wujud Emily-ku malah jauuuuh lebih cantik, meskipun saat ini mungkin sudah dimakan ulat tanah!” lanjut Chelsea masih saja mengomel. Dan memang benar, perasaannya sangat kesal. Baginya Kayla sudah terlalu norak dan menyebalkan. Sok mau mengalahkan, tetapi Kayla lupa bahwa Chelsea justru jauh lebih mendingan.
Sesaat setelah mengumpat pelan, Chelsea kembali berkata, “Reynof juga! Katanya tidak pernah menyentuh wanita itu! Tapi tadi kalau tidak menyentuh, terus apa? Bahkan waktu diajak ke kamar saja langsung terpana! Mungkin juga saat ini mereka sudah 'bermain' bersama di kamar! Huh!”
“Nona Chelsea? Anda sedang apa di sini?” Mendadak terdengar suara Ruben. “Tempat itu tampaknya masih basah lho. Anda bisa masuk angin nanti.”
Cepat, Chelsea langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan Ruben sudah nyaris sampai di sekitar kursi taman yang Chelsea duduki. Pria itu tetap berdiri ketika sudah sampai di tempat tujuannya. Tak ada niat sedikit pun dari Ruben untuk duduk di samping Chelsea. Menurut Chelsea, mungkin karena kursi itu masih basah, sehingga Ruben memilih bertahan untuk tetap berdiri. Namun dari pihak Ruben sendiri, ia enggan duduk karena takut disalahpahami oleh Reynof yang bisa saja datang ke tempat itu.
“Sudah terlanjur, Tuan Ruben. Tidak apa-apa, nanti bisa ganti pakaian,” sahut Chelsea. Ia menurunkan arah pandang, kemudian mendapati nampan yang tergelatak di sampingnya dan masih berisikan dua cangkir teh chamomile. “Ah, Anda mau? Belum saya sentuh sama sekali kok!”
“Terima kasih,” sahut Ruben sembari mengangguk hormat. Senyumnya pun masih terulas manis dan ramah. “Tapi, sepertinya teh tersebut Anda sajikan untuk seseorang. Akan tidak sopan jika saya merebutnya secara tiba-tiba, Nona Chelsea.”
“Tidak kok! Tidak untuk orang lain! Saya sengaja membuat dua cangkir, barang kali ada teman yang mau diajak mengobrol. Tapi ternyata tidak ada!” Chelsea menyahut tegas dan keras.
Ruben menyangka, Chelsea hendak menyerahkan teh itu pada Reynof. Namun pertengkaran di antara mereka mungkin kembali terjadi, sehingga membuat Chelsea pergi ke taman belakangan bahkan duduk di kursi yang basah, dan dua teh itu hanya dibiarkan.
Melihat gadis itu telah berusaha, Ruben pun akhirnya mengangguk setuju. Ia membungkukkan tubuhnya dan lantas mengambil satu cangkir teh yang masih mengepulkan asap tipis. Tanpa mengambil sikap duduk terlebih dahulu, Ruben meneguk teh tersebut sampai tiga kali tegukan. Setelahnya ia kembali menaruh cangkir di atas nampan yang memang tergeletak di atas sisi kosong kursi taman tersebut.
“Lusa, kami akan bertemu dengan pengusaha besar tersebut, Nona,” ucap Ruben yang mulai membahas masalah serius. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan rencana sesuai rencana Anda.”
Rupanya Reynof sudah membagi cerita pada Ruben. Tidak aneh, sebab Ruben memang orang kepercayaan. Dan dengan bantuan Rubenlah, Reynof bisa mengatasi banyak pekerjaan.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Chelsea lalu tersenyum ramah. “Mungkin rencana saya terdengar aneh bagi Anda, tapi itulah yang saya inginkan dengan mempertaruhkan diri saya sendiri. Ada alasan besar yang tidak bisa saya katakan, karena jika saya katakan pun pasti akan sulit Anda menerima sekaligus memercayai ucapan saya. Namun yang pasti, saya ingin menghukum para pembunuh Emily.”
“Rupanya Anda memang sudah terlalu yakin kalau Nyonya Emily dibunuh ya?” sahut Ruben.
Chelsea mengangguk pelan. “Ya. Karena alasannya memang kuat sekali.”
__ADS_1
“Apa ... Anda salah seorang saksi atas tragedi tersebut, Nona?”
“Hmm?” Chelsea yang awalnya menatap pangkuannya sendiri kini berangsur menatap Ruben yang sudah berada tepat di hadapannya dengan jarak satu meter saja. “Kenapa Anda bertanya seperti itu, seolah Anda telah lama menduga bahwa saya adalah seorang saksi?”
“Saya sudah pernah bilang bahwa saya mengetahui percobaan bunuh diri yang Anda lakukan, bukan? Termasuk juga tempat kejadian, di mana Anda melakukan hal itu di tempat Nyonya Emily meninggal dunia, Nona. Barangkali Anda adalah seorang saksi.”
“Ah begitu. Rupanya Anda orang yang pandai mencari informasi ya, Tuan? Sebelumnya memang ada anggota berwajib yang menanyai beberapa hal pada saya. Sayangnya, saya ... dikatakan tengah mengalami amnesia.” Tidak, tetapi Chelsea yang sekarang benar-benar tidak tahu ingatan dan kehidupan si pemilik raga. ”Saya tidak ingat apa pun tentang kecelakaan itu, atau waktu sebelum saya melompat ke sungai saja, saya tak ingat sama sekali. Kepala saya sempat terluka, dan mungkin masih ada bekas lukanya, dan itu yang membuat saya melupakan beberapa hal.”
Ruben terdiam, di saat ia pun juga tengah memicingkan matanya dengan tajam. Ia menatap Chelsea yang sudah menunduk lagi. Amnesia? Melupakan beberapa hal? Bukankah itu aneh? Mengapa orang yang amnesia justru berniat untuk mengungkap kematian Emily? Bahkan tak hanya itu saja, Chelsea juga mengetahui banyak hal tentang keluarga dan perusahaan milik Emily. Bahkan meski hanya amnesia ringan, bukankah tetap aneh jika sampai sedetail itu mengingat kehidupan Emily yang nyatanya hanyalah orang lain?
Lagi pula, daripada bunuh diri karena hendak dijual pada Reynof, bukankah Chelsea yang mengaku adalah sahabat rahasia Emily, bisa meminta bantuan pada Emily? Transaksi yang Hery dan Reynof lakukan pun terjadi sebelum kematian Emily terjadi, itu artinya Chelsea masih memiliki kesempatan untuk meminta bantuan tanpa memikirkan kemungkinan Emily akan mati. Namun Chelsea malah berniat untuk bunuh diri. Sebenarnya apa yang terjadi?
Sungguh aneh! Apa dia benar-benar sedang kerasukan? Batin Ruben yang teringat pembahasan soal kerasukan yang sempat ia lakukan bersama Reynof.
“Nona ...?” ucap Ruben. Wajahnya tak ramah, melainkan datar dan cukup menekan.
“Y-ya?" sahut Chelsea. Detik itu juga ia kembali mendongakkan kepala untuk menatap Ruben. “Kenapa, Tuan?”
“Apakah Anda adalah Nyonya Emily?”
Chelsea melongo, lalu menelan saliva setelahnya. “A-anda bicara apa ...?”
Reynof tidak mungkin sampai menceritakan kegilaanku di malam itu pada Ruben, 'kan? Dia tidak sampai membahas bahwa aku adalah Emily dengan Ruben, 'kan? Bukankah Reynof juga masih tidak percaya? Selain itu jika pengakuanku sebagai Emily diketahui lebih banyak orang, terlebih lagi oleh Ruben yang cenderung dekat dengan Kayla, pasti akan menimbulkan masalah baru. Bisa-bisa Ronald dan Nora pun akan tahu, meskipun mereka tak akan percaya, mereka tetap bisa lebih berhati-hati padaku yang mengaku sebagai Emily, batin Chelsea.
“Sedang apa kau bersama wanitaku, Ruben?! Apa kau sudah pikun?! Bukankah aku sudah melarangmu untuk tak mendekatinya?!” Suara Reynof terdengar keras dan lantang.
Dan kehadiran si Pria Bengis itu langsung menjadi pusat perhatian mata Chelsea dan Ruben. Di cuaca yang dingin, Reynof justru tampak berkeringat. Ruben menduga jika Reynof habis mencari Chelsea sampai memutari segala sisi mansion. Di sisi lain, Chelsea menduga jika Reynof baru saja melewati 'kegiatan panas' bersama Kayla. Karena dugaannya itu pula, perasaan Chelsea semakin jengkel dan wajahnya dipenuhi gurat kemarahan.
__ADS_1
***